PART 59 ENTAH KENAPA, justru Lucky yang selalu ada di sisi aku beberapa hari belakangan ini. Sosok pria itu selalu muncul di masa – masa aku sedang kehilangan arah. Figur pria itu selalu datang di kala aku merasa sendiri, dan sedang bingung. Saat ini aku sedang duduk di salah satu kursi bar di dapur rumah mereka. Dengan perasaan yang aneh, aku mengaduk teh hangat kesukaan aku di atas konter dapur, menatap marbel putih dan mengkilat di bawah. Saking seriusnya, aku tidak mendengar kehadiran Lucky yang dengan mudah duduk di atas kursi bar tinggi dan menaruh dua sikutya di atas konter dapur. Lucky berpangku tangan dan menatap aku lekat di dua bola mata. Ekspresi wajahnya serius, seperti sedang mencoba membaca pikiran aku yang porak – poranda ini. Aku membuang napas panjang. “Jangan mulai,” k

