PART 38

1463 Kata
“BAGAIMANA, mereka sangat keren, kan?” tanya aku begitu kita berdua sudah keluar dari dalam venue konder 5 Seconds of Summer. Angelo terlihat seperti akan tertidur beberapa detik lagi. Berlebihan. Aku tahu dia menikmati konser tadi. Dan kontras dengan apa yang dia katakan, aku tahu dia tahu beberapa lagu dari band favorit aku ini. Aku sering mendengar dari head phone telinga yang sering dia pakai itu beberapa lagu seperti Ghost of You, Heartbreka Girl, atau lagu populer semacam She Looks so Perfect, dan What I Like About You. Aku tahu banyak yang dia kenali, tapi memang pada dasarnya Angelo ini suka sekali mengelak dan tidak mengakui apa yang ada di depannya. Angelo mungkin bersikap seperti ini hal yang tidak dia suaki, tapi aku tahu beberapa kali Angelo mengikuti irama lagu, dan ikut bersorak riang. Memangnya dia pikir aku siapa bisa dia bohongi? Angelo hanya mengedikkan bahu dan berjalan pelan di samping aku. Jsrak dari venue ke parkiran mobil cukup jauh, jadi kita berdua berjalan ringan menikmati udara malam yang sejuk. Aku memutar dua bola mata pada pria itu. “Jangan mengelak, aku melihat sendiri ‘kok kau menikmati banyak lagu. Aku bahkan melihat kau tahu semua lirik di What I Like About You.” “Terserah.” Hanya itu yang dia katakan. “Apa kau tahu itu lagu favorit aku?” “Lagu favorit kamu adalah Ghost of You,” kata Angelo datar. “Bagaimana sih?” “Hmh . . .” Aku memicingkan mata. “Benar juga. Lihat, kan? Kau tahu lagu – lagu mereka.” Angelo mendengus. “Memangnya dari mana aku bisa tahu semua itu?” Langkah aku terhenti sehingga Angelo berjalan sendiri sementara aku menatap punggungnya yang lebar dan masif. “Apa maksudnya itu?” seru aku sambil berlari untuk mencapai jarak dekat dengannya lagi. Angelo memasukkan dua tangan ke kantong jaket. “Aku bisa suka 5 Seconds of Summer karena kau suka mereka, Muse.” *** “KALAU kau butuh sesuatu, panggil aku dari sini.” Angelo menjelaskan sembari menyodorkan aku sebuah ponsel genggam yang kekinian. Aku memerhatikan benda itu dengan skeptis. Apa yang dia harapkan? Kalau aku akan mennghubunginya jika terjadi apa – apa? Melihat aku yang masih diam berdiri di tengah kamar, Angelo membuang napas berat. Dia berjalan mendekati aku dan menarik pergelangan tanganku dengan frustasi. Laki – laki itu meletakkan gawai modern tersebut di tanganku. “Hubungi aku, mengerti?” Aku tidak menjawab. Biarlah kalian menganggap aku kekanak – kanakan, atau semacamnya. Atau mungkin aku bersikap tidak adil pada Angelo yang hanya ingin memastikan aku aman dan baik – baik saja. Tapi memangnya semua itu harus membuatku menerima semua ini dengan lapang d**a? Jika ada satu yang aku setujui dari perkataan orang – orang tentang aku, adalah sifat aku yang keras kepala. Dan Angelo tahu itu. Dia tahu aku tidak akan luluh dalam waktu beberapa lama ke depan. Laki – laki itu menyibaik surai hitamnya dan mengangguk. “Aku ada kerjaan. Setelah itu, aku akan segera pulang.” “Oh?” kali ini aku membuka mulut, merasakan kata – kata sarkas yang kejam sudah mencapai ujung lidah. Tapi dari segala hal, aku akhirnya berkata, “Kerja apa?” Aku sendiri menahan diri agar tidak meringis mendengar pertanyaan itu keluar dari bibirku. Aku tahu aku terdengr bodoh. Aku juga tahu pasti semua orang akan menatap aku seperti aku baru saja tumbuh dua kepala. Tapi aku memang tidak berniat sarkastik. Inkuiri itu terlempar begitu saja tanpa bisa aku tahan. Angelo menaikkan satu alis. Wajahnya menantang aku untuk melanjutkan konversasi ini. Ah, ya benar, if there is one more thing that is true to me, adalah ketika orang – orang mengatakan kalau aku ini tidak pernah bisa mundur atau menolak tantangan orang lain. Jadi ketika Angelo tidak menjawab melainkan memberikan aku ekspresi datar khasnya itu, aku terus bekontinyu. “Kerja . . . hmh, kerja di bank lagi?” Sepertinya kalimat itu membuatnya kehilangan kesabaran. Dia membasahi bibir dan mendesis rendah. “Muse, aku sedang tidak ada waktu untuk bermain denganmu saat ini.” “Kenapa?” balasku tak mau mundur. “Ten, nine, eight, seven, sedang menunggumu saat ini? Menunggu perintah dan misi atau semacamnya? Five, four—ah, aku rasa four sudah tidak ada sekarang, ya? Apa itu berarti setelah one, two, three, langsung maju ke five?” Angelo memerah. Aku tahu aku bermain dengan api. Aku korek api yang sedang digesek. Namun api itu masih belum datang ke permukaan. Gagal ketika gesekan pertama. “Seperti yang aku bilang, aku tidak punya waktu untuk ini.” Dia menyibak surai lagi dan berjalan ke arah pintu. “Jika kau mau keluar, silahkan. But for your information, di luar ada penjaga, jadi jangan susah – susah keluar dari rumah. Kau hanya menyusahkan dirimu sendiri.” Laki – laki itu berkata tanpa menoleh padaku sama sekali. Ketika dia sudah menghilang dan menutup pintu, aku melempar bantal terdekat denganku di tempat tidur dan berteriak frustasi. Angelo Bronze kau lelaki tidak punya hati! *** “Aku tidak suka pergi nonton film, Muse.” Kata laki – laki di sebelahku untuk kesekian kalinya. Angelo menatap lurus ke depan, memerhatikan mobil dan truk dan sesekali motor pengirim barang berlalu – lalang. Aku menoleh ke arahnya dengan frustasi. Rasanya aku mau menjambak rambutku keras dan memukul laki – laki ini tepat di wajah datarnya itu. Bukannya aku menyalahkan dia juga ‘sih, tapi memangnya dia harus sekeras kepala ini? Selalu saja dia menolak apa pun itu yang aku sarankan. Mulai dari makan bersama, sampai menonton seperti ini saja. Memangnya susah sekali, ya bagi seorang Angelo Bronze untuk keluar bermain bersama temannya? Aku ingin menonton film terbaru di teater. Aku ingin pergi bersama temanku. Angelo temanku. Aku ingin pergi bersama Angelo. Apa serumit itu mengajak seorang teman dekat menyaksikan film terbaru di sinema? Sungguh, aku memang tidak punya begitu banyak teman, tapi aku rsaa tidak semua orang serumit laki – laki ini. Sudah begitu, aku tidak membuatnya bayar atau apa pun. Aku yang membelikan tiketnya. Well . . . aku memang membeli tiketnya tanpa bilang – bilang dulu pada laki – laki ini, tapi seharusnya dia bersyukur mendapat tiket gratis! Aku melipat dua tangan di depan d**a dan menarik napas keras. “Ini film yang bagus!” “Begitu kata semua orang yang ingin menjual filmnya pada orang lain,” ujar Angelo masih menatap lurus ke depan. “Tapi ini memang benar – benar bagus.” “Tentang apa?” tanya Angelo. Kepalanya secara perlahan menoleh padaku. Aku bisa melihat epidermis putihnya yang mengkilat di bawah sinar matahari yang masih masuk melewati bilik tempat menunggu bus. Di tempat duduk halte, aku membeku. Sial, kenapa semakin hari wajah itu semakin terasa seratus kali lebih tampan? Aku merasakan buah hati yang berdegup kencang. Tapi dengan cepat aku mengabaikannya. “Er . . . tentang, er, aku rasa film aksi.” Mendadak otak aku tidak bisa lagi mencerna segala macam informasi yang tersimpan di dalam sana. “Film aksi?” Angelo memutar kedua bola matanya. “Biar kutebak, polisi?” Aku menggeleng. “Bukan.” “Tentara?” “Bukan.” “Teroris?” “Bukan,” aku mengibaskan tangan. “Er . . . tentang mafia atau semacamnya.” Angelo mencibir. Dia melengos dari tatapanku. Wajahnya tidak suka. “Omong kosong. Aku tidak mau ikut.” “Tapi filmnya bagus, Angie!” aku merengek. “Lagi pula, aku sudah membeli tiketnya!” “Tidak ada yang menyuruhmu.” Kali ini giliran aku yang mencibir. “Kau benar – benar tidak punya hati.” Angelo membuang napas panjang. Aku tersenyum tipis, tipis sekali. Aku sudah hapal gestur itu. Angelo sudah menyerah dengan omong kosong dariku. Dengan hati yang nyaris melompat keluar karena merasa puas dan senang, aku membiarkan Angelo diam dan mengikuti aku dengan wajah sedikit kesal ke dalam teater. Film yang aku beli memang benar bagus. Sepanjang film aku merasa terhipnotis di buatnya. Aku sampai tidak sadar figur laki – laki yang dari awal hingga akhir tidak menikmati film itu sama sekali. Ketika kami sudah keluar, aku terkekeh geli. “Setidaknya, tidak bisakah kau berpura – pura menikmati film tadi?” “Seperti yang aku katakan, omong kosong.” Aku berdecak. “Memangnya kau tahu kehidupan mereka seperti apa di dunia aslinya?” Dia tidak menjawab. Laki – laki itu melangkah maju dan meninggalkan aku. Dengan kesal aku mengejarnya. “Tapi kau harus akui film tadi cukup keren.” “Biasa saja.” “Jika kau punya kumpulan organisasi rahasia, nama samaran apa yang akan kau gunakan?” tanyaku tanpa memedulikan suasana hati laki – laki itu. “Kalau aku . . . er, aku rasa menggunakan angka terdengar keren.” “Angka?” Aku mengangguk. “Iya! Seperti one, two, three,” aku menepuk tangan bangga. “Itu memang terdengar keren.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN