I KNOW WHAT YOU DID LAST SUMMER adalah film seri yang sangat aku suka. Belakangan, aku baru tahu kalau film ini ternyata punya tiga film dari pada dua. Aku pikir dulu ini hanya duology saja, tapi ternyata film seri ini sudah berubah menjadi trilogy sebab ada yang mengeluarkan film ketiga dari seri itu.
Entah kenapa aku sangat suka film ini. Film ini punya memori tersendiri yang tak bisa aku lupakan. Rasa ketika menonton film ini selal membawa aku saat pertama kali aku menontonnya sendirian di rumah. Ya, aku pernah menonton film ini sendirian di rumah saat aku masih kecil. Itulah aku.
Sudah aku bilang aku ini sangat suka film dengan genre thriller dan horror, kan?
Aku ingat dulu, duduk di depan teve tanpa benar – benar tahu apa yang aku saksikan. Aku ingat saat itu sudah cukup larut, itu sebabnya teve memutar film yang seharusnya disaksikan oleh orang yang usianya lebih dari aku, dan dengan genre yang thriller pula. Tapi saat itu aku sedang menunggu ayah pulang dari kantor. Dia bilang akan membawakan aku makanan kesukaan aku dari kedai yang sering kita kunjungi. Namun, ayah pulang terlambat.
Jadi, saat aku sudah masuk ke kamar tidur dan ditidurkan oleh ibu, aku kembali menyelinap ke ruang tamu saat suasana rumah sudah sepi dan ibu sudah terlelap.
Bisa dibilang, dari situlah awal mula bagaimana aku bisa suka dengan film genre seperti itu. Di sanalah semua berawal. Aku terpaku di depan layar kaca dan menonton film yang sampai sekarang masih mempunyai tempat paling tinggi di hati. Nothing is as good as a classic slasher American movie.
Tapi rasa nostalgia itu harus hancur saat sebuah suara familiar menggelegar di telinga.
“MUSE, apa yang kau lakukan?”
Apa yang harus aku jawab dari inkuiri itu? Apa dia tidak bisa melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau aku jelas – jelas sedang menyaksikan film bersama dengan saudaranya? Apa teve yang menggantung dan menyala di depan kami kurang besar lagi?
Tatkala pertanyaan itu terlepas dari bibirnya, aku hanya menaikkan dua alis pada laki – laki itu. Angelo berkacak – pinggang, tapi wajahnya terlihat tidak suka. Laki – laki itu menghampiri kami dan berhenti tidak jauh dari sofa tempat kami duduk.
“Apa yang kau lakukan?” ulangnya seperti aku tidak bisa mendengarnya saat pertama kali dia bertanya.
Aku mencibir ke arahnya. “Aku bisa mendengarmu, just fine.”
“Lantas?” dia menaikkan alis. Lagi. Sungguh, gaya khas itu akan menjadi alasan kenapa aku darah tinggi, punya tekanan jantung, dan mati muda. Gaya yang pada awalnya aku anggap atraktif, tapi kali ini kapabel membuat aku menjadi orang paling tidak bisa sabar di dunia.
Sama sepertinya. Emosian tanpa banyak berpikir panjang.
“Kenapa? Apanya yang lantas? Kau tidak bisa melihat aku sedang apa?”
Lucky berdeham, mengatur posisi duduknya seperti tidak nyaman berada di antara aku dan Angelo. Dia mendongak, menatap kakak laki – lakinya dengan mata menyipit. “Kita sedang menonton film, Angelo.”
“Aku bisa melihat itu.” Angelo menjawab tanpa menatap adik laki – lakinya.
Aku nyaris, nyaris, mengerang kesal sekencang yang aku bisa. Aku bisa melihat itu? Aku ulang, dia bilang aku bisa melihat itu? Ada apa dengannya dan apa yang terjadi saat dia keluar tadi?
Jika dia bisa melihatnya, seperti yang aku duga, lantas untuk apa dia bertanya? Sungguh, laki – laki ini tidak ada duanya.
Seperti melihat apa yang akan keluar dari mulutku, Lucky buru – buru membuka mulutnya sendiri. “Baiklah. Aku akan pergi—“
Sebelum Lucky bisa berdiri dan pergi, aku meraih lengannya dan menarik dia agar kembali duduk. “Mau ke mana kau? Filmnya masih belum selesai,” protesku dengan kening mengerut.
Aku mendelik ke arah Angelo, menyalahkan dia karena perilaku Lucky. Jika dia pikir hanya karena dia datang ke sini, maka aku dan Lucky akan berhenti hang out bersama, maka dia salah.
“Aku, er . . . sepertinya lebih baik jika aku kembali ke kamar saja,” katanya dengan nada bicara yang ragu dan sesekali melirik Angelo dan aku. Dari ujung mataku, aku bisa melihat Angelo mengangguk keras dan kaku. Dua tangannya masih di sisi pinggang.
“Jangan banyak bicara,” ketusku keras. “Duduk dan selesaikan film ini.”
Lucky berdeham lagi, beberapa kali sebelum akhirnya duduk dengan tenang. Dia menolak untuk melihat Angelo di wajahnya, melainkan memfokuskan atensi netra pada adegan film yang sedang berhenti di layar kaca teve.
Berdecak, Angelo beralih dari tempatnya dan berdiri sembari berkacang – pinggang di depan kami. Tepat di hadapan kami, menghalangi korteks visual dan lini pandang layar kaca teve.
Kali ini aku mengerang, tidak lagi menahan diri. “Apa yang kau lakukan?”
Pertanyaan itu kembali dilontarkan tetapi kali ini berasal dari bibirku sendiri. Angelo tidak menjawab. Dia hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh sembari mengerjapkan mata seperti orang tidak bersalah.
“Aku ikut,” katanya dengan nada bicara kaku dan dingin. Wajahnya yang datar membuat segalanya lebih parah lagi.
“Ikut apa?” tanyaku frustasi. Vokalku sudah mulai menginkres beberapa oktav, tapi sepertinya bahkan orang sepintar Angelo pun tak bisa membaca atmosfer ruangan. Tidak bisa tahu kalau presensi dia di sini tidak diterima sama sekali.
“Menonton film,” lagi – lagi bahunya terangkat acuh tak acuh. Sebelum aku atau Lucky bisa protes—walau pun aku yakin kalau Lucky tidak akan protes sama sekali tentang kakak laki – lakinya ini, Angelo sudah lebih dulu mendudukan dirinya sendiri tanpa diundang sama sekali.
Dan parahnya dia duduk di spasi tersisa antara aku dan Lucky. Bahuku begesekan dengan bahunya, sementara Lucky otomatis meringis sebab sebagian dari tubuh Angelo menimpanya dengan brutal.
Aku mencibir. “Apa yang kau lakukan?” Sungguh, kalimat pertanyaan itu sukses menjadi topik utama hari ini.
“Menonton film, Muse. Kau tidak bisa melihat?” Angelo menunjuk layar kaca teve dan dirinya sendiri.
“Iya, tapi seingat aku, aku tidak mengajakmu untuk menonton.”
“Aku tidak meminta,” jawab Angelo.
“Listen, big guy.” Aku menunjuknya dengan jari telunjuk. Di belakangnya, Lucky menutup mulut untuk menyembunyikan fakta kalau dia sedang menahan senyum. Sial, dia pasti menahan tawa. “Satu, apa kau tahu ini tidak sopan? Mengundang dirimu sendiri di acara yang jelas – jelas mulai tanpa dirimu? Dua, kau pikir kau siapa mengacau di sini? Tiga, ada banyak sofa di ruang tamu ini. Sofa yang jelas – jelas bisa kau duduki tanpa harus duduk sempit di sini.”
Angelo menoleh ke arahku malas. “Satu, aku tidak pernah bilang aku laki – laki yang sopan dan oh sangat tahu tata krama. Dua, aku Angelo Bronze. Aku penghuni rumah ini. Aku yang punya rumah ini. Tiga, sejak kapan duduk saja harus ada aturannya? Tidak. Aku bisa duduk di mana saja, dan posisi ini adalah tempat yang paling sejajar dengan layar kaca teve.”
Lucky berdeham untuk menutup tawanya. Aku mendengkus, memilih untuk tetap di tempat aku duduk agar memperlihatkan kalau Angelo tidak bisa menang. Saat film sudah menyala kembali, satu jari Lucky mencolek aku dari balik tubuh Angelo. Aku menyipitkan mata dan melihat bibirnya membentuk sebuah kalimat.
“He’s jealous.”