PART 45
SUNGGUH, BUKANNYA aku merendahkan diri sendiri. Tapi memang benar adanya. Apa yang diinginkan oleh rival terbesar sekolah, yang populer, dan terlihat sangat tampan ini dengan aku Muse Lee, gadis sederhana yang tidak punya apa – apa untuk diberikan? Aku tidak punya nama apa pun untuk dibanggakan. Tidak dalam bidang akademis, tidak juga dalam bidang non – akademis. Apalagi dalam bidang seni. Jangan harap aku punya satu kontribusi saja dalam bidang seni. Bisa lolos dalam seleksi menyanyi saat pelajaran seni rupa saja sudah bagus, apalagi harus membuat karya seni yang rumit? Aku bukan siapa pun.
Jadi kenapa pria ini memilih aku dari semua orang? Apa yang dia inginkan dari seorang gadis yang bahkan tidak diingat namanya oleh guru sendiri? Oh, no . . . apa dia akan merundung aku? Aku dari semua orang akan menjadi target rundung? Aku tatap dia yang memandang aku lekat seperti sedang mengobservasi dan menilai penampilan aku. Mungkin dia sedang menimbang apa aku pantas untuk diganggu atau tidak. Tapi kesempatan itu aku gunakan untuk balas melihat dia. Dia cukup tampan untuk seseorang dengan reputasi menyeramkan semacam Haru. Haru. Nama yang indah dan bagus juga untuk pria yang seharusnya brutal dan barbarik semacam dia.
Aku memicingkan mata saat dia tidak memalingkan wajah.
“Maaf, tapi apa aku kenal kamu?” tanya aku pelan. Aku memang kenal dia, tapi aku hanya tahu sekedar nama. Dan lagi pula juga, aku yakin dia tidak tahu aku siapa.
Lantas apa yang diinginkan oleh ketua geng dari sekolah sebelah denganku si Muse gadis biasa yang bahkan tidak dikenal oleh wali kelas sendiri?
Laki – laki yang bernama Haru itu menelengkan kepala seperti melihat sesuatu yang merebut atensinya dengan tinggi. “Jadi ini yang namanya Muse.” Bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan yang dia buat.
Seringai di bibirnya semakin merekah.
Aku mundur satu langkah dari laki – laki itu. “Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku ragu. Aku tahu laki – laki ini tampan bukan main, tapi aku tidak akan tertipu oleh wajah indah itu. Aku tahu dia punya reputasi.
Reputasi yang membuatnya menjadi ketua geng di sekolah sebelah. Dan aku tahu, walau pun aku menganggap mereka keren, tapi tetap saja, anak – anak berandal ini berbahaya dan tidak biasa.
“Kau bisa membantu aku dengan banyak hal,” katanya sembari mengedipkan satu mata padaku.
Baiklah . . . ini terlalu aneh. Bahkan untuk aku wanita paling aneh di dunia. Haru itu maju satu langkah, menutup jarak kami. Ketika aku akan mundur mejauh dari dia, dia segera menarik dan menahan aku di gantungan tas di bahuku.
Aku melebarkan mata. “Mau apa kau?” tanyaku lagi. Aku berusaha agar dia tidak mendengar nada bicara kesal di dalam vokalku. Aku tidak mau memprovokasi laki – laki ini. Entah apa yang akan dia lakukan jika aku membuatnya kesal.
Lagi pula, aku sendirian di sini. Gelap. Dan terpencil pula.
Sial, kenapa aku harus makan malam dengan Esme, ‘sih?
“Muse . . .” Dia menyebut namaku dengan sebuah nada. “Kenapa namamu Muse?”
“Bukan urusamu,” kataku. Aku berusaha melepaskan pegangannya tapi dia terlalu kuat. “Er, serius, aku harus pulang. Ibuku menunggu dirumah—“ dia tidak menungguku di rumah dan Ayah sedang kerja larut malam, tapi laki – laki ini tidak harus tahu itu, ‘kan? “Aku serius. Apa yang kau mau? Ada yang bisa aku bantu?”
“Kau tidak tahu aku?” tanya laki – laki itu dengan mata tidak terlihat terkejut.
Tentu saja aku tahu dia. Aku tahu segalanya tentang dia dalam satu kali bisikan rumor yang beredar saat makan siang. Aku tahu dia kelas berapa, aku tahu nama panjang dia, aku tahu dia suka makan apa, aku tahu dia sering hang out di mana, aku tahu apa yang pernah dia lakukan. Heck . . . aku bahkan tahu nilai – nilai dia di sekolah berapa.
Sejauh itu orang – orang mengenalnya. Tahu tentang dia. Seberapa terkenalnya dia. Semua hanya karena dia bad boy yang diidamkan banyak remaja wanita, wajahnya tampan, dan nilai bonus, dia pintar sekali.
Lagi pula, siapa yang tidak akan terpana dengan senyum menawan itu?
Aku mengedikkan bahuku acuh tak acuh. “Entahlah . . .” aku memicingkan mata. “I don’t know. Apa aku seharusnya tahu?”
“Kau berbohong,” dia menelengkan kepalanya. Lalu menarik aku dari gantungan tas hingga kami berada dalam jarak proksimal. Aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya. Aku bisa melihat dengan jelas pori – pori di wajahnya, yang by the way, sangat sedikit dan tidak banyak.
Dia laki – laki. Kenapa dunia begitu tidak adil pada kaum yang bahkan tidak peduli jika pori – pori mereka terlihat sekali pun?
Lalu tiba – tiba aku mendengar derap langkah kaki seseorang dari belakang. Aku merasakan dia sebelum aku mendengar suaranya. Aku bisa tahu dia dari mana saja. Bisa mengenali dia bahkan dengan mata tertutup.
Angelo menggeram keras dari belakang aku. “Lepaskan dia.”
Haru tersenyum lebar. “Halo Angelo,” dia memberikan salut palsu. “Fancy seeing you here . . .”
“Lepaskan dia.” Kata laki – laki itu lagi. Aku menelan ludah. Ingin sekali rasanya aku berbalik badan dan melihatnya, tapi laki – laki tidak tahu diri ini masih memegang aku keras.
“Kenapa? Aku hanya sedang berbciara dengan Muse,” Haru menatapku. “Benar ‘kan, Muse?”
Aku mendelik. Kali ini lebih berani karena aku tahu ada Angelo di belakangku. “Jangan banyak bicara. Lepaskan aku. Dari tadi aku sudah bilang.”
Angelo menarik napas panjang. “Urusanmu ada denganku. Lepaskan Muse.”
Urusan macam apa?
Aku menepis lengan pria itu. entah sedari tadi aku lemah, atau kali ini laki – laki di depanku membiarkan aku melepaskannya, aku mundur dan berputar, berjalan ke arah Angelo. Laki – laki itu mengobservasi aku seperti mencari tanda luka.
“Kau baik – baik saja?” tanya dia.
Aku mengangguk. Angelo menarik aku ke belakang tubuhnya. “Aku sarankan kau pergi.” Dia mengepalkan tangannya. Haru tertawa dan tertawa dan tertawa. Dia mengedipkan satu mata padaku, lalu berjalan mundur.
“Sampai bertemu lagi, Muse.”
Aku memicingkan mata pada pria itu. Saat dia sudah menghilang di ujung gang kecil, aku beralih pada Angelo. “Dia siapa?”
“Bukan siapa – siapa,” Angelo menggeleng. “Jika kau bertemu dengannya lagi, pergi sejauh mungkin, mengerti?”
Aku mengangguk. Lagi pula, aku memang tidak mau berurusan dengannya lagi. “Apa kau akan mengantar aku pulang?”
Dia menatapku datar. “Tidak.”
“Angie!” aku berteriak. Pria itu memutar kedua bola matanya dan berjalan ke arah yang berbeda. Aku mengejarnya, menarik lengannya dengan kesal. “Antar aku pulang, bodoh! Bagaimana jika laki – laki itu datang lagi?” tapi Angelo terus berjalan tidak memedulikan aku. Aku mengumpat rendah dan mengejarnya, tapi aku tidak melihat batu besar di depanku.
Sebelum aku bisa menangkap diriku sendiri agar tidak tersandung, aku jatuh dan membenturkan kepalaku di pavemen gang kecil. Hari itu, aku mendapat delapan jahitan di atas kening.