PART 13

1931 Kata
SUKA adalah frasa yang memiliki banyak konotasi serta arti. Jika suka pada seseorang, bisa saja maksudnya suka dalam kategori orang itu membuatnya nyaman, atau orang itu menarik sehingga orang lain menjadi suka padanya, bisa saja karena orang itu memang banyak disukai sebab sifatnya yang baik hati dan ramah. Siapa aku untuk tahu apa itu rasanya suka? Yang bisa aku tahu tentang perasaan suka adalah rasa suka pada makanan. Rasa suka pada hobi yang menarik. Rasa suka pada semua hal yang membuat aku senang seperti misalnya musim panas. Es krim di musim panas adalah kombo paling aku sukai. Es krim rasa Vanilla. Panggil aku payah dan tidak punya selera, tapi rasa es krim favorit aku memang Vanilla. Ya, aku simple dan tidak banyak pilihan. Lalu, sup hangat di musim dingin. Apalagi sup jagung buatan ibu. Itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa aku lupakan di dunia. Lalu, ada daun yang gugur di musim gugur. Aku suka itu. Saat berjalan dan kau diikuti oleh daun – daun yang jatuh ke bumi. Rasanya seperti ada yang menemani kau di jalan. Aku suka banyak hal. Mungkin juga aku suka pada seorang pria yang pernah mengisi hati ini selama masa sekolah. Entah. Apa itu rasa suka pada dasarnya? Entahlah. Ada banyak arti dari kata suka sehingga aku tidak bisa menafsirkan premis mendengar perkataan Lucky. Laki – laki yang memiliki senyum kotak serta tubuh yang tinggi itu masih rebahan di kasur tempat aku duduk. Dia tidak menoleh padaku, melainkan menatap langit – langit kamar dengan sorot mata yang tidak bisa aku jelaskan. Felix, saudara laki – lakinya menghampiri kursi kerja kamar Angelo dan duduk sembari melipat dua tangan di depan d**a. Tubuhnya bersandar di kursi tersebut hingga kursinya terdorong beberapa senti ke belakang. “Kau dengar apa kataku?” tanya Lucky. Aku menatapnya lekat, berusaha mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. Laki – laki itu bagaikan partisi yang tidak bisa aku tembus. Walau sorot matanya menunjukkan suatu emosi, tapi rasanya semua emosi bercampur menjadi satu di matanya. Aku tidak bisa menerka salah satu dari ribuan sentimen yang bergejolak di dalam iris netra cokelat tersebut. Lucky kembali berpangku tangan di kepala sambil menghadap aku. “Muse?” “Dengar. Tentu saja aku dengar memangnya aku tuli?” aku menghardik keras. Mungkin terlalu keras. Tapi aku tidak bermaksud sinis ke arahnya. Hanya saja, ini butuh waktu untuk diproses. Bukannya ini pertama kali juga aku tahu kalau Angelo suka padaku. Tapi itu sudah bertahun – tahun yang lalu. Itu sudah masa lalu. Dan seperti yang sudah kita sepakati, Angelo yang sekarang bukanlah Angelo yang dulu. Dia bukan Angelo yang mengatakan suka padaku waktu itu. Bukan juga Angelo yang rela melakukan segalanya untuk aku. Jika dia masih Angelo yang sama, aku tidak akan berada di sini, dikurung dan dikunci di dalam kamar seperti tahanan. Yah, aku memang tahanan. Apa lagi namanya jika berhari – hari dikurung di tempat yang sama? Sudah begitu, parahnya aku tahanan yang sempat diserang oleh anak buah pelakunya. Semesta, kau memang bekerja secara aneh . . . “Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu bingung,” Lucky berkontinyu. “Hanya saja, aku ingin kau tahu kalau Angelo tidak akan pernah dengan sengaja membuatmu sengsara. Melukaimu, atau apa lah. Dia tidak akan melakukan ini jika tidak punya pilihan lain.” “Semua orang punya pilihan,” aku menghardik lagi. “Not us.” Felix membuka mulut setelah selama beberapa lama hanya mendengar aku dan Lucky bertukar pendapat. Konversasi itu terhenti, seperti diktum dari Felix menjadi ultimatum yang telak. Aku menoleh ke arahnya, tapi laki – laki itu hanya sibuk menatap lantai, menggoyangkan kaki – nya ke kanan dan ke kiri. Siapa yang tidak punya pilihan di dunia ini? Tentu saja semua punya. Angelo bisa memilih untuk tidak mengurung aku di sini, dia bisa memilih untuk percaya padaku dan membiarkan aku pulang. Dia bisa mengabaikan permintaan saudara – saudara nya agar aku tidak perlu ditahan di sini. Semua punya pilihan. Tapi melihat wajah Felix yang murung dan rahang Lucky yang mengatup, aku tidak mengatakan apa – apa lagi. “Kita hanya melakukan apa yang terbaik, bagi semua orang.” Lucky menambahkan. “Yang terbaik?” Laki – laki itu mengangguk. “Jika kau dilepas, akan ada banyak bahaya yang mengejarmu.” “Bagaimana bisa?” tanyaku heran. Aku bukan masalah untuk mereka. Aku tidak kenal siapa – siapa yang bisa membuatku ada dalam bahaya. Aku sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapa – siapa! Bahaya apa yang akan mengerjarku? Satu – satunya bahaya yang aku tahu adalah keinginan Angelo dan mereka ini untuk mengurung aku sendiri di sini. Felix menghela napas. “Aku rasa ini bukan tempat kita untuk memberitahumu.” “Oh, no . . . kau akan memberitahuku sekarang!” Aku berseru tak sabar. “Kalian tahu Angelo, ‘kan? Laki – laki itu tidak kapabel berbicara lebih dari beberapa frasa saja! Aku berkali – kali memintar agar dia menjelaskan segalanya padaku, tapi lihat, aku sampai saat ini masih tidak mengerti kenapa aku harus ditahan di sini kecuali karena itu permintaan kalian!” “Permintaan kita?” ulang Lucky dengan kening berkerut. “Iya! Angelo bilang kalau ini bukan hanya pilihan dia sendiri, kalau kalian saudara laki – laki nya yang tercinta juga ikut andil dalam keputusan menahan aku di sini.” Aku menghembuskan napas berat. Dengan susah payah aku menelan emosi agar tidak memekik dan mencabik – cabik wajah tampan Lucky yang masih berbaring di depanku. “Dia bilang ini bukan keputusan yang bisa dia ambil sendiri. It’s complicated but he did not explain why it is complicated!” Felix berdecak halus, sementara Lucky menganga menatapku. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Baru ketika realita sepertinya kembali padanya, laki – laki itu sudah siap untuk berkata, namun Felix mencegahnya dengan batuk sekeras mungkin. “Lucky,” dia menaikkan satu alis padanya. Lucky melengos, sembari memberengut dan menghempaskan tubuhnya keras dari posisi berpangku tangan di kepala. Dua tangannya terlipat di atas d**a, atensinya kembali fokus ke langit – langit kamar. “Apa yang terjadi?” aku melirik mereka berdua bergantian. “Oh, aku tahu ini. Spill. Ada yang kalian sembunyikan!” “Tidak ada,” Felix menjawab dengan nada yang pelan dan hati – hati, seperti berbicara pada hewan buas yang siap menerkamnya. Merasa kalau kesempatan aku tidak bagus di depan Felix, aku beralih pada Lucky. “Hey, kau . . .” Aku menendangnya pelan di lengan. Kaki – ku menyodoknya berkali – kali. “Katakan apa yang tadi akan kau katakan sebelum dia ganggu,” aku menunjuk Felix. “Sekarang.” “Kau tidak bisa menyuruhkan sembarangan.” Lucky mendengkus. “Katakan atau aku akan menangis,” ancamku tidak tahu diri. Giliran Felix yang mendengkus. “Memangnya ada masalah jika kau menangis?” tanya Lucky sok acuh tak acuh. “Angelo akan sangat marah.” Aku mengedikkan bahu. “Aku tahu beberapa hari ini dia berpura – pura keras dan oh I’m so tough and I am not going to be soft around you, tapi aku tahu dia masih peduli padaku. Saat aku pertama kali dibawa ke sini, dia nyaris membunuh laki – laki itu di ruang bawah tanah kalian—oh dan by the way, apa yang terjadi dengannya sekarang?” “Siapa?” tanya Felix. “Laki – laki itu. Kalian memanggilnya Four. Dia yang melukai aku di bank, dan dia juga yang membawa aku ke sini, secara paksa. Dia melukai aku. Awalnya, Angelo bilang dia sudah mengurusnya. Tapi kemudian dia menyerang aku kemarin itu.” Jelasku panjang. Lucky hanya tertawa tipis tanpa ada rasa humor di dalam tawanya itu. “Anggap saja begini, Five sudah naik jabatan menjadi Four, dan seterusnya.” Aku berusaha memfilter jawaban dari Lucky. Dan benak aku tidak bisa menahan berbagai macam skenario buruk yang terjadi. Angelo tidak mungkin . . . ? “Tidak ada gunanya memikirkan orang yang sudah mencelakaimu, Muse.” Felix lagi – lagi berusaha memutar konversasi. Dia menelengkan kepalanya padaku. “Untuk apa? Laki – laki itu tidak pantas ada di kepalamu.” Aku terdiam. “Four sudah menyalahi aturan. Dia sudah berani melawan kita—“ “Angelo, maksudmu?” potongku. Felix tersenyum. “Hey, tentu saja kau masih ingat motto hidup kita, ‘kan?” Aku mengerutkan kening memikirkan pertanyaan Felix. Sebelum akhirnya aku tersadar dan mencibir dengki. “Kalau kau macam – macam dengan satu Bronze bersaudara, artinya—“ “Kau macam – macam dengan semua Bronze bersaudara.” “Kau macam – macam dengan semua Bronze bersaudara.” “Kau macam – macam dengan semua Bronze bersaudara.” Kami bertiga saling menyelesaikan kalimat itu. Sebuah ultimatum yang menjadi pembicaraan satu sekolah. Itu berarti, karena Four sudah berani melawan Angelo, dia juga berani melawan mereka semua. Bronze bersaudara itu satu paket. Setiap kali kalian berurusan dengan salah satu dari mereka, tentu saja yang lain juga mencampuri urusan itu. Maka dari itu, jangan sampai kalian jatuh dalam masalah dengan salah satu dari mereka, karena satu saja berarti ada enam masalah lain di belakang kalian. “Intinya adalah,” aku berkontinyu, memutar konversasi ke arah yang aku mau. “Aku bisa saja berpura – pura seperti kalian baru menyakiti aku atau semacamnya. Aku akan menangis sejadi – jadinya. Aku akan berteriak. Entahlah.” “Angelo tidak akan percaya padamu,” gerutu Lucky. “Memangnya kau pikir dia bodoh?” “Kau ingin coba?” “He won’t be fooled, Muse.” Felix menggeleng. “Hentikan ancaman ini.” Aku mengedikkan bahu lagi. “Baiklah, jika kalian ingin cari tahu.” Aku bersiap untuk berteriak sejadi – jadinya. Lucky menyipitkan matanya padaku. “Kau tahu, ‘kan Angelo sedang tidak ada di rumah?” dia menaikkan satu alis. “Tidak ada gunanya kau berteriak – teriak seperti orang kesetanan.” “Oh.” Aku berdecak. “Ya sudah, aku bisa berpura – pura nangis nanti saat dia sudah pulang.” “Aku sudah bilang itu tidak mempan,” Felix membuang napas. “Lagi pula, tidak ada yang bisa kita katakan.” “Aku tahu Lucky akan mengatakan sesuatu tadi.” Kataku tegas, tidak membiarkan dua orang laki – laki ini mengintimidasi aku sedikit pun. “Lucky tidak melakukan apa – apa.” Felix melumat bibirnya. “Ha!” Aku menunjuk dia. “Kau juga bertingkah aneh dan gugup.” Felix melengos dariku. “Lucky, apa kau benar – benar ingin mencari tahu apa yang akan Angelo lakukan jika aku mengadu kalian macam – macam denganku?” Laki – laki itu mencibir. “Kau dan ancaman itu tidak berguna. Lagi pula, percayalah, kau tidak ingin mendengar ini.” “Apa?” aku berseru. “Try me.” “No . . .” Lucky menggeleng. Aku menggeram dan menendangnya, diikuti dengan Lucky yang mengaduh dramatis. Aku bahkan tidak menendangnya sekuat itu, dan aku yakin lengannya yang besar sekali itu pasti tidak merasakan apa – apa, kecuali mungkin tergelitik sebab bersentuh dengan kaki aku. “Just tell me already, you cowards!” aku berteriak kesal. “Kita bukan pecundang!” Lucky berseru balik. “Oh, ya? Kelihatannya kalian tidak ingin memberitahuku karena kalian takut sama Angelo.” Lucky mengatupkan rahang. Aku pikir Lucky yang akan luluh, namun beberapa sekon kemudian Felix yang mengerang kesal. “Itu bukan pilihan semua orang.” “Apa?” Aku mengerutkan kening. “Itu bukan pilihan semua orang. Kau pikir Angelo akan mendengar apa yang kita mau? Tidak. Kau sendiri tahu kalau Angelo ingin sesuatu, dia akan mendapatkannya.” “Apa yang sedang kau katakan, Felix?” “Angelo yang ingin membuatmu tetap tinggal di sini. Itu pilihannya sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN