PART 50
“LET GO OF MY GIRL, now.”
Akan sangat bodoh jika aku memutuskan untuk tersipu dan malah terharu mendegar vokal familiar itu, kan? Akan sangat bodoh jika saat ini, aku malah merasakan kepakan sayap kupu – kupu di abdomen, kan? Karena sungguh, rasanya aku memang gadis yang sangat bodoh sebab aku merasakan itu semua. Begitu vokal familiar dengan suara khas yang berat dan datar itu terdengar, aku malah sibuk tersipu malu mendengar apa yang dia katakan. Mungkin aku sudah hilang akal. Mungkin aku benar – benar sudah tidak bisa berpikir jernih karena dalam situasi begini saja aku tidak punya prioritas yang jelas, tapi sungguh, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa seperti seorang gadis remaja yang malu – malu kucing di depan pria yang dia sukai.
Angelo bilang my girl. Itu sebuah sebutan yang penuh afeksi, kan? My girl. Itu sebuah titel dengan rasa posesif di dalamnya, kan? Itu artinya aku milik dia. Milik. Angelo baru saja menggunakan titel kepemilikan untuk aku, kan? Pria itu baru saja memanggil aku sebagai miliknya. Mutlak, aku memang bukan gadis yang punya banyak pengalaman, tapi segitu saja aku sudah mengerti. Aku punya arti yang tinggi untuk Angelo. My girl. Aku adalah gadisnya. Miliknya. I belong to him. Dan mendadak saja, aku merasa seperti dunia ini hanya ada milik kita berdua. Hanya ada aku dan Angelo yang berdiri saling berhadapan, tanpa ada bahaya, Lucky, Marco, atau pengunjung lain di dalam sini.
Mendadak, aku yang kelepasan menyebut dia dengan sebuatan My Angel tidak menyesal sama sekali.
“Aku bilang sekali lagi, lepaskan dia sekarang juga sebelum kau menyesal.”
Tentu saja Angelo ada di sini. Dia selalu menemukan aku. Di mana pun aku berada, Angelo tidak pernah membiarkan aku sendiri. Setidaknya, begitu yang aku pikirkan sebelum dia menghilang entah ke mana.
Bukannya aku ingin membahas masa lalu sekarang, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk memikirkan satu fakta itu. Ke mana pun aku pergi dan apa pun yang aku lakukan, laki – laki itu selalu tahu.
Seperti saat ada acara sekolah yang berakhir cukup malam. Ibu seharusnya menjemput aku dari rumah, tapi ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan wanita cantik yang paling aku cintai di seluruh dunia itu belum juga datang, akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri. Belum juga aku sampai di halte bus, Angelo yang seharusnya tidak ada di acara itu—aku bahkan tidak melihatnya di sekolah hari itu—tiba – tiba muncul dan mengantar aku pulang. Dulu aku tidak mempertanyakan keanehan itu.
Atau saat aku janjian dengan Esme untuk nonton konser idola kami berdu tapi tiba – tiba gadis itu tidak bisa datang karena ada keperluan penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Aku tidak pernah cerita pada Angelo tentang konser itu. Tapi dia datang, tepat sebelum aku masuk melewati but tiket. Aku juga tidak pernah mempertanyakan hal itu.
Ada juga saat aku dihadang Haru sendirian di gang kecil malam itu.
Saking terkejtunya, dan Angelo yang kapabel mengalihkan atensi aku dengan mudah, aku tidak pernah bertanya – tanya bagaimana bisa laki – laki datar ini tahu lokasi aku terus – menerus. Muncul seperti ksatria berkuda putih setiap kali aku membutuhkan pertolongan.
Tapi bukan itu yang harus aku pikirkan sekarang, ‘kan?
Sekarang aku sedang disandera oleh seorang laki – laki aneh dengan ujung senjata api yang menancap di pinggang aku. Dan tiga orang pria lain yang siap menghabisinya jika dia macam – macam.
Tapi memangnya apa yang akan mereka lakukan di tengah publik seperti ini? Jika sesuatu terjadi, bahkan mereka juga tidak sanggup keluar dari bukti yang jelas seperti ini, ‘kan? Begitu banyak kamera pengawas dan saksi mata.
Karena itu juga, laki – laki di belakang aku ini tidak akan berani merealisasikan ucapannya, ‘kan? Tidak mungkin dia benar – benar menembak aku dengan seluruh pasang mata yang bisa membuatnya membusuk di balik jeruji besi?
Tapi laki – laki itu mendesis lagi, walau pun Angelo melotot ke arahnya dengan amarah dan kemurkaan yang membuat aku lemas. “I can’t do that, now can I? Kau pikir hanya karena kau meminta, aku akan melakukannya?”
Di dalam hati aku meringis. Seberapa bodoh laki – laki ini? Apa dia tidak tahu siapa Angelo? Tidak. Jika dia menyerang aku, maka hanya ada satu konklusinya. Dia terlalu bodoh untuk mendengarkan kata – kata Angelo Bronze.
“Apa aku tergagap?” tanya Angelo, menggunakan diktum sarkas dariku lagi. Aku teringat seberapa genting posisi kami, maka dari itu aku tidak memutar dua bola mata ke arahnya.
“Dan aku rasa aku juga tidak tergagap,” dia menusuk aku lagi, membuat aku menggigit bibir agar tidak menarik perhatian ketika meringis.
Satu ujung mata Angelo Bronze berkedut. Aku tahu itu apa artinya. Dia menahan marah. Dia tidak suka. Dia benci. Matanya membakar senjata api yang sedang terbenam di sisi tubuhku. Rahangnya terkatup rapat, dua tangan mengepal di sisi tubuh hingga deriji dan buku – bukunya memutih.
Jika aku tidak kenal Angelo dan tahu kalau dia tidak akan pernah menyakiti aku, aku akan merasa takut.
Dia terlihat seperti seorang predator yang siap menyantap siapa saja.
“Siapa orang ini?” tanya Angelo dengan nada bicara mendesis ke arah adiknya.
Lucky maju, dua tangan beristirahat di belakang, bahunya tegak. “Frank Han.”
Seluruh tubuh Angelo membeku. Realisasi terukir di wajahnya, dan aku ikut menjadi tegang. Ini yang dia takutkan. Ini terornya. Ini alasan kenapa aku harus dikurung berhari – hari di dalam rumah.
Dan hanya karena aku bosan, segalanya runtuh dalam hitungan jam saja. Tapi tidak ada penyesalan di mata itu, tidak ada rasa yang menunjukkan kalau dia menyalahkan aku. Yang ada, hanya benci dan amarah menjadi satu.
Saat pupilnya menggelap, laki – laki mengambil langkah maju dan mendekat ke arah kami. “Lepaskan dia,” desisnya keras.
Laki – laki di belakang aku mundur, tapi aku tahu manuver tubuhnya mulai berubah. Tidak sepercaya diri tadi. Tidak se – berani tadi. Bagus. Dia mulai mengerti seberapa gentingnya suasana sekarang.
Dia mulai mengerti kalau Angelo sedang tidak main – main.
“A—aku sudah bilang jangan mendekat,” katanya dengan terbata. Parahnya, dia membuat apa yang dia lakukan semakin buruk tatkala satu tangannya menjambak aku keras dari belakang. “Aku akan membunuhnya.”
Aku berani bersumpah aku melihat mata Angelo memerah, menyala, terbakar. Aku merinding bukan karena ujung senjata api yang menempel di sisi tubuhku, tapi karena sorot mata laki – laki yang ada di hadapanku saat ini.
“Lakukanlah,” katanya dengan nada bicara yang anehnya terdengar tenang. Tapi kau gila jika menganggap vokal itu tidak berbahaya. Nada bicara tenang itu menyembunyikan ancaman yang mengerikan. “Dan lihat apa yang akan terjadi padamu setelahnya.”
“Dan di tengah kerumunan orang seperti ini?” aku mengenali suara Marco. Dari arah suara itu, sepertinya dia berjaga di belakang aku dan laki – laki ini. “Kau secara praktis meminta kematian kamu sendiri.”
“Apa yang dia tawarkan padamu?” tanya Angelo. “Katakan padaku, dan mungkin aku bisa menawarkan sesuatu yang lebih untuk kamu.”
Napasku tercekat ketika dia tidak juga segera menjawab. Tapi tangan yang menjambak suraiku perlahan terlepas, dan melingkar di bahuku. “A—aku—“ dia melihat kami satu per satu. “Apa yang bisa kau berikan padaku?”
“Apa pun itu yang kau mau,” jawab Angelo tanpa ragu sedikit pun. Tanpa satu detik pun yang terlewat begitu inkuiri tersebut terlepas dari laki – laki itu.
Aku tahu jika merasa hangat saat ini sangat tidak tepat, tapi mendengar Angelo yang bahkan tidak ragu – ragu akan melakukan apa saja agar aku tidak terluka membuat rasa sakit yang disebabkan oleh ujung senjata api di sisi tubuhku terlupakan.
Apa pun itu yang kau mau, katanya. Apa pun itu akan dia berikan asal laki – laki ini mau melepasku. Dan siapa aku bisa menahan diri agar tidak jatuh mendengar diktum sekuat itu? mendengar pernyataan sebesar itu? Apa pun itu. Apa pun akan dia lakukan demi aku.
Oh, sial. Sial. Sial. Sial. Dan hanya seperti itu saja, aku melihat Angelo yang dulu.
Angelo yang selalu mengantar aku pulang jika kemalaman. Angelo yang membantuku mengerjakan tugas. Angelo yang membelikan aku makanan, dan selalu muncul kapan saja dia mau. Angelo yang menamani aku ke konser pertamaku. Angelo yang menolong aku dari Haru si berandalan sekolah sebelah.
Angelo yang menjadi sahabatku. Teman terdekatku di dunia. Belahan jiwaku.
Dan siapa aku untuk bisa menahan diri agar tidak jatuh hati lagi padanya? Di saat itu, ketika netra kami saling bertabrakan, dan aku menatap mata yang memancarkan rasa cemas, panik, serta takut di wajah yang selalu datar tanpa eskpresi sama sekali itu, aku tahu, aku yakin, kalau aku sudah jatuh ke hatinya lagi.
Dan aku nyaris tertawa. Nyaris tergelak dalam tawa keras, tatkala konklusi lain terbesit di dalam hati.
Hatiku memang tidak pernah bangkit.
Walau benci melanda sanubari, walau sakit menyelimuti kalbu, tapi aku tetap tidak pernah bangkit dari rasa jatuh hati pada laki – laki ini.
Dan sial. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa bangkit. Dia Angelo Bronze, dan aku Muse Lee.
Ibu salah. Aku dan dia bukan tidak pernah menyelesaikan apa yang terjadi dengan kami. Bukan karena aku dan dia belum mengucapkan selamat tinggal. Bukan karena aku dan dia belum berpisah secara baik – baik.
Tapi karena aku dan dia memang tidak akan pernah berpisah. Aku dan dia terikat selamanya. Aku dan dia tidak akan pernah selesai.
Laki – laki itu kembali maju, tapi kali ini siapa pun yang memegang aku tidak mundur. “Katakan padaku apa yang akan dia berikan padamu, dan aku akan menawarkan lebih. Tapi aku ingin kau melepaskannya. Sekarang.”
Dia begitu magnifisen. Dia begitu mengerikan. Entah bagaimana bisa seseorang begitu menarik dan indah, tapi buruk dan menakutkan secara bersamaan. Apa aku sudah gila? Apa aku kehilangan akal?
Kenapa Angelo begitu membuatku hilang kendali? Kenapa setiap kata – kata yang terlepas dari labium itu membuat aku sakit kepala? Kenapa semua tindakannya seperi racun?
Aku tenggelam dalam duianya. Bahaya atau tidak bahaya. Aku sudah basah, sudah tenggelam ke dalam tanpa bisa naik ke permukaan.
Aku sudah melebur bersama kehidupan laki – laki ini.
Dan anehnya, anehnya di saat itu, aku memang tidak ingin naik. Aku rela kehilangan napas. Aku rela tak lagi menghirup oksigen ke dalam tubuhku.
Jika itu artinya aku bisa bersama dengan laki – laki ini selamanya.
Apa yang dia katakan mungkin bisa meyakinkan laki – laki di belakang aku ini, karena satu detik kemudian aku bisa merasakan tekanan ujung senjata api yang dia pegang perlahan terlepas. Dan aku tidak bisa berkata-kata ketika dia mendorong aku ke depan, ke arah Angelo. Dan aku tidak ragu, tidak menghabiskan satu detik saja untuk ragu dan berlari ke dalam dekapan laki – laki itu.
Ini rasanya seperti rumah. Seperti rumahku. Rasanya seperti kembali pulang. Seperti aku akhirnya menemukan jalan pulang. Begitu aku sudah terhempas ke dalam pelukan laki – laki ini, aku merasa seperti orang yang paling beruntung di dunia. Aku merasa aman. Aku yakin kalau tidak akan ada apa pun di dunia ini yang sanggup melukai aku, karena di dalam lingkaran protektif ini, Angelo tidak akan membiarkan aku terluka.
Hanya dia yang bisa membuat aku merasa seperti ini. Hanya dia yang tahu segalanya tentang aku. Hanya dia yang bisa membuatku kesal dan gemas secara bersamaan. Hanya dia yang bisa membuatku menangis sejadi-jadinya, merengek, mengeluh, memberengut, tapi hanya dalam hitungan detik saja bisa membuat aku tersenyum lebar, bahagia, senang, dan menikmati hidup.
Angelo Bronze itu seperti adiksi hidupku. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak pernah bisa terlepas darinya. Aku tidak pernah bisa melupakan dia. Aku tidak akan pernah bisa menjauh darinya.
Dan memangnya siapa aku untuk bisa menahan itu? Aku hanya gadis lemah dari Mapo-Gu yang bahkan masih belum bisa menerka masa depannya. Aku masih gadis yang kehilangan arah. Tapi laki – laki ini, dia adalah kompas sejatiku. Dia adalah arah ke mana aku harus pergi di akhir hari. Dia adalah tujuanku.
Pelukan itu terlepas. Aku melihat tatapan mata Angelo yang mencariku. Mencariku agar pulang. Dan aku memeluknya lagi, untuk meyakinkan dia kalau aku sudah berada di rumah. Tangan besar itu segera menutup pintunya dan memeluk aku kencang. Seperti dia takut aku pergi lagi. Seperti dia takut aku tersesat.
“I got you, Muse.” Dia berbisik. “I got you. God, I was so scared. I got you.”
“You got me,” aku membalas, air mata berjatuhan. Rasa takut, cemas, panik, hangat, bercampur menjadi satu di benak dan sanubari. Aku kewalahan. Aku bingung. Aku tidak bisa berpikir normal.
Tapi pelukan hangat dan besar dari Angelo membuatku tetap sadar. Tetap tenang.
“Kau baik – baik saja?” aku bisa merasakan kami mulai berjalan, Angelo secara praktis membawa aku berjalan bersamanya. Aku begitu hilang dalam pelukannya hingga aku tidak sadar kalau Marco dan Lucky tidak ikut berjalan dengan kami. Aku begitu kehilangan kendali hingga aku tidak sadar kalau mereka sedang menyeret seseorang ke arah tangga darurat secara diam – diam.
Aku begitu fokus pada tubuh yang memeluk aku, hingga aku hanya bisa mengangguk. Aku berani bersumpah aku merasakan ciuman halus di kening aku, lalu detik berikutnya, tubuhku sudah diangkat dan digendong ala putri raja. Aku membuang napas lega, menjatuhkan kepalaku di d**a Angelo, dan tersenyum.
“I got you, Muse. Always. And forever.”