PART 36

1247 Kata
DARI SEMUA orang, aku tidak percaya ibu akan menjadi salah satu dari orang yang menyetujui ide gila ini. Aku tahu ibu memang bukan orang tua yang strict atau punya segudang aturan. Aku juga punya banyak kebebasan, tidak terkekang. Malah sering kali ibu yang marah padaku, dan menyuruh aku agar lebih banyak bergaul dan keluar dari rumah lantaran aku selalu berada di dalam kamar tidur tanpa ada teman yang datang menghampiri atau sekedar teman yang menghubungi aku saja. Menurut dia, aku membuang – buang masa remaja begitu saja, membuat banyak orang iri padaku karena mereka justru selalu dilarang ini dan itu. Sedangkan aku malah ditawarkan dan disuruh melakukan ini dan itu yang mereka harapkan. Aneh memang. Rumput tentang memang akan selalu lebih hijau, aku rasa. Tapi aku tahu ibu bukan wanita yang sebebas itu. Dia bukan wanita yang sangat liberal dan sampai tidak memikirkan anaknya. Ibu masih sering memberikan aku banyak ceramah tentang pacaran, dan pria yang baik dan tidak baik. Ibu masih sering memberi tahu aku bahaya dunia dan semacamnya. Jadi, bayangkan seberapa aku kagetnya saat ibu secara tidak langsung bilang kalau dia setuju dengan ide gila Angelo. Aku saja nyaris tersedak. Apa aku benar? Apa ini bukan ibu yang aku kenal? Apa ini bukan wanita yang dulu lagi? *** INI tidak akan menjadi yang terakhir kalinya. Begitu kata semua orang. Kata Angelo paling utama. Kata Felix dan Lucky. Kata saudara – saudara yang lain ketika mereka datang mengunjungi aku. Bahkan Ibu pun ikut percaya dnega kata – kata itu. Aku juga mendengar hal yang sama tatkala Linda—wanita yang selama ini mengurus aku ketika dikurung oleh Angelo datang. Dia memberikan aku makan malam, menatapku lama, sebelum akhirnya berjalan keluar pintu dan mengutarakan ultimatum yang sudah sangat familiar di telinga aku. “Muse, ini tidak akan menjadi yang terakhir kalinya.” Baiklah, memangnya aku akan lupa tentang fakta itu? Mereka secara tidak langsung mengukir kata demi kata itu di pikiran aku, seperti mengejek kalau aku tidak punya pilihan lain. Apa yang ibu katakan padaku beberapa hari yang lalu itu tidak bisa dihindar. Aku memang tidak suka dengan fakta itu, tapi aku tidak bodoh. Tidak perlu seorang jenius untuk tahu seberapa seriusnya masalah ini. Hal – hal aneh kerap terjadi di antara Angelo dan saudara – saudaranya. Dan walau pun aku masih sedikit bingung, well . . . tidak sedikit ‘sih, tapi banyak—intinya aku masih tidak paham dengan semua yang sedang terjadi ini—aku juga tahu kalau Angelo tidak akan pernah main – main dengan nyawa seseorang. Menurutnya, ini adalah ulah dari kerabat dekatnya sendiri. Kerabat dekat yang berhubungand dengan sesuatu yang jahat. Organisasi yang tidak pernah. Semacam mafia? Aku masih bergidik memikirkan hal itu. Apa mafia bahkan benar – benar ada? Apa mereka benar – benar keluarga dekat Angelo dan yang lain? Lalu apa yang mereka lakukan masih membiarkan para laki – laki ini berkeliaran di kota kecil di Korea Selatan? Jika memang benar mereka adalah sekumpulan orang – orang yang memiliki kuasa seperti yang dikatakan Angelo, seharusnnya mereka tidak akan kesusahan untuk membawa tujuh orang pria yang sangat tampan ini kembali ke negeri mereka. Kepalaku berkedut sakit. Serius, jika aku harus berpikiran tentang hal ini lagi, aku akan jatuh koma. Dan aku akan dengan sangat senang hati menolak untuk kembali tersadar. Tidak sebelum Angelo membereskan masalah ini. Ketukan halus terdengar dari luar. Aku memberikan sinyal bagi siapa pun itu agar bisa masuk. Ketika figur pria masih berwajah datar dengan kulit yang pucat pasi muncul dari balik pintu, aku menarik napas panjang. Apa dia punya radar jika sedang dipikirkan oleh orang lain? Mengingat seberapa sadisnya laki – laki ini, aku tidak akan heran jika dia sejujurnya memiliki semacam kekuatan hitam dan gelap. Atau jangan – jangan dia berbuat sesuatu? Made a deal with the devil? Apa itu sebabnya dia punya rumah yang besar dan mewah, dan tidak pernah tertangkap? Aku membuyarkan lamunan bodoh itu, terutama saat Angelo melangkah masuk ke kamar dan berdiri di samping tempat tidurku. Tangannya terulur ke keningku dan merasakannya untuk beberapa saat. Aku memang sempat demam selama beberapa hari setelah terbangun. Laki – laki yang merasa puas sebab temperatur tubuhku tidak lagi hangat itu mundur satu langkah, menarik kursi dari ujung atasnya, dan duduk. “Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku, mungkin terdengar sedikit ketus. Aku memang tidak bisa menjaga nada bicaraku jika sedang tertekan. Blame me, sue me, i don’t care. “I reckon your mom told you all about the plan?” tanya Angelo tanpa melirik aku. Tiba – tiba, benang yang keluar dari selimut di atas tubuhku menjadi sangat atraktif. Aku menahan diri untuk tidak mencibir. “Sudah,” jawabku. “Apa yang kau lakukan hingga sanggup membuat wanita itu setuju dengan ide gila itu?” “Hanya dengan berkata jujur,” Angelo mengedikkan bahu. Sejak kapan laki – laki ini menjadi pengecut? Aku memaksa diri agar tidak menyuruhnya mengangkat kepala itu dan menatap mataku secara langsung. “Apa tidak ada alternatif lain?” “Aku yang pindah ke rumahmu?” Yeah . . . no. Aku bisa membayangkan apa saja yang akan dibicarakan oleh orang – orang di sekitar kami. Segala macam rumor dan kabar buruk akan beterbangan laiknya burung merpati yang bebas. Aku harap dia tidak benar – benar berpikiran seperti itu. Sepertinya ekspresi wajahku sudah cukup menjadi jawaban baginya. Sebab ketika dia akhirnya mendongak dan melihat aku secara direk, dia meringis. “I don’t think so too . . .” Lagi – lagi kau menahan agar tidak mencibir. “Dengar, Angelo, aku masih punya ratusan pertanyaan yang tidak terjawab di dalam sini,” kataku sambil menunjuk satu sisi kening. “Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Sedangkan kau sekarang memberikan ultimatum yang tidak masuk akal lagi.” “Tidak masuk akal bagaimana?” “Kau meminta aku untuk tinggal bersamamu, Angie.” Aku mengangkat tangan—walau hanya sedikit saja sebab rasanya tubuhku masih kaku dan sakit setengah mati. “Itu tidak mudah. Aku punya kehidupan sendiri—“ Aku memicingkan mata ketika dia sudah siap menyanggah hal itu. “—pengangguran juga punya kehidupan, ya. Lagi pula, bagaimana dengan Ibu?” “Mereka tidak akan mendekatinya,” kata dia santai. “Dan kau bisa memastikan hal itu? Bisa menjaminnya kalau dia tidak akan terluka?” “Iya. Dia bukan target mereka.” Angelo mengangkat satu jari agar aku tidak memotong. “Yang kemarin itu hanya kebetulan. Your mom is right beside you. Tentu saja dia akan dibawa bersama denganmu juga.” “Lantas, apa yang menghentikan mereka dari menggunakan Ibu untuk membawaku, dan secara tidak langsung membawamu juga?” Angelo terdiam beberapa saat. Dia membuang napas berat. “Aku hanya tahu kalau mereka tidak bermain seperti itu, Muse. Kita—“ dia berdeham. “Mereka, punya kode tertentu tentang permainan berbahaya ini. Jika kau bukan target, maka kau akan baik – baik saja.” “Tapi—“ “Dengar, aku hanya ingin kau jauh dari bahaya. Aku jujur, aku juga tidak bisa menjamin segalanya. Tapi satu yang aku tahu, aku melakukan ini agar semua orang baik – baik saja. Aku berjanji aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Aku akan mencari Frank Han, atau siapa pun itu yang mulai menggunakan kau sebagai target. Dan aku akan membebaskanmu setelahnya.” Jika satu yang aku tahu dari Angelo, adalah laki – laki itu tidak pernah mengingkari janjinya. Kecuali satu kali ketika dia pergi. Maka dari itu aku mengangguk, membiarkan ide gilanya terjadi keesokan harinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN