PART 30
AKU tidak tahu bagaimana caranya aku bisa tidak mengenali laki – laki yang sudah membuat bunga tidurku gelap belakangan ini.
Laki – laki itu adalah orang yang sama, dengan pria yang sudah berlaku kasar padaku di bank saat itu, dan membawa aku ke ruangan bawah tanah walau pun teman – temannya sudah melarang dia dengan ancaman “Kau akan mati.”
Dia juga yang sudah membuat aku kembali menyelam ke lautan yang dalam, walau pun sudah bertahun – tahun berjuang, menendang kaki aku agar terus mencari udara, berenang ke permukaan dari ombak yang ditinggalkan oleh kepergian Angelo Bronze dari hidupku.
Laki – laki ini, pria yang disebut Four, yang baru saja aku tahu kalau nama aslinya adalah Jae—walau aku tidak akan terkejut jika Jae juga merupakan nama samaran—adalah alasan kenapa aku bisa kembali bertemu dengan Angie.
Setelah dalam waktu lama tidak tahu di mana keberadaannya.
“Harus aku akui, Muse. Aku sempat merasa kecewa ketika sadar kau tidak ingat wajahku. Apa masa – masa kita begitu mudah untuk dilupakan? Kau lupa apa yang aku lakukan padamu malam itu?”
Horor itu semakin lama semakin dalam, meracuni arteri dan membuat perederan darah terasa panah. Aku terdiam dalam ribuan inkuiri yang aku tahu tidak bisa aku lontarkan. Rasa metal di kening seperti sebuah memo yang melayang di udara kalau jiwaku sedang dalam bahaya. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menatapnya dengan mata memicing.
Dia adalah orang yang menyerangku. Tepat di dalam kamar laki – laki yang seharusnya dia takuti.
Dia dikeluarkan oleh Angelo. Karena ulahnya sendiri.
Dan dia menuntut pembalasan sekarang. Untuk hal – hal yang dia anggap tidak adil.
Aku menelan ludah. “Kau . . .?” aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Tentu saja tidak, sebab ujung selongsong peluru kembali menekan di kening.
“Kau sudah lupa aturan yang baru aku katakan beberapa saat lalu, Muse?”
Bagaimana bisa aku lupa dengan ancaman senjata api di depan mata? Aku tidak menjawab.
“Sekarang, setelah semuanya sudah jelas,” dia menoleh pada Angelo. “Apa kau masih akan menolak?”
“Aku tidak akan berlutut di depanmu.”
“Nyawanya secara harafiah berada di genggaman aku, Angelo.”
“Kau pikir aku tidak tahu itu?” nada bicara Angelo sangat santai hingga aku akan berpikir dia sedang mengadakan konversasi dengan anak berusia lima tahun.
Jae menelengkan kepalanya. “I have to say, I am shocked. Dan aku tidak pernah terkejut. Well . . . kecuali saat kau lebih memilih gadis tidak penting dibandingkan anak buah yang kau bilang kau pedulikan.”
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagia pria yang pasif agresif,” Angelo mengumbang pelan.
Baiklah, aku mulai merasa dia sedang bermain dengan api di sini. Tidak. Nyawa. Apa dia tidak melihat senjata api sebesar itu di tangan Jae, Four, atau siapa pun nama laki – laki ini?
“Aku juga tidak pernah mengira kalau kau kapabel terbutakan oleh seorang wanita,” Jae mencibir. “I guess everyone has a soft spot, right?”
“Jae, aku tidak tahu apa yang kau harapkan dari hal ini, tapi kau dan aku tahu kalau apa yang kau minta tidak akan pernah terkabul.”
“Benarkah?”
“Kau juga tahu apa yang akan aku lakukan jika kau menyentuh satu helai saja dari rambut Muse.”
Seperti aksi yang dilakukan hanya untuk memprovokasi laki – laki di samping kami itu, Jae mengulurkan tangannya, mengelus suraiku sebelum meraih satu helai rambut dan menariknya.
Aku menahan emosi.
“Oops . . .” Jae berpura – pura kaget. “Itu tidak sengaja.”
Aku tidak ingin menoleh, tidak ingin melihat ekspresi wajah Angelo. Jae membiarkan satu helai suraiku itu jatuh ke bawah.
“You were saying?”
Jika aku bisa memukul seseorang sekarang, aku akan membuat John Cena merasa bangga dengan seluruh skenario yang ada di kepalaku saat ini.
Aku bisa mendaftar sebagai pemain WWE berikutnya.
Angelo tidak membiarkan nada bicaranya meningkat, tapi venom yang mengikuti vokal itu tidak dia biarkan hilang. “Kau akan membayar untuk itu.”
“Oh, ya?” Jae mencibir. “Bagaimana?”
Seperti sudah sesuai kiu, aku mendengar suara derap langkah kaki. Kepalaku menoleh, sedikit saja, dan aku menangkap figur pria yang familiar. Darahku mendesir. Angin berhembus dari dalam kamar Ibu yang seharusnya kosong.
Pria itu memegang senjata api yang similar, tepat ke arah kepala Jae.
“Begini?”
Bahuku terasa seperti baru saja diangkat seluruh bebannya mendengar vokal itu. Lucky. Aku tahu dia. Aku tahu laki – laki tinggi dengan garis kurva kotak di wajah.
Dia datang untuk menyelamatkan kami.
“Kau—“ Jae terbata. “Tapi—“
Angelo tidak membuat situasi lebih buruk lagi. Dia hanya mengangguk. “Iya.”
“Bagaimana bisa?” Jae menggeretakkan giginya. Jari – jarinya memegang keras senjata api di tengah kepalaku itu.
“You know I know everything,” Angelo menjawab singkat.
Jae mendengkus. “Kau dan saudara – saudaramu itu, you guys are like dirt. Ada di mana – mana.”
Lalu seperti ingin memberikan bukti pada perkataan Jae, aku mendengar bunyi keras dan langkah yang menderap dari kamar tidurku. Beban tadi semakin lama semakin hilang saat menatap figur Felix yang keluar, gayanya similar dengan Lucky.
Tapi Lucky memegang senjata api berwarna silver, sedangkan Felix memegang senjata api berwarna hitam.
Angelo mengangkat dua tangan. “Bukan salahku. We have each other’s back.”
“Itu yang kau katakan pada anak – anak juga!” Jae berteriak.
Rahang Angelo mengeras. “Dan aku tidak pernah berbohong.”
“Lantas, yang kau lakukan padaku?”
“Kau menyerangnya,” Angelo menunjuk aku. “Satu-satunya orang di daftar yang seharusnya kau ingat!”
“Dia—“
“Jangan memberikan aku alasan!” Angelo memotong. “Jika kau menjelaskan padaku apa yang terjadi, aku akan membereskannya. Aku memberikanmu kesempatan satu kali, satu kali, dan kau tahu aku tidak pernah memberikan kesempatan seperti mereka sumbangan yang mudah. Dan kau mengkhianatiku juga. Membalas pemberian itu dengan nyaris melukai Muse.”
Jae terdiam. Dua orang saudara Angelo maju beberapa langkah.
“Apa yang kau ingin aku lakukan? Ketika kau berani menyerangnya di dalam kamar tidurku sendiri. Ketika aku menyia – nyiakan kesempatan yang sudah kuberikan. You know the rules, Jae. Kau tahu dan dengan bodohnya kau bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.”
Laki – laki di depanku masih tidak menjawab.
“Jadi, akan aku katakan lagi, aku tidak akan melakukan apa yang kau mau. We both know it. Dan sayangnya, kau tidak lagi di atas angin sekarang.”
“Siapa bi—“
“Tidak perlu mengilah,” Angelo menggeleng. “Save your time.”
Jika mereka pikir Jae akan mundur semudah itu, maka mereka salah. Yang ada, satu tangan bebas Jae menarik suraiku. Aku berada di dekapannya, punggungku terhempas ke d**a pria itu. Senjata api itu menekang sisi keningku kuat. Aku meringis.
Angelo menggeram keras, wajahnya memerah. Dia berada di depan kami. “Pikirkan apa yang akan kau lakukan. Jangan melakukan kesalahan yang sama.”
“Apa itu?”
“Bertindak sebelum berpikir panjang.”
Aku membeku. Begitu juga Jae.
“Jangan lakukan ini.” Angelo berkata rendah. “Aku tahu kau tidak ingin melakukan ini.”
“Oh, ya?”
“Apa yang kau mau, Jae?”
Jae tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab. Dia hanya mengeluarkan satu kata pelan. “Ini.” Dan aku melihat ujung senjata api terarah ke depan. Aku melihat mata – mata yang terkejut di sekitarku. Aku tidak bisa menafsirkan premis dengan cepat.
Begitu aku mengedipkan mata, bunyi senjata api yang meresonasi di seluruh ruangan teredengar. Aku berteriak. Sepertinya aku berteriak. Darah mendesir ke atas kepala. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku bisa merasakan Jae ditarik oleh seseorang. Suara tembakan lagi. Aku terjatuh.
Mataku terbuka dan melihat darah . . . darah . . . darah . . . darah siapa? Aku tidak bisa menahan segalanya. The shocked is too much. Aku melihat gelap di korteks visual.
Dan aku tidak sadarkan diri.