“KAU TAHU KALAU kau mendengkur saat tidur?”
Itu kalimat yang membuat aku naik pitam. Nyaris saja aku bertindak sebagai gadis yang suka kekerasan. Nyaris saja aku meraih bantal sofa dan melempar pria ini dengan bantal itu. Aku tidak peduli jika dia punya reputasi yang buruk. Aku juga tidak peduli kalau dia ini secara tidak langsung adalah seorang kriminal kelas atas yang banyak ditakuti orang. Aku tidak peduli kalau dia pria yang mahir berkelahi, dua kali lipat lebih besar dari pada aku yang pendek dan mungil, dan bisa membalas aku kapan saja. Aku bahkan tidak akan kaget jika dia memutuskan untuk meniup aku dan aku akan terbang. Panggil aku berlebihan, tapi sebegitu besarnya Angelo dibandingkan aku. Tapi aku hanya ingin membuat dia merasa sakit. Aku ingin membuatnya tahu rasa. Sungguh, apa tidak ada yang bisa aku lakukan selain berharap di kepala saja?
Angelo itu memang manusia yang masif. Tapi aku tidak peduli dengan itu semua. Tidak jika dia pikir aku adalah gadis yang akan menerima apa pun begitu saja. Seperti seorang penurut yang tidak pernah protes. Hanya ada satu konklusi dari kalimat yang dia katakan padaku. Hanya ada satu arti dari pertanyaan yang seharusnya mencemooh aku itu. Kau tahu kalau kau mendengkur saat tidur?
Aku tahu bukan satu kali dua kali aku menghabiskan malam dengan dia. Jujur, aku sadar itu. Tapi beberapa kali kita menghabiskan malam bersama, aku tidak sadarkan diri. Aku tidak fokus tidur, tidak nyaman, dan tidak lelap. Jadi, ada hal lain yang membuat pria ini bisa tahu kenapa aku mendengkur saat tidur.
Hanya ada satu cara bagaimana dia bisa tahu segalanya.
“Kau tidur seperti orang yang kerja seharian penuh sampai mereka kelelahan,” lanjut Angelo. “Kau juga selalu berakhir dengan kepala di kaki, dan kaki di kepala. Kau ini tidur atau sedang rusuh di tengah jalan? Rasanya seperti sedang ada gempa bumi.”
Aku tidak percaya ini.
Kata demi kata yang keluar dari labium laki – laki di sampingku itu kapabel membuka segala macam emosi marah di dalam hatiku. Rasanya aku ingin sekali melemparnya dengan teve yang menggantung di depan kami.
Atau meja kristal yang terlihat mahal di tengah ruang tamu ini.
Atau sofa – sofa yang kosong di sekitar kami.
Terlebih lagi aku melihat kalau mereka punya berbagai macam koleksi guci yang besar dan berat. Mungkin jika aku bisa mengangkat barang kali satu atau dua guci ini, dan melemparnya ke kepala Angelo, aku akan bisa membangunkannya dari dunia kecil dan gelapnya itu.
Membuatnya tersadar kalau ini ada dunia asli. Dia tidak bisa terus – menerus bersikap seperti dunia berputar hanya untuk dia saja. Dia tidak bisa terus bersikap kalau orang lain akan selalu mentolerir apa yang di lakukan. Dia tidak bisa terus saja melakuan apa yang dia mau tanpa memikirkan orang lain.
Ugh.
Aku ingin menjambak rambutku sendiri. Aku ingin berteriak frustasi.
Dia mempunya kamera pengawas di dalam sana. Di dalam kamar tidur terkutuk itu. Dan walau pun aku sudah tahu jawabannya, aku masih bertanya dengan suara rendah yang dilumuti benci, “Sejak kapan?”
Laki – laki yang tidak tahu aturan itu menoleh padaku. “Sejak kapan apanya?”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Jemariku meremas kening secara eksesif. “Sejak kapan ada kamera pengawas di dalam kamar tidurmu?” tanyaku lagi. “Atau kau memang orang gila dan kelewat paranoid hingga kamar tidur sendiri harus diberi kamera pengintai?”
Angelo mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Sejak . . . aku tidak ingat.”
Aku tertawa tanpa rasa humor sama sekali. Siapa yang mau dia bohongi? Aku berdecak keras. “Kau lupa? Kau lupa kapan menaruh kamera pengawas di dalam kamar tidurmu sendiri? Sesuatu yang perlu usaha dan rencana?”
“Iya,” jawabnya santai. “Aku lupa.”
“Kau dan aku tahu kau tidak akan pernah lupa tentang hal – hal seperti itu. Aku yakin kau bahkan masih ingat apa yang kau makan minggu lalu.”
“Itu tidak benar,” katanya dengan kening mengerut.
“Angie,” aku memutuskan untuk memberika dia obatnya sendiri. “Apa yang kau makan hari sabtu minggu lalu?”
“Sushi.”
“Aku akan menghajarmu habis – habisan suatu saat,” kataku dengan rahang mengatup. “Percaya itu.”
“Aku percaya.” Angelo menatapku lekat. “Aku tahu kau bisa melakukan itu.”
“Maksudnya?”
“Hanya kau di dunia ini yang bisa menyakitiku tanpa perlu mengedip, Muse.” Laki – laki itu bersiap untuk berdiri.
Aku menarik lengannya hingga dia duduk lagi. “Konversasi ini belum selesai.”
“Konversasi ini tidak pernah dimulai, Muse.” Angelo menggeleng lelah. “Tidak ada ruang argumen dalam permintaanmu. Aku tidak bisa mengabulkannya. Itu tidak masuk akal.”
“Tidak masuk akal bagaimana?” aku mengangkat dua tangan di udara. “Aku hanya minta pindah kamar. Apa bedanya aku tidur di kamar lain dengan di kamar-mu sendiri? Kita tetap akan tidur berpisah.”
“Siapa bilang kita akan tidur berpisah?”
Mataku memicing secara otomatis. “Kau akan tidur di luar,” kataku keras dan tegas. “Kau akan tidur di laur, Angelo. Aku serius.”
“I am not going to sleep outside,” Angelo protes. Dua tangannya terlipat di depan d**a secara otomatis. Laki – laki itu membasahi bibirnya dan berkontinyu, “Kau tahu aku tidak bisa tidur di tempat yang asing.”
“Ini rumahmu,” kataku frustasi.
“Dan aku suka tempat tidurku.”
“Maka biarkan aku pindah ke kamar yang lain.”
“Tidak.” Angelo menjawab singkat, jelas, dan padat. Aku nyaris benar – benar menamparnya keras. Tapi aku menahan diri. Dia yang punya kuasa di sini. Bagaimana jika keesokan harinya aku bangun dan berada di ruang bawah tanah seperti saat itu?”
“Aku tidak mau tidur di dalam tempat yang ada kamera pengintainya,” ujarku lagi, masih tidak mau kalah. Aku keras kepala. Itu aku. Aku tidak akan pernah mundur.
“Dan aku jawab tidak. Kau akan tidur di mana aku mau kau tidur.”
“I can’t believe you . . .”
“Neither can I,” Angelo menggeleng. “Kata – kataku sudah final, Muse.”
Aku membuang napas berat. “Lupakan saja. Lagi pula itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Itu bukan permintaan juga, tapi aku hanya memberi tahu. Kalau kau tidak mau membiarkan aku tidur di salah satu kamar—yang by the way, ada lebih dari cukup kamar di mana aku bisa tidur sampai masalah ini selesai, aku akan tidur di sini.”
Aku memeriksa sekeliling dan mengangguk puas. Jemariku menyentuh permuakan sofa yang empuk dan halus. “Aku pernah tidur di tempat yang lebih buruk,” kataku dengan hati yang tenang.
Angelo mencemooh. “Kau tidak akan tidur di ruang tamu. Dan di sofa pula.”
“Aku tidak punya pilihan lain,” kataku sembari mengangkat dua bahu.
Laki – laki itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menatapku dengan dua sorot netra yang frustasi dan stres berat. Aku mungkin akan menjadi alasan laki – laki ini menua lebih dini, atau mati sebab serangan jantung di usia yang muda.
Tapi memangnya aku peduli? Aku sudah yakin. Aku akan tetap pada pendirianku sendiri. Aku tidak akan menginap di kamar tidur Angelo. Tidak di tempat di mana aku nyaris mati di serang. Atau ketika aku dikurung berhari – hari oleh laki – laki itu sendiri.
Aku tidak ingin berada di dalam sana lagi.
“Muse, kau tidak masuk akal,” Angelo menggeram kesal, terlebih ketika dia melihat aku sudah nyaman dan bersandar semakin jauh di sofa. Hmh . . . aku memang benar. Sofa ini nyaman dan berkualitas tinggi. Aku harus bertanya pada mereka tentang merek sofa ini. Tapi aku tidak akan bertanya pada Angelo tentu saja. Mungkin Lucky, atau Felix. Ah tidak, mungkin Felix saja. Lucky, laki – laki sialan itu meninggalkan aku sendiri di sini bersama monster ini. Dia berkhianat, setelah kita bersenang – senang dan menyaksikan film bersama—“Muse!”
Aku tersadar dari lamunan panjang.
Angelo mengerang frustasi. “Ayolah, kamar tidurku lebih baik dari pada sofa ini. Ruang tamu ini. Bagaimana mungkin kau tidur di sini? Kau habis di opersasi, Muse!”
Pikiranku langsung kembali ke kejadian waktu itu. Aku benar – benar hampir mati. Dan itu semua terjadi tidak lama. Tanganku secara otomatis bergerak ke atas dan menyentuh luka yang aku punya. Dadaku masih diperban, masih terlihat segar dan sakit.
Peluru yang dikeluarkan pun masih ada di Ibu, entah mengapa wanita itu memilih untuk menyimpannya.
Aku menelan ludah.
Begitu aku mengedipkan mata, bunyi senjata api yang meresonasi di seluruh ruangan teredengar. Aku berteriak. Sepertinya aku berteriak. Darah mendesir ke atas kepala. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku bisa merasakan Jae ditarik oleh seseorang. Suara tembakan lagi. Aku terjatuh.
Kepalaku menggeleng secara otomatis. Jae. Dia pernah ada di kamar itu.
“Muse . . .” Vokal laki – laki itu melemah. Dia menatapku penuh arti. “Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu.”
“Kau selalu mengatakan itu, Angie. Lihat apa yang terjadi.” Aku tidak bermaksud menyindirnya, tidak bermaksud menyakitinya. Tapi aku rasa dia perlu tahu itu. Dia perlu sadar kalau dia tidak akan pernah selalu bisa melindungi aku.
Dia tidak akan pernah bisa berada bersamaku setiap kali.
Aku menunjuk dadaku sebagai tanda.
Sesuatu melintas di matanya. Rasa sakit dan penyesalan. Kutelan jauh – jauh perasaan menyesal dari diriku sendiri. “Apa pun bisa saja terjadi di dunia ini.”
“Apa kau . . . takut berada di kamarku?” aku menunggu sebelum menjawab, sebab ekspresi Angelo mengatakan kalau dia belum selesai. “Apa kau . . . takut padaku?”
Oh no . . . begitu cepat aku menggeleng. Dan sebelum aku bisa menahan diri, aku sudah mendekat ke arahnya, memegang lengan pria itu. “Tidak. Aku tidak mungkin takut padamu, Angie.”
Matanya luluh. “Lantas? Kenapa?”
Mataku terbuka dan melihat darah . . . darah . . . darah . . . darah siapa? Aku tidak bisa menahan segalanya. The shocked is too much. Aku melihat gelap di korteks visual.
“Aku hanya . . . er, aku tidak merasa nyaman.”
Angelo mengangkat alisnya. “Dengan?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya, Angelo.” Mendengar aku yang memangilnya dengan nama panjang, laki – laki itu duduk tegak. Aku tidak pernah menyebut namanya kecuali jika aku benar – benar serius. Selalu Angie, atau apa pun.
“Dengarkan aku,” dia mengahadap ke arahku dan alisnya menyatu serius. “Aku melakukan ini bukan untuk aku, Muse. Aku melakukan ini hanya untuk kamu. Keselamatan kamu. Aku minta maaf, aku benar – benar minta maaf, karena sudah menaruh kamera pengintai di kamar itu tanpa bilang. Tapi setelah kejadian dengan four . . . maksudku, Jae, aku tidak bisa menahan diri. Aku membiarkan itu terjadi tepat di bawah pengawasanku. Aku bisa gila. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”
“Dan memasang kamera pengintai adalah jawabanmu? Agar kau bisa mengawasiku terus – menerus?” tanyaku tak percaya.
“Iya. Dan aku tidak menyesal. Aku minta maaf karena sudah menyakitimu, bukan karena aku telah memasang kamera itu. Tidak ketika keselamatanmu adalah apa yang aku inginkan. Jadi, aku akan mengatakan ini sekali saja, kecuali kau tidur di kamarku, atau kau tidak tidur sama sekali. Kecuali kau tidur di kamar tidurku, dan aku menjaga di luar, atau aku akan tidur bersamamu di setiap tempat yang kau pilih.”
Aku terdiam. Lalu apa yang aku katakan padanya? Tidak ada. Jadi aku hanya menutup mulut. Aku hanya melihatnya diam di depanku. Dan di saat itu aku tahu, aku tidak punya pilihan lain. Jadi dengan rahang mengatup dan harga diri yang jatuh serta rasa malu, aku mencibir dan berjalan ke kamar tidurnya. Terkutuklah kau, Angelo Bronze.