PART 46

2017 Kata
PART 46 “MUSE, makan.” Lucky Bronze muncul dari ambang pintu dengan sebuah nampan besar berisikan berbagai macam makanan yang seharusnya membuat aku terbuai. Aku melihat satu gelas jus jeruk besar, roti panggang berisikan telur, alpukat, dan saus roti lapis yang menggiurkan. Aku melihat satu mangkuk sereal berisikan fruit loops, sereal favorit aku yang aku yakin diberitahu oleh Angelo. Lucky masuk dengan membawa nampan itu di satu tangan, sementara tangan yang lain memegang dua buah jeruk yang bulat dan sangat oranye. Aku menaikkan dua alis melihat hal itu. “Kau mau memberi makan satu desa?” tanya aku saat Lucky sudah menaruh nampan di meja atas tilam dengan hati – hati agar jus jeruk di atasnya tidak tumpah. Pria itu bersungut mendengar pertanyaan aku. Dengan sigap, aku menangkap dua buah jeruk yang dia lempar ke arah aku. “Aku melakukan ini untuk kamu. Aku tahu kau makan banyak,” kata Lucky. “Angelo bilang kau bisa makan seperti orang yang kelaparan selama lima hari. Dan aku harus memberikan makan seperti orang yang sedang memberikan banyak makan untuk orang yang kelaparan.” Aku berpikir untuk melempar jeruk itu ke wajahnya, dua kali, tapi aku ingat kalau jeruk adalah makanan. Dan sebagai gadis yang baik, aku tidak ingin bermain dengan makanan. Jadi, Lucky itu sesuai dengan namanya. Beruntung. Akhirnya, aku hanya mencibir. “Kau tahu kan kalau aku bisa turun dan mengambil makan sendiri?” “Semua orang pasti mau dilayani, Muse.” “Bukan aku.” “Yeah, well, Angelo lebih memilih kau dibawakan makanan dari pada harus berkeliaran di luar sana,” jawab Lucky jujur. Dia menatap aku dengan sorot mata yang sedikit merasa bersalah. “Lupakan saja. Lagi pula, aku yang ingin melakukan ini sebagai permintaan maaf atas apa yang aku lakukan kemarin.” Aku memutar dua bola mataku. “Terserah,” ketus aku keras. Aku meraih roti panggang yang dia buat dan melahapnya dengan cepat. “Tapi aku serius.” “Serius apa?” balasku dengan mulut yang penuh. “Angelo itu cemburu dan—“ “Keluar.” Kata aku datar. Aku menegak jus jeruk sampai habis setengah. “Keluar sebelum aku melempar kau dengan nampan.” Lucky kabur keluar kamar tanpa bicara apa pun. *** TERLINTAS di benak aku untuk mempermainkan laki – laki yang membuat hidup aku berputar tiga ratus enam puluh derajat itu. Sempat aku berpikir, bagaimana jika ini hanya membuktikan padanya kalau apa yang dia katakan itu benar. Kalau aku memang kekanak – kanakan. Tapi sejak kapan aku peduli dengan apa yang dia katakan? Semenjak dia membiarkan aku jatuh tersandung beberapa tahun lalu hingga aku harus menerima jahitan banyak di kepala, aku tidak mau lagi mendengar omong kosong darinya. Berkat dia, aku harus absen dari sekolah selama kurang lebih dua minggu. Dan parahnya, Haru si berandal dari sekolah sebelah semakin menjadi karena hal itu. Aku harus berurusan dengan dia selama lebih dari tiga bulan hingga akhirnya Angelo bisa membuat dia mundur dan menjauh. Tapi itu cerita untuk hari lain lagi. Sekarang aku harus mencari cara bagaimana mengganggu hidupnya sama seperti dia mengganggu hidupku. Lagi pula, aku tidak pernah bilang kalau aku memang tidak kekanak – kanakan. Mungkin dia benar, tapi aku tidak akan pernah mengaku. Lalu melihat ponsel genggam yang diberikan Angelo padaku, aku tersenyum miring. Aku melemparkan badan ke kasur, mengambil posisi yang santai dan nyaman, dan berkutat dengan ponsel itu. Aku lihat hanya ada beberapa kontak saja di dalamnya. Semua Bronze bersaudara yaitu Lucky, Vincent, Felix, Nicholas, Marco, Daniel, dan tentu saja Angelo sendiri. Aku melihat kontak Ibu di salah satu daftar. Hatiku merasakan apresiasi bagi laki – laki itu. Sebelum melakukan apa yang ada di pikiran aku, aku memilih untuk menghubungi ibu terlebih dahulu. Jika Angelo menyimpan kontak ibu, maka itu berarti aku bisa menelepon dia, ‘kan? Aku menunggu nada berdering di seberang, sebelum akhirnya sebuah suara yang sangat aku rindukan menyapa, “Muse?” “Hi, eomma.” Aku tersenyum manis walau pun ibu tidak bisa melihat itu. Wanita setengah baya di seberang sana membuang napas lega. “Muse, anakku. Aku rindu padamu,” kata Ibu dengan wajah yang bisa aku tebak. Aku tiba – tiba ingin mengeluarkan air mata, tapi aku tahan itu. Ibu bisa tahu bahkan dari hubungan telepon saja jika aku sedang menangis. “Aku juga merindukanmu,” kataku sama sedihnya. “Ini nomor siapa?” tanyaku setelah kembali tenang. “Angelo mengirimkan aku sebuah ponsel,” jelas ibu. “Di dalamnya hanya ada satu kontak, dan katanya kau akan segera menghubungi aku.” Aku membayangkan Angelo yang repot – repot melakukan ini semua. Aku tidak bisa memungkiri kalau dia membuat aku sedikit merasa berterima kasih. Tapi aku ingat lagi, kalau kita tidak akan berada di posisi ini jika bukan karena dia di awal. Jadi aku menelan rasa apresiasi itu, dan kembali berbicara dengan ibu. “Oh . . .” Aku mengangguk walau dia tidak bisa melihatnya. “Apa yang sedang kau lakukan?” “Aku . . . aku sedang membuat makan siang.” Kata ibu sedikit dengan nada bicara yang membuat hatiku merasa iba. Semenjak ayah pergi, hanya ada ibu dan aku di dunia. Hanya ada kita berdua. Aku dan dia melakukan segalanya bersama, tanpa pernah sendiri. Setiap hari aku menemani ibu tanpa ada jeda, well . . . kecuali jika aku sedang ada acara dengan teman – teman aku. Tapi mendengar ibu membuat makan siang sendirian, aku mulai merasa membenci Angelo Bronze lagi. Dan itu bagus. Jadi aku tidak pernah akan merasa bersalah dengan apa yang akan aku lakukan setelah ini. “Ibu, maafkan aku—“ “Jangan mengada – ada, Muse. Ini bukan salahmu,” Ibu membuang napas yang panjang, seperti sudah pasrah. “Tapi ini salahku,” kataku bersikeras. Muse si keras kepala. “Kalau bukan karena aku dan Angelo, kita tidak akan seperti saat ini sekarang.” Ibu terdiam untuk beberapa lama sebelum membalas, “Aku tidak menyalahkan kau . . . atau juga Angelo.” Aku membelalakan mata. “Aku selalu tahu kalau cepat atau lambat, kau dan dia pasti akan bertemu lagi. Hanya saja, aku tidak akan pernah menyangka pertemuan kalian akan seperti ini.” “Apa maksudmu cepat atau lambat kita akan bertemu lagi?” “Muse, kalian berpisah dengan cerita yang belum finis,” Ibu berkata seperti itu hal yang paling jelas di bumi ini. “Kalian belum terbebas satu sama lain. Aku tahu kau tidak akan berhenti sebelum apa yang kau dan Angelo punya terselesaikan.” Aku mengabaikan apa yang dia katakan. “Terserahlah,” kataku acuh tak acuh, padahal hatiku terasa seperti ditusuk oleh ratusan pisau yang tajam. “Dengar, ibu, aku akan menghubungimu lagi, oke?” “Muse . . . kau baik – baik saja, ‘kan?” Aku mengangguk, seperti biasa. “Iya. Aku janji.” “Baiklah, jangan lupa selalu menjaga diri, oke?” “Baik . . .” Kami menutup hubungan telepon setelah berjanji satu sama lain kalau kita akan terus berhati – hati, dan kalau ada apa – apa akan segera menghubungi yang lain. Aku membuang napas panjang. Kupandangi atap kamar dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi aku merasa kalau hatiku tak bisa tenang, di satu sisi lagi, aku merasa penasaran. Aku tidak bisa memungkiri kalau apa yang Angelo lakukan untuk ibu dan aku adalah sebuah gestur yang baik. Hatiku mulai menghangat. Tapi satu detik kemudian, aku menggeleng dan meyakinkan diri kalau aku tidak seharusnya merasa seperti itu. Angelo itu masa laluku. Dan aku di sini hanya untuk sementara. Seperti yang ibu bilang, mungkin ini adalah caraku untuk menyelesaikan kisah kami. Tidak seperti dulu yang tiba – tiba hilang begitu saja. Dengan begitu, aku membuka ponsel genggam yang diberikan Angelo lagi, dan menghubungi nomor yang aku pikirkan sedari tadi. “Halo? Muse? Ada apa?” suara berat dan serak yang sudah familiar di rungu menyapa begitu nada dering telepon berdering satu kali saja. Aku mengesampingkan rasa hangat yang tersadar kalau Angelo langsung mengangkat begitu tahu aku menghubunginya. Ugh . . . hati dasar kau pengkhianat. “Apa yang terjadi, Muse? Jawab aku.” Vokal yang penuh cemas dari Angelo membuat aku sedikit merasa bersalah. Tapi aku tidak memedulikan itu dan akhirnya berdeham. “Kalau singa dan harimau berkelahi, siapa yang akan menang, ya?” Untuk beberapa saat hanya keheningan yang aku dengar dari seberang telepon. Angelo tidak menjawab dan hanya suara napasnya yang terdengar. Aku sempat mengira kalau dia tidak akan menggubris inkuiri dariku, tapi lalu aku mendengarnya mengerang kesal. “Muse, sudah kubilang, ini ponsel yang harus kau gunakan untuk hal – hal yang penting!” “Ini hal yang penting,” aku mendengkus. “Aku sedang dilanda dilema dan pertanyaan besar seperti, siapa yang akan menang antara singa dan harimau.” Angelo menarik napas panjang. “Muse, jangan hubungi aku untuk hal – hal seperti ini lagi. Aku harus kerja.” “Tapi—“ Dia menutup teleponnya. Aku menganga lebar, tapi kemudian tertawa puas. Baiklah, aku rasa ini yang akan aku lakukan selama seharian penuh. Aku membiarkan beberapa menit terlewat sebelum akhirnya menghubungi nomor itu lagi. Dan dengan kejadian yang sama, dia mengangkat hanya dalam satu nada dering saja. Aku tidak menggubris hal itu, sama seperti dia yang tidak sopan saat aku bertanya di awal. Lagi pula, aku memang penasaran sungguhan. “Muse, aku harap ini sesuatu yang penting,” gerutunya dari seberang telepon. Aku bisa membayangkan kulit putih di wajah tampan itu mengerut. Dia memberengut dan napasnya memburu. Aku yakin dia pasti sedang melotot ke arah siapa pun yang ada di dekatnya. Aku menahan tawa. “Er, begini, aku hanya ingin tahu jawaban dari pertanyaan hidup, siapa yang ada di dunia lebih dulu, telurnya atau ayam—“ Dia mematikan hubungan telepon dariku. Well, well . . . two can play at this game. Kali ini aku menunggu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat ponsel genggamnya lagi dan menghubungi Angelo. Aku menggigit bibir saat dia kembali mengangkat dengan cepat. “Muse?” “Aku yakin singa pasti akan lebih menang, maksudnya mereka lebih kuat dan lebih besar, tapi apa kau tahu kalau ternyata selama ini yang mencari makan dan bekerja adalah singa betina, dan aku jadi mempertanyakan apakah singa jantan memang bisa berkelahi atau tidak—“ Dia mematikan hubungan telepon. Aku terkekeh geli. Hal itu terus terjadi selama beberapa waktu, hingga aku akhirnya melihat kalau hari sudah menjadi gelap. Malam datang, dan sebentar lagi Angelo mungkin pulang. Aku menguap dan melihat kalau jam sudah menunjukan lebih dari pukul enam malam. Aku segera turun, berjalan ke arah dapur untuk mencari apa yang bisa aku makan. Di koridor rumah, aku terhenti dan meringis saat melihat Angelo menderap ke arah kamar. Dia berhenti sesaat ketika melihat aku di depannya, lalu aku berjalan mundur ketika dia berhambur ke arahku. Dua tangan itu segera mencengkeram bahuku. “Muse, aku tahu kau bosan, aku tahu kau tidak tahu harus melakukan apa, aku tahu kau mau membuat aku kesal dan semacamnya, tapi aku memberikan kau ponsel itu untuk memberitahu jika ada apa – apa. Agar aku bisa memantau jika sesuatu terjadi padamu. Aku memberikan ponsel itu bukan untuk mainan, Muse. Tapi untuk melindungimu.” Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit sekali. Karena, ada hak apa dia memarahi aku seperti itu? Ada hak apa dia bertindak seperti apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang pantas baginya untuk membentak aku seperti ini. Jadi aku menepis tangannya dan mengesampingkan rasa bersalah di dalam hati. “Apa yang aku lakukan jauh dari apa yang kau lakukan padaku, Angie. Tapi apa kau melihat aku mengeluh?” Angelo mengatupkan rahang padaku. Lalu, sebagai sentens terakhir kami di hari itu, Angelo melepasku dan berkata, “Suatu hari, Muse, kau akan tahu bahwa apa yang aku lakukan jauh lebih menyakitkan bagiku sendiri ketimbang untukmu.” Lantas apa yang dia ingin aku katakan? Kalau aku merasa sedih untuknya? Kalau aku merasa iba padanya? Tidak. Karena ketika dia memutuskan untuk meninggalkan aku sendiri tanpa kata – kata perpisahan, aku tahu, hatiku tidak akan pernah lagi melekat kembali sebab rasa sakit yang membuatnya pecah berantakan. Dan semua itu karena seorang laki – laki bernama Angelo Bronze.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN