PART 32

1136 Kata
KETIKA aku tersadar, yang pertama kali aku rasakan adalah rasa sakit di sekujur tubuh. Mulai dari ujung atas, kepala, leher . . . hingga ke bawah, kaki dan jari – jarinya. Rasanya tubuhku seperti di tekan oleh sesuatu yang berat dan menekan seluruh bagian tubuh, terutama bagian depan. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, seperti ada beban yang sangat berat sedang menekan aku dari atas. Rasanya seperti langit runtuh ke bawah, dan aku tertimbun bersama dengan tanah dan dataran bumi yang keras. Aku membayangkan semua langit biru indah dan kumpulan kapas kolosal putih di langit yang sering aku lihat di atas saat bersama dengan Angelo di bawah pohon yang rindang. Aku membayangkan langit dan awan yang luar biasa itu jatuh ke bawah, sementara aku masih duduk di bawah pohon yang besar itu. Aku membayangkan aku tertimbun ke bawah bersama dengan dahan, ranting, dan daun pohon yang banyak. Aku merasakan panik dan rasa takut yang sangat jelas. Semua itu membuat aku semakin tak tenang. Rasanya sekujur tubuh aku seperti sedang disengat listrik. Aku tidak pernah merasakan sakit seperti ini di hidup aku sebelumnya. Aku bahkan belum pernah masuk rumah sakit. Kata ibu, aku dulu adalah anak yang selalu sehat dan segar. Mungkin itu sebabnya aku sekarang merasa seperti orang yang akan mati. Setiap kali aku berpikir untuk bergerak, ada rasa takut yang mengunci tubuh agar tidak bergerak atau aku akan kesakitan hingga tidak bisa bernapas. Aku mencoba untuk menelan ludah, tapi itu juga gagal sebab kerongkongan aku sangat kering. Segalanya tidak berjalan dengan baik. Mungkin aku memang sudah tidak bisa menggerakkan tubuh aku lagi? Entah. Aku merasa seperti orang yang dikunci rapat - rapat. Aku berusaha untuk membuka mata, membiarkan diriku benar – benar tersadar, tapi sinar yang terang membuatku meringis tatkala visual terbuka. Kelopak netra sembab, seperti baru menangis berhari – hari. Kepalaku rasanya akan pecah. Aromatik yang familiar tercium oleh hidung, memnbuatku merasakan nostalgia yang aneh dan buruk. Aku menelan ludah berkali – kali, mencoba agar kerongkongan tidak kering dan bisa mengatakan sesuatu. Tapi aku hanya bisa meringis lagi. Seseorang memegang tanganku. “Muse?” Aku tahu vokal itu. Nada bicara itu. Jika aku berada di tengah samudera, terdampar tanpa siapa – siapa dan yang bisa aku dengar aku suara ombak di lautan sejauh lima kilo meter lebih, aku tetap bisa mengenali suara itu. Angie. Angelo. Laki – laki yang mengisi hidupku, lalu mengosongkannya tanpa belas kasihan. Tapi aku maih belum bisa menjawab. Aku sibuk memicingkan mata sebab cahaya yang berkilau. “Muse, kau sudah sadar?” Tentu saja aku sudah sadar, apa dia buta? “Muse, kau bisa mendengarku?” Tentu saja aku bisa mendengarnya! Apa laki – laki ini sudah kehilangan akal? Begitu mataku mulai menyesuaikan diri dengan keadaan, aku segera menangkap figur laki – laki di hadapanku. Rambutnya acak – acakan, begitu juga baju yang dia kenakan. Ada lingkaran hitam besar di bawah matanya. Mulutnya kering, seperti berhari – hari tidak minum. Tangannya yang memegang jari – jariku bergetar. Satu kali lihat, aku yakin bahwa dia memang kehilangan akal. “Muse,” dia mengusap keningku dengan satu tangan yang bebas. “Kau sudah bangun.” Kali ini itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan lagi. “Kau sudah bangun. Kau sudah bangun, my Muse. Thank you. Aku pikir aku akan kehilanganmu.” Lalu seperti film yang mengalami flash back, aku mengingat segalanya. Laki – laki yang mau menyerang aku dan Ibu di rumah. Menginap di hotel. Memesan servis kamar dan diserang lagi. Laki – laki itu ternyata Four—yang bernama asli Jae. Dia ingin menjatuhkan Angie karena dia sudah berani mengusrinya. Dia akan melukai Angie. Dan aku . . . aku menghalangi lini pandang ujung senjata apinya. Aku melindungi Angie. I took a bullet for him. I protected him. Angelo menarik napas panjang. “Katakan apa yang kau mau, baby.” Jika aku tidak ingat situasi kami sekarang, aku akan meluluh. Aku akan menjadi fragmen – fragmen menyedihkan sebab Angelo memanggil aku dengan sebuatan baby. Apa aku sudah gila? Aku membasahi bibir—bahkan manuver itu saja kapabel membuat aku kewalaha. Angelo segera berdiri, matanya panik. Aku menggeleng pelan. Dengan manuver yang aku harapkan bisa dia mengerti, aku menelan ludah sebesar mungkin. Matanya segera melihat kerongkonganku. Laki – laki itu memutar badan, mengambil sesuatu dari meja yang sepertinya ada di sebelahku. Aku nyaris menangis begitu sedotan dengan air mineral yang sejuk memasuki tenggorokan. Aku minum segalanya dengan rakus. “Pelan – pelan, Muse.” Aku memicingkan mata. Muse, bukan baby. Apa aku tadi berhalusiansi? “Pelan – pelan,” ulangnya lagi. Setelah aku menegak hampir segalanya, Angelo kembali meletakkan gelas dengan sedotan itu di tempat semula. “Aku akan memanggil dokter,” katanya sembari meremas jari – jari tanganku. Aku menarik tangannya sebelum dia bisa melepaskan. “Aku . . . tidak . . . apa – apa.” Kening Angelo mengerut. “Kau harus diperiksa—“ “My mother?” tanyaku cepat. Angie menunduk dan mengelus pipiku halus. “Ibumu baik – baik saja.” “Di mana kita?” tanyaku lagi, kali ini terdengar lebih stabil dan rileks. Rasa kering di tenggorokan menghilang bersama air mineral tadi. Yang aku lihat di tempat ini hanya sebuah meja di ujung ruangan, layar teve flat yang cukup besar menggantung di atasnya, dan serangkaian meja lain. Satu pintu di sebelah teve terlihat dari ujung mataku. Segalanya putih. Putih, dan putih lagi. “Rumah sakit,” jawab Angelo. “Benarkah?” tanyaku tak percaya. Jika dia membawaku ke rumah sakit, itu artinya dia harus memberikan penjelasan atas apa yang telah terjadi padaku. Dan itu berarti, dia harus membeberkan segalanya. Seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan, Angelo berkontinyu memberikan penjelasan. “Rumah sakit kecil kami.” Dia meremas tanganku lagi. “Ingat? Di rumahku ada tempat medikalnya.” Aku mengangguk. “But my mother—“ “Aku akan memanggilnya,” ujar Angelo. “Angie?” “Iya, Muse?” “Bagaimana dengan . . . Jae?” tanyaku setelah berpikir panjang. Entah aku ingin tahu atau tidak. Tapi aku rasa, kuriositi yang aku punya lebih besar dari pada rasa takut itu. Angelo sempat menunggu sebelum akhirnya menjawba. “Taken care of.” “Dengan caramu?” Dia tidak membalas apa yang aku tanyakan. Nyatanya, apa yang aku harapkan? Kalau Angelo akan membiarkan laki – laki itu lepas lagi? Memberikannya kesempatan lagi? Tidak mungkin. Fool me once, shame on you. Fool me twice, shame on me . . . Angelo pasti membereskannya dengan cara dia. Cara yang benar – benar tidak ingin aku tahu. Dengan senyum terpaksa laki – laki itu hanya menepuk tanganku sekali, dua kali, lalu pergi berjalan ke pintu. Sebelum dia menghilang dari ruangan, Angelo berputar. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun di dunia ini melukaimu. Siapa pun itu, Muse.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN