PART 47
SEBAGAI SESEORANG yang sedang disekap, sudah seharusnya aku bersikap seperti ini sekarang, kan? Aku tidak mengabaikan Angelo sama sekali. Aku tahu perbuatan aku kemarin memang sedikit kekanak – kanakan. Penekanan pada kata sedikit, sebab pada dasarnya aku masih berpikir dan tidak pernah menyesal. Kalau apa yang aku lakukan padanya itu tidak ada apa – apanya dengan apa yang sudah dia perbuat padaku. Mainan ponsel? Itu seperti membandingkan kelereng dengan bola basket dibandingkan dia yang saat di awal, menahan aku secara paksa. Dengan kata lain, menculik aku di rumahnya. Menahan aku di dalam kamar tidurnya, dan membuat aku harus berpisah dari ibu selama beberapa minggu. Dan sekarang, dia juga membuat hidup aku berada dalam bahaya.
Dan apa? Dia bilang dia tidak suka aku yang mainan ponsel? Masih untung aku tidak menggunakan ponsel ini untuk menghubungi pihak yang berwajib. Angelo sendiri mungkin tidak akan berpikir kalau aku kapabel melaporkan pria itu.
Yah . . . walau dia benar juga, sih. Aku tidak akan bisa melaporkan dia ke pihak yang berwajib.
Jadi, aku memutuskan untuk terus tidak mengabaikan presensi pria itu di dalam rumah ini. Jika dia menatap aku, aku melengos dan tidak menatapnya kembali. Jika dia mencoba untuk berbicara padaku, aku akan berpura – pura tidur atau secara jelas tidak berniat menjawab apa yang dia bicarakan. Saat dia mendekat, aku akan menjauh, sebab aku tidak mau berada dalam jarak yang proksimal bersama pria itu.
Hal itu terus terjadi karena jujur saja, aku marah padanya.
Marah karena dia marah padaku. Marah karena semua ini tidak adil. Marah sebab Angelo adalah pria yang membuat aku selalu frustasi.
“Kalian seperti bermain tikus – tikusan,” komentar Lucky saat aku menjauh ketika Lucky mencoba mendekati aku di dapur.
Aku memeluk satu gelas air mineral yang aku ambil di dapur dan terus melanjutkan perjalanan ke atas tangga. Mana aku peduli?
Tapi ternyata semua itu lebih rumit dari yang aku pikirkan ketika aku sendiri mulai termakan oleh rasa bosan dan keheningan.
***
“AYOLAH, sudah waktunya aku keluar dari kurungan ini, Angie,” kataku dengan nada bicara yang—kontras dengan apa yang orang – orang katakan kalau aku ini gadis yang keras dan galak, menjadi lirih dan pasrah.
Iya. Aku sedang merengek dan meminta seorang Angelo Bronze. Dan sungguh, laki – laki itu terlihat seperti dia sedang berada di langit ke tujuh. Mungkin memikirkan bagaimana aku sedang meminta di depannya.
Mungkin memikirkan kalau aku sedang berada di bawah, dan dia di atas angin.
Mungkin juga dia memikirkan aku yang dulu pernah mencibir kepadanya kalau aku tidak akan pernah meminta atau memohon padanya—itu juga kenapa aku tidak pernah mencarinya ketika dia pergi. Ketika dia meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas.
Aku menolak untuk mencari laki – laki itu, meminta alasan kenapa dia menghilang, memohon agar dia tidak pergi.
Tapi memangnya ini hal yang sama? Aku meminta di sini karena aku nyaris kehilangan akal. Laki – laki ini memang memperlakukan aku dengan baik di rumah ini. Terlebih apa yang dia lakukan untuk ibu dan aku.
Namun seberapa indahnya hidup, apa gunanya jika kau tetap merasa seperti burung di dalam kandang? Seberapa bagusnya rumah ini, megahnya rumah ini, dan segala macam fasilitas yang bisa aku lakukan di sini, aku tetap seorang tahanan dia dan saudara – saudaranya.
Ayolah, aku memang gadis introvert. Sembilan dari sepuluh kali aku lebih memilih untuk tidur di rumah saja dari pada keluar rumah. Sembilan dari sepuluh kali aku lebih memilih untuk menghindari keramaian dari pada harus berada di tengah banyak orang. Sembilan dari sepuluh kali aku lebih memilih mendiam di rumah selama berhari – hari dari pada harus jalan ke luar.
Ibu pernah bilang sifat aku yang galak dan sensitif dan keras kepala itu adalah akibat kurangnya sinar matahari di kulit. Aku sempat merasa dia benar. Mungkin. Ah, tapi aku terlalu malas untuk bertemu orang.
Jadi, bayangkan wajah Angelo yang melihatku seperti aku baru saja tumbuh dua kepala lain. Dua kepala yang aku yakin, jika memang tumbuh, akan sama kerasnya seperti kepala aku yang lain.
“Kau? Ingin keluar rumah?” tanya Angelo heran. Dia mengerutkan kening, dua tangan melipat di depan d**a.
Tatkala pria itu akan keluar dari rumah, aku berlari ke arahnya dan menghentikan dia. Dengan kaus hitam yang melekat di tubuh, tangan panjang, dan kerah menutupi leher, Angelo terlihat begitu tampan aku nyaris terhuyung payah saat melihat penampilan dia.
Sial. Terkutuklah Angelo Bronze dan wajahnya yang tampan itu. Wajahnya yang datar dan pucat dan menjengkelkan tapi menawan.
Sial. Aku mengumpat dalam hati. Tenanglah kau hati yang berkhianat.
“Aku sudah berapa lama di sini—“ aku menghitung dengan jari. “Tujuh? Sepuluh? Dua puluh hari?”
“Dua belas hari.”
Aku mengerjapkan mata sebab dia tahu persis sudah berapa lama aku di sini, tapi aku tidak memedulikannya. “Okay . . . baiklah. Dua belas hari. Aku nyaris gila. Aku mau udara luar, Angie.”
“Kau—mau udara luar?” tanya Angelo lagi. laki – laki itu menggelengkan kepalanya padaku. Yah, mau bagaimana? Dia tahu aku luar dan dalam. Once upon a time . . . dia adalah orang paling dekat denganku.
Dia orang yang selalu bersama denganku dua puluh empat jam. Tujuh hari dalam seminggu. Dia laki – laki yang mengerti apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan, apa yang aku benci, dan apa yang aku suka.
Once upon a time . . . Angelo itu laki – laki yang bisa membuat aku merasa seperti gadis paling beruntung di dunia. Sekarang, dia hanya sebuah fragmen memori. Seorang laki – laki yang menjadi bukti nyata kalau hati manusia sanggup dipecahkan menjadi berbagai macam varietas menyedihkan.
Aku menatapnya tanpa ada niat untuk mundur. “Iya. Apa aku gagap? Aku rasa tidak. Aku. Mau. Ke. Luar.”
Dengan rasa harga diri yang masih tersisa sedikit, aku menahan diri agar tidak memohon dan merengek lagi. Apalagi merangkul tangan dia atau semacamnya.
Laki – laki itu melepas tangannya, menyeka surainya yang hitam dan mengkilat, lalu menatap aku frustasi. “Muse, kau tahu ‘kan alasan kenapa kau ada di rumah ini?”
“Ya, ya, tentu saja aku tahu. Bagaimana bisa aku lupa?” Angelo terlihat seperti meringis, tapi dia kembali datar. “Aku bisa gila. Semua dinding terasa seperti mendekat dan akan menangkap aku.”
Rasa bersalah terbesit di netra yang sangat aku sukai itu. dulu. Once upon a time . . . aku selalu berdetak begitu cepat ketika melihat matanya yang cokelat dan indah. Dan sekarang, aku tetap berdiri tegak di depannya, menolak untuk mundur.
“Muse, kita hanya akan pergi ke toko toserba untuk belanja kebutuhan—“
“Aku tahu.”
Dia memicingkan mata padaku. “Dari mana kau tahu?” tanay laki – laki itu penuh curiga. Dia berdecak dan membuang napas berat. “Lucky?”
Aku mengangguk. “Jangan marahi dia,” kataku cepat. “Aku yang memaksa agar dia memberi tahu aku kalian mau ke mana. Ayolah, Angie, aku berjanij aku akan menjadi anak baik dan penurut.”
Dia tertawa mencemooh. Aku mengangkat alis padanya. “Dengar, aku dan Lucky dan Marco tidak akan ragu – ragu untuk menyeret kau jika kau berpikir untuk melawan. Mengerti?”
Sulit bagiku untuk menahan senyum lebar yang merekah di bibir. Dengan satu kali anggukan, aku melompat dan memeluk laki – laki itu. “Thank you, my Angel!”