PART 12
“AKU percaya padamu.” Mungkin adalah frasa yang terlalu cepat untuk dikatakan pada seorang Angelo Bronze. Dengan reputasi seperti yang dikatakan oleh Hyuni, seharusnya aku tahu lebih baik.
Setelah bertemu di perpustakaan beberapa hari lalu untuk menentukan tema kami di presentasi kelas subjek histori kemarin, Angelo berjanji padaku kalau dia akan membantu aku mengerjakan tugas ini, kalau dia tidak akan seperti murid – murid arogan lain yang membiarkan murid yang lebih lemah dari mereka mengerjakan semuanya. Yah, walau pun ujung – ujungnya aku yang menentukan tema dan lebih banyak bekerja saat itu.
Tapi, hey, setidaknya Angelo Bronze datang, ‘kan?
Tidak seperti sekarang, saat kita berdua sudah berjanji untuk bertemu lagi di perpusatakaan setelah pulang sekolah, tapi figur laki – laki yang tinggi dan masif itu masih juga belum datang. Bahkan setelah aku menunggu selama limat menit . . . sepuluh menit . . . sepuluh menit yang tidak lama berubah menjadi dua puluh menit . . . dan yep, sekarang sudah berubah menjadi tiga puluh menit.
Setengah jam aku menunggu sendirian di tempat kami yang kemarin, menunggu dengan kesal dan frustasi. Bukannya aku orang yang perfeksionis, dan selalu tepat waktu tanpa pernah terlambat, tapi ayolah, seorang Angelo Bronze telat selama tiga puluh menit di hari seharusnya kita kerja kelompok?
Sudah jelas dia tidak akan datang.
Dan aku masih terlalu bodoh ketika tiga puluh menit berubah menjadi empat puluh menit . . . mungkin jika aku menunggu lima belis menit lagi dia akan datang?
Aku akan memaafkannya, sungguh. Jika dia datang walau pun telat, tapi dia datang ke sini, aku akan menerima apa pun alasan laki – laki itu dan memaafkannya karena sudah telat di hari pertama kita kerja kelompok.
Tapi ketika empat puluh menit itu berubah menjadi lima puluh menit . . . dan akhirnya melewati batas satu jam, aku sudah kehabisan tinggi meter sabar di dalam tubuh. Bisa – bisanya dia membuat aku menunggu enam puluh menit sendirian di dalam perpustakaan, dan di tempat yang gelap seperti ini. Tidak masuk akal.
Parahnya, langit dan semesta seperti ikut mengejek aku hari ini. Di luar, udara sejuk dan dingin sebab cuaca yang gelap dan mendung. Tanda – tanda hujan besar akan turun ke bumi membuat aku semakin murung.
Well, aku rasa hari ini tidak akan ada kerja kelompok.
Aku membereskan barang – barangku di tempat, menaruh kembali buku – buku yang sudah aku persiapkan untuk presentasi kami di rak – raknya, dan merapihkan meja dan kursi tempat aku menunggu Angelo selama . . . iya, aku tidak akan pernah berhenti mengatakan kalau dia membuat aku menunggu enam puluh menit alias satu jam.
Talk about first impression on people.
Menelan rasa jengkel, aku melangkah keluar dari perpustakaan. Tidak ada murid – murid yang masih ada di dalam sini, hanya petugas perpustakaan yang berharap dia ada di tempat lain selain di gedung ini sendirian. Aku memberikan senyum tipis padanya. Gadis itu hanya mengangguk, menandakan kalau dia mengapresiasi jiwa lain di tempat ini, lalu kembali berkutat di ponsel genggamnya.
Aku membuka pintu keluar perpustakaan dan mendapati kalau dugaan aku benar. Hujan mulai mengguyur bumi. Likuid awan itu menetes satu per satu dan tak lama berubah menjadi deras.
Sial. Satu sial, dua sial, tiga sial. Benar – benar sial.
Sekarang, apa yang harus aku lakukan?
Menunggu di sini lagi? Lama – lama aku bisa gila. Sudah satu jam lebih aku menunggu di atas, aku tidak akan menghabiskan satu jam lagi di luar perpustakaan. Aku mengerang keras. Suaraku termakan oleh suara menggema derasnya hujan.
Yep . . . bukan hanya hujan deras saja, tapi secara praktis ini hujan badai.
Pohon – pohon bergoyang sebab angin yang kencang, beberapa benda beterbangan, suara – suara orang berteriak terdengar dari luar sana, dan angin yang kencang itu menjadi sahut – menyahut bersama bunyi hujan deras.
Aku membuang napas frustasi.
“Tidak bawa payung?” sebuah suara membuat aku menoleh ke belakang. Di pintu, gadis tadi yang duduk di dalam perpustakaan—yang aku duga adalah petugas perpustakaan—sedang berdiri dan bersandar memperhatikan aku.
Jika dilihat, dia tidak lebih tua dari aku, masih muda, mungkin di awal dua puluhan. Dia melipat satu tangan di depan dadanya, sementara satu tangan lagi aku lihat sedang memegang sepuntung rokok yang menyala. Aku otomatis mundur satu langkah. Jangan salah, aku bukannya tidak suka dengan orang – orang yang merokok. Kalian ingin merusak paru – paru sendiri? Silahkan. Hanya saja, aku tidak tahan dengan bau asapnya.
Terlebih aku punya asma.
Jika dia tersinggung dengan manuver aku, gadis itu tidak memperlihatkannya.
“Iya.” Jawabku. “Siapa yang mengira hari ini akan hujan? Tidak ada peringatan sama sekali.”
“Semesta bekerja dengan cara yang aneh,” katanya lagi.
Aku menatapnya lama. Dia tidak terlihat seperti gadis – gadis aneh yang tidak masuk akal. Kebalikannya, justru dia terlihat berkelas, seperti anak orang kaya. Hanya sepuntung rokok itu yang membuatnya terlihat kontras dengan pakaian yang dia gunakan.
“Aku ada payung jika kau mau.” Dia menawarkan. Sesekali menghirup asap rokok dan membuangnya ke samping. Aku melihat gestur itu dan bertanya apakah dia sengaja agar asapnya tidak terhembus ke arahku. “Kau bisa meminjamnya.”
Mataku menoleh ke luar. Situasi masih menyedihkan. Derasnya hujan secara praktis memporak – porandakan apa pun yang berani melewati mereka. “Tidak perlu. Terima kasih. Aku rasa menggunakan payung pun tidak ada gunanya.”
Dia mengangguk. “Hujan yang deras, ya.”
Aku tidak menjawab. Selama beberapa saat kami hanya melakukan itu, saling diam. Dia sibuk dengan rokoknya, menghisap dan menghembuskannya ke samping. Sementara aku menatap ribuan likuid hujan yang berjatuhan ke bentala, menampar pavemen serta membanjiri jalan tanpa peduli pada apa pun.
Gadis itu membuka mulutnya lagi. “Kau menunggu seseorang tadi?”
Aku menengok ke arahnya, mengganti atensi dari hujan ke wajahnya yang cantik. Warna surainya sedikit cokelat terang, berkilau di bawah cahaya lampu luar perpustakaan. Aku baru tersadar kalau lampu – lampu di gedung ini sudah mulai menyala. Yang berarti . . . saat aku menoleh ke langit, segalanya sudah gelap. Ternyata bukan karena mendung saja, hari memang sudah beranjak malam.
Angelo kau laki – laki tidak tahu diri.
“Iya. Aku menunggu temanku,” jawabku sembari membuang napas berat. “Sesungguhnya, tunggu dulu, tidak, dia bukan temanku.” Aku menggerutu kesal.
“Biar kutebak, kau seharusnya kerja kelompok tapi dia tidak datang?”
Aku menggangguk dan menggeram secara bersamaan. “Dia sudah berjanji akan datang, tapi aku terlalu bodoh untuk percaya padanya.”
“Siapa teman kerja kamu?”
“Angelo?”
“Apa?”
“Angelo Bronze.”
Gadis itu tertawa. Bukan hanya tawa biasa, tapi tawa yang tergelak bebas dan keras. Aku merenyuk ke arahnya, merasa sedikit tersinggung. Apa dia sedang menertawakan nasibku yang sial? Dia terus tertawa selama beberapa detik sebelum menggeleng dan menghapus air mata secara dramatik.
“Angelo?” dia berseru. “Kau berharap laki – laki itu datang untuk projek kelompok? Oh, sayang, lebih baik kau berharap hujan badai di tengah musim panas.”
Aku mendengkus. “Iya . . . iya . . . seharusnya aku tahu lebih baik. Angelo tidak mungkin semudah itu.”
“Hey, kau anak baru, ‘kan?” Aku mengangguk. “Tidak masalah. Semua orang setidaknya pernah satu kali dibuat kewalahan olehnya.”
“Tapi sudah banyak orang yang memperingati aku.”
“Apa yang mereka katakan?”
“Oh, terlalu banyak.” Aku mengibaskan satu tangan. “Intinya, dia berbahaya dan pusat masalah. Lebih baik jangan macam – macam dengan Angelo. Kalau kau macam – macam dengan satu Bronze bersaudara, artinya—“
“Kau macam – macam dengan semua Bronze bersaudara.”
“Kau macam – macam dengan semua Bronze bersaudara.” Ucap kami secara bersamaan. Ada sorot mata penuh arti dari gadis itu.
“Aku Muse.” Kataku pelan. Aku mengulurkan satu tangan padanya. “Aku tahu, nama yang aneh.”
Dia menjabat tanganku. “Esme. Dan tidak, aku pikir namamu cantik. Unik juga.”
“Terima kasih,” balasku dengan senyum tipis. “Esme singkatan untuk Esmeralda?”
“Iya.”
“Oh, kau bukan sepenuhnya darah Korea?” tanyaku penasaran.
“Aku anak adopsi.”
“Oh.” Aku menelan ludah merasa malu. Bagus. Baru saja berkenalan dengan gadis keren dan baik, kau malah menghancurkannya. “Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk—“
“Tidak masalah. Orangtuaku sudah memberitahu itu sejak kami kecil.”
“Kami?”
“Aku dan saudara – saudaraku. Kita semua di adopsi.”
Aku mengangguk mengerti.
“Hey, kau mau menunggu di dalam? Badai ini tidak akan segera hilang. Kau bisa duduk bersamaku dan minum teh . . . atau semacamnya.”
Aku tersenyum pada Esme. “Tentu saja.”
Baru ketika kami akan masuk ke lagi ke dalam perpustakaan, seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Aku menoleh, tidak mengenali siapa dua orang laki – laki yang sedang berlari ke arahku itu. Di terpa hujan, mereka tidak mundur sama sekali.
“Siapa mereka?”
Esme membuang napas. “Bronze bersaudara yang lain. Lucky dan Felix Bronze.”
Mereka menerjang hujan dan menghampiri aku dengan napas terengah. Aku menoleh ke tempat Esme berdiri, namun gadis itu sudah lebih dulu menghilang di balik pintu. Hanya suara pintu yang dibanting tertutup yang aku dapat.
“Er . . . Muse?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya. Siapa, ya?” tanyaku tetap, walau pun aku sudah tahu nama – nama mereka.
“Lucky,” ujar salah seorang dari mereka yang lebih tinggi.
“Felix,” kata yang di sebelahnya.
Aku mengangguk. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu,” Lucky menghela napas, seperti apa yang sedang dia lakukan saat ini sangat bodoh. “Angelo ingin mengatakan kalau dia bukannya tidak mau datang, tapi tidak bisa. Ada sesuatu yang terjadi dan dia baru sadar kalau dia tidak punya nomor teleponmu.”
“Apa—?”
“Oh, dan sekalian, dia ingin minta nomor ponselmu.” Felix berkontinyu.
Aku menatap mereka secara skeptis. “Apa ini lelucon?”
“Apa aku rela menerjang hujan badai hanya demi lelucon?” pria yang dipanggil Lucky itu mendengkus.
Felix hanya menggeleng. “Bukan. Angelo tidak ingin kau salah sangka.”
“Jadi kalian berdua datang ke sini hanya untuk mengatakan kalau—“
“Iya. Sekarang, bisakah kau memberi nomor ponselmu?” Lucky meminta.
Aku mengerjapkan mata berkali – kali bahkan ketika sedang memasukkan nomor telepon aku ke dalam ponsel Felix.
“OK. Itu saja. Kau ada pesan untuk Angelo?” tanya Felix.
“Bodoh, jika dia ingin mengatakan sesuatu dia bisa bilang saat Angelo sudah menghubunginya,” Lucky menggerutu.
“Benar juga. Baiklah, selamat tinggal.” Felix melambaikan tangan.
Aku tidak bisa berkata apa – apa selain, “Apa Angelo sudah gila?”
***
“Halo, Muse. Sudah lama tidak bertemu.” Lucky menghempaskan tubuhnya di kasur tanpa peduli aku sedang duduk dengan kaki bersila dan tatapan membunuh. “Sudah ingat pada kami? Dulu kita sempat bertemu saat hujan—“
“Aku tidak peduli.” Aku yakin wajah aku terlihat sangat datar saat ini. Aku tidak peduli. Memangnya mereka pikir aku akan bersikap seperti gadis sopan yang berbicara dengan lembut? Mereka pikir aku akan bersikap ramah pada mereka? Mereka pikir aku akan tetap menjadi Muse yang dulu, yang bisa akrab dan bergaul bersama mereka semua?
“Wow, baiklah.” Lucky mengedikkan bahu, lalu menatap langit – langit kamar.
“Muse, kau tahu ‘kan tidak tidak bermaksud jahat—“
“Aku tidak peduli.” Ucapku cepat memotong perkataan Felix. Dia menghela napas panjang.
“Mau aku beri tahu sesuatu, Muse?” Lucky menopang kepalanya dengan satu tangan.
“Apa?”
“Angelo suka padamu.”
“Diam.”
“Sangat . . . sangat . . . sangat suka padamu.”