PART 35

2206 Kata
“FRANK han?” Aku tidak pernah benar – benar bertanya tentang masa lalu Angelo. Ya, benar. Selama kita berteman, aku selalu memalingkan wajah dari misteri yang bernama Bronze bersaudara. Aku tidak pernah berpikir panjang tentang keluarga mereka, dan kenapa mereka sangat aneh. Kenapa mereka terlihat seperti sekumpulan orang yang sudah dewasa lebih dulu sebelum waktunya. Kenapa mereka tidak pernah bersikap seperti murid normal yang punya kehidupan remaja. Kenapa mereka tidak pernah berbicara tentang rumah mereka, apa yang mereka lakukan di waktu luang, dan dari mana mereka datang. Kenapa tidak pernah ada yang benar – benar tahu tentang asal – usul Bronze bersaudara ini. Aku pun termasuk salah satu dari mereka. Tapi memangnya aku peduli? Dari awal aku sudah tahu kalau Angelo tidak seperti pria lainnya. Tapi aku tetap berteman dengan pria ini. Aku tetap menganggap dia orang yang keren, bisa aku ajak bicara, dan peduli padaku lebih dari orang lain. Aku tahu aku sedang menutup mata pada hal yang penting, tapi aku tidak bisa menahan diri. Berteman dengan Angelo adalah pilihan terbaik yang pernah aku buat, meski saat aku ditinggal olehnya pun, aku masih tidak menyesal. Aku tidak pernah yang namanya menyesal bertemu dengan Angelo Bronze di awal. Walau sekarang hubungan kita diselimuti oleh bahaya. Aku, diselimuti oleh bahaya. Angelo mengangguk. Dia membenarkan posisi duduknya sambil mengusap bibir. Aku menatap laki – laki itu lekat. Gestur tubuhnya menegang, ekspresinya memperlihatkan seseorang yang sedang banyak pikiran atau pikirannya bergelut di dalam sana, tangannya yang sudah kembali di atas pangkuan mengepal. Apa pun yang akan Angelo beri tahu padaku adalah sesuatu yang tidak mudah. Aku ingin meraih jari – jari itu, mengelusnya lembut, memberikan afeksi, dan memberi tahu kalau aku ada di sini sebagai proteksinya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku tidak ingin laki – laki ini menerima pesan yang salah. I want out. Aku benar – benar ingin sudahan. Keluar dari masalah – masalah yang mengikatkan aku dengan dia. Aku ingin hidupku tenang. Terlebih, semenjak Ibu juga ikut terjerumus dalam masalahnya, aku semakin yakin kalau tidak ada yang lebih penting dan besar dari keselamatan wanita itu. Tidak jika aku bisa menghentikannya. Dan aku tahu, sebagian dari diriku—tidak, seluruh diriku—tahu kalau satu – satunya jalan adalah melepaskan Angelo. Tapi memangnya itu membuat segalanya lebih mudah? Tidak. Melepaskannya sama saja dengan memisahkan setengah jiwa dari tubuhku. Laki – laki yang selalu mengisi setiap ruang dan inci pikiranku itu akan membawa separuh jiwaku pergi bersamanya ketika aku benar – benar meninggalkan pria ini. Dan aku tahu itu adalah pilihan yang tepat. “Iya, Frank Han.” Suaranya yang selalu membuatku bergetar terdengar surau. Bukan seperti vokal yang terasa seperti madu di rungu. Bukan vokal yang kuingat, yang kapabel membuat kepakan sayap kupu – kupu terbang di abdomen. Aku tidak pernah mendegar dia seperti ini. Jadi hal ini adalah sesuatu yang baru, yang membuat aku merasakan hal aneh seperti simpati dan sedih. Aku tidak boleh merasa begini. Angelo tidak butuh rasa kasihan dari aku, kan? Lagi pula, mungkin Angelo hanya merasa susah untuk menjelaskan dan menceritakan masa lalunya untuk pertama kali dalam hidupnya. Aku memutuskan untuk mengabaikan rasa yang tak penting itu. Kuberikan dia gestur agar berkontinyu. Angelo merenung beberapa saat seperti lagi – lagi bergelut di dalam sana. “Angie?” panggilanku membuat laki – laki itu akhirnya memusatkan atensinya padaku untuk pertama kalinya semenjak dia mengatakan dua silabel nama itu. “Aku butuh penjelasanmu, dan aku tidak bisa terus – menerus menunggu.” Angelo mengangguk, lagi – lagi membasuh wajah. Matanya yang merah dan sendu mengirim busur panah yang tajam di hati, tapi memangnya itu pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang tajam menghunus jantung? Tidak. Laki – laki ini adalah penarik busur panah yang selalu melukai aku di setiap kesempatan. Jika aku katakan aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya, apa itu membuatku terdengar gila? Dia membasahi bibir. “Muse, apa kau tahu aku setengah Italia?” “Tentu saja aku tahu,” balasku cepat tanpa perlu berpikir. Semua orang yang pernah bersekolah dengannya tahu keluarga Bronze itu tidak benar – benar warga negara Korea Selatan yang asli. Lagi pula, memangnya siapa yang akan percaya kalau sekumpulan laki – laki yang terlihat laiknya Dewa Yunani itu berasal dari Mapo-Gu? “Oh, ya?” “Selain dari kau yang pernah cerita,” kataku. “Semua orang juga bisa menebak.” “Bagaimana bisa?” “Apa kau sungguh percaya kalau keturunan asli Asia dinamakan Angelo atau semacamnya? Di Mapo-gu? Felix dan Lucky? Ayolah . . . Angelo. Angelo.” “Kau sadar ‘kan kau bukan orang yang tepat untuk mengatakan hal itu?” tanya Angelo yang terlihat sedikit lebih rileks. “Kenapa?” aku balik bertanya sengit. “Muse? Come on . . . Muse?” dia menunjuk aku dengan lima jari. “Di Mapo-Gu?” Aku tidak memberikannya kepuasan dengan terlihat kesal. “In my defense, aku terlihat seperti warga Mapo-Gu pada umumnya. Bukan seperti terlahir di jaman Romania.” “Jadi maksudmu aku setampan para Dewa-Dewi itu?” Aku hendak menjawab tapi menutup mulut. Ini yang terjadi, selalu seperti ini di antara aku dan Angelo. Satu detik kami membicarakan satu hal, detik kemudian . . . hal yang lain muncul ke permukaan dan konversasi kami tidak lagi berdasarkan satu topik. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain tertawa. Tapi kali ini, tawaku tidak terlepas dari labium. “Angelo, you went off topic.” Kataku sesantai mungkin. Aku menatapnya yang mulai tegang lagi. “Right . . . “ Dia menarik napas panjang. “Sampai mana aku tadi? Ah, ya . . . aku setengah Italia. Tentu saja sama dengan yang lain. Aku pernah bilang padamu jika duniaku tidak selalu dipenuhi pelangi dan unicorn, ‘kan?” Aku mengangguk. “Dan aku bilang aku suka hujan badai dan hydra.” Angelo tersenyum sesaat. Sebelum konversasi kami bisa menjauh dari topik lagi, dia segera meneruskan, “Secara harafiah, Muse. Kau ingat bagaimana aku dulu sempat ingin menghindar darimu? Tidak mau berteman denganmu lagi?” dia melihatku mengangguk untuk kesekian kalinya. “Itu karena hidupku penuh dengan bahaya. Aku tidak pernah memilih hal ini, tapi apa lagi yang bisa aku lakukan?” “Apa yang kau bicarakan, Angie?” “Aku terlahir dari seorang ayah yang memiliki kekuasaan, ibu yang tidak pernah aku kenal. Orang tua adalah figur yang asing untuk aku. Ketika kami memutuskan unttuk menjauh dari kehidupan yang aku tahu tidak akan pernah aku suka, mereka tetap membuntuti kami, bahkan sampai ke Mapo-Gu.” Aku membiarkan dia meneruskan tanpa memotongnya. “Kami semua kabur ke Korea Selatan karena kami dengar Ibu kami tinggal di sini. Tanpa arah dan tujuan, tanpa rencana yang matang. Aku pikir kita akan bebas akhirnya. Tapi tetap saja, memang takdir selalu mengikuti mangsanya. Walau pun kita sudah kabur sekali pun, nasib hidup selalu membawa kami pada satu – satunya hal yang kami tahu.” “Apa itu?” tanyaku pelan, sangat pelan hingga aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. “Kriminalitas. Kejahatan. Kekerasan.” Angelo menutup wajahnya. Ketika mereka terbuka, aku bisa melihat agoni di sana. “Kami kabur dari Italia, tapi kami tidak pernah benar – benar kabur dari keluarga ayahku.” “Frank Han?” “Frank Hanius Bronze.” Angelo menelan ludah. “Pamanku itu hanya ingin satu, penerus keluarga. Karena dia tidak bisa memilikinya, satu – satunya yang menjadi atensi utama hidup pria itu adalah tujuh anak adiknya yang menyedihkan. Kami pikir kami aman di sini, sampai akhirnya kami tahu kalau selama ini Frank Han mengawasi kami.” “Dan kami semua setuju untuk tidak pernah lagi kembali ke sana.” Angelo melirik aku. “Itu masih belum menjelaskan segalanya,” kataku. “Apalagi caranya untuk melawan sebuah kerajaan?” Angelo mengedikkan bahu. “Dengan membangun kerajaan kalian sendiri.” Aku berusaha untuk menelan semua informasi itu, tapi satu per satu setiap kata demi kata yang terlepas dari labiumnya hanya membangun istana inkuiri di dalam hati. Rasanya satu hal tidak terkoneksi dengan hal lainnya. Meraskaan kebingunganku, Angelo lagi – lagi menelan ludah berat. “Muse, katakan sesuatu.” “Are you . . . in the mafia?” tanyaku dengan napas yang tercekat. Angelo tertawa. Dia tertawa. Seperti tawa yang sudah bertahun – tahun dia tahan. Bahunya berguncang. Aku menatapnya seperti dia orang gila yang baru saja melarikan diri dari rumah sakit jiwa. “Apa yang lucu?” “Tidak, hanya saja, aku merasa semua ini begitu . . . konyol.” “Konyol? Kau pikir ini konyol?” Dia mengangkat bahunya. “Rasanya seperti semesta menganak – tirikan aku, dan berencana menghancurkan hidupku sebisanya.” “Kau masih belum menjawab pertanyaan dariku.” “Bukan, Muse.” Katanya pelan. Aku baru saja akan menarik napas lega ketika dia melanjutkan, “But my uncle is . . . and also my father, was.” “Pamanmu?” aku mengerjapkan mata. “Dan kau?” “Aku jauh dari kategori pamanku, tapi aku sama buruknya. Kau sendiri melihat apa yang aku lakukan. Apa yang saudara – saudaraku kapabel lakukan. Kami semua begitu putus asa untuk tidak kembali sehingga menjadi orang yang kami benci. Tapi setidaknya, kami tidak menjadi orang kami benci dan bekerja untuknya.” Aku merasakan mual di abdomen. “Angelo . . .” “Aku tahu ini semua terlalu berat untuk diserap dalam satu hari, heck, dalam beberapa jam saja, menit bahkan. Tapi aku ingin kau percaya padaku.” “But it still doesn’t make sense,” aku berseru padanya. “Lantas apa hubungannya dengan Jae?” “Seperti yang aku katakan, dia tidak mungkin melakukan ini semua sendiri.” “Menurutmu, Frank Han, pamanmu yang katanya works as a mafia, bekerja sama dengan Jae?” “Iya.” “Untuk menghabisi aku?” pertanyaan itu terdengar lirih. Aku berusaha sekuat tenaga agar bisa terdengar kuat, tapi rumit rasanya ketika kau harus bertanya perihal satu masalah yang menyangkut nyawa dirimua sendiri. Aku menelan ludah saat menunggu jawaban dari Angelo. “Iya.” Suara dia datar. Tidak seperti di awal tadi. Apa dia sudah mengatur komposurnya lagi? “Alasannya?” aku megerjapkan mata pada pria itu. “Karena satu – satunya cara untuk melukai aku adalah dengan menyakitimu, Muse.” Nanti, nanti, aku akan memikirkan kata – kata itu lagi. Nanti aku akan membiarkan sayap kupu – kupu itu kembali berkibar di abdomen. Tapi sekarang, aku hanya ingin tahu satu hal. “Dan dia tidak akan pernah berhenti sebelum aku benar – benar hilang?” tanyaku penuh horor. Aku sudah tahu jawabannya. Aku tahu apa yang akan dia katakan. Tapi tetap saja, aku menunggu penuh antisipasi. Aku menatap mata cokelat yang menghancurkan hatiku itu. Aku membiarkan dia menatapku penuh iba. “Iya. He will never stop until he hurts you to get to me.” *** “Dan kau percaya semua kata – katanya?” tanyaku lagi untuk memastikan (kepastian yang sudah ibu berikan beratus – ratus kali, tapi memangnya aku peduli?) kalau aku tidak salah dengar. Kalau aku tidak salah mengerti. Wanita itu hanya menoleh malas padaku. Satu tangannya memberikan potongan jeruk yang sudah bersih. “Jika aku harus mengulang omong kosong ini, aku sendiri yang akan menghabisimu.” Aku tidak menghiraukan candaan ibu yang terlalu cepat itu, tidak juga membiarkan diriku tersinggung karena dia sudah mengancam hidupku—yang kalau aku terus tersinggung maka aku akan sakit hati seumur hidup. Aku masih mengerjapkan mata padanya. “Segalanya?” “Iya, Muse. Segalanya.” “Tapi—“ aku terbata. “Maksudnya, bukannya aku mengatakan dia berbohong. Aku juga percaya. But I expect something more from you.” “Seperti apa misalnya?” “Oh, I don’t know, tertawa di depan wajahnya? Mengatai dia kalau dia harus ikut kelas drama atau semacamnya?” “Hidupmu adalah taruhannya. Aku percaya padanya kalau dia tidak akan menganggap hal itu sepele,” kata Ibu pelan. Aku terdiam sebab kalimat itu. Nyatanya memang benar, hidupku adalah taruhannya. Dan Ibu tidak mungkin bermain – main dengan hal itu. “Tapi . . . mafia?” Ibu tertawa sarkas. “I know right. Siapa sangka hal – hal begitu asli?” tanya Ibu secara retorikal. “Maksudku, aku tahu mereka memang nyata. Tapi siapa yang bakal menyangka kalau kita akan berhubungan dengan mereka secara langsung?” “We are not joining the mafia, Eomma . . .” Aku memutar dua bola mata. “You know what i mean!” Ibu mendesah. “Angelo itu . . . susah sekali untuk membencinya. Aku rasa aku mulai mengerti apa yang kau rasakan. Lagi pula, sulit bagiku untuk membenci pria yang rela melakukan apa saja demi keselamatanmu, Muse.” “Sulit juga bagiku,” kataku pelan. “Aku tidak bisa membencinya. Seharusnya aku melakukan itu, ‘kan?” “Kau punya banyak waktu untuk membencinya,” Ibu mengibaskan tangan. “Apalagi jika—“ Ibu berhenti. Aku menatapnya curiga. “Apalagi jika apa . . . ?” “Jika kalian tinggal berdua.” “Apa?” “Kalian akan tinggal berdua.” “Kau . . .?” “Aku sudah memutuskan kalau ide dari Angelo itu ada benarnya. Kau harus tinggal dengannya agar dia bisa melindungimu kapan saja.” Aku rasa aku baru saja tersedak jeruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN