PART 28

2506 Kata
“AKU BAHKAN TIDAK PERNAH mendengarkan satu lagu saja dari mereka, Muse,” protes Angelo saat kita sudah mulai masuk ke dalam venue yang penuh dengan penggemar berat 5 Seconds of Summer. Pria itu sudah melancarkan protesnya bahkan dari kemarin, terus menyerang aku agar aku berubah pikiran dan membawa orang lain. Dia bahkan ingin aku tidak pergi saja, dan itu sangat bodoh sebab satu hal yang sangat aku nanti saat ini adalah pergi ke konser mereka. Aku adalah salah satu penggemar berat 5 seconds of Summer dan memangnya dia pikir aku akan membiarkan dua tiket gratis ini hangus? Aku bersungut dan melotot ke arah Angelo yang berjalan dengan tidak niat. “Aku serius. Bagaimana bisa aku menikmati konsernya jika aku tidak tahu lagu mereka?” tanya Angelo heran. Dia membiarkan aku menarik tangannya keras hingga dia masuk ke dalam barisan tempat kita duduk. Kita melewati beberapa gadis yang tentu saja langsung tertarik dan menatap Angelo yang bisa bersaing dengan mudah dibandigkan semua personel band yang akan tampil. Angelo itu seperti model video clip yang sedang datang menonton konser band yang dia bintangi. Angelo duduk tanpa memedulikan semua tatapan yang tertuju pada pria itu. “Ini bodoh. Aku hanya akan duduk selama konser berlangsung.” “Jangan begitu!” protes aku keras. Aku sudah sibuk membuka tas dan mengeluarkan ponsel untuk merekam semua kejadian malam ini. Dengan cepat aku mengambil gambar kita berdua. “Aku tahu kau mendengarkan Ghost of You kemarin.” “Oh, itu lagu mereka?” “Kau tidak tahu?” “Aku hanya memutar apa saja yang ada di dalam Daily Mix,” kata Angelo sembari menyembut salah satu fasilitas di aplikasi mendengarkan musik. Aku memutar dua bola mataku. “Kalau begitu kenapa kau mau ikut ke sini?” tanya aku, seperti aku tidak secara langsung memaksa dan membuat pria ini merasa bersalah. Angelo hanya menggerutu dan melipat dua tangannya di depan. “Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kau?” *** “TUTUP pintunya!” Laki – laki itu berteriak lagi, kali ini dengan nada bicara yang kapabel membuatku bergetar. Tangannya terulur panjang, menunjuk senjata api ke arahku dengan mudah dan santai. Aku menelan ludah, tiba – tiba merasa kerongkongan kering dan sakit. Napasku tercekat. Aku mengangkat dua tangan ke atas, sebagai tanda kalau aku tidak akan melakukan apa – apa, dan dia tidak perlu menyakiti aku. Dia mengangguk dan menunjuk pintu dengan senjata apinya. Aku berjalan mundur, secara perlahan dan pelan – pelan. Ketika tanganku sudah menempel di daun pintu, aku menutupnya sepelan mungkin. Bunyi kunci klik meresonasi di dalam ruangan. Atmosfer yang mencemkam membuat segalanya menjadi dua kali lipat lebih keras. Dia mengangguk lagi, puas. Entah siapa dia dan apa yang dia mau. Apakah dia laki – laki yang sama, yang belakang ini menguntit aku dan Ibu, lalu nyaris menyerang kami di rumah kemarin? Seperti bisa membaca pikiran aku, laki – laki itu mengumbang pelan. “Iya, benar.” Dia tersenyum miring. “Aku yang kemarin. Miss me?” Aku tidak menjawab. Sebagian sebab aku tidak tahu harus menjawab apa, sebagian lagi sebab aku takut jika aku membuka mulut dia akan bertingkah dramatis. Laki – laki itu menelengkan kepalanya, masih belum menurunkan senjata api yang dia pegang. “Muse, ‘kan?” Aku mengangguk pelan. “Bagus. Aku tahu kau tidak sendiri di sini.” “A-aku sendiri.” Jawabku berpura – pura bodoh. Bagian kecil di dalam hatiku berharap kalau Ibu bisa mendengar semua ini dari mana pun dia berada sekarang dan memutuskan untuk bersembunyi. Laki – laki di hadapanku tertawa tanpa rasa humor sama sekali. “Kau pikir aku bodoh?” Aku tidak menjawab pertanyaan retorikal itu. Dia maju satu langkah, membuatku menempel pada pintu. “Mom!” dia berteriak. Teriakannya mengejek, seperti menertawakan fakta bahwa dia tahu aku berbohong dan Ibuku ada di dalam ruangan ini. “Mom, come out, come out!” Aku berharap dia tidak keluar. Aku berharap dia bersembunyi. Tapi tentu saja tidak. Berharap wanita setengah bahaya itu menjauh dari bahaya sama saja seperti berharap ikan bisa bernapas di daratan. Secara perlahan aku melihat figur Ibu keluar dari balik pintu kamarnya. Dia turut mengangkat dua tangan di atas kepala, sebuah bukti kalau dia tidak akan melakukan apa – apa. Aku menahan tangis. Ini semua karena aku. Ibu berada di tengah bahaya karena aku. Aku yang memberi invitasi pada semua resiko di hidup kami. Tapi aku tidak bisa menyesal. Aku tidak bisa merasa kalau pertemanan aku dan Angelo adalah sebuah kesalahan. Aku tidak bisa membenci diriku beberapa tahun yang lalu itu. Diriku yang memaksa Angelo untuk berteman denganku walau pun dia sudah menjauh. Aku tidak bisa menyalahkan diriku yang dulu berusaha agar Angelo tidak berhenti menjadi temanku. Sekarang, aku harus menerima akibatnya. Laki – laki itu mengumbang puas. “Baiklah, kau duduk di sofa.” Dia menunjuk sofa panjang di tengah ruangan. Ibu melirik aku sepersekian detik. Tatapannya bertanya apakah aku baik – baik saja. Aku membalas tatapan itu seyakin mungkin. Aku tidak bisa membuatnya merasa cemas. Jika dia lengah, entah apa yang akan terjadi. Dia terlihat sedikit lega. Lalu Ibu berjalan ke arah sofa. Ketika dia sudah terduduk, laki – laki itu beralih padaku. “Mana ponselmu?” “Er . . . di kamar.” “Ambil.” Aku bergerak, tapi langkahku terhenti ketika dia menghalangi jalanku. Senjata apinya terarah tepat di tengah keningku. Ibu menegang, seperti akan berdiri dan menutup lini pandang laki – laki tersebut. “Jangan mencoba yang aneh – aneh, Muse.” Dia mengalihkan senjata apinya, kali ini terarah pada Ibu. “Atau wanita ini akan menerima akibatnya. Mengerti?” Aku mengangguk, tidak kapabel membentuk kata – kata. “Mengerti?” ulangnya tidak sabar. “I-iya!” aku berseru. Laki – laki itu memberikan jalan padaku. Aku masuk kamar, menderap ke arah duvet kecil di samping tempat tidur dan meraih ponsel yang baru saja aku beli. Dengan cepat aku keluar lagi, tidak ingin laki – laki itu berdua saja bersama Ibu di ruang tamu. Dia kali ini sudah duduk, di sofa sebelah sofa yang Ibu duduki. Postur tubuhnya boleh santai, dan terlihat seperti sedang sun bathing di pantai atau semacamnya, tapi dia tidak main – main. Pelatuk dia jari telunjuknya bisa ditarik kapan saja dia mau. Aku berdiri tidak jauh dari mereka. Dia memberi gestur agar aku membuka kunci ponsel. Aku mengikuti apa yang dia mau. “Hubungi pacarmu.” Katanya sembari mengobservasi kamar hotel kami. Aku menatapnya bingung. “Aku tidak punya pacar.” “Angelo Bronze.” “Oh,” jawabku. Aku mengerjapkan mata. “Aku tidak tahu nomor teleponnya.” Dia menoleh padaku begitu pelan hingga aku merasa seperti objek dari predator liar. “Lantas, bagiamana bisa dia datang kemarin?” “Aku yang menyimpan nomornya,” Ibu menjawab. Dia tidak menggeretakkan gigi. “Dan nomor itu ada di rumah.” Laki – laki itu berdecak. Giliran dia yang mengeluarkan ponsel sekarang. Aku menatapnya ketika dia berkutat dengan ponsel itu, lalu menyuruhku untuk menekan nomor yang dia ucapkan. “Hubungi dia,” kata laki – laki itu penuh otoritas. Aku menghubungi nomor di layar kaca. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Apa ini nomor Angelo? Kring . . . kring . . . kring . . . “Gunakan pengeras suara.” Perintahnya lagi. Aku menekan pengeras suara ponsel. “Halo?” aku bisa mengenali vokal itu kapan saja. Di mana saja. Bahkan jika aku berada di tengah – tengah keramaian, ribuan orang, ratusan, milyaran sekali pun, jika Angelo meneriakkan namaku, aku akan bisa tahu itu adalah suaranya. Aku menarik napas. “Angelo?” “Muse?” tanya Angelo. “Bisakah kau datang ke hotel sekarang?” “Apa yang terjadi?” tanya dia lagi. Aku tahu Angelo bisa merasakan ada sesuatu yang salah. “Muse, kau baik – baik saja?” “Er . . .” Aku melirik laki – laki yang duduk tidak jauh dariku itu. Dia menggeleng. “Semua baik – baik saja.” Setelah beberapa detik berlalu, dia akhirnya menjawab, “Baiklah.” Aku membuang napas panjang. “Muse, apa kau mau menonton The Lion King?” Aku mengangguk beberapa kali. Saat sadar kalau Angelo tidak bisa melihatku, aku segera membalas. “Iya. Aku mau.” “Siapa karakter favoritmu, Mufasa atau Scar?” Aku tidak berpikir, jawabannya hanya ada satu. “Scar.” Angelo terdiam. Ibu melirik kami berdua, begitu juga laki – laki itu. Dia akhirnya berdeham. “Baiklah. Tunggu aku. Kurang lebih sepuluh menit, mengerti Muse?” “Mengerti.” Sambungan telepon terputus. Aku membasahi bibir, tak tahu harus berbuat apa. Takut jika laki – laki itu merasa ponsel ini merupakan sebuah ancaman, aku segera meletakkannya di meja kristal ruang tamu. Tepat di depannya. Dia mengangguk puas. “Scar?” tanyanya padaku. “You like the bad guy? Bukankah dia paman yang jahat?” Memang iya, tapi aku sudah termakan diri aku yang bodoh saat dulu. Bagi aku, memang Scar itu sedikit punya hal yang menarik untuk aku sendiri. Jangan minta aku untuk menjelaskan. Aku mengedikkan bahu untuk memperlihatkan kalau itu bukan hal yang besar. “Yang dia inginkan hanya menjadi penguasa hutan.” Dia tidak menggubris diktum dariku. “Karena kita akan berada di sini untuk waktu yang lama, panggil aku Jae.” *** Waktu itu malam tiba secepat kilat. Aku kehilangan arah waktu. Ketika akhirnya tugas membantu panitia pesta dansa sekolah berakhir, aku tidak menyangka kalau hari sudah menggelap. Mengumpat pelan, aku buru – buru keluar aula sekolah. Aku membalas sapaan beberapa murid yang lain, melambaikan tangan pada mereka. Aku mengambil barang – barang yang aku butuhkan di loker sekolah, dan menderap ke pintu keluar sekolah. Ketika aku sudah berada di luar, aku bergidik sebab angin malam. Lampu – lampu jalan sudah menyala, tapi area halaman depan sekolah masih terbilang gelap dan hening. Langkah kakiku meresonasi di hari malam, membuatku semakin tak enak hati. Saat aku sudah berhasil menyeberangi parkiran sekolah, aku melewati gerbang dan berjalan secara cepat ke halte bus terdekat. Aku menutup tubuhku dengan jaket tebal, menyumpah sebab terlalu bodoh untuk tidak sadar kalau hari sudah malam. Ketika aku sudah sampai di halte bus, aku duduk sendirian. Tidak ada siapa – siapa di sekitar sini, hanya mobil dan kendaraan lain yang lalu lalang. Aku membasahi bibir dan menggesek dua telapak tangan. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Jika sesuai dengan jadwal, bus yang harus aku tumpangi agar sampai ke rumah akan datang sekitar lima belas menit lagi. Aku menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Hingga dari ujung mataku, aku melihat sekumpulan laki – laki berjalan ke arah halte bus. Insting aku segera menginkres, memikirkan segala macam skenario buruk yang bisa terjadi pada seorang gadis sendirian di halte bus. Aku membeku ketika mereka bersiul saat menghampiri halte. “Hai,” sapa seseorang dari mereka. Aku melirik dan mendapati empat orang laki – laki berdiri tidak jauh dariku. “Sedang menunggu bis?” Seragam mereka berbeda denganku, yang berarti mereka bukan murid sekolahku. Aku hanya mengangguk. “Mau ditemani?” tanya salah seorang dari mereka. “Tidak perlu.” Aku benci nada bicaraku yang terdengar menyedihkan. Kecil dan takut. “Aw, tidak masalah. Aku dan teman – temanku bisa menemanimu,” kata laki – laki pertama yang menyapaku. Aku menggigit bibir. “Tidak perlu, sungguh.” Tapi seseorang yang aku tebak adalah orang yang bertanya jika aku ingin ditemani atau tidak sudah duduk di sampingku, terlalu dekat. Aku menegang. “Kita tidak mungkin membiarkan seorang gadis sendirian di halte bus,” kata laki – laki yang berbeda lagi. Berniat untuk pergi, laki – laki yang di sampingku lebih dulu mencengkam pergelangan tanganku. Aku mencibir ke arahnya. “Mau kemana? Aku pikir kau sedang menunggu bus datang?” Aku belum sempat menjawab ketika vokal yang sangat familiar di rungu lebih dulu menggema. Membuat semua surai di tubuhku berdiri. “Siapa bilang dia menunggu sendiri?” Aku nyaris bersimpuh saking leganya. Angelo berdiri tidak jauh dari kami. Ketika dia mendekat, empat orang laki – laki tadi segera berdiri dan menjauh dariku. Aku menaikkan alis pada mereka, tapi figur mereka terus mundur. “Can you do me a favor?” tanya Angelo. Salah satu dari mereka mengangguk. “Lain kali kalian melihat seorang gadis di halte sendirian, terus berjalan. Mengerti?” Kali ini semuanya mengangguk dan pergi. Angelo duduk di sebelahku. “Kenapa kau tidak menungguku?” “Kau masih di sekolah?” “Latihan basket,” jawabnya. Dia mengerutkan keningnya padaku. “Kenapa kau tidak menghubungi aku ketika mereka datang mengganggu?” “Dan apa yang harus aku katakan, halo Angie, bisakah kau datang karena ada empat orang laki – laki yang sedang menggangguku, atau semacamnya? Begitu mereka tahu aku sedang mengadu pada seseorang, aku akan terluka.” Dia mengangguk. “Kau suka The Lion King?” “Aku rasa begitu.” “Lain kali, aku akan bertanya jika aku mau menonton film itu atau tidak. Dan jika aku tanya siapa karakter favoritmu, kau menjawab Mufasa, berarti kau baik – baik saja.” “Jika aku menjawab Scar berarti aku sedang tidak baik – baik saja?” Angelo mengangguk lagi, menatapku lekat. “Benar. Dan aku akan segera datang.” *** Sekitar sepuluh menit berlalu, dan Angelo masih belum datang. Laki – laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Jae mulai tak sabar. Dia sudah berdiri, kali ini aku yang duduk tak jauh dari Ibu. Senjata api di tangannya menonjol seperti ibu jari yang sedang bengkak. Aku melihat senjata itu dengan serius. Mungkin itu palsu? Tapi tidak. Akut tidak ingin mengambil resiko. Jika dia kelepasan dan menekan pelatuknya . . . aku akan menyesal seumur hidup. Apa pun itu, aku tetap harus waspada. Untuk kesekian kalinya dia melontarkan pertanyaan yang sama. “Kenapa dia masih belum datang?” “Bagaimana bisa aku tahu?” jawabanku masih sama dengan jawaban beberapa menit yang lalu. Dia berdecak. “Aku tidak pernah menyangka seorang Angelo bisa tidak tepat waktu.” Aku ingin menyangkal, kalau aku tahu Angelo itu orang yang tidak pernah terlambat sekali pun. Tapi aku tetap diam. Tidak membiarkan mulutku yang tidak bisa menerka situasi itu mengacaukan segalanya. Bisa - bisa aku terluka, atau lebih parahnya lagi, Ibu. Dia mengacak surai. “Apa juga yang membuatnya begitu lama—“ Bel pintu kamar hotel berbunyi. Aku menegang. Jae tersenyum puas. Dia memerintahkan aku untuk membuka pintu. Ketika aku berdiri, aku bisa merasakan Jae mengarahkan senjata apinya padaku, tapi dia berdiri di tempat yang tak terlihat dari pintu depan. Aku membuka pintunya. Angelo berdiri di hadapanku dengan postur tubuh yang santai, sebagai laki – laki yang tidak menyangka bahwa ada bahaya di dalam kamar ini. Tapi dari sorot matanya aku tahu dia sedang berhati – hati. Aku tahu benaknya sedang menafsirkan premis. Dari bawah, dia menunjuk jemarinya. Satu jari telunjuk. Satu orang. Aku mengangguk pelan, berharap Jae tidak melihat gestur itu. Dia membasahi bibir. “Jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Angelo dengan tawa tipis. Aku membuka pintu lebih lebar. Angelo masuk. Jae menunjuk senjata apinya ke arah laki – laki itu. Aku menutup pintu. Angelo tidak memberikan ekspresi apa – apa. “Halo, the famous Angelo Bronze. Senang bisa bertemu denganmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN