PART 40

1163 Kata
PART 39 AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYANGA kalau Angelo bisa menjadi tipe pria semacam ini. Sungguh. Aku pikir dia hanya sebatas Angelo yang tidak suka bergaul dan benci atenis dari wanita. Bagaimana tidak? Selama aku berteman dengan dia, pria ini selalu menolak semua gadis yang menyatakan perasaan untuk pria ini. Sungguh. Aku pikir dulu dia ini alergi terhadap konsep kencan. Tapi akhirnya aku sadar kalau Angelo hanya tidak suka hal – hal tak penting begitu. Dan jujur saja, aku dulu sempat marah padanya karena cara dia menolak perempuan selalu brutal dan barbarik. Aku dulu pernah bilang padanya kalau dia ingin menolak seseorang yang sudah mengajak dia kencan, dia bisa melakukan itu dengan cara yang lembut dan lebih baik lagi. Aku malah dibilang tidak efisien dan bertele – tele olehnya. Baiklah, Angelo memang pada dasarnya pria yang tidak punya hati. Tapi apa yang dia pikirkan saat ini? Aku dan dia memang dulu berteman dekat sekali. Kelewat dekat malah. Kita sering dikatakan sebagai dua sepasang aneh yang tak seharusya menjadi teman dekat, tapi malah menjadi sahabat sehidup semati. Di mana ada Angelo, disitu pasti ada aku. Dan di mana pun ada aku, pasti semua orang akan berbisik tentang Angelo dan ikut merasa terintimidasi dengan kehadiran aku. Padahal aku sendiri tidak pernah ikut campur masalah Angelo dan reputasinya. Tapi bukankah ini keterlaluan? Aku dan dia bahkan sangat jarang yang namanya bergandeng tangan dulu. Pelukan saja nyaris tidak pernah. Aku bisa bersentuhan bahu dengan pria ini saja sudah bagus. Angelo itu bukan orang yang suka dengan kontak fisik. Dia memilih untuk menjaga jarak, dari pada harus bersentuhan dengan orang lain. Aku pikir itu juga salah satu kekuatan super yang aku punya. Kau tahu? Seperti Rogue di serial Marvel Comics yang berjudul X-Man. Bedanya, dia tidak bisa menyentuh siapa pun sedangkan hanya aku yang bisa menyentuh Angelo Bronze. Lantas, apa yang dia lakukan saat ini? *** ENTAH bagaimana caranya Angelo bisa mencapai konklusi kalau aku akan tidur bersamanya di kamar terkutuk ini. Ketika dia sudah pergi dan meninggalkan aku, selama beberapa menit aku hanya kapabel terdiam dan menatap dinding yang sudah sangat familiar ini. Apa ekspetasinya aku akan tidur bersama dengannya di sini? Apa dia serius? Aku tidak habis pikir. Well . . . dia bisa mengucapkan selamat tinggal dariku karena aku sudah jelas tidak akan menghabiskan satu malam yang panjang bersama dengannya. Entah apa yayng dia pikirkan. Aku membuat catatan pribadi di dalam hati kalau aku akan mengatakan masalah ini pada Angelo saat dia sudah kembali. Aku tidak peduli jika dia menolak atau tidak. Yang jelas, aku akan terus protes hingga dia mengabulkan apa yang aku minta. Begitu juga jika dia yang menawarkan untuk tidur di kamar yang lain. Intinya, aku tidak mau berada di kamar tidur ini. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya, aku membuang napas berat. Kupandangi semua furnitur yang ada di dalam kamar ini—yang by the way, tidak banyak—lalu aku memutuskan untuk keluar dari kamar saja. Setidaknya, aku akan mendapatkan pemandangan baru. Di luar, aku menelusuri koridor rumah yang panjang, ruangan – ruangan baru di tempat yang belum aku datangi sebelumnya, lalu berhenti di sebuah ruang tamu megah. Sebesar apa ruang tamu ini? Aku berjalan masuk dengan pelan. Rasanya ruang tamu ini sebesar dan seluar satu rumahku. Aku duduk di tengah sofa panjang dan besar berwarna abu – abu di tengah ruangan. Di depanku, sebuah teve tipis dan terlihat mahal bergantung di dinding. Di bawahnya, sebuah duvet panjang berwarna hitam pekat diisi beberapa benda elektronik lainnya. Ketika aku mendongak, lampu kandelir tinggi ikut menggantung dari atap. Baiklah. Aku rasa menjadi semacam kelompok mafia atau sejenisnya memang mendapatkan profit yang besar. “Muse?” Aku menoleh begitu cepat. Lucky sedang berdiri tidak jauh dariku, mengenakan rompi cokelat dan celana khaki yang kebesaran. “Oh, hai . . . Lucky.” Aku berdeham canggung. Apa yang dia pikirkan ketika melihatku? Aku berusaha kabur dari rumah ini tidak lama lalu. Sekarang aku kembali lagi—walau pun dengan cara tidak sukarela—tapi tetap saja, aku tinggal di sini sekarang. Bukans seorang tahanan lagi. Lucky menghampiriku tapi tidak duduk di sampingku, atau di bagian sofa mana pun. Dia tetap berdiri dengan dua tangan di dalam saku celana khaki – nya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya laki – laki itu pelan. Aku mengedikkan bahu. “Jujur? Aku tidak tahu.” “Bosan?” “Apa itu harus ditanyakan lagi?” aku meringis ketika nada bicaraku keluar lebih kasar dan keras dari yang aku inginkan. Buru – buru aku meluruskan dengan garis kurva di bibir yang aku harap terlihat ramah. “Er . . . maksudku, itu sudah pasti, ‘kan? Apa yang bisa aku lakukan di—er . . . kamar Angelo.” Lucky mengangguk mengerti. “Mau menonton film?” dia menunjuk teve di depan kami. “Tadinya aku ke sini untuk mencari – cari film yang bagus, tapi jika kau keberatan aku bisa pergi.” “Tidak,” aku mempersilahkannya untuk melakukan apa pun yang dia mau. “Terserah kau saja. Aku tidak punya kegiatan apa pun.” “Baiklah.” Lucky berjalan ke arah teve, mengambil sebuah remote di atas duvet, lalu duduk tidak jauh dariku. “Kau tidak pergi bersama Angelo?” tanyaku basa – basi. Memangnya aku peduli dengan urusan mereka? Urusan yang by the way, membuatku berada dalam posisi ini. Lucky sibuk mencari – cari film di datar rekomendasi. “Suka film horor?” “Iya.” Lucky tertawa tipis. “Kasian Angelo.” “Kenapa? Karena dia benci film horor?” “Iya.” Jawabnya. Laki – laki itu terus mencari film, kali ini di dalam daftar genre horor. “Kau masih belum menjawab pertanyaan dariku,” kataku lagi. Laki – laki di sampingku itu menarik napas. “Aku tidak dibutuhkan.” “Kenapa?” “Apa kau selalu bertanya pertanyaan – pertanyaan yang tidak berguna?” “Kata siapa tidak berguna?” Lucky menoleh padaku. “Bagaimana pertanyaan tadi bisa berguna?” aku hanya mengedikkan bahu lagi. “See? Tidak berguna.” “Kau baru saja mengatakan kalian tidak berguna,” kataku sedikit kesal karena dia tidak menjawab secara langsung. “Hmh . . . aku tidak bisa bilang yang sebaliknya.” Aku terdiam. Ketika dia sudah mendapatkan film yang dia inginkan, akhirnya kami berdua sibuk memerhatikan jalannya film dari pada konversasi kami tadi. Tidak lama, aku terhisap oleh jalan cerita film hingga lupa kalau aku sebal pada Angelo, Lucky, dan mungkin seluruh isi rumah ini. Beberapa kali kami saling berkomentar, dan entah bagaimana caranya, kami berdua sudah berakhir dengan posisi duduk berjarak dekat, masing – masing memegang mangkuk besar berisi popcorn, dan minuman dingin di meja ruang tamu. Saat aku dan Lucky sedang dilanda rasa tegang—ditambah tangan kami saling berpegangan sebab film sudah mencapai k*****s, tiba – tiba aku mendengar suara berat dan keras memanggil dari belakang. “Muse!” Aku melihat Angelo memicingkan netranya pada aku dan Lucky. “Apa yang kau lakukan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN