PART 48
KAU TAHU terkadang kau terlalu berada di langit ke tujuh, atau merasa seperti melayang di surga, atau mungkin berpikir kalau kau orang paling beruntung di muka bumi ini? Lalu satu detik kemudian kau tidak lagi banyak berpikir dan melakukan hal yang akan kau sesali seumur hidup?
Begitu kata itu terlepas dari bibirku, aku tahu saat itu juga kalau aku sudah mengacaukan segalanya.
I mean seriously . . . ? Angel? Did I just seriously call him my Angel? Bukan hanya panggilan itu saja, tapi juga harus menambahkan kata posesif seperti my? Apa aku sudah kehilangan akal?
Satu – satunya penjelasan dan pembelaan dari pikiran aku sendiri—yang by the way, sangat sangat kacau—aku menyalahkan Angelo Bronze. Lagi.
Semua ini berkat dia dan kehidupannya yang kacau itu. Semua ini berkat dia dan ide gilanya. Ide gilanya yang membuat aku harus berada di dalam rumah selama berhari – hari seperti seorang tahanan.
Semua ini gara – gara dia, dan aku berani bersumpah, garis kurva harsa yang tipis, sangat tipis aku nyaris tidak akan menangkapnya tergruai di labium laki – lak itu. Sial. Benar – benar sial.
Aku tahu kalau dia ingin menertawakan aku, atau mungkin ingin memamerkan fakta kalau aku baru saja melakukan sesuatu yang bodoh dan memalukan. Bisa – bisanya aku berteriak memanggilnya Angel?
Aku memang bukan orang yang suka menyimpan perasaan ‘sih, kecuali apa yang aku lakukan pada Angelo selama bertahun – tahun—menyimpan perasaan bodoh aku laiknya imbesil setiap hari. Tapi untuk satu hal ini, aku memang tidak pernah benar – benar bilang pada laki –laki itu.
Diam – diam, aku dulu sering menyebutnya dengans sebutan Angel. Yah, karena wajahnya yang seperti paragon eteril di bumi itu. Seperti malaikat. Aku juga sering membuat nama panggilan itu berubah menjadi malaikat kematian jika aku sedang melihat Angelo yang bad mood, atau Angelo yang bertingkah mengerikan.
Seperti apa yang dia lakukan pada Haru saat itu.
Tapi memangnya aku akan mengatakan itu secara langsung padanya? Kalau aku diam – diam punya terma afeksi khusus untuk laki – laki itu sendiri? Lagi pula, Angel itu terdengar picisan dan sangat . . . girly. Aku beruntung aku tidak pernah kelepasan dulu.
Bisa – bisa, Angelo akan memutuskan untuk tidak lagi menjadi temanku.
“My angel, serius?” sahut Lucky saat aku sedang turun tangga sendiri. Angelo dan Marco sudah lebih dulu turun ke garasi mobil untuk memanaskan mesin mobil, sementara aku bersiap – siap ditemani oleh Lucky di luar kamar. Tapi aku tidak menyangka pria itu akan membuka suara dan mengatakan hal yang sedari tadi membuat aku ingin mengubur diri dalam – dalam. Sudah sekuat tenaga aku mencoba untuk bersikap normal dan membiarkan hal itu lewat begitu saja, tapi tentu saja, harus ada seorang pria yang kesulitan untuk menahan bingkai bibir di depan aku. Lucky Bronze menyamakan langkah dengan aku di tangga rumah mereka yang memutar dan tinggi sekali. Aku harus menahan diri agar tidak mengulurkan tangan, dan membuat dia jatuh ke bawah seperti kertas tak ada berat.
“Tutup mulutmu, atau aku akan mendorong kau jatuh ke bawah,” ancam aku sembari terus melanjutkan perjalanan. Aku bersungut menahan malu, tapi dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk tetap stay cool, dan terlihat normal di depan Lucky. Dia tidak boleh tahu kalau aslinya aku sangat malau dan ingin memalingkan wajah dari dunia.
Lucky tentu saja tidak pernah bisa menurut. Jika ada hari di mana Lucky Bronze melakukan apa yang orang suruh, maka hari itu adalah hari di mana langit runtuh. Aku memutar dua bola mata saat mendengar dia kembali berbicara. “My angel, Muse. Setidaknya, kau bisa lebih orisinal dari itu.”
“Aku kepelasan, oke?” sentak aku keras. “Apa kau bisa membayangkan seberapa senangnya aku untuk bisa keluar dari rumah untuk pertama kalinya?” aku memilih untuk menyerang batinnya yang lemah. Dan benar saja, Lucky terdiam sebab apa lagi yang akan dia katakan padaku?
“Tapi tetap saja sih,” bisik pria itu saat kita sudah akan sampai di garasi. “My Angel?” dia mengedipkan mata padaku seperti sedang menggoda.
Saat dia akan pergi dan membelakangi aku, aku memukul punggung pria itu keras hingga suaranya menggema ke seluruh garasi. Angelo dan Marco menatap kami dengan heran saat Lucky berteriak keras dan aku tersenyum puas.
Begitu kami semua sudah masuk mobil, aku dan Angelo di belakang sementara Lucky dan Marco di bagian depan, aku berusaha agar tidak menoleh ke arah laki – laki itu dan melihat reaksinya. Aku tahu dia pasti merasa di atas angin. Mungkin merasa bangga atau semacamnya.
Sungguh, tingkat percaya diri dan kebanggaan Angelo itu tidak ada tandingannya.
Untungnya, Lucky membuka mulut setelah beberapa saat mengendarai mobil. “Muse, aku akan melihat – lihat kalau ada film baru. Kau mau ikut?”
Aku baru saja akan menjawab, sungguh, labiumku sudah terbuka setengah dan tentu saja akan merespon dengan sesuatu yang positif dan penuh antusias. Tapi Angelo lebih dulu menghadang aku untuk menjawab. Dia memotong dengan nada bicara rendah dan menakutkan, “No.”
Aku meliriknya. Begitu juga Lucky dari kaca spion tengah mobil tapi berbeda denganku, dia buru – buru mengalihkan pandangan dan berdeham canggung. Aku bisa mendengar Marco tertawa tipis dari depan.
“Maksudnya?” tanyaku tidak paham. Aku mengangkat alis padanya ketika dia ikut menoleh, wajahnya seperti biasa tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Datar. Polos seperti air. Tidak ada mimik yang bisa memberi tahu perasaan dia pada orang – orang di sebelahnya.
Kerap kali aku berpikir dari mana Angelo bisa semahir itu dalam menutup perasaannya. Memasang topeng setiap hari di wajah yang tampan itu. Menyembunyikan pikirannya dari banyak orang.
Tapi aku teringat ceritanya, kehidupan tentang dia yang baru aku tahu belakangan ini. Kehidupan gelap yang bisa dibilang seperti mafia. Aku bergidik ngeri. Memikirkan terma itu saja sudah sanggup mengirim rasa takut padaku.
Apa sebenarnya yang akan direncanakan olehnya?
Apa yang akan Angelo lakukan agar aku tidak lagi ada di radar musuhnya? Pamannya sendiri? Si—entahlah siapa namanya aku lupa itu.
Tapi tatapan menantang dari laki – laki itu membuat pikiranku buyar. “Apa aku gagap?” dia mengikuti gaya bicaraku. Dengan mata memicing, aku tidak lagi sempat berkata sebab dia meneruskan, “Aku sudah bilang kau harus menurut. Itu artinya, kau harus tetap bersamaku setiap saat. Mengerti?”
“Tapi ‘kan aku pergi bersama Lucky,” protesku keras. Laki – laki yang aku sebut terkesiap dan buru – buru melumat bibirnya, mungkin agar tidak mengatakan sesuatu yang akan dia sesali. Cih, pecundang. Belakangan, aku bisa tahu kalau si tiga adik bersaudara yang paling bungsu itu takut setengah mati sama Angelo.
“Lantas?”
Aku menghirup oksigen yang banyak agar kepalaku tidak pecah saking stres-nya. “Dia bisa menjagaku.”
“Lucky bahkan tidak bisa menjaga peliharaan ikan-nya,” kata Angelo datar.
“Hey!” Lucky sekarang protes. Marco tertawa dari depan dan secara bersamaan berkata, “Itu memang benar.”
Aku mendengkus. “Dan kau bisa?”
“Tentu saja,” dia mengedikkan bahu acuh tak acuh.
“Oh, apa itu kenapa aku bisa diserang di kamar tidurmu sendiri? Nyaris mati dicekik? Atau ketika ada orang asing yang menerobos rumahku dan nyaris melukai aku dan ibuku sendiri?”
Baiklah. Aku tahu aku sudah kelewatan. Itu terlalu berlebihan hanya untuk argumen tentang pergi ke koridor film dan melihat – lihat bersama Lucky. Aku segera tahu kalau aku sudah melakukan sesuatu yang buruk begitu suhu temperatur di mobil mendadak turun. Segalanya menjadi hening.
Aku melumat bibirku sendiri, menyesal, sedikit, karena mungkin sudah melukai perasaan Angelo—kalau dia memang punya. Aku menoleh padanya. Laki – laki itu terdiam, rahang terkatup. Dia mengepalkan tangan, tapi tidak berkata apa – apa.
“Maaf,” kataku lagi, kali ini nada bicaraku lirih. Aku tahu kalau aku salah. “Aku tidak bermaksud begitu.”
“, karena mungkin sudah melukai perasaan Angelo—kalau dia memang punya. Aku menoleh padanya. Laki – laki itu terdiam, rahang terkatup. Dia mengepalkan tangan, tapi tidak berkata apa – apa.
“Maaf,” kataku lagi, kali ini nada bicaraku lirih. Aku tahu kalau aku salah. “Aku tidak bermaksud begitu.”
“Yes, you did,” kata Angelo tanpa menoleh. Dia memandang jendela mobil, matanya berkedut. Aku tahu itu yang selalu Angelo lakukan ketika sedang menahan marah dan jengkel. “Kau bermaksud begitu.”
“Angie—“
“Save it, Muse.” Dia menggeleng. Lidahnya mengitari mulut bagian dalam dan napasnya berat. Aku merasa ingin terus meminta maaf, namun laki – laki itu berkontinyu, “Pergilah bersama Lucky jika kau mau. Aku berikan waktu lima belas menit.”
“Tapi aku . . . aku minta maaf. Sungguh. Aku tidak punya hak untuk mengatakan itu semua—“
Angelo menatap aku secara tiba – tiba aku nyaris lupa caranya bernapas. Netranya bersinar, sesuatu seperti penyesalan dan sakit dan entahlah. Matanya tidak pernah menahan semua emosi dalam satu kali seperti itu. Mata yang selalu sulit aku baca.
“Tapi kau punya hak. You have rights because all of the things that you just said is true.” Dia mengedikkan bahunya, naik dan turun, seperti mencoba untuk meringankan atensi darinya dan menurukan atmosfer yang intens di antara kita saat ini. “I know that.”
“But I also have no right to bring all of those things, just for this. Aku tahu kau tidak pernah mau sesuatu terjadi padaku. Melihat aku terluka.”
Dia memandang ke depan. Lama. Lucky dan Marco saling lirik tapi tidak berkata apa pun. Ketika aku pikir Angelo tidak mau lagi berbicara tentang hal ini, dia membuang napas panjang. “Really, Muse . . . ? Apa kau benar – benar tahu itu?”
“Tentu saja,” kataku. Aku tahu. Aku yakin. Aku percaya pada Angelo yang tidak akan pernah membiarkan aku terluka dan celaka. Setidaknya, aku tahu pertemanan kita memiliki loyalitas tinggi. “Well, setidaknya tidak saat satu kali itu. Ketika aku jatuh dan dijahit? Aku rasa kau sengaja karena aku berbicara dengan Haru.”
Angelo memutar matanya dan mendengkus. Aku menahan senyum. I know things are fine again. “Jangan sebut nama dia,” laki – laki itu mencibir.
“Baiklah, Angel.” OK . . . sepertinya aku sudah mulai kehilangan akal. Tapi aku tidak memikrikan itu ketika sekarang, Angelo benar – benar tersenyum.
Oh. Sial. Senyum menawan itu. I miss that. A lot.
Dia mengekhalasi napas dengan pasrah. “Lucky?”
Pria yang sedang mengemudi dengan bahu tegang dan mata belingsatan membuat suara seperti mengiyakan. Ketika Marco menyenggolnya dengan siku, laki – laki itu menjawab, “Iya, Ang?”
“Jaga dia dengan hidupmu.”
TIdak bisa aku pungkiri, kalimat terkahir itu mengirim kepakan sayap kupu - kupu di dalam abdomen, tapi akhirnya aku segera pergi dari sana dan menutup wajah sebab rasanya semua darah merangkak naik ke atas dan wajahku memerah seperti kepiting rebus.
***
“Ang?” kataku begitu aku dan Lucky berpisah dengan Angelo dan Marco di dalam toko toserba. Aku dan Lucky naik satu tangga ke atas, ke tempat hiburan dan menuju langsung ke area DVD dan permainan. “Seperti Aang the avatar?”
Lucky terkekeh. “Iya. Aku selalu bilang kalau Ang adalah kependekan Angelo. Tapi aku memanggilnya begitu setelah menonton The Legend of Aang.”
Aku ikut tertawa dengannya. “Tapi dia terlihat lebih seperti orang yang terlahir di negara api.”
“Itu benar,” dia mengangguk, tersenyum lebar. Senyum kotanya yang cantik. “Angelo terlalu panas untuk bisa mengendalikan angin dan air.”
“Apa kau tahu dulu aku sangat suka anime itu?”
“Benarkah?” mata Lucky bersinar. “Ah, harusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu denganmu dulu, Muse.”
Aku tersenyum tulus. “You should.”
Aku dan laki – laki itu berjalan ke tempat DVD yang kita berdua sukai, genre horor. Ternyata, Lucky dan aku punya banyak kesamaan. Kita berdua sama – sama menikmati genre misteri, thriller, horor dan sesuatu yang punya semuanya. Aksi juga. Tidak lama bagi kami untuk memilih berbagai macam film yang baru dan seru. Bahkan menerima rekomendasi dari beberapa pekerja di sana.
Tapi aku seharusnya tahu. Seharusnya sadar kalau tidak mungkin hari Muse Lee akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang aku harapkan. Tidak. Begitu aku sudah menurunkan penjagaan di hati dan pikiran, pasti saja ada sesuatu yang terjadi. Sebuah katastrofe yang mengganggu ketenangan di hidupku walau hanya lima menit saja. Aku seharusnya tahu kalau tidak akan pernah hidupku berjalan mulus dan tanpa ada rintangan.
Karena tiba – tiba saja, seseorang menghimpit aku dari belakang. Mataku melebar. Lucky yang sedang memerhatikan action figure di atas rak membelakangi aku. Aku menegang, terkesipa, sesuatu yang familiar dan membuat perutku nyaris bergejolak dan muntah menekan bagian kanan pinggangku. Aku bisa merasakan seseorang menekan aku, suhu tubuhnya panas dan dipenuhi adrenalin.
Napasku tercekat ketika dia berbisik pelan, “Scream and i’ll shoot,” ancamnya. Aku menutup mata, menarik napas panjang, dan begitu aku membukanya, Lucky sudah menghadapku, matanya liar, mulutnya bergaris lurus, rahangnya mengatup. Aku tahu dia tahu. Aku tahu dia bisa melihat apa yang menempel di sisi tubuhku. Ketika bahunya turun dengan pasrah dan penyesalan, I know things are about to go crazy.
Lucky bergetar. “Muse? Angelo akan membunuhku.”