PART 49

1965 Kata
PART 49 DARI SEMUA hal buruk yang ada di dalam bumi ini, kenapa segalanya selalu mengarah pada hidup aku? Sungguh, apa memang benar aku ini punya takdir yang tidak baik? Apa benar aku ini punya takdir yang memang tidak beruntung? Kenapa aku selalu mendapatkan bagian yang tidak baik, sedangkan hidup orang selalu terlihat damai dan tenang? Aku mengutuk diri aku sendiri di saat ini. Aku pandangi sekeliling, dan aku mendongak ke atas, seperti mencari semesta dan ingin berteriak pada mereka. Aku ingin bertanya pada mereka kenapa aku seperti di anak tirikan, sementara orang lain seperti anak kandung, malah seperti anak emas? Aku ingin berteriak keras dan mengeluh pada langit dan seisinya. Aku ingin semua ini selesai. Apa berlebihan bagi aku untuk meminta jalan – jalan di tempat umum tanpa diganggu oleh bahaya? Aku bisa melihat Lucky yang memucat sedikit. Pria itu ikut melihat sekeliling, berusaha untuk mengobservasi sekitar tanpa terlihat jelas oleh orang yang sedang mengancam kita ini. Dua obsidian pria itu terlihat liar dan tidak beraturan. Dia seperti seekor rusa yang tertangkap. Like a deer in a headlight, and that car is moving like a street racer. Lucky mencoba untuk mengulurkan tangannya ke arah aku, tapi pria itu menghentikan aksinya. Dia menelan ludah, dan jari – jarinya sedikit bergetar. Entah dia takut untuk keselamatan aku, atau keselematan dia sendiri. “Muse, Angelo will kill me.” Lucky berdecak pelan dan menatap aku serius. Dalam posisi begini, dia masih bisa memikirkan tentang Angelo dan apa yang akan dia lakukan padanya? Aku menahan lidah agar tidak berkata kasar. Kita berdua sudah terperangkap. *** BODOH memang jika dibilang aku menyesal. Ini semua akibat ulah aku sendiri. Aku yang meminta agar Angelo mau mengajak aku keluar. Aku juga memohon walau dia sudah menolak. Bodohnya lagi, saat Lucky mengajak aku untuk melihat – lihat toko DVD, aku memohon lagi pada laki – laki itu. Wala dengan jelas dia menolak mentah – mentah permintaan itu. Aku tidak memedulikan alasan Angelo dan tetap keras kepala. Muse yang keras kepala. Dan sekarang, aku harus menerima akibatnya. Aku berdiri tegak, bahu menegang, seluruh tubuh membeku, tetapi aku tidak bisa berkata apa – apa. Tidak perlu seorang jenius untuk bisa menafsirkan premis. Aku tahu betul apa yang sedang terjadi. Laki – laki yang menempel padaku dari belakang tentu saja bukan anak buah Angelo. Tentu saja bukan orang yang mereka kenal sebab wajah Lucky—walau pun terlihat marah dan murka—dia memutih. Aku tahu dia tersadar di momen itu kalau kita sudah mengacaukan segalanya. Laki – laki di depanku menelan ludah, tangannya mengepal di dua sisi tubuh. “Muse?” aku tidak bisa merespon. Dia bekontinyu, “Angelo akan membunuhku.” Aku ingin tertawa, tapi itu tidak mungkin, ‘kan? Itu tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Jadi aku hanya meringis pelan, takut jika aku bergerak laki – laki di belakang aku akan bertindak secara dadakan. Yah, memangnya dia salah? Tidak. Lagi pula, dia harus mengantri. Siapa bilang Angelo akan membunuhnya? Setidaknya, dia akan menargetkan aku terlebih dahulu sebelum menghabisi dia. Aku membuang napas panjang, tidak sadar kalau aku sedari tadi sedang menahan oksigen. “Apa yang—“ “Shut up,” desis laki – laki di belakangku. Tentu saja aku langsung diam. Diam seribu bahasa sebab apa lagi yang bisa di lakukan dengan seseorang menempel di belakangmu dan mengancam kamu dengan senjata api di pinggang? Dari ujung mataku, aku bisa melihat lengan yang mendorong senjata api ke sisi tubuhku. Lengan itu menggunakan tangan panjang hitam dan tertutup jaket yang sama tebalnya. Aku nyaris tidak bisa melihat senjata api yang dia tempelkan di pinggang aku. Dari jauh, tidak ada yang akan mengira kalau kami sedang berdiri berdua tapi dalam posisi salah satu dari kami diancam oleh senjata api. Mungkin orang akan mengira laki – laki gila di belakang aku ini sedang memeluk aku erat. Mungkin orang akan mengira ini manuver afeksi. Tapi apa yang akan mereka pikirkan saat melihat wajah dan postur tubuh Lucky? Mengiranya kekasih yang cemburu mungkin . . . “Aku ingin kau berjalan mundur secara perlahan,” perintahnya dengan nada bicara rendah. Aku bersungut tapi tetap diam. Apa yang harus aku lakukan? Lucky di depanku mengerang pelan di balik vokalnya yang berat. Erangan itu rendah, penuh ancaman, dan teritori yang besar. “Lepaskan dia.” Aku tidak pernah mendengar Lucky berbicara seperti itu sebelumnya. Dia selalu terlihat riang dan berkata – kata dengan ramah. Apalagi Felix yang belakangan mulai aku anggap adalah laki – laki yang lembut dan afeksionis. Lucky maju satu langkah. Manuver yang terhitung dan hati – hati. Dia mengangkat tangan cukup ke atas, memperlihatkan kalau dia tidak berbahaya. Matanya melihat kami berdua dengan teliti, seperti sedang menerka apa yang akan dilakukan laki – laki di belakangku selanjutnya. Seperti seorang predator yang mengobservasi mangsanya. Dia menelengkan kepala. “Siapa kau? Pecundang berandalan, atau memang ada agenda khusus menodong temanku seperti itu?” tanya dia lagi, suaranya masih rendah dan meangancam. Di detik itu aku tahu, mereka tidak main – main. Dunia ini, kehidupans seperti adalah sesuatu yang normal bagi mereka. Dari gaya tubuhnya bergerak, dan dari caranya dia beradaptasi dengan sangat mudah melihat fakta bahwa aku sedang dalam bahaya, aku tahu kalau ini sudah menjadi makanan sehari – hari mereka. “Mungkin yang kedua,” jawab laki – laki itu. Lucky mengangguk, lebih seperti kesal sebab sudah terjebak dalam posisi seperti ini bersamaku. “Ya, ya . . . aku bisa menebak itu.” Dia membasuh wajahnya, terlihat jengkel. “Angelo?” Laki – laki di belakangku sepertinya mengangguk, sebab satu detik kemudian Lucky menyumpah rendah. “Dia benar - benar akan membunuhku,” kata Lucky, wajahnya memutih. Dia meringis, mungkin membayangkan apa saja yang akan Angelo lakukan pada dia. “Kau tahu itu, Muse? Aku akan mati hanya karena ingin membeli DVD, Muse!” “Dan kau akan menyalahkan aku?” protesku dengan pelan. Bisikan itu membuat beberapa kepala di dekat kami menoleh, tapi tidak cukup untuk membuat mereka memberikan atensi penuh pada kami. Lucky mencibir. “Yah, well . . . setidaknya Angelo tidak akan menyakitimu atau semacamnya.” Aku membiarkan pikiran itu terlewat. Angelo tidak akan menyakitiku. Aku yakin dia juga tidak akan melukai adiknya sendiri, tapi beradu argumen dengan Lucky saat ini sangat tidak menguntungkan. “Kalian anggap apa aku?” desis laki – laki yang semakin lama semakin menekan senjata apinya. Aku meringis kesakitan, membuat Lucky maju lagi. “Diam di tempat jika kau ingin teman kecilmu ini baik – baik saja.” Hal itu membuat Lucky terdiam dan menyumpah rendah. Wajahnya sudah frustasi, dan dua tangannya meremas surai. Aku ingin menghiburnya kalau ini akan baik – baik saja, tapi bagaimana bisa aku melakukan itu ketika aku sendiri ingin menangis sejadi – jadinya? “Mundur pelan – pelang, right now.” Laki – laki yang ada di belakang aku kembali memerintah. Aku tidak punya pilihan. Dengan pasrah, aku mengikuti manuvernya secara pelan – pelan seperti yang dia mau. Saat kami menjauh, Lucky mengikuti dengan was – was. “Aku bilang berhenti di tempat,” desisnya cukup keras. Dia menekan ujung senjata api yang dia punya ke pinggangku. Aku meringis sakit, tapi aku tidak mengeluarkan suara. Lucky menggeleng. “Tidak bisa,” jawabnya seperti itu satu – satunya alasan yang dia punya. Seperti aku tidak sedang di tengah bahaya. Seperti nyawaku sedang tidak di ujung tanduk. “Kalau aku melakukan itu, I will be dead. Like cold dead. He will beat me up until I am nothing, kau mengerti itu?” “Aku tidak bercanda,” dia menggeram. “Aku serius. Kau ingin melihat seperti apa jadinya jarak dekat tembak di pinggang seseorang?” Lucky menelengkan kepalanya. Aku pikir dia tidak akan merespon, tapi kemudian dia berdecak. “Been there, done that . . . aku sudah pernah melihatnya, dan sayang sekali, aku tidak ingin melihat itu lagi.” Laki – laki di belakang aku menarik aku dengan kasar. Lucky mencibir. “Kau harus berhenti melakukan itu.” “Dengar, aku akan membawanya pergi. Gadis ini punya milyaran di kepalanya. Dan kau akan berlari ke kakak laki – lakimu itu, mengadu padanya, like the loser that you are, lalu kalian bisa membereskan masalah ini dengan dia.” Lucky memicingkan matanya. “Dia siapa?” “Kau tahu siapa.” Kau tahu siapa. Aku tediam dan yang menyebabkan dia menarik aku dengan kasar lagi. Tapi pikiran aku hanya tertuju pada satu hal. Kau tahu siapa. Siapa. Siapa. Siapa. Aku tahu siapa yang dia bicarakan. Pria yang membuat aku celaka. Yang ingin aku celaka agar mereka bisa memengaruhi Angelo. Aku tahu siapa yang dia bicarakan, dan dari sorot mata Lucky, aku tahu dia secara jelas mengerti situasi ini. Tentu saja dia tahu. Pria itu juga menginginkan dia. “Aku sarankan kau melepaskan dia,” kata Lucky dengan nada bicara rendah. Dia berubah serius. Berubah berjaga. Berubah menjadi Lucky yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Alisnya terangkat dua, bibirnya mencibir ke samping, dan semua otot di tubuhnya menegang. Dia berkata lagi, “Sungguh. Aku mencoba menyelamatkan kau di sini. Jika kau melukai dia sedikit saja, aku yakin hari terakhirmu di dunia ini tidak akan menyenangkan.” Laki – laki itu tidak mendengar ancaman di balik suara Lucky. “Aku yang ada di atas langit sekarang. Kau tidak bisa membuat ancaman seperti itu,” dan dia tertawa. Laki – laki itu bisa – bisanya tertawa. “Aku tidak takut.” “You should be,” kata Lucky. Pria itu malah menarik aku semakin menjauh. Aku pikir Lucky akan berhenti, tapi dia tetap maju, menjaga jarak agar dia tidak membuat laki – laki asing ini bertindak bodoh. Seperti menghabisi aku atau semacamnya. Dia memutar sesuai di senjata api itu. Lucky menggeram dan bersiap menyerang, tapi satu sentakan dari laki – laki itu membuatnya berhenti. Dia terlihat sangat dilema. Wajahnya mulai memerah, tapi apa yang bisa dia lakukan di tengah publik seperti ini?’ Tanganku lemas di sisi tubuh. Tapi aku sadar kalau aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu. Walau pun itu mungkin tidak berguna sama sekali. “Aku bukan gadis yang kau cari.” “Nice try . . .” Laki – laki itu mencibir. Lucky memangdang aku datar. Aku memberikannya tatapan yang berkata, “Apa? Setidaknya aku sudah mencoba.” “Ada banyak saksi di sini,” ujar Lucky masih mencoba agar dia tidak melukai aku. “Kau tidak akan lolos begitu saja.” “Er, begitu juga kau,” jawabnya. “Jika kau menyerang, aku akan menyerang juga. Dan kita berdua akan sama – sama berada di masalah.” Lucky mengumpat. Lalu matanya melebar. Bahunya berdiri tegak. Dia mengerjapkan mata, mengangguk, lalu berujar. “Jangan bilang aku belum memperingatimu.” Aku mengerutkan kening, mencoba untuk mengerti apa yang dia katakan. Lucky mundur, pria itu benar – benar mundur menjauh dariku dan seseorang yang sedang menyandera aku secara diam – diam ini. Dia memberi jarak dari kami, dan sebelum aku bisa menanyakan apa masalahnya, sebelum aku bisa bertanya kenapa dia seperti itu, sebelum aku bisa protes dan merengek kenapa dia menyerah, aku bisa merasakan atmosfer di sekitar kami turun beberapa derajat. Aku tahu tanda – tanda dia datang. Dulu, kafetaria akan tiba – tiba menjadi hening. Dulu, orang yang berbicara denganku mendadak tidak bisa mengutarakan kata – kata. Dulu, semua orang akan berbisik saat dia masuk ruangan. Dulu dan sampai sekarang, setiap kali dia ada di dekatku, aku akan bergidik, merinding, kupu – kupu beterbangan di abdomen, dan hatiku tidak akan berhenti berdegup dengan sangat cepat. Dan aku akan tahu, itu adalah tanda – tanda Angelo Bronze sudah datang. Dengan suara yang membuatku merindukannya selama bertahun – tahun, aku bisa mendengar Angelo berkata rendah dan membunuh dari belakang kami. “Let go of my girl. Now.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN