PART 53

1424 Kata
PART 53 “APA KAU benar – benar berpikir kalau ini ide yang bagus?” tanya aku pelan pada Lucky yang sedang duduk di kursi meja makan. Semua orang sudah kembali ke aktivitas masing – masing, sementara aku sedang sibuk mencuci piring bagian aku. Lucky yang masih duduk di meja makan mengunyah dengan cepat dan menatap aku dari kursinya. Pria itu menelan segalanya yang ada dimulut, tapi tak kunjung membuka mulut. Dia tidak berbicara untuk beberapa waktu yang lama, membuat aku merasa tak nyaman. Jadi, aku memalingkan wajah darinya, dan fokus dengan apa yang ada di depanku. Aku berdecak saat aku nyaris menjatuhkan gelas bening panjang yang berat dan licin. “Kenapa kau bertanya begitu?” akhirnya Lucky membuka mulut dan membalas pertanyaan dengan pertanyaan lain. Pria itu mengerjapkan mata padaku tanpa merasa bersalah. Jika dia pikir aku akan melengos lagi, maka dia salah. Aku menahan sorot matanya dengan serius, namun kepala aku berpikir keras tentang bagaimana aku harus menjawab pertanyaan dari pria itu. Setelah beberapa lama berlalu, aku mendengar ada suara langkah kaki turun, namun tidak ada yang datang ke ruang tamu. Aku mengedikkan bahu di depan tempat cuci piring seperti acuh tak acuh. “Aku hanya tidak ingin gagal.” “Atau kau tidak ingin Angelo terluka. Iya, kan?” Lucky menyahut lagi, kali ini suaranya lebih jelas dan lebih terdengar. Dia menaikkan dua alis padaku yang kembali menatapnya lekat. Aku mendengus tapi tak menjawab. “Aku benar. Kau tidak mau sesuatu terjadi pada Angelo.” “Semua orang tidak mau sesuatu terjadi pada Angelo,” balasku kesal. “Aku yakin kalian semua juga merasakan hal yang sama, kan?” “Tentu saja. Kita saudaranya.” “Kalau bukan saudaranya berarti tidak boleh peduli padanya?” balas aku sengit. Aku memutar dua bola mata aku saat Lucky ikut mengedikkan bahu seperti gaya aku tadi. Pria itu melahap lagi sisa makanan di piring sampai habis. Dia menyapu lidahnya di depan bibir. “Tapi kita semua tidak pernah menyembunyikan perasaan dan bersikap seperti tidak peduli pada Angelo,” balas Lucky. Gelas besar yang aku pegang hampir terlepas lagi. Dengan kesal, aku mencuci tangan dan mematikan keran. Aku berniat untuk pergi dan meninggalkan Lucky sendiri, namun pria itu kembali berbicara, “Tenang saja. Apa pun yang Angelo lakukan, itu untuk yang terbaik.” *** ANGELO mungkin tidak akan pernah mengakui kalau apa yang dikatakan olehs saudara – saudaranya itu benar, tapi setidaknya laki – laki itu melakukan apa yang mereka sarankan. Dengan hasil pungut suara yang notabene—well, semuanya ‘sih—setuju dengan usul Marco, tidak lama bagi mereka untuk mencapai konklusi kalau bertemu dengan laki – laki itu, Frans, Frank, Franco, atau entahlah siapa nama dia, adalah ide yang terbaik. Entah bagaimana bisa bertemu dengan laki – laki yang selama ini mereka hindari adalah sebuah ide yang bagus, tapi aku sudah berhenti bertanya - tanya tentang kehidupan mereka yang aneh. Ayolah, ide macam apa yang menyuruh aku untuk tinggal bersama mereka agar jauh dari bahaya? Bukankah bersama dengan mereka selama dua puluh empat jam dan tujuh hari dalam seminggu juga sama bahayanya? Angelo memang tidak suka dengan ide itu, tapi dia tidak punya pilihan lain. Begitu ditanyakan kalau dia punya ide yang lebih bagus atau tidak, laki – laki itu hanya diam. Karena pada dasarnya apa yang bisa dia lakukan? Satu – satunya cara agar Frans, Frank, atau Franco itu tidak mengganggu aku lagi, yah, dengan melenyapkan dia sendiri. Dan aku rasa untuk bisa mencapai perjanjian antara mereka berdua kalau aku tidak boleh lagi dilukai, sama saja dengan negosiasi dengan tikus – tikus jalanan. Tidak berguna dan buang – buang waktu. Karena memangnya apa yang diinginkan paman mereka itu? Semua orang juga tahu satu – satunya hal yang dia inginkan dari Bronze bersaudara. Yaitu bergabung dengan dia. Itu yang sedang mereka hindari selama bertahun – tahun. Lantas, apakah aku yang sangat bodoh atau ini sama dengan hal itu? Bertemu dengan dia? Untuk melakukan apa? Negosiasi bukan? Dan apa yang akan mereka bicarakan? Angelo tidak bisa secara teknis hanya datang dan meminta—dengan kasar tentunya—agar dia berhenti mengganggu aku. “Hey, aku sudah datang, sekarang aku minta kau menjauhi Muse, and we will live happily ever after, okay?” Yah, bahkan di film – film pun tidak terjadi seperti itu. Dan apa yang mereka harapkan? Kalau segalanya akan berjalan begitu lancar lalu tidak ada yang terluka? Tapi memangnya siapa aku untuk protes? Protes meminta ganti kamar tidur saja aku tidak bisa, apalagi mencampuri urusan sebesar ini? Lagi pula, sebagian kecil dari hatiku memang setuju dengan ide itu. Hal ini sudah berlanjut terlalu lama dan terlalu dalam. Aku tiba – tiba diserang oleh laki – laki tidak dikenal dan di tengah publik ramai pula? Dia semakin berani. Dia semakin tidak peduli. Dia semakin gila. Angelo pernah bilang padaku kalau kau bisa menilai seseorang sudah putus asa dan gila dari caranya berani mengambil resiko atau tidak. Dan dengan cara laki – laki itu menodong aku di tengah mal yang dikerumini oleh banyak konsumen, sudah jelas mereka mulai berani. “Apa yang kau pikirknya?” tanya Angelo. Aku menoleh padanya dari kursi santai di ruang tamu. Rintik – rintik hujan membasahi jendela kristal besar di depanku, airnya turun mengalir deras tanpa ada masalah. Sesekali guntur bergemuruh dan kilat menerangi langit sore yang gelap. Aku memberikan tempat bagi Angelo. Laki – laki itu duduk tidak jauh dariku. “Tidak ada,” kataku. “Setidaknya, aku tidak tahu harus bilang apa. Semuanya berjalan menjadi satu di pikiranku. Aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan.” Angelo menganguk. “Aku sering meraskaan itu.” Aku tidak bertanya apa maksdunya, sebab aku tahu, laki – laki ini memikirkan segalanya. Dia memikirkan semua saudara laki – lakinnya, dia memikirkan aku, memikirkan anak buahnya, dan segala macam hal yang menurutnya perlu untuk ditimbang. Angelo itu seperti gudang semua teori dan pikiran. Oraknya seperti tidak pernah berhenti bekerja. Entah aku harus merasa kagum atau sedih dengan fakta itu. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku balik, mengulang inkuiri dia sendiri. Jika dia terkejut sebab senjata makan tua, dia tidak melihatkannya. Pria itu menatap air yang mengalir di jendela, sama denganku. Sesekali burung kecil lewat di luar, menerjang rintik hujan dan angin yang cukup keras. “Tidak ada,” dia tersenyum, menggunakan kata – kataku sendiri. “Secara harafiah tidak ada, sebab aku tidak tahu harus berpikir apa.” “Maksdumu?” kali ini aku bertanya. “Apa yang harus aku pikirkan? Seperti mereka semua berebut untuk mencuri perhatianku. Kau, yang lain, anak buah, pekerjaan ini, laki – laki itu.” “Frans tidak penting untuk kau pikirkan,” kataku cepat. Aku tidak suka jika Angelo harus stres karena dia. Dia tidak pantas untuk masuk dalam pikiran indah laki – laki di hadapanku ini. “Siapa?” tanya Angelo dengan kening mengerut. Aku mengibaskan tangan. “Frans, Frank, Franco itu, entahlah.” Angelo tertawa. Dia benar – benar tertawa. Bibirnya terbuka lebar, tersenyum lebar, tertawa lebar. Dia memegang dadanya, tapi suaranya serak dan aneh, seperti sudah lama tak tertawa dan baru kali ini mengalami fenomena itu lagi. Aku tak bisa menahan untuk tidak ikut tertawa dengannya. Gelak harsa kami meresonasi di dalam ruang famili. Laki – laki itu menatap aku dengan netra yang mengerlip. “Aku berani bersumpah Muse, kau seperti diciptakan hanya untuk membuat hari – hariku lebih baik.” “That’s not so bad, right . . .?” aku tersenyum tulus padanya. Dia membalas senyum itu, lalu meraih tangannku di tangannya. Dia genggam tangan itu dengan erat, dan ketika mata kami saling bertabrakan, aku bisa melihat ketulusan, kejujuran, dan determinasi di dalam dua obsidian cantik itu. “Muse Lee, aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi padamu. Jika kau hilang, maka bumi akan hilang bersamanya. Jika kau dibawa pergi, maka aku akan mencari ke seluruh dunia sampai kau berada di tanganku lagi. Muse, jika aku terluka, maka aku akan membalas siapa pun yang melukai beratus kali lipat lebih parah. Frank will never get to you, kau mengerti itu?” Aku kehilangan kata – kata. Aku tidak tahu caranya berbicara bagaiamana. Aku kehilangan akal dan benak. Hatiku berdegup kencnag. Jadi aku hanya mengangguk. Mengangguk dan mengangguk lagi . . . sebab aku tahu Angelo tidak akan pernah berbohong padaku. Dia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang tidak dia percayai. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Apa pun untuk kamu, Muse. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN