“KAU SUDAH JANJI akan selau menjadi teman aku!” protes aku keras. Aku berkacak pinggang di depan loker yang terbuka lebar. Di depannya, sang pemilik sedang sibuk mengatur banyak buku catatan ke dalam loker tanpa menoleh ke arah aku sama sekali. Dia terlihat datar, seperti biasa. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Dan aku tidak melihat hal yang berarti dari sorot matanya, kecuali dirinya sendiri yang sedang serius mengatur buku. Jika aku berani, aku akan meraih satu buku cetak yang besar dan memukul dia di kepala dengan keras. Sayangnya, aku tidak berani memprovokasi pria ini di tengah banyak orang begini. Jadi, aku menunggu dengan sabar seperti biasa untuk respon darinya.
Dan seperti biasa, dia tidak menggubris aku sama sekali. Aku merenyuk. “Jadi ini yang namanya teman?”
“Jangan buat aku mebyesak sudah mencoba untuk berteman denganmu, Muse.” Angelo akhirnya membuka mulut. Dia meraih satu buku cetak besar yang aku kenali sebagai buku bahasa Perancis kita dan memasukkannya ke dalam tas ransel hitam miliknya. Dia mengenakan seragam yang kusut dan surai yang agak berantakan. Pagi ini, Angelo terlihat seperti dia tidak mandi. Aku mengesampingkan fakta kalau Angelo seharusnya orang yang sangat peduli dengan kebersihan dan fokus pada topik awal. Angelo masih tidak menoleh padaku.
“Kau sendiri yang memutuskan hal itu. Aku tidak pernah memaksa!”
“Ya, dan jangan buat aku menyesal, sudah aku bilang,” Angelo berkata datar. Dia selesai berkutat di dalam loker dan menutupnya dengan kencang. Suara itu meresonasi ke seluruh koridor sekolah, membuat banyak pasang mata menoleh ke arah kami. Tapi aku terlalu sibuk menatap dua bola mata Angelo yang tajam, “Jangan membuat aku menarik kembali kata – kataku, ok?”
“You’re not a man of your words?” seru aku saat Angelo sudah akan pergi. Berhasil. Karena pria itu berhenti dan kembali menatap aku. “Kau tidak akan menepati janji darimu sendiri?”
“Hentikan itu, Muse.”
“Kau akan mengingkari janji dariku?” Aku merenyuk.
Pada dasarnya, aku tahu ini salah. Tapi aku butuh teman untuk ikut ke konser 5 Seconds of Summer yang tiketnya kau dapatkan secara gratis dari giveaway di internet. Aku butuh teman karena aku punya dua tiket. Dan aku hanya punya satu teman baik.
“Angelo, aku mohon?” pinta aku dengan mata yang sendu sekali.
Angelo mengerang kesal dan menatap aku tak percaya. Ketika aku pikir dia akan protes lagi, pria itu hanya menatap aku tanpa mimik wajah dan menarik napas panjang. “Kapan dan di mana konsernya?”
***
AKU akan bohong jika aku bilang kesempatan ini tidak aku manfaatkan sama sekali. Jika aku bilang aku tidak merasa seperti orang kaya baru setiap kali melihat ruang tamu yang nyaris kapabel menampung dua puluh orang lebih, aku akan menjadi orang paling munafik di seluruh dunia.
Kesempatan itu tidak aku biarkan, mana mungkin aku membuat segala luksuri ini sia – sia hanya karena ego semata? Harga diriku bisa diambil lagi dari bawah.
Tapi uang tidak pernah bisa kembali lagi.
Katakan aku orang yang bodoh dan mata uang, tapi jangan menoleh padaku jika kalian berada di posisi yang sama dan memikirkan hal – hal semacam ini.
Ayolah, siapa yang tidak mau memanfaatkan kesempatan sebesar ini?
Begitu aku membuka mata dan terbangun, beberapa saat aku sempat bingung dan tak kuasa menahan teror yang menyelimuti tubuh.
Aku pikir aku kembali dikurung di suatu tempat yang tidak aku kenal. Aku pikir aku diambil secara paksa lagi, diculik dan disekap.
Dan teror itu hanya menginkres ketika aku sadar kalau kamar yang menyekap aku kali ini bukan kamar tidur membosankan milik Angelo Bronze.
Tapi akhirnya aku bisa menafsirkan premis, dan ingat kalau aku sedang menginap di hotel besar.
Realisasi lebih besar adalah aku merasa kalau kalau aku tidak akan takut jika berakhir di kamar Angelo Bronze. Lagi. Aku menutup wajah, memukul kening dalam hati dan memarahi diri sendiri kalau aku sudah gila.
Hilang akal.
Merasa kalau tidak ada gunanya mengasihani diri di dalam kamar termegah yang bisa aku tempati, aku akhirnya bangun dan membersihkan diri. Aku menikmati waktu yang aku punya.
Bath tub luksuri aku isi penuh, aku menggunakan sabun yang wanginya masih menempel di tubuh sampai dua dan tiga hari ke depan, aku membersihkan surai dan memakai shampoo yang mungkin produk terhalus yang pernah aku pakai.
Ketika aku keluar, satu tatapan pada Ibu aku bisa tahu kalau Ibu juga melakukan hal yang sama.
Garis kurva halus terurai di ujung bibir, dan aku tertawa hingga kepalaku terdongak. Ibu mengibaskan tangan dan mencibir.
“Can’t resist right?” tanyaku dengan tawa yang masih mengancam untuk keluar. Bibirku tersenyum lebar hingga rahang meregang. Aku memegang perut sebab merasa sakit tertawa saking kencangnya.
Ibu berdecak. “Well . . . kita tidak bisa menyia – nyiakan ini, ‘kan?”
“Benar. That’s my mom.” Aku menghampiri dia yang duduk di kursi ruang tamu. Kami berdua menghempaskan diri di sofa ter – empuk yang mungkin bisa aku gunakan.
Ibu menoleh padaku. “Sarapan?”
“Sarapan apa?” tanyaku mengerutkan kening.
“Hmh . . .” Ibu mengembang pelan. “Room service?”
Aku menahan tawa lagi. Memang benar, like mother like daughter. Dia berkontinyu, “Kalau laki – laki itu mau membayarkan segalanya untuk kami, kenapa tidak?”
“Laki – laki itu namanya Angelo.” Balasku. Aku mencoba agar nada bicaraku tidak terdengar ketus atau semacamnya. “Laki – laki itu temanku, eomma.”
“Mantan teman.” Aku menaikkan satu alis padanya. “Memang tidak salah, ‘kan? Dia sudah pergi, tanpa kabar juga waktu itu. Aku tahu, karena aku melihat kau sedih selama—entah berapa lama, Muse, kau sangat terpuruk saat itu—dan aku tidak suka padanya semenjak itu. Tidak ada teman yang seperti itu.”
Aku menggigit bibir agar tidak berkomentar.
“Baiklah . . .” Dia lagi – lagi mengibaskan tangan. “Angelo itu mau membayarkan segalanya, ‘kan? Jadi kita gunakan saja kesempatan itu. Room service dua puluh empat jam per tujuh hari. You in?”
Aku mengangguk. Tentu saja aku mengangguk. Itu niatku semenjak pagi tadi. Memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin.
Ibu menepuk bahuku. “That’s my daughter.”
Aku tertawa. Ibu menghubungi room service, memesan semua yang dia inginkan termasuk apa yang aku minta. Setelah beberapa lama, bel pintu kamar kami berbunyi.
Ibu berteriak dari dalam kamarnya untuk membuka pintu. Aku berjalan ke pintu depan, melihat dari lubang intip seorang laki – laki berseragam hotel dan makanan yang dia bawa dengan meja roda.
Aku membuka pintunya, mempersilahkan laki – laki itu masuk. Aku lihat dia berhenti di tengah ruang tamu. Aku menunggunya untuk keluar. Dia membuka taplak meja putih yang menutupi meja roda.
Aku membeku. Dia tersenyum. Dia mengangkat tangannya. Dia menunjuk senjata api ke arahku. Dia tersenyum lebih lebar lagi.
“Tutup pintunya.”