SESUNGGUHNYA aku tidak punya hak untuk mengatakan itu pada Angelo beberapa hari yang lalu. Terlebih niatnya untuk mengecek apa aku sudah lebih baik atau tidak.
Tapi apa kalian bisa benar – benar menyalahkan aku?
Jika bukan karena dia, aku mungkin tidak akan ada di sini. Aku tidak akan berakhir di sini, terbujur kaku setelah berusaha untuk sadar. Aku tidak akan menjadi target dari orang jahat, dan tidak akan menjadi bahan obsesi dari pria yang tidak mau mendengar apa kata orang lain. Aku tidak akan nyaris mati, tidak akan kesusahan mencair dataran dan permukaan agar bisa sadar. Aku tidak akan merasa sakit. Dan bukan hanya tubuh saja yang sakit, tapi juga hati. Hati yang mencelus dan pecah sebab segalanya hancur. Hati yang harus merasakan sakit di fisik serta di dalam hati. Sakit yang terasa di benak dan sanubari. Dan sakit yang aku rasakan, bukan hanya dari bekas tembakan saja, tapi juga dari perlakuan yang dia berikan padaku. Itu mutlak. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir begitu.
Walau aku tahu Angelo juga tidak ingin melakukan ini, tapi pada dasarnya, dia adalah senter dari segalanya. Titik tengah dari semua problematika ini. Walau aku tahu, aku yang datang ke dalam bank itu sendiri, karena disuruh ibu pula, tapi jika dia tidak menahan aku, tidak melakukan tindakan kriminal seperti itu, aku tidak perlu terluka seperti ini.
Aku tahu tidak ada waktu untuk saling menyalahkan, dan saling menunjuk jari siapa biang keladi dari semua masalah ini. Aku sudah lelah.
Jadi, jangan menghakimi aku.
Aku tahu Jae memang bukan laki – laki yang baik—he tried to hurt me for crying out loud. Dan sepert itu belum cukup, dia juga mengancam nyawa Ibu. Merusak rumah kami. Meneror kami hingga kami harus menginap di kamar hotel—walau pun itu hotel bintang lima yang hanya bisa aku mimpikan.
Tidak, scratch that, aku bahkan tidak bisa bermimpi menginap di tempat seperti itu bertahun – tahun ke depan.
Tapi . . . ayolah, kita semua manusia biasa. Aku masih jauh dari kategori Angelo. Melihat kekerasans sedikit saja kapabel membuat darahku memanas. Aku tidak peduli apa yang laki – laki itu lakukan padaku, tapi kematian bukanlah jalan yang aku inginkan baginya.
Panggil aku bodoh, hipokrit, segala jenis nama – nama lain. Namun aku memang tidak merasa kalau jalan terakhir yang dilakukan oleh Angelo benar.
Setidaknya, aku pikir itu jalan yang dia ambil. Atau bukan?
“Cepat atau lambat, kau harus berbicara dengannya.” Wanita yang sibuk memotong buah apel untuk aku bergumam pelan. Atensinya tidak terputus dari pisau buah di tangannya, tidak ketika aku jelas – jelas melotot ke arahnya, berusaha membuat lubang besar di sisi wajah Ibu.
Aku tahu itu, tapi aku perlu diingatkan?
I am literally in their house, atau mansion, atau istana ini—terserahlah. Siapa juga yang punya rumah sakit privat di rumahnya sendiri? Keluarga Bronze sepertinya.
“Cepat atau lambat, aku akan keluar dari sini. Kita akan pergi dari hidup mereka,” kataku keras. “Hidup kita akan kembali seperti dulu lagi. Kecuali sekarang kau yang harus pergi ke bank untuk mengurus rekening atau semacamnya.”
Kalimat terakhir itu tidak membuat ibu meringis atau tersinggung. Dia meneruskan menguliti kulit apel sebab itu yang aku suka. Ketika dia memberika aku satu potong apel yang sudah bersih, Ibu akhirnya menatapku, mata kami saling bertabrakan.
“Apa kau yakin dengan hal itu?” tanya wanita itu pelan.
Aku mengangkat alis padanya. “Yakin tentang apa?”
“Kembal ke hidup kita sebelumnya.”
“Tentu saja,” jawabku cepat. Aku memandang Ibu seperti dia memiliki dua kepala. Seperti Hydra yang jika dipotong satu kepalanya, tumbuh lagi dua kepala dan tidak mau mati. “Setelah semua ini selesai, kau dan aku tidak akan berurusan lagi dengan Angelo.”
“Apa yang membuatmu berkata begitu?”
“Karena aku sadar Angelo yang dulu bukanlah Angelo yang sekarang,” kataku sembari menatap langit kamar. “Atau mungkin Angelo memang selalu seperti itu tapi aku tidak pernah sadar.”
“Kau ingat apa yang aku pernah katakan padamu?”
“Kau harus lebih spesifik,” ujarku sembari menahan untuk tidak merotasikan dua bola mata.
“Bicara. Bicara. Dan bicara.” Ibu tidak melihat perilaku aku yang sejujurnya tidak sopan. “Masalah tidak akan selesai dengan sendirinya, Muse.”
Aku menatapnya ketus. “Bukankah kau orang paling pertama yang mendukung aku agar tidak dekat – dekat lagi dengan Angie—“ Aku berdeham. “Maksudku Angelo.”
“Oh, opini itu masih belum berubah. Aku masih pendukung pertama.”
“Lantas?” tanyaku heran. Aku tidak habis pikir. Ibu seharusnya senang dengan fakta ini. Aku menjauh dari Angelo bisa jadi harapan paling utamanya satu ini. Bukan harta melimpah, bukan rumah mewah, bukan tas luksurius tanpa batas.
Aku. Menjauh. Dari. Angelo Bronze.
“Aku hanya ingin kau bicara dengannya. Itu saja.”
“Ada apa?” tanyaku lagi. Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. “Bagaimana denganmu? Apa menurutmu kita tidak bisa kembali ke kehidupan kita yang semula?”
“Jika kau mau bicara dengan Angelo, kau akan tahu jawabannya.”
“Kau bercanda, ‘kan?” aku bisa merasakan rasa panas menjalar ke atas. “Aku sudah bisa menerima segalanya. Fakta kalau aku dan Angelo tidak bisa terus bersama. Dan kau memutuskan untuk seperti ini sekarang?”
“Kalau begitu aku ingin bertanya padamu tentang apa yang kau katakan tadi,” Ibu memberikan aku piring yang sudah berisikan apel – apel cantik di atasnya. “Setelah semua ini selesai. Apa kau yakin itu? Kalau semuanya sudah selesai? Sekarang?”
“What are you trying to say?” tanyaku dengan nada bicara yang ragu.
“Ini belum selesai, Muse. Ini baru permulaan.”
Aku mendengarkan itu dengan hati yang mencelus lagi. Ya. Benar. Ini semua baru permulaan. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti alur yang sudah diatur. Pada dasarnya, aku sudah membasahi dua kaki ke dalam air. Dan jika tidak membasahi seluruh tubuh, apa yang akan aku lakukan?
Angelo sudah membuat aku tenggelam ke dalam.
***
Setelah apa yang Ibu katakan, aku akhirnya meminta agar Angelo datang. Itu juga setelah tidak bisa tidur dan dihantui kata – katanya setiap malam.
“Ini belum selesai, Muse. Ini baru permulaan.”
“Ini belum selesai, Muse. Ini baru permulaan.”
“Ini belum selesai, Muse. Ini baru permulaan.”
Sejak kapan Ibu suka misteri? Sejak kapan dia berbicara dengan teka – teki begitu? Wanita setengah baya itu adalah orang yang selalu to the point. Aku curiga kalau ini hanya taktiknya agar aku mau bicara dengan Angelo. Kalau tanpa sadar, selama aku terombang – ambing di kegelapan melawan peluru yang mengenai epidermis di antara d**a atas dan bahu, Ibu dan Angelo tiba – tiba menjadi akrab.
Aku juga curiga kalau jangan – jangan Ibu sudah dicuci otaknya.
Tapi satu, aku rasa Angelo dan yang lain tidak punya waktu untuk mencuci otak seorang wanita yang cukup tua untuk menjadi Ibunya itu. Dua, aku rasa Ibu tidak diam – diam menjalin hubungan akrab dengan Angelo, sebab ketika figur masif laki – laki itu muncul di ambang pintu, tiba – tiba saja Ibu menegang, melotot—mata yang sanggup mengalahkan sinar laser Superman—lalu pergi.
Tapi tidak sebelum berkata padaku, “Kalau dia macam – macam, teriak saja.”
Aku tidak membalas kata – katanya yang tidak masuk akal itu, (karena apa yang akan dia lakukan? Dia bahkan tidak bisa melawan Jae, laki – laki yang tidak sebesar Angelo. Apalagi pria masif ini) karena menurutku dia yang membuat ini terjadi.
Bukankah Ibu yang mau aku bicara dengan Angelo secara langsung?
Ketika laki – laki itu terlihat ragu untuk melakukan apa, aku menunjuk kursi bekas Ibu duduk. “Kau tidak bisa melihatnya?”
Aku berani bersumpah ujung labiumnya naik sedikit saja.
Angelo duduk di saming tempat tidurku, tapi masih belum menatapku. “Kau sudah lebih baik?”
“Seperti yang bisa kau lihat,” kataku sarkas. Dia masih belum melihatku. Baiklah. Memangnya aku peduli?
“Muse, aku bisa jelaskan semuanya.”
Aku mengangguk. Dia masih belum mengangkat kepalanya. Ketika napas yang terlepas dariku terdengar berat dan memburu, baru kepala itu naik, secara perlahan. Aku menaikkan alis menatap wajah yang terlihat lesu itu.
Ada lingkaran hitam di bawah kelopak matanya.
“Aku tidak melarang,” kataku sedikit lebih pelan dan tidak ketus seperti tadi. “Jelaskan apa yang perlu kau jelaskan.”
“Kita tidak bermaksud melakukan . . . itu pada Jae.”
Itu. Aku meringis. “Lantas?”
“Jika dia tidak dihentikan, laki – laki itu tidak akan pernah mundur.” Angelo menatap aku pasrah. Seperti ingin aku mengerti apa yang tidak bisa dia katakan. Dia tidak akan pernah mundur.
Aku menelan ludah. Jika mereka tidak melakukan itu pada Jae, maka laki – laki itu akan terus mengeluarkan amunisinya pada siapa pun. Termasuk Ibu. Aku mengatupkan rahang. Itu benar, ‘kan? Aku tahu dari sorot mata Angelo, dia tidak sedang berbohong.
Lantas, apakah alasan itu cukup untuk menewaskan seseorang?
“I want out,” kataku dingin. “Aku tidak mau lagi terlibat denganmu.”
Aku tidak pernah melihat ekspresi sejernih itu di wajah Angelo. Sakit dan sedih, bercampur menjadi satu. Labiumnya bergetar. Tapi dengan tangan yang terkepal, Angelo hanya mengangguk. “Aku akan memastikan kau tidak akan terlibat lagi dengan segalanya. Tapi aku butuh waktu, Muse. Semua ini bukan hanya serangan biasa. Bagaimana Jae bisa tahu kau tinggal di mana, memiliki akses ke hotel sebesar ini. Ada orang lain dibalik tindakannya.”
Aku menarik napas panjang. “Maksudmu?”
“Apa kau siap untuk cerita segalanya?” Angelo menatapku lekat. “Apa kau siap tahu apa alasanku pergi meninggalkanmu sendiri tanpa ada penjelasan? Kenapa kau sekarang terlibat seratus persen di hidupku? Kenapa aku sangat cemas dengan keselamatanmu, Muse?”
Aku tahu itu jawaban yang aku cari bertahun – tahun setelah dia pergi. Aku tahu aku ingin tahu segalanya. Aku tahu kalau Angelo akan menceritakan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Tapi di saat itu, aku hanya bisa membeku, menatapnya dengan perasaan campur aduk. Aku hanya bisa duduk di atas tempat tidur, menunggu kata – kata yang akan terlepas dari bibir manis itu.
“Semuanya berawal dari laki – laki bernama Frank Han.”