PART 51
PELUKAN DAN DEKAPAN memang selalu bisa menjadi obat yang sangat luar biasa bagi siapa pun. Aku yakin di dunia ini tidak mungkin ada manusia yang tidak suka afeksi. Sungguh, walau aku yakin pasti banyak dari manusia lain yang menyembunyikan perasaan asli mereka kalau mereka sesungguhnya membutuhkan seseorang, tapi aku tahu jauh di dalam lubuk hati mereka, ada rasa ingin diberikan afeksi dan perhatian. Tidak mungkin tidak. Bahkan orang sedingin dan sedatar Angelo sekali pun, pasti menginginkan hal yang sama. Pada dasarnya, semua manusia itu punya kebutuhan untuk dicintai dan diperhatikan. Dan aku tahu, bukan hanya aku yang merasakan hal itu.
Jadi, saat Angelo mengangkat tubuh aku dengan gaya putri raja dan mendekap aku erat seolah aku akan hilang jika tidak dia tahan, aku membiarkan tubuh aku sendiri melebur menjadi satu dengan tubuhnya. Aku melupakan fakta kalau pria ini sudah menahan aku secara paksa, sudah menculik aku, membuat hidup aku berada dalam bahaya, dan meninggalkan aku bertahun - tahun yang lalu tanpa ada penjelasan yang jelas. Aku biarkan tubuh aku istirahat, menolak untuk melawan, dan membiarkan segalanya diurus oleh Angelo.
Apalagi saat aku mendengar kalimat pelan yang dia katakan. “I got you, Muse. Always. And forever.”
Rasanya mudah sekali untuk membiarkan rasa dan benak meluluh dan membiarkan aku untuk pertama kalinya menyerah di dalam pelukan Angelo. Aku biarkan pria itu membawa aku pergi, jauh dari bahaya, dan berpaling dari realita. Aku bisa merasakan napasnya yang menderu, suara Lucky dan Marco yang sibuk menghubungi orang. Aku bisa merasakan langkah kaki Angelo semakin cepat, dan kita menuju ke suatu tempat.
Aku tangkupkan kepala aku di leher Angelo, dan memutuskan untuk bersembunyi. Aku lelah. Lelah dengan senjata, lelah dengan kekerasan, lelah dengan semua masalah yang mendadak muncul di hidup aku seperti sebuah malapetaka.
Aku biarkan Angelo memeluk aku erat.
Karena pada dasarnya, yang aku butuhkan di bumi ini hanya Angelo Bronze seorang.
“I got you, Muse.”
***
KEJADIAN tadi benar – benar mendorong final terakhir dalam diri laki – laki bernama Angelo Bronze. Seseorang yang menurutku selalu dramatik itu kali ini sudah mencapai batas akhirnya. Apa yang terjadi di toko toserba tadi mungkin adalah satu – satunya alasan—tidak, alasan terbesar—bagi laki – laki itu untuk mengurung aku di rumah.
Bukannya aku akan komplain dan protes juga. Apa yang terjadi cukup membuat aku trauma dan takut. Memikirkan untuk keluar dari rumah saja membuat aku mual.
Siang tadi, tatkala Angelo menggendong aku dan membawa aku langsung ke mobil kami, aku tidak banyak bicara. Begitu juga dia. Laki – laki itu hanya mengemudi dengan fokus, tangannya mencengkeram setir kemudi begitu kuat aku pikir setir itu akan patah menjadi dua. Buku – buku jemarinya memutih. Rahangnya yang mengatup membuat aku tak enak hati.
Aku mencoba membuka konversasi, sungguh. Tapi dia terlalu emosi untuk bisa meneruskan pembicaraa.
Secara kurang lebih, hanya seperti ini yang terjadi selama perjalanan pulang. “Angie?”
Matanya tertutup sebentar, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan, jemarinya membuka dan menutup rapat di setir kemudi. Aku menggigit bibir, menahan diri agar tidak berkata apa – apa lagi sebelum dia menjawab.
Sebelum aku berpikir kalau mungkin dia tidak akan merespon, atau mungkin dia marah besar padaku sebab apa yang terjadi tadi, dia menoleh sekilas dan berkata, “Apa?” suaranya dingin, datar, dan begitu singkat.
Rasanya seperti jauh. Suara yang bisa aku kenali dari ribuan vokal di dunia. Suara yang selalu membuat aku tenang walau pun sembilan puluh persen isinya hanya berupa emosi, jengkel, dan gerutu kesal. Suara yang aku suka selama bertahun – tahun, membawa aku selalu pada rasa tenang dan bahagia.
Suara itu terdengar jauh. Asing. Dan bukan seperti vokal Angelo yang aku kenal.
Aku menahan diri agar suaraku yang keluar tidak bergetar. “Kau baik – baik saja?”
Kalau dia bisa, mungkin dia akan menjambak rambutnya sendiri. Tapi dua tangan laki – laki itu tetap di kemudi setir, dan dia tidak menoleh lagi padaku.
Aku ingin dia melihat aku. Tapi dia tidak melakukan itu.
Aku terdiam.
“Kau yang bertanya padaku, apa aku baik – baik saja?” keningnya mengerut. Wajahnya memerah, aku bisa melihat ujung telinganya berganti warna kulit. “Muse, apa kau sudah gila? Kau yang baru saja hampir mati!”
Aku meringis. Baiklah . . . mungkin dia benar. Tapi dia terlihat begitu frustasi dan stres aku tidak bisa menahan untuk bertanya apakah dia baik – baik saja. Lagi pula, aku yakin kalau bukan aku saja yang terpengaruh denggan kejadian ini.
Dalam opini yang mungkin terlalu jauh, aku yakin kalau Angelo juga sama terlukanya. Aku tahu dia. Kontras dengan apa yang dia pikirkan, aku tahu dan aku mengerti kenapa dia harus pergi saat itu.
Setidaknya, sekarang aku benar – benar tahu. Dari sorot matanya, dari perilakunya, dari cara – cara subtil dia menolong dan menjaga aku. Sesungguhnya, aku tahu. Aku tahu kita berdua sangat sadar dengan apa yang terjalin di antara kita.
Tapi dengan alasan pertemanan dan beribu alasan lain yang terasa tidak masuk akal sekarang, entah kenapa aku dan dia tidak pernah benar – benar mengakui apa yang terjadi di antara kita adalah sesuatu yang nyata.
Aku tahu kenapa dia membelaku selalu. Menjaga aku selalu. Menolong aku selalu. Esme sudah terlalu sering menggodaku hingga aku yakin kalau aku tidak salah. Aku sudah terlalu jauh membawa perasaan itu hingga aku kapabel melihat perasaan yang sama di matanya.
Jadi tentu saja aku juga bertanya padanya. Aku juga ingin tahu kalau dia baik – baik saja.
Membuang napas, Angelo mengambil jalur lambat dan melepas satu tangannya dari kemudi. Aku melihat tangan itu terulur, menunggu sebuah pemberian dariku. Invitasi itu aku terima begitu cepat. Tentu saja aku terima. Bersentuhan dengan Angelo selalu membuat aku merasa aman.
Seperti ada proteksi yang menyelimuti aku. Aku selalu merasa tahu arah. Seperti tidak akan pernah hilang dan tersesat.
Laki – laki itu membasahi bibirnya, menoleh padaku sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan. “Aku tidak baik – baik saja,” katanya akhirnya. Aku baru saja akan membalas, sebelum dia meremas tanganku agar aku diam. “Kau nyaris terluka di sana, Muse. Bagaimana jika dia benar- benar menembakmu di sana, peduli atau tidak peduli dengan banyak saksi mata? Aku bisa saja kehilangan kamu di sana.”
Aku menarik napas panjang. Hatiku terasa perih mendengar nada bicara Angelo. Seperti dia sedang tertusuk oleh ribuan jarum. Seperti ada yang jemari tidak kasat mata di hatiku, dan meremasnya kuat hingga aku tidak bisa bernapas.
“Angie, itu sudah lewat.”
“Tapi itu tidak menutup kenyataan kalau aku hampir gagal melindungimu. Lagi. Lagi dan lagi dan lagi dan lagi,” aku terlonjak kaget ketika dia menggeram dan memukul setir dengan keras. “Aku nyaris gagal lagi, Muse!”
Kutarik tangan kami yang sedang terikat dan aku cium bagian atas tangannya. Terus dan terus hingga aku bisa merasakan otot tubuhnya lebih rileks.
“Itu bukan salahmu,” kataku pelan. “Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, Angie.”
“Tapi aku membiarkan kau pergi.”
“Karena aku meminta dan merengek seperti anak kecil!” kataku cepat. Memang benar, ini semua salahku juga. Sebagian besar karena aku yang tidak bisa melihat bahaya dan menurut. “Aku yang membawa kejadian ini pada diriku sendiri.”
Dia membuang napas panjang. “Aku tidak ingin membicarakan ini. Bisakah kita membahas ini nanti?”
Aku mengangguk. “Baiklah . . .”
“Aku hanya ingin membawamu pulang dengan aman,” katanya lagi. Aku kembali mengangguk. Angelo menatapku, cukup lama, sebelum dia harus kembali melihat jalanan di depan kami. Lalu dia melakukan manuver yang baru saja aku lakukan.
Laki – laki itu menarik tangan kami yang sedang terikat, membawa bagian depan tanganku ke bibirnya, dan mengecup aku pelan dan lembut dan penuh afeksi.
Sungguh, aku nyaris menangis. Aku nyaris terbang keluar dari mobil. Aku nyaris melompat ke langit ke tujuh dan berteriak saking besarnya kepakan sayap kupu - kupu di abdomen aku.
Aku tidak bisa menahan senyum halus yang terlukis di bibirku. “Untuk apa itu?” tanyaku pelan dan bingung.
“Terima kasih,” jawabnya. Dia meremas tanganku dan membawanya ke pangkuannya. “Terima kasih karena kau baik – baik saja dan tidak terluka.”
***
MALAMNYA, aku keluar dari kamar setelah tidur nyaris hampir satu hari penuh. Sungguh, aku rasa disandera berkali – kali akhirnya memiliki efek tersendiri di tubuhku. Aku tadi merasa sangat lelah dan letih, dan jika bukan karena tepukan halus di pipiku, aku mungkin tidak akan bangun dari tidur.
Begitu mataku terbuka, aku melihat figur Angelo yang sedang duduk di sampingku. Matanya tertuju padaku tanpa memedulikan sekitar, selalu menaruh atensi penuh padaku. Dia mengelus suraiku lembut, tersenyum sangat tipis aku nyaris tidak bisa melihatnya di dalam kamar yang remang.
“Tidur yang nyenyak?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. Kurasakan hangat tangannya menyebar ke seluruh tubuh, membuatku ikut tersenyum. “Apa kau sudah istirahat?”
Dia mengangguk. Tapi aku tahu dia berbohong. Aku merasa tidak ada gunanya beradu argumen saat ini, jadi aku memaksa puas dengan jawaban dia.
“Mau makan malam?” Angelo kini mengelus pipiku dengan ibu jarinya.
Baiklah . . . sejak kapan dia berubah menjadi seperti ini? Maksudnya, bukan Angelo orang yang berbeda sebelumnya. Hanya saja, dia tidak pernah secara terang – terangan memperlihatkan atensi dan afeksinya padaku sebelumnya.
Sekarang dia begitu lembut dan halus, dan oh, aku suka ini.
“Sejak kapan aku pernah menolak makan?” Angelo tertawa tipis. Dua ujung bibirnya terangkat naik ke atas. Sial. Aku nyaris lupa caranya bernapas. Untuk memperjelas, aku mengangguk. “Tentu saja aku mau makan malam.”
Dia membantuku bangun, walau pun aku tidak membutuhkannya. Tapi, hey, siapa aku untuk menolak? Lalu aku keluar bersamanya dari kamar.
Ketika melihat gelap dari balik jendela, aku tahu kalau malam sudah datang. Kami berdua berjalan ke arah dapur. Angelo tidak pernah melepas tanganku sama sekali, bahkan ketika kami sudah sampai di depan meja makan.
Aku lihat sudah ada beberapa menu yang aku sukai di atas meja makan. Aku tatap dia, dan dia balas memandang aku sama seriusnya.
“Semuanya sudah siap begini?” tanyaku heran.
“Hmh . . .” Dia mengumbang pelan. Laki – laki itu meraih segelas air dan memberikannya padaku. Ketika aku sedang minum, dia menjawab, “Aku pikir kau akan sangat lapar ketika bangun.”
Aku menegak air terakhir dan berterima kasih padanya. “Ini sangat berlebihan, tapi terima kasih. It’s very kind of you . . .”
“Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.”
Ah, tenanglah hatiku yang malang. Kau sudah sering mendengar apa yang dikatakan oleh Angelo. Kenapa juga kau harus merasa gugup dan tidak bisa tenang sekarang? Kenapa kau harus berdegup begitu kencang hingga terasa sedikit nyeri? Hatiku, ayolah, tenang. Ini hanya Angelo.
Angelo yang sama ketika dia mengejek aku kerena aku terlalu pendek. Angelo yang sama ketika dia membuat aku malu di depan banyak orang dan tidak sengaja menumpahkan jus jeruknya ke baju putihku. Angelo yang sama ketika dia mengeluh saat aku ajak ini itu, termasuk pergi ke taman bermain yang dipenuhi banyak orang.
Ini Angelo hatiku yang malang dan pengkhianat, kau tidak perlu sebegitu tegang dan gugupnya. Dan oh, kenapa juga kau harus merasa malu dan tersipu?
Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.
Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.
Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.
Baiklah . . . aku harus menghentikan ini. Jadi aku mengangguk, berpura – pura keren, dan mulai menyantap berbagai macam makanan favoritku itu. Setelah beberapa saat hanya sibuk makan, aku akhirnya menoleh dan mendapati Angelo sedang menatapku lekat.
Tangan kami masih terikat, dibawahnya agar mendarat di sisi wajahnya. “Apa?” tanyaku heran. Angelo menggeleng. “Apa ada sesuatu di wajahku?” tanyaku lagi, meraba wajahku bingung. Dia menggeleng lagi. Aku membiarkannya, kembali fokus pada makan. Tapi aku teringat sesuatu. “Apa Marco dan Lucky sudah pulang?” tanyaku pelan.
Itu menghasilkan reaksi dari Angelo. Dia menegang dan membuang napas panjang. Laki – laki itu terlihat emosi kembali, tapi hanya untuk beberapa saat saja. Dia mencium tanganku lagi, lembut dan penuh afeksi, lalu menggeleng. “Belum. Mungkin sebentar lagi. Tadi mereka berkata kalau sedang di jalan pulang.”
Aku tahu tidak ada gunanya aku bertanya apa yang terjadi pada laki – laki tadi, jadi aku hanya mengangguk. Tapi tidak lama, dua orang laki – laki yang aku tanyakan datang. Mereka masuk dari pintu belakang, derap langkah kaki mereka berdua terdengar meresonasi di rumah yang besar dan sepi ini. Aku melihat Marco lebih dulu, wajahnya kesal dan merah. Lalu Lucky yang terlihat frustasi dan tidak suka. Aku menatap mereka bingung, lalu saat mereka sudah ada di dekat kami, mereka tak ragu – ragu dan berkata, “Angelo. Kami baru saja bertemu dia.” Marco menatap aku dan Angelo bergantian. “Dan dia ingin bertemu denganmu. Kalian berdua.”