PART 37

2161 Kata
SESUATU mengusik tidurku ketika malam sudah tiba. Bukan pikiran yang kacau—sebab pada awalnya aku memang masih belum bisa menafsirkan premis tentang semua kejadian di hidupku belakang ini, bukan juga sebab aku tidak bisa terlelap. Ini mungkin adalah ide paling gila yang pernah aku lakukan seumur hidup aku. Jujur, aku tidak pernah membayangkan akan tinggal bersama dengan Angelo sebelumnya. Walau aku tahu kalau rumah ini isinya bukan hanya Angelo, tapi ada banyak Bronze bersaudara lain termasuk Linda, aku tetap merasa aneh. Rasanya seperti melompat ke masa depan, dari waktu yang sudah membeku. Walau dulu sekali, saat – saat di mana mulai ada rasa yang tumbuh untuk Angelo sekali pun, aku tidak akan pernah bisa membayangkan ini. Aku saja tidak pernah memikirkan masa depan bersama Angelo. Tidak pernah sejauh itu. Aku hanya menikmati masa tersebut bersama dengan Angelo. Enjoy the present time, and forget about the future, bukankah begitu kata mereka yang bijaksana? Nikmati masa sekarang dan berhenti cemas akan masa depan. Itu sih, gampang buat mereka yang tidak banyak masalah. Bagi aku, segalanya perlu dicemaskan. Satu, aku sekarang secara tidak langsung menjadi target orang jahat yang ingin melukai aku. Jujur, aku saja tidak paham kenapa aku bisa ada di posisi ini. Dan dua, yang paling parah, apa yang akan terjadi di rumah ini, saat aku sudah tinggal bersama dengan Angelo? Apa benar akan lebih baik seperti ini? Atau justru ide tidak keren ini malah akan menambah banyak masalah? Tapi suara napas berat dari figur masih yang sedang duduk tegak dengan dua tangan di depan d**a, kepala menunduk dalam, dan postur tubuh sedikit tegang yang membuat tidurku terganggu. Bagaimana bisa aku tidur dengan presensi Angelo Bronze di samping tempat tidurku sendiri? Aku bisa merasakan semuanya. Rasanya seperti indera di seluruh tubuhku bekerja lebih dan lebih, menginkres lima, sepuluh, lima puluh, bahkan seratus kali lipat lebih tajam dari biasanya. Aku bisa mendengar suara – suara kecil yang mengusik rungu, mulai dari suara mesin yang menempel di epidermis, suara titik likuid di plastik infus, sampai suara napas berat itu. Aku bisa melihat dadanya naik dan turun, bisa melihat retak di dingin, seperti rasanya cahaya lampu yang menerangi kamar ini begitu berkilau dan membutakan mata. Aku bisa merasakan setiap gesekan epidermis ketika aku bergerak di kasur, bisa merasakan hembusan udara di dalam ruangan, bisa merasakan degupan hati yang berdegup begitu cepat aku nyaris pingsan. Dan laki – laki itu hanya duduk dengan tenang, tanpa ada pikiran dan beban sama sekali. Dia tidak bertingkah seperti baru saja menjatuhkan bom di duniaku. Dia tidak bertingkah seperti baru saja menghancurkan hidupku, menyebabkan aku dan Ibuku juga berada dalam bahaya. Dia tidak bertingkah seperti baru saja mengganti takdirku, dan memberikan ultimatum bodoh di dunia ini. Aku harus pindah bersamanya. Rasanya ingin sekali aku tertawa terbahak – bahak. Rasanya aku ingin menangis juga, berteriak penuh frustasi. Rasanya aku ingin memukul dan menghabisi Angelo Bronze. Rasanya aku ingin juga menghabisi Jae, Frank Han, atau siapa pun itu yang membuat hidup Angelo berantakan. Aku ingin melakukan segalanya secara bersamaan tapi disinilah aku . . . terbaring tidak berdaya menahan stres dan frustasi dan emosi. Oh my God . . . aku bisa gila. Benar – benar gila, seperti aku akan meledak kapan pun juga. “Bukankah seharusnya kau tidur?” Vokal itu nyaris membuat degupku jantungku yang seharusnya berdetak sangat kencang, berhenti secara tiba – tiba saat itu juga. Aku menekan dadaku keras, berharap agar buah hati itu tidak melompat keluar. Wajah Angelo terlihat tampan seperti biasa, walau ekspresi datar itu sekarang bercampur dengan lingkaran hitam di bawah matanya dan mimik yang pucat pasi. Laki – laki itu seperti lelah setengah mati. Aku tidak menjawab inkuiri bodoh itu. “Tidak bisa tidur?” Apa yang dia ingin aku katakan? Oh tentu saja tidak, mengingat besok hidupku akan berubah seratus delapan puluh derajat dan harus pindah bersamamu. Kau! Aku ingin tertawa lagi. Untuk apa aku dulu mencoba melarikan diri? Untuk apa aku dulu meminta agar dilepaskan? Sudah aku duga. Terlalu mudah bagiku bisa terlepas dari mereka semua. Aku diberikan selimut sekuriti palsu, lalu Angelo sendiri yang menyingkapnya dengan keras, mengembalikan aku ke realita. Seberapa jauh aku mencoba pergi dan lari dan menjauh dari dia, aku tetap kembali pada laki – laki ini. Entah itu sesuai keinginan aku sendiri, atau bukan. “Mau aku ambilkan sesuatu?” tanya Angelo lagi, kali ini dua tangannya tidak lagi terlipat di depan d**a. Aku meliriknya sedikit saja, sebab aku tidak ingin dia melihat wajah yang pastinya merah sekarang. Apa yang akan dia ambilkan? Racun? Kalau bisa tidak masalah ‘sih, toh racun akan mengeluarkan aku dari sini. Selamanya. Ketika aku masih juga belum menjawab, laki – laki itu menghembuskan napas yang panjang. Bahunya turun beberapa senti ke bawah. Ekspresi seperti ditolak dan kecewa terbesit di wajah itu untuk beberapa sekon. Tapi sekon kemudian, dia kembali datar. Sungguh, jika ada penghargaan untuk manusia berekspresi paling datar di seluruh bumi, di dunia ini, di semesta yang besar dan luas ini, Angelo Bronze akan menempati juara satu. Tidak ada yang bisa melawannya. Bahkan orang yang tidak tahu caranya mengeluarkan emosi mereka sekali pun, seperti para sociopath atau pikopat. “Muse?” dia mencoba lagi, tapi aku hanya mengerjapkan mata dan menahan labium. “Akan aku panggilkan—“ “Apa rencanamu?” tanyaku tiba – tiba. Inkuiri itu sepertinya membuat dia sedikit terkejut. Laki – laki itu maju dari posisinya. “Maksudmu?” “Apa rencanamu untuk membuat aku tidak lagi dalam bahaya? Melawan balik Frank Han ini? Atau apa?” “Aku sedang memikirkannya,” katanya dengan mudah. “Oh? Dan itu butuh waktu berapa lama?” Bahunya semakin lama semakin turun. “Muse, dengar, aku tidak menjamin apa – apa. Yang bisa aku jamin adalah jika kau terus berada di sisiku, maka kau akan baik – baik saja.” “Kenapa aku?” “Kau tahu jawabannya,” Angelo mengatupkan rahang. “Bagaimana bisa hanya karena kejadian di bank waktu itu, aku menjadi terlibat sejauh ini?” tanyaku putus asa. “Apa yang aku lakukan? Aku tidak mengatakan apa pun pada siapa – siapa.” “Jae . . . laki – laki itu pasti mencari pertolongan ke tempat yang salah.” Dia mengibaskan rambutnya ke atas, menjambaknya pelan dan mendesah. “Ini salahku. Seharusnya aku tidak membiarkan laki – laki itu lolos. Seharusnya aku tidak memberikan dia kesempatan.” “Kau menyesal karena telah menbiarkan dia hidup?” Angelo melihat aku dengan sorot netra yang tajam. “Jika itu berarti kau harus terluka setelahnya, tentu saja aku menyesal. I’m not going to just sit by while I watch you get hurt. If I can do something about it, I will.” “Termasuk menghabisi seseorang?” “By something, I mean everything. Dan itu berarti, iya, tentu saja.” Aku menggigit bibirku agar tidak mengatakan sesuatu yang akan aku sesali. Sebaliknya, aku melengos darinya. Tidak lama, jemari panjang dan elok memegang daguku dan membawa atensiku kembali pada wajah itu. “Aku bukan orang yang baik. Aku tidak pernah mengatakan itu,” kata Angelo pelan. “Kau tahu siapa aku dari dulu. Aku tidak punya reputasi yang baik, dan aku tidak akan memiliki itu dalam waktu yang lama. You know me, Muse.” Dan bodohnya, dia benar. Sial, dia benar. Aku tahu dia memang bukan orang yang baik. Tapi memangnya aku bisa menebak kalau dia akan berakhir seperti ini? Kalau dia akan menjadi orang seperti ini? Hanya karena apa? “I know,” suaraku serak dan berat. “Aku juga tahu kau bukan orang yang bodoh.” Angelo menelengkan kepalanya. “What do you mean?” “Kau melakukan ini—untuk apa? Menghindari sesuatu yang buruk dengan melakukan sesuatu yang buruk juga?” Jemari Angelo terlepas dari daguku. “Kau tidak mengerti.” “Yang aku tidak mengerti adalah, kenapa kau harus melakukan ini semau.” “Apa yang aku lakukan, jauh, sangat jauh, dari apa yang akan Frank Han lakukan pada kami. Hal – hal yang pria itu kerjakan, Muse, it’s far worse. So much worse. Ini memang bukan jalan keluar yang paling baik, tapi ini satu – satunya jalan keluar.” “Apa jalan keluar ini, Angie?” Angelo hanya menarik napas panjang. “Aku tahu kau sudah bisa menebak.” “Pikiranku terganggu, Angie. Aku membayangkan jutaan hal yang buruk di dalam sini.” “Aku rasa itu tidak mungkin jauh dari realitanya,” kata Angelo. Aku menutup mulut. Semua kata – kata yang siap keluar dari labium menjadi lindap. Aku tahu dari penjelasannya hanya ada satu kemungkinan. Angelo dan saudara – saudaranya membangun kerajaan sendiri di sini. To beat a kingdom, you have to own a kingdom yourself. Dan aku bukannya menolak percaya atau berada dalam kondisi yang memungkiri segalanya, tapi aku hanya tidak bisa menerima. Angie, lelaki dengan wajah datar yang memainkan piano untuk aku, mengantar aku pulang setiap hari bahkan jika hujan sekali pun, membuatku menunggunya ketika latihan basket, membawakan tasku ketika aku lelah, adalah seseorang yang kapabel melakukan ini. Kriminalitas. *** Hari besok datang lebih cepat dari yang aku bayangkan. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak tidur malam tadi. Konversasi dengan Angelo tidak membantu fakta itu sedikit pun. Apa lagi ketika laki – laki itu memilih untuk tidak duduk di bangku sialan yang berada di samping tempat tidurku itu dan pergi, Tanpa aku sadari, presensi Angelo itu selalu aku tunggu. Selalu menjadi hal yang membuat aku tenang dan nyaman. Selalu menjadi salah satu presensi yang bisa membuat aku yakin kalau aku akan baik - baik saja. Ini tidak keren. Dan aku harap Angelo tidak akan pernah sadar. Tapi kenapa juga dia harus pergi? Hal itu semakin saja membuatku gelisah dan tidak bisa tidur sama sekali karena aku tahu, aku tahu dengan jelas dan sangat yakin, kalau Angelo pasti menunggu di luar sana. Bagaimana bisa aku membiarkan lelaki itu duduk atau berdiri atau entah dalam posisi apa dibalik pintu itu? Ketika akhirnya jam kecil di meja yang terletak di samping tempat tidurku menunjukkan pukul tujuh, aku nyaris berteriak senang. Seorang wanita dengan jas putih—yang aku rasa adalah busana palsu yang dia gunakan hanya agar terlihat seperti dokter sungguhan dan dianggap serius olehku dan Ibu—masuk. Wanita ini beberapa kali datang memeriksa aku. Kata Linda, dia juga yang sudah menjahit luka di dadaku, mengeluarkan pelurunya, dan mengurus aku dengan infus dan segala macam mesin ini. Menurut Linda juga, wanita inilah kepercayaan para Bronze bersaudara. Aku tidak tahu apa dia dokter sungguhan atau bukan. “Sudah merasa lebih baik?” tanya wanita itu. Dia tidak terlihat jauh lebih tua dari Ibu. Tapi jelas dia lebih muda. Aku meringis mendengar pertanyana itu. Apa yang harus aku katakan? Oh, luka di dadaku sudah lebih baik, tapi luka dihatiku jauh lebih parah? Atau mungkin, oh luka apa yang kau maksud, luka yang diberikan Jae atau luka yang diberikan Angelo kemarin? Dokter yang entah sungguhan atau tidak itu tersenyum tipis. Belakangan aku tahu kalau namanya adalah Sora. Aku juga tidak tahu apakah itu nama asli atau tidak. Ketika aku membicarakan ini dengan Ibu, dia hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh dan berkata, “Selama dia di sini untuk menyembuhkanmu, aku tidak peduli.” Sora memeriksa aku, mencabut infus, dan melepas mesin pendeteksi detak jantung yang aku pakai. Ketika dia sudah puas dengan apa pun itu yang dia lakukan dan dia lihat dariku, wanita itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Kau sudah mulai pulih,” katanya pelan. Oh, benarkah? Tunggu saja sampai aku dikurung lagi di kamar Angelo. Aku akan kembali bertemu dengamu tidak lama lagi. “Aku rasa kau sudah bisa keluar.” Katanya sepeti dokter profesional sungguhan. Memangnya dia pikir ini rumah sakit asli? “Oh.” Hanya itu yang bisa aku katakan. Sora mendekat ke pintu, memberikan sinyal, dan ketika dia kembali, figur Angelo sudah berada mengikutinya masuk. Aku menahan diri agar tidak mendesis kesal atau memutar dua bola mata. “Dia sudah siap.” “Bagus,” Angelo bergumam. “Aku tidak bisa lagi tidur seperti ini.” “Tidak ada yang menyuruhmu,” kataku ketus. Angelo tidak membalas. Dia berterima kasih pada Sora, lalu mengulurkan tangannya. Merasa kalau aku tidak punya opsi lain, aku menurut. Kuraih jemari panjang itu, dan dengan susah payah aku mencoba berdiri. Ketika aku terhuyung payah nyaris jatuh ke lantai, Angelo secara sigap menangkap aku seperti aku ini daun yang tidak berat sama sekali. Aku tidak protes, karena aku tahu itu hanya sia – sia saja. Jadi aku biarkan dia membawa aku ke mana pun itu yang dia mau. Dan benar saja, begitu kami keluar dan berjalan menjauh dari kamar tadi, aku sudah bisa mengenali interior yang familiar. Tidak lama, aku melihat pintu kamar yang rasanya akan tertanam di dalam pikiranku selama bertahun-tahun. “Welcome, Muse. It’s nice having you again.” Angelo bergumam, dan aku bisa bersumpah, aku merasakan kecupan halus dan hangat di kening. “I will protect you with my life here.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN