PART 54 “BAGAIMANA, MASIH tidak yakin dengan ide ini?” tanya Lucky saat pria itu masuk ke dalam dapur. Sesaat, aku berpikir untuk melempar teh hangat beserta gelasnya yang baru saja aku buat, tapi aku memutuskan untuk tidak mengabaikan pria itu sebab rasanya aku akan selalu kalah jika terus menggubrisnya hingga tak tahu lagi harus berkata apa. Aku mengangkat sendok dengan mengetuknya tiga kali di pinggir gelas, lalu membuangnya di tempat cuci piring. Aku angkat cangkir teh yang aku pegang dan mencari kehangatan di gelas itu sembelum akhirnya menatap Lucky yang berseringai miring menatap aku di balik konter dapur. “Jadi? Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Lucky lagi. Aku mengumbang pelan. “Hmh . . .” Aku seruput teh hangat itu beberapa kali. “Lebih baik,” jawab aku singkat. Aku menaikkan

