PART 33

1219 Kata
SETELAH sekiranya dua hari dua malam aku berada di rumah sakit privat keluarga Bronze itu, aku akhirnya bertemu dengan Ibu. Wanita setengah baya yang biasanya terlihat cerah dan awet muda, sekarang terlihat lebih pucat dari pada wajah Angelo. Aku tidak dapat menahan rasa kaget yang terlewat di hati tatkala figur Ibu muncul dari balik pintu. Dia terlihat rapuh, sangat putih, dan lelah. Matanya sembab, hidungnya merah, jari – jarinya mengepal di sisi tubuh, surainya yang lembut dan hitam—yang diturunkan padaku dan dengan bangganya bisa aku pamerkan—terlihat kusut. Singkatnya, ibu seperti baru saja disambar ombak tinggi. Porak – poranda kehilangan arah. Dan aku, sebagai kompasnya. Wanita itu menghambur ke arahku, tapi di detik – detik terakhir berhasil membuat dua penopang tubuhnya berhenti tidak jauh dari tempat tidurku, ragu dan tidak tahu harus berbuat apa. Wanita setengah baya itu terlihat kehilangan arah. Selama hidup aku, aku tidak pernah melihat ibu seperti itu. Dia saat ini tidak terlihat seperti ibu yang kuat dan super. Dia saat ini tidak terlihat seperti ibu yang bisa melakukan apa saja, termasuk menghidupi aku seorang diri. Dia saat ini tidak terlihat seperti pahlawan yang sering aku idolakan. Bukan seperti seorang wanita yang menjadi model aku ketika tumbuh menjadi besar. Dulu, aku ingin menjadi ibu. Dia adalah model yang ingin aku ikuti, seorang idola yang tidak pernah ada salah di dua bola mata aku sendiri. Dia orang yang selalu tahu harus melakukan apa, dan mengatakan apa. Dia orang yang selalu membela aku di dalam situasi apa pun, bahkan jika aku memang salah sekali pun. Dia adalah orang yang punya arti besar di dalam hidup aku sendiri. Itu ibu. Tapi saat ini dia terlihat seperti orang yang berbeda. Seperti aku bangun, dan tiba – tiba saja ibu berubah tiga ratus enam puluh derajat dari biasanya. Tentu saja dia masih ibu aku. Tapi dia tidak percaya diri. Dia tidak terlihat kuat. Dia tidak terlihat yakin. Dia hanya berdiri lesu dan wajahnya lirih, seperti sudah merasa kalau dunia akan hancur dan dia tidak bisa melakukan apa – apa. Ibu berbeda. Dia bukan wanita yang kuat saat ini. Keningku mengerut, dan dengan susah payah aku mencoba berbicara. “Peluk aku,” kataku dengan nada bicara yang lemah dan tenggorokan kering. “Kenapa kau berhenti? Kau tidak merindukan aku? I miss you . . . a lot.” “I miss you too . . . so much more than you can imagine,” Ibu menelan ludah. “Tapi aku hampir saja memelukmu erat. Apa kau baik – baik saja?” “Aku lebih dari baik – baik saja,” jawabku tak sabar. “Peluk aku dan aku akan lebih baik lagi. Mungkin aku akan sembuh.” “Sembuh mungkin terlalu berlebihan,” Ibu memicingkan netranya. Aku tersenyum, menahan tawa sebab aku tahu jika gelak harsa itu terlepas, aku akan merasakan sakit di sekujur tubuh. Rupanya tertembak di dekat d**a walau pun tidak mengenai bagian yang signifikan kapabel membuat tubuhmu runtuh sehancur mungkin. “Are you sure . . .?” Aku nyaris memutar dua bola mataku di depan wanita ini. “Tentu saja.” Dengan langkah yang masih terlihat ragu, akhirnya Ibu maju. Dua tangannya terentang di sebelah tubuhnya, dan begitu aku jatuh dalam pelukannya, aku merasakan hangat serta afeksi yang tinggi. Seluruh masalah di hidupku hilang. Kata – kata penuh frustasi lindap. Semua yang ada di dalam tubuhku, rasa sakit, marah, sedih, kecewa, takut dan apa pun itu hilang di telan bumi. Di telan oleh dekapan seorang ibu. My mother, my warrior, my everything. Sebelum air mata yang kupendam bisa jatuh di pipi, aku buru – buru mengerjapkannnya agar hilang. Aku tidak ingin Ibu merasa semakin cemas sebab melihat aku yang menangis. Tangisan itu tidak ada hubungannya dengan Angelo, Jae, atau segala macam musibah yang menimpa kami belakangan ini. Bahkan kepergian Ayah sekali pun. Air mata itu murni untuk Ibu. Untuk wanita yang masih ada di hadapanku, memeluk aku erat. Untuk seorang pejuang yang tidak pernah berhenti mengurusku, menjagaku, merawatku. Aku menangis untuknya sebab segala pengorbanan yang sudah dia berikan padaku. “Terima kasih,” gumamku pelan, bibirku terbenam di bahu Ibu. Wanita itu melepas pelukannya, kepalanya mundur beberapa inci. “Untuk apa?” “Segalanya.” “Apa tertembak membuatmu menjadi hilang akal?” tanya Ibu. Tentu saja, walau dalam situasi begini sekali pun, dia tidak bisa diajak serius atau diajak bersikap manis barang sekilas saja. Kali ini aku benar – benar merotasikan mata. “You know what I mean.” “I know what you mean . . .” Dia mengangguk. Lalu tangannya mengelus suraiku lembut. “Kau yakin semuanya baik – baik saja?” Giliran aku yang menggerakkan kepala naik dan turun. “Apa kau tahu, apa yang terjadi dengan . . . laki – laki itu?” Beberapa saat Ibu terdiam. Aku menahan napasku, menunggu jawaban yang akan terlepas dari bibirnya. Kemudian dia menghela napas panjang seperti mempersiapkan diri. “Mereka membereskannya,” kata Ibu setengah – setengah. “Itu juga yang mereka katakan,” kataku frustasi. I took care of it, begitu kurang lebih kata Angelo. Tapi memangnya aku bisa membaca pikiran? Dugaanku lebih liar dari apa yang mungkin terjadi. Mereka berdua tahu seberapa jauh imajinasi aku bisa berjalan. “Oh, laki – laki itu sudah menceritakannya?” “Laki – laki itu namanya Angelo, kau ingat?” “Oh, Angelo itu sudah menceritakannya?” ulang Ibu kali ini dengan nada bicara yang sarkastik serta penekanan pada nama Angelo. Aku membiarkannya. Kuraih jemarinya pelan. “Tapi mereka tidak menjelaskan secara spesifik.” “Apa yang kau ingat tentang kejadian saat itu?” “Aku melihat Jae akan menembak Angelo, dan aku berlari ke arahnya.” Ujarku pelan. Ibu melotot ke arahku. “Kita masih perlu membahas hal itu,” katanya dengan sorot mata tajam. Jika pandangan bisa membunuh, aku akan beradad jauh di bawah tanah sekarang. “Selain itu, tidak ada lagi yang kau ingat?” Aku menggeleng. “Ketika aku tertembak,” Ibu meringis. “Dua orang laki – laki yang mendadak datang itu melepaskan tembakan mereka juga.” Kata – kata itu aku biarkan menyerap di otak, berusaha agar menyatuhkan setiap fakta demi fakta yang di depan mata. Setelah aku tertembak, dua orang laki – laki yang mendadak datang—yang aku duga adalah Lucky dan Felix—melepaskan tembakan mereka juga. Itu berarti . . . Horor menyelimuti vokalku yang serak. “Dia . . .?” Sudah mati? Itu yang ingin aku katakan, aku tanyakan, tapi lidahku terasa beku. Aku menelan ludah, tiba – tiba menjadi mual dan semua isi perut akan keluar. Ibu menatapku dalam. “Itu yang terjadi.” Fakta itu berenang secara mudah di benak, menari dan menari dan menari, memberikan sebuah informasi yang tidak ingin aku dengar. Sebuah informasi yang bisa aku tebak, bisa aku pikirkan, yang aku curigai terjadi, tapi tetap saja tidak bisa dengan mudah aku telan. Mereka membunuh seseorang. Aku tahu seseorang itu juga sedang mengancam hidupku. Tapi dia tetap seorang manusia. Laki – laki yang tadinya bernapas, mati begitu saja. Dan aku akibatnya. “Muse?” Ibu mengguncang bahuku pelan. “Muse?” suara seseorang terdengar dari pintu. “Muse?” kali ini seperti cemas dan panik. Suara yang familiar. Vokal yang berat dan serak. Aku menatap Angelo. “Kau pembunuh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN