Semenjak pertemuan dengan pria tampan tersebut, kehidupan di desa banyak berubah. Tempat biasa dijadikan lokasi sabung ayam disulap menjadi lebih bagus. Dibuatkan sebuah gedung yang lebih besar sehingga semakin banyak menampung pengunjung. Sabung ayam sudah tidak ada di sana, walaupun mungkin saja berpindah tempat atau ada lokasi tersembunyi untuk mengadakannya sembunyi-sembunyi. Dibuatlah ruang-ruang kecil untuk karaoke, bermain bilyar, permainan mesin, dan banyak lagi. Dengan semakin banyak tambahan permainan, semakin banyak pula perempuan direkrut. Tidak lagi berjualan di warung kecil yang jika pembelinya meminta lebih mereka hanya lari ke hutan, perempuan-perempuan tersebut kini dibuat lebih profesional dengan mengenakan seragam. Tentu saja seragam khas perempuan di tempat karaoke yang serba minim.
Diah salah satu dari perempuan itu. Mengenakan riasan tebal setiap hari, menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh, sering bergonta-ganti warna rambut, penampilan dan kelakuan baru tersebut membuat sang nenek menatapnya dalam. Apakah nenek masih ingin menasihatinya tentang menjadi lebih cantik dan segera menikah? Ia pun ingin menikah. Geli sekali rasanya setiap hari harus melayani pria-pria yang sebenarnya sudah beristri. Namun, bayaran di sana terlalu tinggi, kalau menikah dan melepaskan semua uang itu, rasanya sayang sekali. Belum lagi kalau dapat suami yang tidak punya apa-apa. Mereka mungkin akan kembali miskin.
“Kamu kalau mau jadi lacur, jangan tanggung-tanggung,” celetuk sang nenek sebelum Diah berangkat kerja malam itu. Perkataannya melukai hati Diah yang telah banting punggung membiayai hidup mereka berdua sehari-hari.
“Kenapa Nenek bilangnya gitu? Aku kan sudah mati-matian cari uang buat keluarga ini? Kenapa Nenek malah sambat ini itu, protes ini itu, nasihat ini itu. Capek, Nek. Kalau Nenek udah enggak mau nikmatin jerih payahku, mending Nenek cari duit lagi di pasar!”
Mendengar cucu perempuannya mengamuk, perempuan lebih tua itu hanya terkekeh, lalu kembali menyumpal lintingan tembakau ke dalam mulut. “Ya … sekarang aku tahu apa yang dimaksud membesarkan anak dengan uang haram, maka hidupnya akan haram pula. Kamu udah jadi sama persis kayak ibumu. Sama-sama lacur, bedanya dia kuma ke satu orang, kalau kamu semuanya diembat. Tidak heran kalau kelakuan kalian berdua sebelas dua belas.”
Diah berusaha tidak meladeni lagi perkataan sang nenek. Toh, orang-orang lain di desa yang anak-anak perempuannya bekerja di tempat sama juga semuanya begitu. Seolah-olah mereka adalah orang suci, sedangkan anak-anaknya yang banting tulang adalah pendosa tingkat tinggi. Sebagai perempuan tulang punggung keluarga, mengentaskan keluarga dari garis kemiskinan adalah hal luar biasa. Rumah reyot yang ditempati ia dan nenek telah direnovasi. Tidak ada lagi namanya dinding anyaman bambu, sudah digantikan dinding semen yang lebih kokoh. Mereka juga sudah punya kamar mandi di dalam. Bahkan punya televisi sendiri. Menonton televisi saja, dulu harus main ke tempat tetangga, sekarang sudah ada sendiri dan tidak perlu rebutan remote. Baru kemarin sore, ia menyelesaikan pembayaran kulkas satu pintu. Mungkin hari ini akan dikirim ke rumah.
Semua itu berkat pekerjaan yang sekarang. Keluarganya tidak perlu khawatir memikirkan makan apa esok. Rumah pun tidak bocor lagi setiap turun hujan, mungkin target selanjutnya adalah kendaraan bermotor. Teman-teman sebayanya sudah memiliki sepeda motor sendiri, maka ia harus meningkatkan usaha dan upaya untuk membelinya juga. Kalau perlu, beli secara tunai dan merek yang terbaru supaya yang lain iri hati. Haha, motivasi kerjanya sekarang adalah membuat yang lain iri hati kepadanya. Sebuah level tertinggi bertetangga. Hanya saja, jika hanya bekerja sebagai pemandu karaoke biasa, bayarannya pasti hanya segitu-segitu saja. Tips dari pengunjung tetap maupun pengunjung biasa masih sama saja. Jika menemukan wali yang rajin memberikan tips, tentu saja ada tambahan pekerjaan yang dilakukan. Kalau saja ia bisa berjumpa dengan pria tampan yang waktu itu. Mas Ardi namanya, ialah yang memberikan suntikan dana untuk tempat ini sehingga berkembang dari tempat judi sabung ayam menjadi tempat hiburan malam terbesar di kabupaten.
Sayangnya, Mas Ardi adalah tipe orang-orang bisnis yang tidak pernah lelah. Ia pergi ke mana pun, tentu saja untuk urusan pekerjaan. Pasti uangnya sangat banyak. Ia mungkin tidak akan sepelit orang-orang ketika memberikan tips. Kalau saja ada kesempatan bertemu langsung dengan pria kaya raya tersebut, tentu tidak akan disia-siakan. Bak gayung bersambut, ketika Diah baru saja tiba di tempat kerjanya, Mas Ardi baru saja turun dari mobil. Pria tersebut tampak tampan dengan setelan jas warna abu-abunya. Bahkan sempat melemparkan senyum manis kepada Diah sebelum meninggalkan mobil menuju bagian dalam gedung agak tergesa-gesa. Dengan langkah terburu-buru tersebut, mungkinkah Mas Ardi tengah dihadapkan pada hal gawat?
Kawan-kawan Diah hari itu tampak khawatir. Beberapa kali mereka saling berbisik, memasang wajah melas, lalu wajah salah satu dari mereka seperti mau menangis ketika melihat Diah. Mereka buru-buru menarik Diah bergabung dalam sekumpulan perempuan mendadak murung tersebut. Barulah Diah mengetahui bahwa pekerjaan yang mereka lakoni saat ini terancam dibubarkan oleh kepala desa yang baru. Gedung hiburan malam ini disebut-sebut sebagai tempat maksiat. Termasuk pula dengan orang-orang di dalamnya yang wajib dibersihkan ulang.
“Halah, selama kepala desa bisa disuap, kita enggak akan kehilangan kerja, kok,” hibur Diah. Walaupun ia sendiri juga sama khawatirnya dengan mereka.
“Kamu enggak tahu kalau kepala desa yang satu ini, lurusnya bukan main. Dia menang dari jalur betulan bersih, saking bersihnya, sampai punya banyak masalah sama balai desa kita yang isinya orang-orang dalam semua. Cuma tinggal menunggu waktu sampai tempat ini digusur atau dialihfungsikan.”
Bertambah lagi satu kekhawatiran Diah hari ini. Padahal ia sudah berandai-andai akan membeli sepeda motor tak lama setelah ini jika berhasil mencapai target. Jika betul gedung ini akan digusur atau dialihfungsikan, maka ia harus mencari pekerjaan lain lagi. ujung-ujungnya jadi buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa, pekerjaannya berat, dan harus punya ijazah serta ketrampilan khusus. Sedangkan ia hanya memiliki ijazah SMP dan tidak memiliki ketrampilan apa pun.
“Kalau udah begini, kita harus pindah ke kota. Cari pekerjaan yang kayak gini juga. Enggak mau deh kalau kerja jadi buruh pabrik atau asisten rumah tangga.” Ada yang mewakili isi hati Diah.
“Atau kalau enggak, kita nikah aja. Daripada capek-capek kerja, mending ditanggung sama suami.” Balasan yang lain satu ini sungguh ingin membuat Diah tertawa sampai buang air kecil. Ditanggung apanya. Paling-paling kalau dapat suami yang finansialnya tidak jauh beda. Ujung-ujungnya hanya akan jadi beban di masa depan jika bertambah memiliki anak dan ternyata memiliki mertua dengan banyak permintaan ini dan itu. Salah satunya adalah Rudi, anak mantan kepala desa yang suka main perempuan dan judi. Pria itu mengejar-ngejar Diah sejak beberapa bulan lalu. Ibunya yang sosialita kelas kampung sering kali merepotkan suami. Sedangkan mantan kepala desa tersebut harus banting tulang menghidupi dua tambahan anggota keluarga yang sudah seperti beban itu. Padahal pria itu sendiri sangat gatal tiap kali melihat atau bertemu dengan Diah sendiri.
Ah … membayangkan itu semua, rasanya sudah menaikkan tensi darah. Daripada mencari suami yang berarti harus berkomitmen dan bertanggungjawab atas keluarga ke depannya, lebih baik mencari wali. Sekali lagi, pikirannya tertuju pada Mas Ardi. Kalau misalnya pria itu dalam keadaan susah, ia akan datang menawarkan diri memberikan penghiburan. Hidup menjadi miskin itu susah. Ia memahami mengapa ibunya jadi simpanan pejabat daripada bekerja keras.