PART 42

1751 Kata
SALAH SATU HAL yang paling aku benci saat sedang menonton film adalah diganggu. Iya, aku paling tidak suka saat seseorang membuat fokus aku di jalan cerita film terdistorsi. Jujur saja, malah aku ini tidak suka menonton film dengan orang lain. Aku lebih memilih sendiri dan menyaksikan apa yang aku suka, menikmati jalan cerita dan fokus hanya satu arah pada layar kaca dari pada harus menonton bersama orang lain dan mau tak mau, pasti ada saja gangguan yang datang. Bagi aku, orang paling mengesalkan di muka bumi adalah orang yang tak bisa diam di dalam film teater. Sungguh, apa mereka tidak tahu aturan nomor satu di dalam teater adalah tidak boleh bicara? Apa orang – orang jaman sekarang sudah tidak bisa membaca aturan? Jadi, saat Lucky mencolek aku dari balik tubuh Angelo, aku sudah siap akan melontarkan berbagai macam protes tentang diam dan tidak boleh bicara saat film berlangsung. Aku menyipitkan mata dan melihat bingkai mulut pria itu bergerak. Dan saat aku berhasil menangkap apa yang ingin dia katakan, aku menahan diri agar tidak melempar bantal sofa ke arah pria itu. He is jealous, begitu kira – kira apa yang dia katakan padaku. Lucky Bronze. Dia beruntung ada Angelo yang memisahkan kita saat ini. Pria itu menahan tawa saat melihat ekspresi aku yang sudah pasti terlihat seperti akan menghabisi dia. Lucky kembali menoleh ke depan, fokus ke layar kaca sementara aku semakin menjadi kesal sebab fokus aku terus memutar kembali kalimat yang dikatakan oleh pria di ujung sana. He is jealous. Angelo cemburu? Aku menggigit bibir dan fokus pada adegan di layar kaca, di mana seorang gadis sedang berteriak histeris dan menangis sebab rambut emasnya dipotong dan dirusak oleh psikopat jahat. *** “AKU ingin tinggal di kamar yang berbeda,” pintaku begitu acara menonton film di layar kaca teve selesai. Dan di detik itu juga, Lucky buru – buru menghilangkan dirinya dari lini pandang Angelo. Laki – laki itu memberikan salut mengolok padaku sembari mengedipkan satu mata. Sorot netra itu seperti mengatakan, Good luck, aku tidak ikutan. Lalu dia pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun. Pecundang. Aku tidak berharap lebih pada laki – laki itu. Angelo tetap duduk di posisinya, mata menatap lurus ke layar kavca teve yang sudah gelap dan mati. “Apa kau mendengarku?” tanyaku taks sabar. Jika laki – laki ini mau bermain tuli bersamaku, aku bisa memukulnya kencang tanpa peduli kalau dia ini salah satu orang berbahaya di bumi. “Kenapa kau hang out dengan Lucky?” pertanyaan itu keluar dari bibir laki – laki yang berwajah datar tersebut. Aku menelengkan kepala, terkejut mendengar inkuiri yang tanpa alasan itu. Tiba – tiba Angelo menoleh ke arahku, satu alis terangkat, menunggu sebuah jawaban. Apa yang ingin dia dengar? Kenapa aku hang out dengan Lucky? Oh tidak. Apa ini semacam peringatan kalau aku tidak boleh bergaul dengan saudara laki – lakinya? Jika iya, protes kamar tidur bukan satu – satunya argumen yang akan aku buka saat ini. Aku menaikkan dua alis padanya, melawan gaya khas laki – laki itu dengan gaya khasnya sendiri. Biarkan dia merasakan betapa mengesalkannya mimik wajah seperti ini. “Memangnya kenapa? Ada masalah? Aku tidak boleh berteman dengan Lucky?” Angelo berdecak. Lidahnya memutari bagian dalam mulut. Beberepa sekon kemudian dia melengos dariku. “Aku hanya bertanya,” dia menyilangkan kaki. Dua tangan dilipat di depan d**a dengan gaya sengak. Aku nyaris mencakar wajahnya itu. Sungguh, bagaimana bisa satu orang kapabel mengacaukan hatiku seperti ini? Memporak – porandakan perasaan di dalam buah hati sehingga tak tahu harus merasa apa? Satu sekon aku yakin kalau dia adalah cinta pertamaku, laki – laki yang siap aku berikan segalanya jika dia minta. Satu sekon kemudian aku yakin kalau dia titisan setan yang dikirim hanya untuk mengetes aku di bumi ini. Kalau dia adalah kekuatan jahat di dunia, dan aku hanya mainannya sampai dia bosan beberapa tahun yang lalu. Aku mengangguk. Pilihan kedua itu lebih masuk akal dari pada yang pertama. Atau memang cinta pertamaku adalah titisan setan. “Kenpa harus bertanya begitu?” “Kenapa tidak mengajak aku?” lagi – lagi sebuah pertanyaan terlepas dari labium laki – laki di sampingku itu. Dan lagi – lagi, aku terkejut. Kenapa tidak mengajak aku? Sejak kapan Angelo suka yang namanya hang out tanpa melakukan apa – apa? Terakhir kali aku mencoba mengajaknya menonton ke teater, aku harus menghabiskan sampai setengah hari untuk membujuknya agar menerima tawaran itu. Dan sekarang dia bertanya kenapa aku tidak mengajaknya? “Satu, kau ingat dulu ketika aku mencoba mengajakmu menonton film di teater? Iya, begitu susah. Aku ingat semuanya. Aku rasa kau benci melakukan hal – hal normal seperti itu, yang mungkin kau anggap bodoh. Dua, aku dan Lucky sedang menonton film horor, dan aku tahu kau benci film menakutkan. Lihat saja, bahkan di akhir film pun kau nyaris tidak memerhatikan jalan ceritanya dan hanya sibuk mengalihkan pandangan,” aku menarik napas pajang. “Dan terakhir, kau tadi pagi pergi. Bagaimana caraya aku mengajak seseorang yang sedang tidak ada di rumah untuk hang out bersamaku dan melakukan hal normal seperti menonton film?” Angelo mengatupkan rahangnya. Hidung laki – laki itu mengerut. Ya ampun, apa seorang Angelo Bronze sedang memberengut? Kali ini giliran aku yang berdecak. “Dengar, aku tidak punya banyak tenaga untuk adu argumen denganmu—“ “Kalau kau mengajak, aku pasti bilang iya.” Dia masih membahas ini? Serius? Aku memicingkan mata, mencoba menebak isi pikiran Angelo. Tapi sial, bahkan profesor X saja mungkin gagal mencoba membaca isi hati laki – laki ini. Aku yakin, seratus persen yakin, kalau dia memiliki partisi tebal dan tinggi di dalam tubuhnya, sebuah perisai yang membuat tidak ada satu orang pun di bumi yang sanggup menerobos pertahanan dia. “Kalau kau minta, apa bisa aku menolak?” Angelo menatap aku, sorot netranya tidak menyorotkan apa pun. Tapi siapa yang ingin aku bohongi? Bahkan vokalnya saja kapabel meyakinkan aku kalau dia serius. Kalau kau minta, apa aku bisa menolak? Dan seperti ada yang memberikan aku ide lalu menyalakan lampu bohlam di dalam pikiran, aku segera berkata, “Aku ingin tinggal di kamar yang berbeda,” ulangku lagi, mengakatkan permintaan aku di awal. Angelo mengerutkan kening. “No.” Kepalaku mundur beberapa senti. “Kau bilang kalau kau minta, apa aku bisa menolak?” kataku dengan imitasi vokal Angelo yang berat dan serak. “Sekarang aku meminta. Aku minta pindah kamar tidur. Aku tidak mau ada di kamarmu.” “Tidak.” Baiklah, laki – laki satu ini sepertinya lebih dari plin – plan. Aku harusnya takut padanya, ‘kan? Hah, takut pada Angelo? Hari di mana aku takut padanya adalah hari ketika langit jatuh. Aku sudah melewati banyak hal dengan laki – laki ini untuk tahu rasanya takut di sekelilingnya. Kecuali jika Angelo Bronze yang aku temui di ruang bawah tanah dulu keluar. Aku tidak kenal Angelo yang itu. “Kenapa tidak? Katanya aku tidak akan menolak?” protesku keras. “Kau meminta yang tidak bisa aku kabulkan,” katanya santai sembari mengatur posisi duduknya. Dua tangan masih melipat di depan d**a. Aku mencengkeram kaus di lengannya. “Dengar, aku tidak mau berada di kamar tidurmu!” “Kau sudah sering tidur di sana—“ “Memangnya aku peduli?” potongku sebelum dia mengatakan sesuatu yang membuat darahku lebih mendidih dari awalnya. “Aku tidak peduli! Aku tidak mau tidur di kamar itu.” “Baiklah, berikan aku alasan.” Aku mengumbang pelan, sebelum tersenyum manis. “Bagaimana jika hanya karena satu alasan? Karena itu kamar kamu?” “Satu,” dia mencemooh dengan mengikuti gaya bicaraku. “Kau sudah familiar dengan kamar itu. Bukan pertama kalinya kau tidur di sana. Dua, aku bisa memantau kau lebih baik dari sana. Tiga, lagi pula kau mau pindah ke mana? Sudahi konversasi tidak berguna ini.” “Justru karena aku familiar, aku membencinya. Aku tidak suka tidur di kamarmu, Angelo.” “Kenapa?” tanya laki – laki itu santai. “Aku tidak suka tidur di tempat di mana aku nyaris mati diserang oleh orang asing,” kataku dengan venom di setiap katanya. Biarkanlah. Aku mencoba untuk tidak mengatakan hal itu, tapi laki – laki di sampingku ini keras kepala. Jika dia ingin bertanya kenapa, maka aku akan memberikan jawabannya. Siapa yang bilang kalau dia akan senang mendengar respon dariku? Sebelum dia bisa membuka mulut, aku berkontinyu, “Dan aku yakin, di rumah sebesar ini, kau punya lebih dari tujuh kamar.” Konklusi terakhir itu tentu saja benar. Ketika aku mengobservasi tadi, aku melihat banyak pintu tertutup yang aku yakin berisikan kamar kosong. Memangnya dia tidak bisa membuatku tidur di salah satu kamar itu? “Jawabanku masih tidak,” kata Angelo. “Aku tidak peduli jawabanmu,” balasku keras kepala. Tidak mau kalah adalah sifat yang diturunkan oleh ibu. “Iya atau tidak, aku akan pindah dari kamarmu.” “Semua kamar yang lain dikunci, Muse.” “Sofa ini lumayan,” kataku sembari mengelus sofa yang memang terasa sempuk serta nyaman. Angelo mencibir. “Kau mau sakit dan pegal saat bangun tidur? Kau tidak akan tidur di ruang tamu.” “Aku juga tidak akan tidur di kamarmu,” kataku lagi – lagi tidak mau kalah. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan memenangkan konversasi ini. Entah dia peduli atau tidak. “Tunggu dulu, apa maksudmu kalau kau bisa memantau aku lebih baik dari kamarmu?” Angelo tidak menjawab. Lidahnya menonjol dari salah satu sisi pipi secara sublim. Aku memerhatikan laki – laki itu. Mengobservasi mimik wajahnya yang tegang, dan berusaha menggunakan eksresi tidak bersalah. Jari – jarinya terbuka dan tertutup di lipatan d**a. Aku mencoba untuk menyatukan setiap informasi, dan ketika dia melihat ekspresi wajahku saat aku bisa menebak arti dari perkataannya, Angelo melengos. Laki – laki ini . . . . sial, aku akan benar – benar membunuhnya. Aku akan mencabik wajah datar itu. Aku akan tertawa keras ketika gaya khas mengangkat alisnya aku hilangkan dari bumi. Sungguh, Angelo Bronze kau laki – laki tidak tahu diri! Memangnya dia pikir dia siapa? Aku mencoba tenang, tapi tetap saja, api sudah lebih dulu membara. Dengan suara yang nyaris tidak terdengar, begitu rendah dan mematikan, aku mengeluarkan kecurigaanku, “Kau punya kamera pengawas di dalam kamarmu?!” Angelo dengan sengaknya tertawa. Tertawa dan tertawa dan tertawa. Tawanya membuat aku terbakar amarah. Telingaku berdering. Aku memicingkan mata pada laki – laki itu. Saat dia memandang aku, senyum miring terlukis di labiumnya. “Kau tahu kalau kau mendengkur saat tidur?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN