“HALO, the famous Angelo Bronze. Senang bisa bertemu denganmu lagi.”
Sudah lama aku tidak melihat interaksi semacam ini. Dulu di sekolah, aku sering sekali melihat orang yang tak suka dengan Angelo menyapa dia dengan sarksa. Aku sering sekali melihat orang yang mendelik ke arah Angelo dari belakangnya, tanpa pria itu ketahui. Aku sering melihat orang yang tidak suka melotot ke arahnya dari arah yang tidak dia sangka. Aku sering mendengar orang berbisik tentang kepribadian Angelo yang tidak mereka sukai. Aku sering mendengar banyak hal buruk tentang Angelo, dan itu semua sudah menjadi hal yang biasa bagiku dulu. Tidak semua orang harus suka padamu, kan? Dan kau tidak bisa membuat semua orang senang.
Jadi, aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Tapi kali ini, melihat interaksi antara pria yang bernama Jae itu dengan Angelo, rasanya sangat berbeda. Rasanya beda dari aku yang kesal dan ingin melabrak siapa pun yang sok tahu dan berkata buruk tentang Angelo. Aku ingin marah dan melempar siapa pun yang berani berkata tidak baik tentang Angelo. Saat ini, jangankan melakukan semua itu, berpikir hal tersebut pun aku tidak berani saking takutnya. Bagaimana jika Jae ini bisa membaca pikiran aku? Dia orang yang berbahaya. Orang yang sedang memegang senjata api. Dia bisa melukai aku dan ibu, jadi aku tidak ingin bermain dengan dia.
Jae atau siapa pun ini, berbeda dari murid sekolah yang picisan.
Jae menyapa laki – laki yang baru masuk itu dengan senyum sarkas di wajah. Garis kurva tersebeut berbentuk asimetris, di ujung terangkat naik lebih jauh dari yang ujung lainnya. Jika aku tidak ingat seberapa genting situasi saat ini, aku pasti akan tertawa.
Satu, jae—laki – laki sialan yang masih mengarahkan senjata apinya ke arah aku dan Angelo itu—tersenyum laiknya ini bukan sebuah kondisi kriminal. Dia menyapa Angelo seperti seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Atau kawan satu kelas saat bertemu di jalan.
Dua, Angelo tidak terlihat terintimidasi sama sekali. Yang ada, wajah datarnya malah semakin lurus, tidak membiarkan eskpresi apa pun keluar.
Tiga, Ibu menoleh antara Angelo dan Jae terus – menerus, berusaha mengumpulkan sisa kepingan puzzle. Sama seperti aku.
Senang bertemu denganmu lagi?
Seperti mengafirmasi dugaan yang terbesit di kepala, Angelo mengangguk satu kali. Jika dagu yang naik dan mata tertuju padanya bisa dibilang mengangguk. “Jae.”
“What? No hugs for me? Tidak ada kata – kata manis seperti yang aku katakan padamu?” Jae memberengut. “Aku pikir kau juga merasakan hal yang sama. Ini reaksi yang tidak aku duga. Aku sudah mengatakan senang berjumpa denganmu, kau tidak akan mengatakannya kembali?”
Angelo menggeleng. “Sorry not sorry.”
Jae mengedikkan bahu, seperti diktum dari Angelo tidak melukai hatinya sama sekali. dia mengangguk menerima fakta itu. Lalu, tanpa aba – aba mengarahkan senjata apinya tepat di tengah keningku.
Ibu menegang, siap untuk berdiri.
Bibir Angelo bergetar sepersekian sekon hingga aku berpikir apakah aku berhalusinasi atau tidak. Tangannya mengepal di samping tubuh. “Apa yang kau lakukan?”
“Aku merasa terluka.” Jae memegang hatinya. Nyaris saja aku memutar dua bola mata padanya. Laki – laki ini bermain dengan api. Api yang dia sulut mulai membara di netra Angelo Bronze.
Aku menahan napas ketika dia maju beberapa langkah hingga mendekat di depanku. Angelo akan bergerak juga, tapi langkahnya terhenti saat Jae memainkan pelatuk.
“Come on,” Jae mendekut. “Kau tahu cara bermainnya.”
“Apa yang kau lakukan, Jae?”
“Pertanyaan itu lagi?”
“Kau tahu cara bermainnya,” balas Angelo mengikut kata – kata Jae beberapa saat yang lalu.
Jae tertawa tipis. “Tentu saja aku tahu cara bermainnya. Kau yang mengajarkan aku semua ini, ‘kan?”
Angelo mengatupkan rahang. Dia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Begitu netranya terbuka, laki – laki itu menelengkan kepala pada Jae. “Jika kau begitu tahu cara bermainnya, maka bisakah percepat permainan ini? Get to the point. Right now.”
“Well . . . apa yang aku mau? Balas dendam? Uang? Ingin bergabung lagi?”
Bergabung lagi?
“Jangan bermain – main, Jae. Aku sudah mengajarkanmu kalau bermain – main dengan makanan itu tabiat yang buruk, ‘kan?”
“Tapi kau tidak pernah mengatakan apa yang harus aku lakukan jika makanannya selezat ini.”
Angelo menggeram. Satu geraman saja kapabel membuat Jae menjadi sangat waspada. Dia maju lagi, dan dalam waktu singkat, ujung senjata api itu sudah menempel di keningku. Sensasi dari metal terasa dingin di kulit.
“Jangan lakukan apa pun yang bisa membuatmu menyesal, Angelo.”
“Kau tahu aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Dan kau yang akan menyesal di akhir.”
Dia menelengkan kepala. Secara sengaja dia mendorong ujung senjata apinya lebih keras. Kepalaku mendongak. “Aku rasa kau bukan di tempat untuk membuat ancaman.”
“Kau tahu aku bukan hanya mengancam.”
Jae menggeretakkan gigi. “Lantas?”
“Semua kata – kata yang keluar dari bibirku adalah sebuah janji.”
Aku bergidik ngeri. Ingin rasanya melihat ekspresi wajah Angelo, tapi atensi netranya hanya fokus pada selongsong peluru. Apa isinya penuh? Apa isinya hanya setengah saja? Jika laki – laki ini menarik pelatuknya, apa pelurunya akan keluar dan membunuhku?
Apa ini akhir dari hidupku yang menyedihkan?
“Dengar—“ Suara Ibu terdengar lemah dan lirih. Sesuatu yang aku benci. Tapi dia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya, sebab Jae sudah lebih dulu memotong.
“Jangan bicara, atau satu kata yang keluar darimu lagi akan berakhir sebagai peluru di antara kening anakmu.”
Ibu terdiam.
“Sekarang, aku hanya ingin satu.” Jae membuang napas panjang. “Dan sisanya akan aku pikirkan lagi lain kali.”
“Apa yang kau mau?”
“Melihat si Angelo Bronze yang hebat dan tidak terkalahkan berlutut.”
Bahkan aku yang sibuk meratapi nasib berada di ujung senjata api yang salah ikut terkesiap. Ibu menarik napasnya, tercekat mendengar ultimatum dari Jae.
Aku melirik laki – laki itu dari ujung mata. Jika tatapan bisa membunuh, Jae akan berakhir puluhan meter di bawah tanah sekarang.
“Kau ingin . . . aku, berlutut di hadapanmu?”
Dengan sombongnya Jae mengangguk. “Sesuatu yang aku inginkan.”
“Kau mendengar dirimu sendiri, ‘kan?”
“Tidak pernah sejernih ini.” Jae tertawa.
Aku menelan ludah. “Dengar—“
“Aturan untuk tidak bersuara juga berlaku untukmu, manis.” Jae mengelus pipiku. Angelo mengatupkan rahangnya.
Aku menutup mulut.
“Kau bisa melupakan itu.”
Jae menoleh ke arah laki – laki yang memegang nyawaku itu. “Maksudmu kau tidak ingin berlutut untuk menyelamatkan Muse?” Dia menelengkan kepala. “Hmh . . . and here I thought, kau akan melakukan apa saja agar dia bisa selamat. Bukankah itu alasannya kau mengeluarkan aku?”
Mengeluarkan aku?
Tunggu dulu . . . Jae tadi mengatakan sesuatu tentang bergabung lagi. Dan sekarang dia bilang kalau Angelo mengeluarkannya?
Hatiku berdegup kencang. Apa Jae . . .?
Melihat ekspresiku, laki – laki itu tersenyum lebar dan menepuk – nepuk dadanya bangga. “Hey, benar! Ini aku, Muse.”
Four. Bagaimana bisa . . .
“Harus aku akui, Muse. Aku sempat merasa kecewa ketika sadar kau tidak ingat wajahku. Apa masa – masa kita begitu mudah untuk dilupakan? Kau lupa apa yang aku lakukan padamu malam itu?”
Horor menyelimuti tubuh ketika rekognisi mulai terbesit di benak.
Jae adalah Four. Laki – laki yang menyerangku. Laki – laki yang dikeluarkan oleh Angelo. Dan dia menuntut pembalasan sekarang.