PART 44

1635 Kata
PART 44 ANGELO BRONZE terlihat seperti pengusaha kelas atas. Ugh, aku tidak percaya aku mengatakan ini saat ini, tapi dia sangat tampan. Sungguh. Sudah aku bilang dia seperti dipahat langsung oleh dewa Yunani, kan? Pria itu membuat semua model merasa malu. Dia bisa saja mengambil pekerjaan mereka dengan mudah dan mengatakan, “Hey, aku yang lebih pantas menjadi model. Kalian para pria dengan tampang lebih rendah dari aku diam saja.” Dan jujur saja, dia tidak akan mendapatkan masalah. Karena semua orang akan setuju dan berpikir, “Ah . . , ya, benar juga.” Aku juga tidak akan kaget kalau mendadak Angelo berubah profesi menjadi model dunia yang sangat terkenal. Saat ini, dia mengenakan baju dengan jas komplet dari atas kepala hingga ke kaki. Warnanya sedikit gelap, seperti abu – abu tapi juga kehitaman. Warna yang sangat menggambarkan Angelo sekali. Dia membenarkan dasi di depan cermin seperti seorang pebisnis yang siap ke kantor. Sementara aku hanya duduk di atas tempat tidur sembari mengutuk dia di dalam kepala. Pada dasarnya, hanya itu yang bisa aku lakukan di depan pria ini jika aku tidak ingin mendapat masalah. Lalu, saat dia sudah selesai, pria itu berbalik badan dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana yang sangat halus dan rapih. Tidak kusut sama sekali. Beda sekali dengan penampilan dia dulu yang selalu menggunakan seragam kusut dan berantakan. Dia memberikan aku benda berbentuk kotak itu sembari menatap aku lekat. Aku menatap bentak yang dia berikan seperti baru saja melihat benda alien. “Apa ini?” “Kau tahu apa itu,” ucap Angelo santai. Dia membenarkan pakaian yang dia pakai sembari berkaca lagi dari tempat dia berdiri. “Aku harap kau tahu cara menggunakannya.” Aku menahan lidah agar tidak membalas ucapak sarkas itu. Untung sekali aku tidak sedang memegang benda yang bisa melukai dia. "Gunakan benda itu untuk hal – hal yang penting, Muse. Mengerti?” Aku mencibir. Sejak kapan pria ini berubah menjadi seseorang yang otoriter? Tukang menyuruh dan tidak mau mendengar opini orang lain? Tunggu dulu. Angelo memang sudah seperti itu. Dia pria yang tidak banyak bicara dan jika sekalinya buka mulut, Angelo hanya berkata dingin dan menyuruh orang melakukan apa yang dia mau. Itu saja. Aku tahu Angelo memang pria yang baik, tapi terkadang aku kesal setengah mati jika harus menghadapi sikapnya yang seperti itu. Dia menaikkan satu alis padaku, menunggu respon. “Jadi?” Aku menahan diri agar tidak mencibir dengki lagi. Sudahlah. Setelah beberapa hari yang lalu gagal membuatnya membiarkan aku mengganti kamar tidur, aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa menang adu argumen dengan laki – laki ini kecuali menggunakan taktik lain. Atau mungkin kekerasan. Jadi aku mengerjapkan mata padanya. “Aku tahu gunanya ini, Angie.” Dia terlihat terkejut. Lalu tersenyum tipis. Tipis sekali aku nyaris tidak menangkapnya. “Angie . . .” “Apa?” tanyaku heran. “Tidak,” dia menggeleng. “Kalau kau tahu, maka aku percayakan hal ini padamu.” Dia menunjuk ponsel genggam di tanganku. Beberapa saat yang lalu dia datang ke dalam kamarku, tiba – tiba memberikan sebuah ponsel baru yang cukup modern. Aku bertanya untuk apa benda itu dan Angelo menatap aku seperti aku baru saja tumbuh dua kepala. “Aku tahu kau bodoh tapi aku tidak tahu kau sebodoh ini, Muse.” Lalu laki – laki itu berani – beraninya mengerutkan kening. “Apa kepalamu terbentur terlalu kuat saat itu?” Aku mau menghajarnya, tapi aku diam di tempat. Saat itu. Berani – beraninya dia mengungkit saat itu seperti hal itu bukan kejadian yang besar dan insiden paling aku benci di bumi. Dan by the way, setengah dari kejadian itu adalah tanggung jawab dia. Kupegang ponsel genggam itu keras di tangan. “Ya, ya . . . hubungi kau jika penting saja. Jangan main – main, dan bla bla bla . . .” Angelo berdecak. “Kau dan sifat kekanak – kanakan itu.” “Excuse me, aku yang kekanak – kanakan?” aku menunjuk diriku sendiri. “Kau bahkan tidak mau membiarkan aku tidur di kamar yang lain! Dan kau punya lebih dari sepuluh kamar, Angie!” dia menaikkan alis padaku, lalu aku berkontinyu, “Iya! Aku menghitungnya!” Laki – laki itu mendongak ke atas seperti berdoa pada langit, lalu menatap aku lagi. “Kita sudah selesai membahas tentang kamar tidur, OK? Sekarang aku harus pergi, ada urusan sebentar. Aku harap kau tidak membuat masalah.” Kubiarkan mataku berputar dengan kesal. “Ya, ya . . . Muse si pembuat masalah.” Aku kibaskan tanganku di udara. “Tenang saja, Tuan Bronze yang mulia.” Angelo tidak menggubris aku, melainkan melengos dan berjalan ke arah pintu. “Selamat pagi, Muse.” Vokalnya berat dan singkat. Aku mendengkus. “Selamat pagi, Tuan Bronze yang mulia.” Angelo terdengar seperti akan tertawa, tapi sosok pria itu termakan oleh pintu yang menutup dan suara angin dari luar. Aku menahan bibir agar tidak berteriak frustasi atau melempar benda kotak yang sedang aku pegang. Semesta, bagaimana bisa aku suka pada pria ini dulu sekali, sih? *** Saat itu aku pikir anak – anak geng itu sangat keren. Yah, mau bagaimana lagi? Mereka terlihat sangat luar biasa dengan jaket kulit hitam dan rantai di leher mereka. Dengan kaca mata hitam di atas kepala dan sarung tangan yang tebal. Dengan wajah sangar mereka dan bibir yang selalu mendengkus. Dengan tabiat buruk dan tidak sopan mereka, atau ketika mereka dengan sengak melawan rival – rival tidak tahu diri. Aku tahu itu salah, tapi adrenalin aku sebagai remaja yang ingin banyak tahu membuat aku mengagumi anak – anak geng. Terlebih anak geng sekolah sebelah yang ketuanya tampan bukan main. Sudah bukan rahasia lagi kalau di geng sekolahs sebelah kita ada ketua yang wajahnya mirip dewa Yunani—bukan kata – kata dariku, tapi aku setuju dengan diktum tersebut. Bukannya melebihkan, tapi sungguh, laki – laki itu sangat rupawan. Bukannya aku juga suka sama dia, ‘sih, tapi yah, jika memang dia tertarik padaku kenapa tidak? Sudah tampan, jago berkelahi, senyumnya menawan, banyak ditakuti orang, tubuhnya atletis, dan dengar – dengar dia juga pintar secara akademis. Bagaimana bisa anak berandal punya nilai akademis di atas rata – rata? Anak berandal idaman, itu dia. “Hey,” Esme menusuk bahuku dengan pulpen. Aku mengaduh. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya gadis yang sibuk memakan makanan cepat saji yang kami pesan saat jam pulang sekolah sudah berbunyi. Kata Ibu dia ada acara dengan temannya malam ini, jadi aku bergegas mengunjungi Esme di perpustakaan dan mengajak dia makan malam bersama. “Tidak,” kataku dengan mulut penuh. “Aku hanya memikirkan rumor yang sedang beredar, itu saja.” “Ooh . . . aku suka rumor.” Esme membulatkan matanya lebar. Dia menyeruput minuman soda kami. “Rumor apa yang beredar?” “Kau tahu sekolah sebelah?” tanyaku. “Tentu saja tahu,” dia mengangguk. “Sekolah kita selalu menjadi rival dari dulu.” Belakangan aku mengetahui kalau Esme ini adalah alumni sekolah aku juga. Dia memutuskan untuk meneruskan pekerjaan di perpustakaan sebab dia sedang menunggu untuk mengumpulkan uang kuliah. Aku menoleh padanya. “Oh, ya? Kenapa?” “Entahlah. Memang sudah seperti itu dari dulu.” “Oh . . .” Aku mengangguk. “Apa kau tahu tentang geng di sekolah mereka?” Dia tersenyum miring padaku. Ekspresi itu membuat aku yakin dia tahu betul apa yang sedang. “Oh, jadi Haru sedang menjadi omongan orang banyak?” “Iya.” Aku menelan makanan di mulut. “Rupanya dia menjadi idaman orang banyak. Tampan, dan pintar. Bad boy juga.” Esme terkekeh begitu juga aku. “Memangnya kau suka yang seperti itu?” “Ooh . . . aku suka yang sedikit bad.” Esme tertawa lagi, kali ini aku ikut terkekeh. Dia meraih kentang goreng di depanku dan menggeleng. “Oh, kau tidak suka?” Dia menatapku seperti aku baru saja mengatakan hal yang aneh. “Tentu saja suka.” Aku mendorong bahunya. Kita berdua melanjutkan makan dengan cepat. Aku buru – buru membereskan bekas makan kami dan pamit pada Esme saat langit sudah gelap. Aku menelusuri jalan malam di gang kecil menuju rumahku saat sudah turun dari bis. Langkah kaki-ku menggema di lorong itu, membuat aku mempercepat perjalanan sebab aku merasa seperti diliat oleh seseorang, tapi aku tidak mau menoleh. Saat aku melihat cahaya di ujung jalan, aku sudah berlari kecil namun langkahku tertahan. Aku membeku. Seseorang menarik tas-ku dari belakang hingga aku terbawa mundur beberapa langkah. Aku menutup mata, takut jika aku sedang ditodong atau semacamnya, tapi suara tawa tipis terdengar di telingaku. Ketika aku membukanya, aku melihat seseorang melingkarkan lengannya di leherku. “Muse?” suara asing itu terdengar berat dan candu. Aku mengangguk. “Benar ini Muse?” aku mengangguk lagi, tidak tahu harus berkata apa. Aku merasakan orang itu melepasku. Lalu membuat aku berbalik badan. Mataku melebar. Di cahaya yang minim di gang kecil menuju rumahku, aku melihat wajah tampan yang menawan. Giginya putih bersih saat dia tersenyum lebar. Matanya membentuk bulan sabit. Tapi aku tidak bisa menahan untuk merasa seperti . . . takut. Senyumnya tidak benar. Seperti ada maksud lain. Aku tahu siapa pria yang sedang berdiri di depanku itu. Aku tahu siapa pria yang sudah menarik aku dan melingkarkan tangannya di leher aku itu. Aku tahu siapa yang sedang berseringai di hadapan aku itu. bagaimana tidak? Namanya sedang dibicarakan orang banyak belakangan ini. Bagaimana tidak? Rumornya sedang beredar di mana – mana belakang ini. Dia si ketua yang sedang menjadi berita hangat di dua sekolah rival. Si bad boy tampan tapi dengan nilai akademis tinggi. Idaman para gadis remaja se- Mapo-Gu sekarang. Dia adalah orang yang baru saja aku bicarakan dengan Esme. Haru, si ketua geng dari sekolah sebelah. Lantas, apa yang Haru dari sekolah sebelah, rival sekolahku sendiri mau denganku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN