PART 14

2561 Kata
JIKA harus ditanyakan apakah mudah bagi aku untuk membuat yang namanya laki – laki dengan tinggi probably six foot two inches itu berkata jujur dalam jangka waktu lima detik saja, aku pasti akan mengatakan mudah sekali. Seperti perumpamaannya, easy peasy, atau favorit aku yang paling special, like taking a candy from a baby. Itu sudah bukan sebuah hal yang aneh bagi aku. Entah kenapa aku selalu merasa kalau membuat pria yang tinggi sekali ini bisa berbicara jujur. Dulu aku menganggap hal ini sebagai kekuatan super yang sangat langka. Alias hanya aku yang punya. Pada dasarnya, Angelo Bronze sendiri adalah laki – laki yang memang sangat jarang bicara. Sungguh, aku pikir dia memang tidak suka yang namanya mengeluarkan suara. Mungkin bagi pria ini, berbicara adalah sebuah kegiatan work out yang sangat melelahkan. Aku tidak akan heran jika dia berpikir mengeluarkan suara dan vokal adalah hal yang mahal. Jika dia mau, Angelo bisa saja membuat orang membayar mahal hanya demi mendengar suara dia seperti apa. Aku tidak akan heran juga jika memang benar – benar akan ada orang yang membayar demi mendengar suara pria yang terlihat seperti diukir langsung oleh dewa Yunani itu. Angelo sendiri memang tidak pernah ambil pusing perkara dia yang sangat jarang bicara. Tapi entah kenapa, sedari dulu, orang sering mengatakan kalau Angelo justru sangat suka berbicara padaku. Dulu aku menganggap hal hanya karena kita berteman akrab. Mungkin. Entah. Tapi dulu sih aku sering merasa percaya diri. Bagaimana tidak? Pria yang punya reputasi tinggi di sekolah, serta ditakuti oleh banyak orang selalu bertingkah ramah dan mau meladeni aku? Gadis yang tidak punya apa – apa? Itu sebuah pencapaian yang luar biasa. Aku akan menganggap hal ini sebagai sebuah award. Aku ingat dulu sekali, Lucky malah sempat meminta tolong padaku untuk membuat Angelo bicara perkara sesuatu yang mereka ributkan di rumah. Alhasil, aku berhasil membuat Angelo mengaku kalau dia suka mengempeskan salah satu ban mobil milik Lucky yang sangat dia sayangi hanya karena pria itu mengatakan Angelo terlihat seperti hantu Casper. Bukannya aku senang dan bangga dengan fakta kalau Angelo Bronze itu secara praktis bertekuk lutut di hadapanku, tapi yah, aku memang senang dan bangga dengan fakta kalau seorang Angelo Bronze yang ditakutkan oleh murid – murid lain—dan sepertinya reputasi itu masih terus berlanjut hingga sekarang—secara praktis bertekuk lutut di hadapan aku. Dengan reputasi yang cukup notorius, tinggi dan tubuh yang masif, wajah datar yang sering kali dianggap sangar serta sinis, dan perilaku yang juga tidak menolong segala macam fakta tadi, Angelo Bronze itu laiknya hiu putih di tengah lautan ikan sarden. Dan memangnya kalian tidak akan merasa di atas angin jika mendadak menjadi pawang salah satu predator terbesar di lautan? Aku ‘sih iya, dan aku tidak akan pernah malu untuk mengakuinya. Tapi sekarang? Saat aku sedang dikurung, ditahan, dan secara praktis berada di bawah kuasa laki – laki yang seharusnya secara praktis bertekuk lutut padaku itu? Aku mulai kehilangan percaya diri. Membuatnya jujur mungkin akan menjadi misi yang rumit malam ini, tapi aku bukan gadis yang cepat menyerah. Seperti yang laki – laki itu sering katakan, “Kau gadis yang keras kepala, sangat keras aku pikir di dalam sana tidak ada otak dan hanya ada serangkaian tengkorak saja.” Lucky dan Felix terlihat menyesal begitu melihat reaksi dariku. Begitu fakta tersebut lepas dari bibir Felix, aku sudah siap untuk mengeluarkan bara api dari dalam labium seperti naga – naga sakti di Mount Olympus. Apa di Mount Olympus ada naga? Entahlah. Yang jelas, aku sedetik lagi siap untuk membakar Angelo Bronze hidup – hidup. Walau pun kau diperlakukan dengan seenaknya olehnya—mengingat aku ditahan secara paksa dan dilarang pulang—sebagian dari hatiku merasa iba melihat permintaannya berkali – kali kalau aku harus mengerti dan dia tidak punya pilihan lain. Dan bodohnya, seperti aku yang memang terlahirkan untuk gampang ditipu dan dipermainkan oleh insan lain, aku percaya padanya. Sedikit. Baiklah . . . mungkin banyak. Aku melihat matanya, dan aku luluh. Dua obsidian sialan itu akan selalu menjadi kryptonite buat aku. Sekali tatap saja, dan semua kekuatan serta dunia aku porak – poranda. Jadi begitu dia mengatakan kalau semua ini rumit, sulit, susah, dan segala macam kebohongan yang dia beri makan padaku, aku percaya begitu saja. Toh memang, dengan presensi enam saudara laki – lakinya saat itu aku semakin membeli apa yang dia jual dengan mengatakan kalau ini semua keputusan yang harus diambil bersama-sama, kalau dia tidak bisa egois, tidak bisa memutuskan segalanya sendiri. Dan aku yakin semua ini memang harus satu kesepakatan dengan yang lain. Tapi Felix berkata lain. Dan melirik Lucky, aku tahu mereka tidak berbohong. Sebagian sebab aku melihat mereka berdua, dan dua nyawa itu terlihat seperti akan mati beberapa sekon lagi. Seperti Angelo akan menerjang masuk dan menancapkan tubuh mereka satu per satu di gagang yang tajam. “Muse, do you want to say anything?” Lucky mencoba mengisi keheningan yang sudah terjadi pada kami selama kira – kira lebih dari sepuluh menit. Aku menggigit bibir. “Kau tahu ‘kan Angelo suka pa—“ “Oh, save it.” Aku membentak. Tak sengaja. Atau memang sengaja. Entahlah. Aku tidak tahu perasaan aku sendiri. Segalanya bercampur menjadi satu dan aku hanya ingin marah. Berteriak. Segalanya. Aku ingin memukul tujuh laki – laki ini. Aku ingin melompat dari jendela. Aku ingin— Aku nyaris tertawa. Jendela apa? Aku menghela napas berat tetapi tidak menawarkan permintaan maaf. “Dan kalian tidak mencoba untuk membuat semua ini berakhir? Seperti oh, I don’t know, melepaskan aku atau semacamnya? Kalian bisa membebaskan aku selama ini tapi kalian memilih diam saja?” “Tidak semudah itu.” Felix membasahi bibirnya. “Kami mengkhianati Angelo jika berani melakukan itu.” “Dan membiarkan dia melukai aku?” “Muse, kau tahu dia tidak akan pernah melukaimu. Apa yang kau pikirkan? Angelo hanya ingin—“ “Kalian pikir aku peduli apa yang dia inginkan?” Aku berseru keras, memotong Felix dengan wajah yang aku rasa sudah merah. “Aku punya kehidupan! Aku punya Ibu—yang entah sedang merasakan apa sekarang. Mungkin dia sedang panik setengah mati, tidak bisa melakukan apa – apa sendiri, apa kalian tahu Ibuku terkena stroke ringan tahun lalu? Dia tidak sekuat wanita paruh baya yang lain! She needs me, and I’m here! Karena saudara laki – laki kalian yang egois! Kalian pikir aku tidak terluka? Luka fisik dan emosi sama – sama menghancurkan!” Felix dan Lucky sama – sama terdiams seribu bahasa. Labium mereka melipat ke dalam, d**a naik dan turun seperti sedang terengah. Mungkin aku yang mendadak melepas semua emosi serta frustasi bertugas menjadi kejutan untuk mereka. Dua laki – laki yang terdiam itu tidak bertemu dengan korteks visual aku sama sekali. Setelah beberapa lama aku menarik napas, membiarkan emosi kembali ke dalam dan menjauh dari permukaan. Tidak ada gunanya menggunakan kepala yang panas dalam konversasi ini. Kepala yang dingin mungkin tidak bisa datang untuk saat ini, tapi setidaknya, aku tidak akan membuang – buang waktu dengan menghabiskan vokal apalagi melelahkan pita suara untuk mereka. Itu semua akan aku lakukan untuk acara utamanya. Misi membentak Angelo Bronze dan mengingatkan tempatnya kalau laki – laki itu secara praktis bertekuk lutut di hadapanku. “Bantu aku keluar dari sini,” pintaku. Wajah mereka dari yang menyesal dan merasa seperti dua orang terjahat di bumi, berganti menjadi terkesiap dan panik mendengar permintaan dariku. Mungkin perubahan secara drastis dari konversasi ini membuat mereka nyaris terkena stroke seperti Ibu tahun lalu. Lucky melepas tawa yang tercekat. Tidak ada humor. Tidak ada rasa apa pun dibalik tawa itu selain setitik sarkas dan teror. “Sekalian saja kamu meminta kita menggantung diri, Muse. Lebih cepat kau meminta kita mencuri bank terbesar di dunia dari pada mengeluarkanmu dari sini dan melepas kemarahan Angelo Bronze.” “Apa yang dia inginkan dariku?” tanyaku kesal. Aku merentangkan tangan di udara. “Apa yang dia mau dari gadis yang tempatnya hanya di masa lalu?” Netra Felix meluluh. Dia menggeleng dengan senyum iba. “Apa hanya itu yang kau pikirkan tentangmu, Muse?” tanya Felix. Dia berdiri dari kursi kerja dan duduk di samping tubuh Lucky yang masih berbaring. Dengan jarak yang sudah dekat, aku bisa melihat mimik irasnya mengeras. “Kalau kau hanya gadis masa lalu Angelo? Bahwa tidak ada lagi nilai?” “Lantas? Kau mau aku percaya kalau dia masih ada sisa rasa dan peduli padaku? Setelah dia melakukan ini semua?” “Kau lebih dari masa lalu. Memorinya masih tersimpan dan terkunci di saat – saat kalian bersama. Muse, kau tidak akan pernah kurang dari hanya sebuah kenangan. Bagi Angelo, kau adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Entah itu dengan presensi kamu di hidupnya, atau tidak.” Diktum dari Felix kini berganti membuatku terdiam seribu bahasa, laiknya senjata makan tuan. Aku yang tadinya berniat membuat mereka merasa bersalah dengan memanfaatkan keadaan aku dan Angelo, malah diserang balik oleh saudara laki – lakinya. Bagi Angelo, kau adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. “Aku tahu kau akan memberikan di neraka nanti,” Lucky menyahut. “Tapi percayalah, dengarkan dulu penjelasan darinya.” “Penjelasan darinya hanya akan berisi kau tidak akan mengerti, Muse atau semuanya sulit dan favoritku secara personal aku melakukan ini untuk kebaikanmu.” Aku mendengkus. Mengikuti cara berbicara Lucky, aku menatap datar. “Sekalian saja kau meminta aku menggantung diri dari pada mencoba membuat Angelo Bronze menjelaskan apa yang sedang terjadi di isi kepalanya.” Walau pun suasan yang sedang berat, dua laki – laki di depanku tersenyum geli. “Aku hanya mengatakan, tidak ada gunanya menghabiskan waktu dengan membuang – buang napas dan membentak dia.” Lucky berkontinyu. Aku mengangguk di dalam hati. Sentimen yang sama dengan apa yang aku pikirkan. “Kau tidak merasa . . . marah pada kami, ‘kan?” tanya Felix. “Aku ingin membunuh kalian satu per satu, dimulai dari yang paling muda hingga yang paling tua, dan berakhir dengan Angelo agar dia bisa melihatnya sampai selesai. Lalu aku akan memberi makan kalian pada hiu putih yang ganas hingga tidak ada lagi sisa kalian di bumi ini.” “Baiklah. Kau marah pada kami.” Felix berdeham canggung. Aku menyadari dia sedikit mundur, nyaris duduk di pinggir kasur dan jatuh ke bawah. Lucky ikut bergeser. “Aku rasa marah adalah kesalahpahaman.” “You think?” Aku melotot ke arah mereka berdua. Dua – duanya saling melengos, menghindari korteks visual aku yang dingin. Aku harap mereka mati beku. “Tapi serius, apa yang akan kau lakukan?” Lucky membuka mulut lagi. Aku mulai merasa laki – laki ini tidak kapabel menutup mulut lebih dari lima detik saja. Setiap kali, dia yang menghabisi keheningan. “Sebodoh hal itu, aku tetap akan meminta penjelasan.” Aku menelan ludah. “Aku tidak ingin ada di sini lebih lama lagi.” Felix memeluk lututnya. “Apa separah itu?” “Seeperti yang aku bilang, aku punya kehidupan sendiri. Apa yang akan Ibu aku lakukan sendirian di rumah?” Tidak ada jawaban. “Terima kasih karena sudah jujur padaku.” Tambahku lagi. “Mungkin ketika aku selesai, kalian akan aku berikan pada paus – paus kecil. Lebih baik, ‘kan?” Aku tidak tahu kenapa rasanya senang sekali membuat mereka takut dan mengancam mereka. Padahal aku tahu, jika mereka ingin aku terluka, mereka sudah akan melakukan hal itu dari awal. Ayolah, aku hanya seorang gadis mungil yang tidak mungkin bisa melawan dua pria masif seperti mereka ini. Felix dan Lucky menjauh dariku. *** Saat malam tiba—dan aku tahu ini sebab Linda sudah datang membawa makan malam—aku mulai dimakan panik dan insekuritas. Lucky dan Felix sudah pergi, meninggalkan aku makan sendiri dengan tenang. Menurut mereka, Angelo memberikan ijin untuk mereka pergi begitu makan malam tiba. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Dan benar saja. Tidak butuh waktu lama bagi presensi pria masif itu memenuhi ruangan kamar ini. Aku baru saja menghabisi setengah dari makan malamku ketika dia masuk tanpa mengetuk. Tanpa melihatku. Tanpa sapaan atau bentuk suara apa pun. Dia terus berjalan menuju lemari, mengambil pakaian, dan menghilang ke dalam kamar mandi. Aku nyaris melempar garpu yang tajam ke punggung nya. Jika tidak mengingat aku punya daya ukur yang lebih dari jelek. Angelo keluar dari kamar mandi, menaikkan alis ketika melihat aku yang sudah berhenti makan dan meletakkan nampan di lantai, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Aku mendadak tegang ketika tubuhnya mengisi spasi kosong di kasur. Presensinya begitu nyata, seperti ibu jari ynag sedang bengkak, membuatku mual. Mungkin memuntahkan makan malam di wajahnya yang tampan itu adalah balas dendam yang perfek. Laki – laki itu tidak mengatakan apa – apa. Aku melirik dengan ujung mata dan melihat di sedang bersandar di duvet kasur sembari mengotak – atik ponsel genggam miliknya. Bisa – bisanya dia melakukan hal se – simpel itu sementara aku harus mati gila di kamar ini seharian? “Nyaman?” suaraku keluar lebih sinis dari yang aku harapakan. Dan aku merasa bersyukur. Aku pikir aku tidak akan punya keberanian untuk menantangnya. Angelo menoleh dengan satu alis terangkat. Gaya khasnya. “Apa?” “Senang? Enak, ya. Bisa leluasa bermain ponsel.” Secara cepat dia mengerti ke mana arah konversasi ini. Jenius, itu Angelo. Selama beberapa detik dia terlihat bersalah, tapi itu semua hilang ketika dia mengatur komposurnya lagi. Diletakkannya ponsel genggam itu di duvet sebelah kasur. “Sorry.” “Untuk apa maaf? Bukannya kau punya beribu – ribu kerjaan yang harus kau lakukan? Aku paham. Actually, aku tidak akan paham. Maka dari itu, silahkan saja. Segalanya pasti rumit, ‘kan?” Angelo menggigit bagian dalam pipinya. “Apa yang terjadi?” Aku nyaris tertawa keras. “Apa yang terjadi?” Dia tidak menjawab. “Are you seriously asking me that question right now?” Aku tidak berteriak. Malah, nada bicaraku rendah. Tak ada emosi sama sekali. Kosong. Angelo bangun dari posisinya lalu menghadapku. “Muse—“ “No.” Aku memotong tegas. “Kau mau tahu apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kau laki – laki pembohong yang mengatakan kalau ini semua keputusan bersama padahal Lucky dan Felix bahkan tidak mengerti apa yang kau inginkan dengan menahan aku di sini!” Realisasi tenggelam di seluruh ekspresi wajah Angelo hingga aku tidak perlu mendengar konfirmasi dari bibirnya lagi. Itu saja sudah cukup. Cukup membuat aku melompat dari tempat tidur seperti laki – laki itu adalah wabah mematikan. Angelo ikut berdiri, dan jika aku tidak tahu lebih baik, dia seperti panik. Kami terpisahkan oleh jarak tempat tidur. “Dengarkan aku—“ Aku menggeram. “Sekali lagi kau mengatakan dengarkan aku! So help me God, I will rip your mouth off.” Angelo mengatupkan rahang. “Kau berbohong.” “Aku bisa menjelaskan semuanya.” Angelo mengulurkan dua tangan seperti menenangkan hewan liar. “Dan aku harus mendengarkan dusta yang lain?” “Muse—“ Dia menggeleng. “Aku tidak pernah bermaksud.” “Apa?” aku menyentak. “Mengurung aku atau membohongi aku?” “Dua – duanya.” Dia menunduk pasrah. Dan di situ aku tahu, aku sudah mendapatkan Angelo Bronze bertekuk lutut lagi di depanku. “Aku minta kejujuran darimu, Angie. Itu saja.” Angelo Brenzo menelan ludah. Dia menatapku lekat. Lalu sedetik kemudian dia terduduk kembali bersama postur tubuh yang pasrah. “Aku akan menjelaskan segalanya padamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN