Diah tidak pernah mengetahui bahwa satu malam itu akan mengubah keseluruhan hidupnya. Cuaca dingin merayap di daerah kaki gunung. Ia baru saja pulang dari sif malam. Belum memiliki kendaraan bermotor, menumpang beberapa kawan tidak menjadi masalah sebenarnya. Sialnya hari itu kawan-kawannya banyak tidak masuk. Khawatir masa depan karier mereka tidak jelas di gedung hiburan malam, beberapa memutuskan untuk keluar saja. Itulah mengapa ia sendirian pulang ke rumah dengan berjalan kaki sejauh lebih dari tiga kilometer. Kondisi jalanan yang gelap, nyaris tidak ada kendaraan lain melintas. Satu-satunya hal yang ditakutkan adalah adanya keberadaan lelembut. Kalau bukan lelembut, pastinya pria jail yang akan melompat dari tempat tidak terduga lalu melakukan tindakan asusila.
Memaksakan diri pulang sendirian, Diah berusaha agar tidak kalah dengan rasa takut. Ia sudah separuh perjalanan, sebentar lagi pasti sampai di rumah. Terkadang di suasana yang sunyi seperti ini, kendaraan lewat atau keberadaan hewan-hewan malam bisa memberikan sedikit ketenangan. Setidaknya ia tidak sendiri. Sebuah mobil tiba-tiba saja berjalan lambat di belakang tubuhnya, lalu suara klakson yang berbunyi itu menarik atensi sang perempuan muda. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Mas Ardi tengah tersenyum dari balik jendela mobil.
“Mau saya antar?” tawar pria tersebut. Dan Diah tidak bisa lebih bersyukur dari ini karena mendapatkan tumpangan di waktu yang tepat. Tanpa merasa sungkan, ia duduk tepat di samping kursi kemudi. Bukankah ia sangat beruntung karena bisa memiliki kesempatan mendekati pria tampan kaya raya ini. Kabar baiknya, mendekatinya sudah jadi salah satu rencana Diah selama beberapa hari ke belakang. Tidak hanya awal rencana itu berjalan sempurna, ternyata target utama malah berjalan menghampiri. Sungguh sebuah keberuntungan.
“Mbaknya kerja di sekitar sini, ya?” tanya Mas Ardi berusaha basa-basi.
“Uhm … saya kerja di gedung hiburan malam dekat sini, Mas. Kayaknya kemarin, kita berdua udah saling ketemu. Walaupun enggak sengaja.”
Ekspresi malu di wajah pria tersebut sungguh kentara. Namun, kendati begitu tetap saja agak mengecewakan karena tidak dikenali olehnya. Dan lagi, ketika mendengar tentang bekerja di gedung hiburan malam tersebut, ekspresi Mas Ardi sendiri sempat menegang. Entah apa alasannya.
“Kalau Mbak kerja di sana, kemungkinan besar sebentar lagi bakal pindah kerja atau dapat kerjaan baru yang beda dari pekerjaan Mbak sekarang. Lebih susah tentunya karena harus belajar lagi dari awal,” ujar Ardi lagi.
“Eh, kenapa bisa?”
Sesi basa-basi itu berkembang menjadi obrolan yang lebih panjang. Tentang bagaimana pria itu kebingungan karena sebagai investor, ia harus berhadapa dengan kondisi di mana bisnis yang dibiayai akan digusur. Tidak akan balik modal. Selain itu, tidak hanya berhadapan dengan penggusuran, relokasi, dan segala t***k bengeknya tentang mengubah lokasi dan harus memutar otak agak modal besar yang telah dikucurkan bisa kembali. Sebagai orang yang besar dengan jiwa bisnis, hal-hal seperti ini memang lumrah terjadi. Namun, bukan berarti menjadi hal menguntungkan di masa depan. Jika memang dari pembiayaan gedung hiburan malam tersebut tidak mendapatkan keuntungan lagi, mungkin ia akan meninggalkan tempat ini dan mencoba memulai bisnis baru. Orang kaya memang terkadang tidak terlalu perhitungan soal uang selama nantinya uang itu bisa berlipat ganda.
Ketika perjalanan sudah nyaris mendekati tujuan, barulah Mas Ardi bertanya, “Rumahnya yang mana, Mbak? Kalau saya anter sampai rumah, ada yang marah enggak nih?”
Pertanyaan itu membuka kembali rencana Diah untuk merayu Mas Ardi. Jika ia bisa mendapatkan hati pria tersebut, tidak menutup kemungkinan masa depan yang cerah bisa berakhir dalam genggaman. Tidak seperti sang ibu yang menjadi simpanan pejabat, ia harus memiliki pria ini sebagai suami betulan.
“Kalau saya bilang enggak akan ada yang marah bagaimana?”
Sebuah senyuman penuh arti terulas di wajah pria tersebut. Rumah kecil Diah dan neneknya terlewati. Hasratlah yang akan menuntun mobil tersebut menuju tempat yang tepat. Sebuah rumah luas di kaki gunung. Salah satu dari sekian banyaknya rumah pribadi Mas Ardi. Semenjak membuka pintu, mereka berdua saling melekat satu sama lain. Bibir saling bertautan, sang perempuan bergelayut manja. Seperti seekor koala yang tidak bisa dilepaskan dari pohon kokohnya. Di atas ranjang besar yang seprainya masih beraroma kamper, Ardi melucuti satu per satu sandangan yang melekati tubuh Diah. Pada dasarnya perempuan tersebut nyaris tidak mengenakan apa pun karena seragam kerjanya yang minim.
Tak ada yang tersisa di tubuh Diah. Menyisakan kulit yang bening seperti mata air penghilang dahaga. Yang dengan melihat saja dapat membuat pria mana pun haus. Ardi menundukkan kepala, menyesap dan meminum setiap inchinya, menimbulkan riak-riak dari bibir sang gadis. Sekadar meminum airnya saja tidak akan memuaskan dahaga seorang Ardi Atmajaya. Ia akan terjun ke dalamnya. Memiliki semua mata air tersebut untuk dirinya sendiri.
Sang gadis, ah, wanita muda itu berguncang. Rencana yang terasa seperti mimpi di siang bolong itu semakin dekat dengan realita. Apakah semudah dan sehalus ini mencapai apa yang diinginkan? Rasa-rasanya tidak mungkin. Namun, dengan sang pria berada dalam dekapannya, bahkan menaklukkan dunia menjadi sangat mungkin. Malam itu pun menjadi sangat panjang melebihi malam apa pun dalam hidupnya.
***
“Dasar perempuan s****l! Kamu dan ibumu sama saja. Sama-sama punya kepala, tapi otak tidak dipakai! Bisanya cuma bisa mengangkang tapi kepala kosong! Keluar sana anak s****l!”
Amukan nenek di pagi hari itu seperti meruntuhkan semua pertahanan hidup yang telah dikumpulkan setelah sekian lama. Mas Ardi, atau Ardi saja, atau perayu wanita, ternyata bukan pria semudah itu untuk ditaklukkan. Ia punya ratusan wanita lain di belakang punggung yang kesemuanya juga bertanding secara tak kasatmata untuk mengambil alih atensi sang pebisnis kaya. Bahkan dengan dua garis merah di test pack dalam genggaman Diah pun, rasa-rasanya tidak cukup untuk membawa pria tersebut dalam pelukan. Kendati begitu, bukankah seharusnya pria tersebut bisa lebih berbuat lembut padanya? Ia sedang membawa calon bayi pria itu ke dunia. Seharusnya sudah sewajar itu bukan?
Setelah bisnis hiburan malam tempatnya bekerja berubah menjadi swalayan dan tempat menampung hasil bumi para petani dan peternak kecil, Diah harus mengubur dalam-dalam mimpinya memiliki kendaraan bermotor sendiri. Padahal ia harus segera bertemu dengan Ardi dan mengabarkan bahwa ia sudah dua bulan tidak datang bulan. Lalu pada pagi hari tadi, ia mendapati dua garis merah di atas alat tes kehamilan yang dibeli dengan uang hasil berjualan sang nenek, tanpa sepengetahuan wanita tua tersebut tentunya. Ia sudah resmi jadi pengangguran selama satu bulan ke belakang.
Semenjak malam panjang itu, Mas Ardi tak lagi kelihatan batang hidungnya. Bahkan di gedung hiburan malam sebelum betul-betul dialihfungsikan menjadi swalayan. Menurut petinggi yang bekerja di sana, Ardi telah meninggalkan proyek tersebut dan kembali ke kota. Tanpa pamit, tanpa berkabar, bahkan menyapa setelah malam itu pun tidak. Dengan berbekal satu alamat dari petinggi gedung, Diah memberanikan diri pergi ke kota. Tanpa membawa apa-apa, hanya sebuah bukti bahwa jabang bayinya telah tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya. Saat itulah ia betul-betul menurunkan standar. Jika memang tidak bisa menjadi istri, setidaknya semoga pria itu sudi bertanggung jawab.