PART 52

2397 Kata
PART 52 HAL PERTAMA YANG AKU lihat adalah kerutan di kening Angelo. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang mehahan emosi dan amarah bercampur menjadi satu. Sungguh, aku pun juga tahu rasanya seperti itu. Angelo tidak pernah terlihat seperti ini. Wajah tampan miliknya tidak pernah terlihat memiliki begitu banyak eskpresi dalam satu waktu seperti ini. Aku menebak amarah. Marah yang begitu besar hingga wajahnya sedikit memerah. Aku menebak emosi. Emosi yang begitu kuat sampai aku melihat tangannya mengepal. Tapi yang lebih besar lagi, aku melihat rasa kaget di wajah pria itu. Kaget dan terkejut sebab mungkin ultimatum yang dikatakan oleh Marco adalah sebuah anomali terbesar di hidupnya. Marco sendiri hanya bisa diam, menunggu dengan sabar apa yang akan dilakukan oleh Angelo. Pria itu menaruh dua sikut di atas meja makan, dan menyatuhkan jari – jarinya lekat. Dia menatap aku sesekali, mungkin ingin melihat reaksi apa yang akan aku berikan saat mendengar berita darinya. Tapi memangnya apa yang bisa aku lakukan? Jika aku ingin marah, aku hanya ingin marah karena dia sudah mengganggu Angelo. Jika aku ingin emosi, aku hanya ingin emosi karena dia berani membuat Angelo marah. Jika aku ingin kaget, aku hanya ingin kaget karena berani sekali dia membuat Angelo emosi. Semua hal yang aku rasakan, pada akhirnya kembali lagi dan terkoneksi dengan pria yang ada di samping aku saat ini. Semuanya berputar di Angelo. Dia yang memiliki kendali penuh atas suasana hati aku. “Kau yakin?” tanya Angelo meski aku lihat kalau Angelo tidak perlu konfirmasi macam itu. Marco tidak mungkin salah. Kepercayaan itu terlihat jelas di wajah. Tapi pria bernama Marco itu mengangguk. “Aku yakin. Seratus persen. Dia ingin bertemu denganmu." Tentu saja ultimatum itu bergerak cepat, masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan tatkala Angelo mendengarnya. Memangnya dia sudah gila? Selama nyaris beberapa minggu belakangan ini—aku sudah lupa menghitung berapa lama sejak kejadian ini mulai, sungguh, aku bahkan sudah lupa kejadian aku dan anak – anak buah mereka di bank Mapo-Gu itu—Angelo melakukan segala cara agar aku bisa selamat. Agar dia bisa melindungi aku dari orang yang baru saja meminta presensi kami hadir di depannya. Angelo melakukan segala cara agar aku tidak terluka, disandera, atau semacamnya. Dia berubah menjadi ibu beruang yang overprotektif, dan akan bertingkah menjengkelkan. Dan sekarang dengan mudah dia bilang kalau dia ingin bertemu dengan kami berdua? Gila. Jika aku belum bertemu dengannya, aku harap aku tidak akan pernah melihatnya, sebab dari mendengar cerita tentang dia saja, aku sudah bisa menebak betapa jahat dan hilang akalnya laki – laki itu. Angelo hanya melengos dan menyuruh aku agar melanjutkan makan. Iya, dia bahkan tidak membuang waktu dengan meladeni apa yang baru saja dikatakan Marco. Dengan ragu, aku mulai kembali makan sembari begitu sadar presensi dua laki – laki yang berdiri di samping meja makan. Merasa kalau dia tidak akan mendapat jawaban, Marco kembali membuka mulut, “Dan?” Angelo membuang napas panjang. Satu tangannya terbentang di kursi belakangku, dari posisi itu, dia terlihat lebih seperti ibu beruang lagi. Aku mengabaikan rasa hangat yang menusuk hati. “Apa, Marc? Apa masih ada lagi yang perlu kau katakan?” Lucky membuat suara seperti mengerang kesal, namun masih Marco yang merespon Angelo. “Kau tidak akan mengatakan apa – apa?” “Kau tahu jawabannya,” jawab Angelo singkat. “Kau akan menolaknya?” “Tentu saja,” jika aku tidak tahu laki – laki di sebelahku itu, aku akan mengira kalau dia baru saja membentak saudaranya, tapi aku tahu kalau itu hanya nada bicaranya sehari – hari. Angelo si tukang marah, frustasi, dan murka. “Angelo, jika kau tidak mendengar kata – kataku tadi, aku bilang dia meminta untuk bertemu dengan kalian. Kalian berdua.” Angelo sepertinya melirik mereka dengan manuver kepala sangat pelan dan serius, sehingga aku mendongak dari sushi yang sedang aku santap, dan menatap secara direk rahang mengatup dan wajah stres yang diberikan Angelo pada Marco. “Dan jika kau lupa, kita selalu menolak apa pun itu yang dia minta, ‘kan?” Marco kali ini diam, begitu juga Lucky. Dua pria itu sama – sama kehabisan kata – kata. Atau mungkin mau bicara lagi, tapi mereka berpikir lanjut dan tidak ingin membuat Angelo marah. Aku menelan makanan yang ada dimulutku sebelum menoleh pada Marco dan Lucky. “Apa yang ada di pikiran kalian?” Marco terlihat terkejut, Lucky tergagap, sementara Angelo berdecak di belakang aku. Tapi aku tidak mundur, tidak ketika aku ingin tahu apa tanggapan mereka tentang semua masalah ini. Bagaimana pun juga, mereka terlibat dengan insiden di antara aku dan Angelo. Jika aku terus ada di sini, dan konflik ini tidak juga belum selesai, maka kehidupan mereka juga akan terus terlibat. Dan aku tidak mau menjadi alasan mereka harus terus – menerus menjaga dan melindungi aku juga. I don’t want them to keep an eye on me forever . . . mau tidak mau, masalah ini harus segera diselesaikan. “Er . . . kami—“ Lucky menyenggol sikutnya, membuat laki – laki itu memutar dua bola matanya. “—aku, berpikir kalau . . . er, bagaimana jika kita mengikuti apa yang dia mau?” “Omong kosong!” Angelo protes sebelum aku bisa berpikir panjang. Dia mencengkeram kepala kursi di belakangku, seperti membentuk sebuah perisai di tubuhku dari belakang. Laki – laki itu menggeram pada saudaranya. “Kau sudah gila? Mengikuti apa yang dia mau? Itu sama saja menanda – tangani kematianmu sendiri. Kita sudah bertahun – tahun selamat darinya, mengindar darinya, melawan dia, dan menolak bertemu dengan pria tidak berguna dan tidak tahu diri itu. And I am not about to start now!” Aku sempat bergidik ngeri, terutama sebab suara marah dan nada rendah namun terdengar seperti membentak itu begitu dekat denganku. Tengkuk aku merinding, seluruh leherku membeku. Aku tahu kalau dia tidak menunjukkan kata – kata itu padaku, tapi tetap saja, rasanya sepetri aku yang baru saja dibentak. Marco membasuh wajahnya. “Aku tahu itu—“ “Kalau kau tahu, maka sudahi konversasi tidak berguna ini.” “Angelo—“ “Tidak.” Potongnya cepat. Aku merasakan tangannya mengelus lenganku, dan ketika aku menoleh, dia menunjuk makanan dengan dagunya, menyuruh aku agar makan lagi. “Habiskan, Muse.” Aku menelan ludah. Selama beberapa saat aku menatapnya, lalu berusaha fokus pada makanan, tapi presensi dua laki – laki di samping meja makan membuat aku kehilangan selera makan. Aku tahu apa yang dibicarakan oleh Angelo benar, namun . . . apa yang dikatakan oleh Marco . . . Aku menaruh sumpitku dan menghadap ke arah Angelo. Pria itu bersiap, dia sudah tahu jika aku akan mengatakan sesuatu yang bodoh atau hal – hal yang akan membuatnya frustasi. Dengan sisa keberanian, aku menaruh tanganku di atas lengannya, dan berkata dengan sangat pelan. “Mungkin Marco ada benarnya,” kataku. Sebelum Angelo bisa protes, aku segera mengangkat satu tangan. “Setidaknya kita dengarkan dulu apa yang dia pikirkan.” “Muse . . .” Sebuah peringatan, atau sebuah panggilan sayang saja, tapi aku tidak membiarkan otak aku mencerna itu. “Dengar, Angelo, di sini tidak hanya kita berdua saja, dan sudah jelas tidak hanya kau saja. Ingat apa yang kau katakan padaku saat kau mengurungku pertama kali?” Alisnya mengerut, dan wajahnya terlihat tersinggung. “Aku tidak mengurungmu—“ “Yes, you kind of did,” potongku cepat, dua alisku naik. Aku menambahkan, “Tapi bukan itu yang penting sekarang. Yang penting sekarang adalah, kau ingat apa yang kau katakan?” “Aku mengatakan banyak hal.” “Itu benar. Kau bilang padaku kalau segalanya rumit. Kalau kau tidak bisa begitu saja memutuskan satu hal. Kalau semua keputusan bukan ada di tanganmu.” Dia menutup mata dan menarik napas frustasi. Ketika dua netra itu terbuka, aku menatap Angelo yang menyerah. “Tapi—“ “Di sini bukan hanya ada kita saja, Angie. Kau lihat? Ada Marco, Lucky, dan saudara – saudaramu yang lain. Keputusan bukan hanya ada di kita saja. Setidaknya, hal paling terakhir yang bisa kita lakukan untuk mereka adalah mendengarkan apa yang mereka pikirkan.” Ketika bahu laki – laki itu turun, aku tahu kalau apa yang aku katakan sudah menembus hati dingin dan kepala batunya. “Baiklah . . .” Aku sudah akan berseru ke arah Marco dan Lucky, namun sebuah tangan yang melingkar di pinggangku membuat aku terpaku dan tediam. “Tapi tidak sekarang,” katanya dengan nada final. Tidak ada ruang untuk argumen. “Muse akan makan dan istirahat terlebih dahulu. Baru kalian bisa mengatakan apa pun itu yang menurut kalian terbaik bagi masalah ini.” Aku mengangguk, terlalu kehilangan kata – kata untuk berbicara sebab Angelo yang secara tidak langsung sedang memeluk aku itu. Marco dan Lucky juga mengangguk, dan sekilas aku melihat Lucky menatap tangan itu di pinggangku. Aku menutup mulut, lalu meraih sepotong sushi agar aku tidak perlu bicara. “Panggil yang lain juga.” Angelo berbisik. “Sudah saatnya kita menyelesaikan ini.” Apa yang dikatakan Angelo membuatku nyaris tersedak. Sesaat, aku merasa kalau aku sedang bersikap bodoh saja. Tapi kata – kata itu menembus partisi hati dan menanamkan sesuatu yang terrasa sangat seperti keraguan dan kesedihan. Apa maksudnya sudah saatnya kita menyelesaikan ini? Apa dia tidak ingin bersama denganku lagi? Apa dia tidak suka jika aku terus – terusan berada di sini? Apa maksudnya menyelesaikan masalah ini, dan hubungan kita selamanya? Apa dia ingin menyelesaikan aku dan dia? Tapi lengan yang melingkar di pinggangku membuat aku tersadar. I will enjoy everything before it ends . . . Walau semua ini seperti sebuah bencana yang besar, tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan putus asa. Tidak dengan semua tangan yang siap melindungi dan mendukung aku kapan saja. I will not go down without a fight. Dan aku yakin Angelo juga akan melakukan hal yang sama. *** “Jadi, apa yang terjadi tadi malam?” tanya Felix tatkala kami semua sudah berkumpul di ruang tamu. Aku duduk di sebelah Angelo, sementara yang lain tersebar di seluruh ruangan, beberapa duduk di bawah, sisanya di sofa – sofa besar kediaman Bronze. “Kalian terlihat seperti baru saja mengalami kejadian hidup dan mati.” Setidaknya dia benar. Kejadian tadi malam memang terasa seperti hidup dan mati. Jika bukan karena Lucky yang terus berada di depanku dan menolak agar mengikuti apa yang laki – laki itu katakan, aku mungkin tidak akan berada di sini sekarang. Tapi bersama . . . aku bergidik ngeri. Angelo seperti bisa merasakan itu sebab satu sekon kemudian, tangannya mengelus lengaku lembut. “Apa tidak ada yang akan menjawab pertanyaanku?” tanya Felix lagi, dua tangan merentang ke atas. “Mereka bisa bercerita kalau kau diam,” gerutu Nicholas. Aku menahan senyum. Serius tidak serius, tujuh bersaudara ini selalu menemukan waktu untuk adu argumen dan berkelahi. Marco membuka mulut, mewakili kami ber – empat dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Aku mendengarkan dengan seksama, sembari merasakan sapuan halus dan tangan Angelo, seperti ingin memastikan kalau aku baik – baik saja sekaligus memberikan rasa proteksi padaku kalau dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi padaku. Apa pun. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Seperti sebuah obat yang manjur, aku segera merasa rileks dan tenang. Marco menjelaskan dengan detail apa yang terjadi, tak ragu mendengar bagian dari Lucky saat mereka sedang berdua. Penjelasan itu memakan waktu beberapa lama, sebelum Marco akhirnya selesai. “Dan sekarang, kita ingin tahu apa opini kalian,” kata Marco, sambil melipat dua tangan di depan d**a. Wajahnya serius, sangat serius, bahkan Lucky yang kerap tersenyum konyol. “Apa lagi yang perlu di bicarakan?” tanya Nicholas. Dia memberikan kami semua tatapan, well it’s obvious, right . . . ? “Maksudmu?” balas Marco. “Temui laki – laki tidak tahu diri itu dan sudahi ini,” jelas Nicholas. Dia mengatakan itu semua seperti baru saja menjelaskan pada murid – muridnya satu tambah satu sama dengan berapa. “Kau ingin semua ini segera selesai, ‘kan?” “Bagaimana bisa kau mengatakan itu semua dengan gampang?” Angelo di sampingku mulai membuka suara. Dia terdenga dingin. “Bertemu dengannya? Kau sadar ‘kan kita sedang membicarakan siapa?” “Tentu saja aku tahu,” balas Nicholas dengan nada yang tenang, tidak ingin membalas api dengan api. “Tapi dengar, jika kau memang ingin pria itu berhenti menargetkan Muse, dengan jelas – jelas menggunakan Muse sebagai alat agar dia bisa mendapatkan atensi kamu, he is using Muse so that he can get to you, kita semua tahu dari kita bertujuh, dia paling menginginkan kamu. Dan apa lagi cara yang paling efisien dari pada bertemu dengannya dan mengakhiri ini semua?” “Apa yang kau pikirkan akan terjadi jika kita bertemu dengannya? Jika aku bertemu dengannya? Aku tinggal datang saja dan mengancam laki – laki itu dan membuat ultimatum kalau dia berani menyentuh Muse lagi, maka dia akan mati?” “Kenapa tidak?” sahur Lucky. Felix mengangguk, begitu juga semua kepala di sekitar kami. Aku menahan napas. Apa yang mereka katakan itu ada benarnya, tapi . . . “Aku tahu ini semua tidak akan semudah itu,” itu dia. “Hanya saja, apa kalian semua tidak lelah?” Lucky menatap semua pria di sekitarnya dan membuang napas panjang. “Aku secara pribadi sudah lelah. Dan kenapa tidak kita gunakan saja kesempatan ini untuk akhirnya berhadapan dengan dia?” “Aku memang sudah mulai lelah dengan permainan tikus dan kucing ini,” sahut Felix. Angelo terdiam selama beberapa saat. Matanya mengobsevasi semua manuver teman – temannya. Tapi ketika tidak ada yang protes, dan menebarkan opini lain, aku tahu kalau konklusi sudah mencapari permukaan. Jadi, ketika dia menatapku dengan seksama dan mengangguk, aku tahu kalau apa yang dia katakan saat itu memang benar adanya. Kalau dia tidak berbohong, dan demi aku, dia rela bertemu dengan laki – laki yang sangat dia benci. Dia rela bertemu dengan laki – laki yang dia hindari selama ini, hanya untuk mengakhiri semua ini, dan memastikan dia tidak akan pernah mengganggu aku lagi. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN