PART 31

1710 Kata
DULU sekali aku pernah menanyakan pada Ayah ke mana semua orang pergi setelah mereka meninggalkan dunia. Aku bertanya begitu sebab aku melihat dua orang tua Ayah pergi meninggalkan dia dalam waktu yang dekat. Jika tidak salah ingat, mereka pergi tidak lebih dari jarak satu bulan saja. Untuk menggambarkan suasana hati Ayah, terpuruk adalah kata yang tidak tepat. Entah apa yang dia rasakan saat itu, tapi aku yakin dunianya hancur. Setiap hari dia hanya terdiam, menatap kenangan di foto – foto jaman dahulu, yang aku yakin menyimpan banyak memori. Ratusan, ribuan, milyaran memori yang tidak bisa diulang kembali. Saat itu sepertinya aku masih berusia sekitar delapan tahun. Polos dan tidak tahu apa – apa. Berkat melihat Ayah yang selalu melamun dan aku akhirnya membuka mulut suatu malam setelah tidak dapat menahannya lagi. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku pelan. Ayah sedang duduk di balkoni rumah, menatap langit dan bintang – bintang indah di angkasa. Mereka menerangi antariksa yang tidak berwarna biru, melainkan hitam dan kelam. Aku sering berpikir jutaan asterik itu seperti sengaja diciptakan agar malam tidak terlihat begitu mengerikan di mata manusia. Lalu aku sadar kalau tidak setiap malam ada bintang – bintang di atas sana. Dia tidak menjawab tapi hanya tersenyum tipis. “Aku sedang bertanya,” ujarku sedikit kelas. “Apa kau tidak mendengarku?” “Aku mendengarmu, Muse.” “Lantas?” Baiklah, aku rasa aku dulu anak yang tidak tahu diri. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Mendengar inkuiri yang aku ulang, Ayah tersenyum lagi. “Kakek dan Nenek-mu.” Aku terdiam mendengar jawaban itu. Ketika aku duduk di sampingnya di kursi balkoni, Ayah akhirnya menoleh. Kutatap mata yang terlihat tua sekali. “Kenapa?” “Aku merindukan mereka,” jawabnya singkat. Tentu saja dia merindukan mereka. Apa yang kau pikirkan, Muse? Aku merasa sedikit bersalah sebab sudah bertanya dan membuat Ayah harus menjawab. Aku yakin dia sedang tidak ingin diajak bicara. “Apa kau tahu mereka menangis ketika kau lahir?” “Oh, ya?” Ayah mengangguk. “Untuk waktu yang lama. Aku sempat akan adu argumen sebab aku pikir mereka akan menggendongmu terus - menerus dan membawamu pergi.” Aku tertawa tipis. Langkah kaki terdengar dari belakang kami, dan ketika aku menoleh, Ibu sedang berdiri tidak jauh dari tempat kami duduk. Aku hendak memanggilnya, untuk mengajaknya bergabung. Tapi dia mengibaskan tangan dan menyuruh aku berkontinyu. Aku kembali mengatur atensi pada Ayah. “Katakan padaku seperti apa mereka.” Aku bertemu mereka tidak sering. Hanya beberapa kali jika Ayah sedang memutuskan untuk vakansi. Mungkin sekitar satu atau dua kali dalam satu tahun. Dan itu juga hanya dalam jangka waktu dua sampai tiga hari saja. Setelah itu, hanya hubungan telepon yang kami lakukan agar terus melakukan kontak dengan mereka. Konsep seorang kakek dan nenek adalah topik yang asing bagiku “Mereka sejujurnya orang tua yang cukup strict. Aku besar dengan satu adik perempuan, dan kita berdua sering kali tidak boleh keluar dari rumah jika bukan untuk hal yang penting,” “Hmh . . . “ Aku bergumam pelan. “Aku tidak pernah menyangka itu.” “Aku dulu sering berpikir kalau mereka berlebihan, tapi aku sadar sekarang kalau punya anak adalah sesuatu yang tidak biasa. Kau akan terus – menerus cemas secara konstan. Aku sekarang mengerti,” jelasnya panjang lebar sembari melirik aku. Dia sekarang mengerti karena aku. Anak gadis satu – satunya. “Apa kau sempat membenci mereka?” Ayah tersenyum tipis, tapi garis kurva itu tidak mencapai netranya. “Sedikit. Entahah. Tapi yang jelas, aku mengalami fase buruk saat remaja.” “Kau? Fase buruk?” tanyaku tak percaya. Jika ada penghargaan untuk laki – laki paling disiplin, teratur, dan tidak banyak mau, Ayah akan menjadi juara pertama. Dia seperti contoh utama, eksempel terbaik yang keluar dari buku, tentang manusia baik dan gentleman. Fase buruk? Aku memang tidak tahu apa – apa tentang kehidupan orang tuaku saat mereka masih mudah. Tunggu dulu, bukan aku saja. Aku yakin anak – anak di luar sana juga sama. Ayah mengangguk. “Melawan, berteriak, tidak mau mendengar, kau namakan satu – satu. Aku bahkan sempat menolak kuliah.” “Wow . . .” aku menggeleng tak percaya. “Itu aku,” Ayah tertawa tipis. “Tapi mereka tidak menyerah.” “Lalu?” “Aku tersadar,” jawabnya sembari mengangkat satu bahu. “Aku sadar kalau hidupku tidak bisa terus – menerus seperti aku. Kalau aku membuang – buang waktu dan tenaga. Kalau masih banyak orang tidak beruntung di dunia ini yang akan membunuh untuk bisa berada di posisiku.” “Apa yang membuatmu tersadar?” Ayah menunjuk ke belakang. “Your mother, of course.” “Ah, cinta yang membawamu kembali ke jalan yang benar?” Ayah tertawa, kali ini dengan lepas. Aku merasa lebih ringan. “Ibumu bisa membawaku kembali ke jalan yang benar hanya dalam satu hari saja.” “Aku harus menanyakan itu nanti,” kataku. “Nanti,” Ayah mengangguk. Dia menatap langit dan bintang – bintangya lagi. “Where do you think they go?” tanyaku pada Ayah, sembari ikut menatap antariksa. “Ke mana menurutmu mereka pergi?” “Suatu tempat,” jawab Ayah. Dia menoleh padaku, wajahnya tiba – tiba serius. “Tempat yang seharusnya tidak kau tahu.” “Hmh . . .?” aku mengumbang pelan. Apa yang sedang dia bicarakan? Aku tidak mengerti. Kenapa dia berbicara seperti ada teka - teki? Aku sedang tidak bisa berpikir keras, apa dia tidak melihat itu? Aku sedang tidak bisa mencoba menafsirkan premis. Segalanya seperti sedang terdistorsi parah. “Tempat yang belum harus kau datangi, Muse.” Aku mengangkat alis. “Maksudmu?” “Bangun, Muse.” Ayah mendesak penuh urgenis. “Bangun.” “Apa yang kau—“ “Bangun, bangun, bangun, bangun, BANGUN! BANGUN! BANGUN!” *** “BANGUN! BANGUN, MUSE! AKU MOHON!” Suara teriakan itu sangat familiar. Seperti aku sering mendengarnya. Vokal tersebut menusuk aku hingga ke hati. Suara itu seperti sedang ada di atas langit, atau di bawah tanah, atau berada di balik air yang tebal dan tidak bisa aku dengar secara jelas. Suara itu seperti sedang ada di ruangan yang berbeda, dan aku tidak bisa melihat siapa yang berteriak. Suara itu seperti sedang ada di jarak yang jauh sekali, di jarak yang tidak bisa aku tempuh, dan aku sangat ingin sekali ke arah sana. Suara itu seperti melayang di udara, dan aku tidak bisa menggapainya. Suara itu seperti sedang ada di atas permukaan air, sementara aku terus tenggelam ke dalam air tanpa bisa berenang ke atas. Aku terus turun, dan turun, dan turun lagi terbawa arus hingga mencapai dasar. Suara itu seperti ingin menggapai aku, namun tidak bisa. Aku ingin sekali ke atas, aku ingin sekali mengulurkan tangan aku ke arah sana dan meraih siapa pun itu yang sedang bersuara. Vokal itu menjadi pacuan agar aku terus ke atas. Aku tidak mau tenggelem. Aku benci air. Aku benci tenggelam. Aku benci segalanya. Aku hanya ingin terus mendengarkan vokal itu sebab rasanya aku seperti akan terus naik semakin lama aku mendengarnya. Aku merasakan bahuku diguncang keras, terus – menerus hingga aku merasakan mataku terbuka walau hanya sedikit. “Oh, thank God. Kau bangun, kau sudah bangun.” Angelo? Aku ingin membuka mulut, berkata sesuatu, tapi lidahku terasa kering. Tenggorokan tak mau mengeluarkan vokal. Aku terdiam, terbaring di sesuatu yang sedang berjalan kencang. Apa yang terjadi? Keningku diusap halus oleh seseorang. Angelo. Jemarinya yang dingin dan bergetar membuatku benar – benar sadar kali ini. Keningku terasa panas, panas, dan panas. Tidak, seluruh tubuhku panas. “Kenapa kau melakukan itu?” serunya keras. Aku ingin menjawab, APA YANG AKU LAKUKAN, tapi aku masih tidak bisa bicara. Aku tidak bisa merespon laki – laki yang sedang panik entah karena apa. Dia mengerjapkan mata, memainkan ibu jarinya di antara dua alisku. “Muse, kenapa kau harus melakukan sesuatu sebodoh itu?” Aku menelan ludah. Angelo menuduk, kening kami saling bersentuhan. Aku bisa melihat netranya menutup. Ketika dia bangun, aku mengedipkan mata padanya. “Apa?” tanya Angelo halus. Halus sekali. “Apa yang ingin kau katakan?” Aku tidak bisa bicara. “Muse, dengarkan aku baik – baik, jika kau berani pergi, berani menutup mata itu lagi, aku akan bilang pada semua orang kalau kau yang sudah mencuri data sekolah anak – anak dulu dan membuat nyaris setengah dari mereka gagal lulus.” Aku menarik napas. Dia tidak mungkin melakukan itu, ‘kan? Angelo menatapku tajam. “Aku tidak bercanda.” Kali ini suaraku keluar, namun terdengar serak, kecil, dan menyedihkan. “Kau sudah berjanji.” “Dan aku akan mengingkarinya,” kata dia dengan mudah. “Don’t you dare.” “Aku tidak peduli,” Angelo bersikeras. “Jangan lakukan itu padaku,” kataku pelan. “Maka dari itu, jangan lakukan ini padaku!” Angelo menelungkupkan dua tangannya di pipiku. “Jangan berani – berani menutup matamu, dan pergi.” “Aku tidak akan ke mana – mana,” jawabku. “Bagus.” “Tapi—“ “Tidak ada tapi.” Gelap itu datang lagi. “Aku mengantuk.” Kami berdua nyaris terpental. Angelo membentak entah siapa, sesuatu tentang “hati – hati” dan “aku akan membunuhmu.” Aku merasakan kelopak mataku memberat. “Aku hanya akan tidur sebentar.” “DON’T YOU DARE, MUSE.” “Jangan bilang siapa – siapa tentang nilai itu,” kataku masih memikirkan ancaman dari Angelo. “Kau sudah berjanji padaku.” “Maka jangan tidur!” “Kau sudah berjanji, dan jika kau mengatakan sesuatu, kau juga akan kena masalah. Kau membantuku saat itu. You are just as guilty as I was.” “Aku tidak peduli,” dia memukul pipiku beberapa kali. “Jangan tertidur, Muse. Sebentar lagi kita sampai.” “Sebentar saja.” “Tidak, jangan tidur sekarang.” Angelo berseru. “Where is my Mom?” “She is safe.” Dia aman. Aku merasa ringan. Ibu aman. Aku bisa tidur. Aku bisa istirahat. “Aku mohon, Muse.” Dia berkata lirih. “Aku akan melakukan apa pun saja, tapi jangan lakukan ini padaku. Jika kau mau aku berlutut, meminta maaf atas semua kesalahaku, aku akan melakukannya. Aku akan membakar dunia hanya untukmu, Muse. Tolong, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN