SAAT PERTAMA ANGELO BERTEMU DENGAN MUSE.
ANGELO INGIN MATI. Dia tidak lagi ingin tinggal di dunia tidak adil seperti ini. Dirinya hanya ingin keadilan, demokrasi yang menjunjung tinggi pilihan suara paling banyak. Tapi, Angelo harus terjebak di sini, bersama enam orang i***t yang tidak tahu apa itu artinya demokrasi, atau mungkin definisi adil.
“Angelo, kau kalah. Terima saja.” Salah satu netizen yang tidak punya adab berkata, dengan gaya berlebihan dan tangan menunjuk-nunjuk Angelo dengan penuh nafsu. “Sekarang, kau harus melakukan hukuman.”
Angelo mendengus. “Kalah? Maksudmu dibuat kalah?”
“Kau kalah, Angelo! Terima saja!” Netizen itu kembali berseru, urat lehernya mendadak ingin memanjat ke luar dari tenggorokan.
“Vincent,” Angelo memasang wajah datar, wajah sehari-harinya. “bersikap lah sesuai umurmu.”
“Apa yang salah dengan umurku?” Vincent, lelaki paling tua dari tujuh orang manusia tidak ada adab di ruangan itu menderu seperti motor yang melaju kencang.
“Semuanya salah, Vincent.” Ujar seorang lelaki dengan lesung pipit yang sangat dalam, sedalam samudera yang indah, tapi Angelo tidak akan pernah mengakui hal itu. Begitu juga yang lain.
“Kalian semua tidak punya akhlak. Kalian pikir suatu saat, kalian tidak akan mencapai umur dua puluh tiga?” Vincent tidak terima lagi-lagi harus menerima hinaan tentang umurnya yang paling tua di antara mereka. Dia hanya berbeda satu tahun dengan Angelo. Vincent tidak setua itu. Setidaknya, tidak dibandingkan Nicholas, orang paling muda di antara mereka.
“Vincent, saat aku sudah berumur dua puluh tiga, berapa umurmu saat itu?”
“Nicholas,” Vincent mendelik pada lelaki yang baru saja menghinanya lagi. Lagi. Dan lagi. Ya, ini bukan kali pertama Nicholas membuat Vincent naik pitam. “kau sadar bukan, kau yang paling muda di sini? Hormati aku. Your hyung.”
“Hyung, my arse.” Gumam Nicholas pelan. Tidak sepelan itu, karena yang lain mendadak menarif nafas keras, seperti terkejut bukan main Nicholas telah berkata kasar. Nicholas memutar kedua bola matanya, terbiasa dengan reaksi hiperbola yang sering diberikan oleh orang-orang ini.
Salah satu dari mereka tiba-tiba berdiri, menunjuk Nicholas dengan tangan lurus, dan memasang wajah shock. “Vincent, dia baru saja berkata kasar!”
“Ya ampun, Nicholas. Bayiku. Anakku. Aku tidak membesarkanmu seperti ini.”
“Felix—“
“Language, kid!” Vincent memotong ucapan Nicholas untuk Felix, yang sekarang tengah menyeringai lelaki paling muda itu.
“I’m not a kid!” Protes Nicholas keras, sambil memberengut, tangan dilipat di depan d**a, kaki dihentakkan ke lantai. Ya, bukan anak kecil. Pikir Vincent dalam hati.
“Intinya,” Kata salah seorang dari mereka, senyum lebar terlukiskan di wajah cerianya. “kau harus menjalani hukuman, Angelo.”
“Tapi aku tidak kalah, kalian curang!”
“Angelo, kau jelas-jelas kalah.”
“Daniel,” Angelo menyipitkan matanya pada Daniel, lelaki dengan senyuman lebar itu. “kau dan senyum memuakkan itu tidak akan membuatku luluh.”
Daniel merasa tertantang. Tanpa aba-aba, dia pindah dari kursinya, ke atas pangkuan Angelo. Dengan gaya imut yang dibuat-buat, Daniel menggoda Angelo seakan-akan dia tidak takut kematian.
“Angelo. Yoon? Yoonyoon. Aku bunga mataharimu, Angelo oppa.”
“Daniel, aku akan membunuhmu dalam tidurmu.” Ujar Angelo sambil berusaha mendorong Daniel dari pangkuannya.
“Tidak perlu repot-repot, aku akan melakukan itu lebih dulu.” Kata Marco dengan wajah muak, seperti dia mual melihat tingkah Daniel.
“Aku akan membawa cangkulnya.” Sambung Nicholas. Ekspresinya seperti dia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
“Aku akan menggali tanahnya.” Sahut Vincent tidak mau kalah.
“Angelo, kau sugar dan aku Hobi, alias hope. Together we are Sope.” Goda Daniel lagi, dengan suara mengikuti para perempuan yang sedang melakukan tindakan menggemaskan.
“Menjijikan. Pergi kau bunga teratai.” Angelo kali ini mendorong Daniel dengan tenaga besar, membuat lelaki itu jatuh ke lantai bagaikan sampah tak berarti.
Daniel mengaduh, tapi keluhannya tak terdengar di antara tawa yang menggelegar, melihat salah satu dari mereka jatuh tersungkur ke bawah tanpa ada belas kasihan. Pertemanan yang fantastis. Gerutu Daniel dalam hati. Dia berdiri, mengusap bokongnya yang nyeri, dan kembali duduk di kursi awalnya.
“Daniel, kau tak apa?” tanya seseorang saat tawanya telah berhenti. Matanya sipit, kadang tertutup rapat saat sedang tertawa. Kadang dia selalu kalah dalam permainan, karena ketika mereka semua tertawa, dia tidak bisa melihat, membuat dirinya selalu tidak siap.
Daniel memberikannya senyum kecil, tipis, terpaksa. “Tidak apa-apa, Felix.”
Felix mengangguk, lagi-lagi tertawa, matanya hilang tertelan pipi yang tembam, dan matanya berbentuk bulan sabit yang indah. Tapi lagi, Angelo tidak akan pernah mengakui itu. Begitu juga Daniel, dan yang lain.
“Oke, aku Lucky, sudah memutuskan.” Kata seseorang bernama Lucky, lelaki paling tinggi di antara mereka semua, paling unik, aneh, dan mempunyai kepribadian yang berbeda dari orang biasa.
Lucky memang tampan, mungkin paling tampan dari mereka semua, tapi mungkin tidak lebih dari Vincent, tapi kelakuannya yang kadang membuatmu bertanya apa kepalanya tidak sengaja terbentur saat kecil membuat wajah tampan itu sia-sia. Lucky memang tampan, tapi untuk apa tampan jika anak kecil berumur lima tahun saja bisa lebih pintar?
“Angelo kalah, dan dia akan menjalani hukuman.” Sambungnya penuh bangga. Seakan-akan dia telah melakukan terobosan baru. Mengumumkan sesuatu yang tidak diketahui khalayak ramai. Seperti dirinya telah berjasa di sini, menemukan sesuatu yang tidak bisa disimpulkan orang lain.
“Lucky,” Panggil Felix, wajahnya benar-benar khawatir. Khawatir akan level kecerdasan Lucky. “kita semua sudah tahu itu.” Dasar bodoh. Batin Felix kemudian.
Lucky menelengkan kepalanya, bingung. Lalu, dia meringis, seperti baru tersadar dia sudah terlihat seperti orang bodoh. “Oh.”
“Ya, oh.” Angelo berdecak, heran dengan tingkat perhatian Lucky.
“Lalu, bagaimana?” Tanyanya pada ke enam orang lain di ruangan itu.
“Angelo kalah. Angelo dihukum.” Ucap Marco ragu. Dia melirik Angelo, siap-siap menjemput ajal. Lelaki itu hanya mendengus lagi. Dia mengangkat kaki ke meja, melihat kartu UNO yang berantakan di atas sana.
“Aku benci UNO.” Kata Angelo serius.
“Aku tidak mengerti bagaimana Lucky bisa menang. Dia bahkan tidak mengerti cara bermainnya.” Daniel berpangku tangan, mata menerawang ke atas, serius memikirkan keajaiban Lucky yang bisa menang.
“Hobi, aku mengerti cara bermainnya!” Lucky protes keras. Berani sekali dia menghinaku. Lanjutnya dalam hati.
“Ya, satu jam setelah permainan sudah di mulai. Alias, saat permainan sudah akan berakhir.” Sahut Nicholas enteng.
“Ya, kurasa dewa keberuntungan ada di pihakku.” Kata Lucky sombong. Jika dewa keberuntungan ada di pihakmu, kau tidak akan sebodoh ini. Nicholas berkata dalam hati, sambil tersenyum tipis ke arah Lucky.
“Angelo, bagaimana?” Tanya Marco.
Yang ditanya membuang nafas panjang. Angelo tidak bisa protes, sudah jelas semua itu hanya akan masuk ke telinga kiri, dan keluar telinga kanan. Angelo tahu dia sudah dikalahkan dengan curang. Saat ronde terakhir, mereka semua bersekongkol untuk mengeluarkan warna kartu yang Angelo tak punya. Tapi Angelo tetap harus menerima itu, seperti dia memang kalah telak.
“Terserah. Kalian bahkan tidak mau mendengar pembelaanku.”
Marco meyeringai lelaki yang putih pucat itu. “Baiklah, Angelo akan menjalani hukuman.” Seperti yang seharusnya, sambung Marco di hatinya.
“Jadi, di mana aku bisa menemukan gadis aneh dan menyeramkan itu?” Tanya Angelo pada Marco dengan malas. Kepalanya mendongak ke atas, terpaksa menerima takdir yang tidak dia inginkan.
“Arabella selalu duduk di bangku taman kampus saat senja datang.”
Ugh, akan aku bunuh kalian.