ALMEERA-5

1466 Kata
Waktu sudah berganti menjadi pagi. Terlihat Almeera sedang menyapu rumahnya, rutinitas setiap pagi. Pagi-pagi sekali Almeera dan Agam sudah bangun dari tidurnya, melaksanakan ibadah disepertiga malam bersama. Setelah shalat subuh tadi, Almeera tak kembali tidur, tapi membuka email untuk memastikan keadaan toko dan butiknya baik-baik saja. Sedangkan Agam memilih untuk kembali tidur setelah meminum obat. Suaminya itu merasakan pusing secara tiba-tiba. Kini suaminya sedang mandi di kamar atas, setelah Almeera membangunkan Agam untuk sarapan. Drrrt...drrrt... Ponselnya bergetar, ada telpon dari seseorang yang membuat Almeera tersenyum jail. Almeera mengangkat sambungannya dan mendekatkan ponselnya di telinga. "Assalamualaikum?" ucap Almeera. "Wa'alaikumussalam. kamu kemana Meer? Aku cariin dari kemarin gak ketemu. Kamu ngumpet dimana sih? di dalam sumur ya?" seorang pria diseberang sana sedang mengomel pada Almeera. begitulah Almeera, tidak pernah memberitahu kemana ia pergi. Selalu membuat banyak pria yang notabennya adalah sahabatnya, kelimpungan mencari dirinya. Almeera terkekeh "kamu apaan sih uz, kangen ya? Aku bakal pulang kok, tenang aja." ucap Almeera santai seraya melanjutkan acara menyapunya. "Al. Balik gak lo? Ini cafe perlu bantuan lo, jangan ngilang mulu lo kayak hantu. Ribet tahu!" pria lain diseberang sana ikut bersuara. Almeera yang mendengarnya langsung tertawa. Beginilah nasib gadis dikelilingi banyak pria, yang seolah tak bisa hidup tanpa kehadirannya. Ya pasti, dirinyakan Bos. "Hem. Kalian lagi kumpul? kalian kangen ya sama aku?" Almeera membanggakan dirinya sendiri. Almeera semakin tertawa saat banyak pria di telpon sana sedang benar-benar mengamuk mengomelinya habis-habisan. "Al. pulang gak lo, kalau enggak, gue kurung lo digudang bareng tokek nya si fauzan." "Iya Ra, pulang kamu. Ngilang-ngilang mulu, gak jelas banget sih." "Cepet pulang. Sumpah, gue risih denger 2 orang ini bacot mulu kerjaannya, berisik tahu gak?" Almeera tersenyum, kehidupan nya adalah keluarganya. Kebahagiaanya adalah sahabatnya. Senyumnya adalah kesenangan bagi semuanya. "Iya iya. Aku pulang besok atau lusa, lagi ada acara keluarga nih. Maaf ya!" Almeera mulai bersikap layaknya seperti seorang kakak bagi ketiga pria yang kini sedang menghubunginya. "Kamu pulang kampung Ra? kok gak ngajak kita-kita pada, padahal kalau tahu kamu pulang kampung, kita bisa ikut." "Sorry Fauzan, ini acara mendadak soalnya. Ma-aaf banget." sesal Almeera. Dia belum sempat mengatakan dirinya sudah menikah. Almeera akan mengatakannya nanti setelah semuanya selesai. Antara pekerjaan dan kuliahnya. Yang Almeera yakini, mereka hanya akan marah sesaat. "Ya udah sih, cepet pulang aja Al. asal lo tahu, dua bos kunyuk bikin ulah karena gak bisa nemuin lo. Apalagi 2 dokter kesayangan lo itu, udah terkena penyakit malarindu mereka." jelas salah satu dari mereka. Almeera terkekeh "emang iya? Udah ah, titip salam aja buat mereka, aku ada urusan.wassalamualaikum." Almeera langsung mematikan ponselnya, menyimpan kembali di atas meja. Almeera menggelengkan kepalanya. Sudah kebiasaan para sahabatnya jika Almeera pergi tanpa ijin mereka, mereka lebih possesif melebihi keluarganya. Mereka menganggap dirinya seorang adik, menjaga dengan baik seperti seorang kakak. Tak menyangka mereka akan membalas kebaikan ringan yang pernah ia beri dengan begitu besar seperti sekarang. Tapi inilah yang membuat almeera bertahan dari kejamnya dunia. Semua sahabatnya lah yang membuat harinya begitu menyenangkan, membuat dirinya lebih percaya diri. "Sayang?" Agam datang secara tiba-tiba dan memeluk Almeera dari belakang. Almeera terhenyak karena terkejut. Aroma shampo tercium oleh Almeera. Sudut bibir Almeera menunjukan sebuah senyuman, amat tipis. "Bang?" seru Almeera. Agam memeluk Almeera erat, menyimpan dahinya di bahu gadis itu "siapa yang telpon?" tanya Agam penasaran. Agam ingin tahu jawaban istrinya. Bukan Agam menguping, tapi Agam tahu dari awal percakapan mereka, suara laki-laki dari seberang sana begitu banyak. Dan bukan satu orang. Agam dibuat cemburu di hari kedua pernikahannya. Agam pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia belum tahu apa yang sebenarnya. Siapa saja Orang-orang di kehidupan Almeera pun dia belum tahu. "Temen-temen aku, mereka pagi-pagi udah bikin kacau, nanyain aku dimana." kekeh Almeera. Agam mengernyit "seneng banget ya?" tanya agam. Desiran panas mulai terasa. Ada rasa tidak rela melihat Almeera sedekat itu dengan laki-laki lain. Almeera tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Agam. "Mereka adalah salah satu yang membuatku bisa menjadi seperti ini setelah keluargaku bang. Mereka yang bantu aku suksesin Meera Shop," jelas Almeera. Almeera menatap Agam riang " suatu hari nanti, kalau Abang punya waktu senggang, aku mau kenalin Abang sama mereka." Lanjut Almeera begitu antusias. Agam hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Dek?" Seru Agam. Ada satu pertanyaan yang ingin ia pastikan pada Almeera. "Ya?" Almeera membalas pelukan Agam yang masih senantiasa melingkari tubuhnya. Agam sedikit melonggarkan pelukannya "kalau suatu saat nanti aku memintamu memilih antara aku dan sahabatmu, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Agam. Almeera terdiam. Pemikirannya belum sampai sana, apalagi dihadapkan dengan pilihan antara cintanya dan kebahagiaan nya. Almeera menatap agam lekat, tak menyangka Agam akan mempertanyakan hal seperti itu. Al tidak menyalahkannya atau marah, hanya saja Al masih terkejut. Al mengerti karena suaminya belum mengenal dirinya dengan baik, jadi tidak ada salahnya Agam bertanya seperti itu. "tergantung. Kita lihat nanti." ujar Almeera. Agam dibuat bingung oleh istrinya. Kini almeera sudah lepas dari pelukan Agam, sedang pria itu masih terdiam. "Kenapa di hari pernikahan kita yang baru 2 hari ini, kamu sudah membuatku penasaran dengan kehidupanmu, Almeera. kamu yang bersikap cuek berubah periang setelah menerima telepon dari orang yang kamu sebut sahabat seperti itu membuatku bertanya-tanya, persahabatan semacam apa yang kamu jalani. Aku ingin mengetahuinya." gumam Agam dalam hatinya. *** Almeera dan Agam kini sedang duduk santai di teras rumah seraya menikmati secangkir coklat dingin. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya pekerjaan yang kini menjadi fokus mereka. Almeera dengan laptopnya. Beberapa menit lalu sebuah email masuk. Ada sebuah pesanan gaun pengantin dengan deadline tiga bulan ke depan. Belum lagi Email yang masuk untuk memboking cafenya. Almeera tersenyum, cafe nya akan dijadikan tempat lamaran. Sedang Agam sibuk membalas pesan dari para dokter dan salah satu atasannya. Banyak hal yang terjadi selama Agam tidak ada. Agam pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah meminta izin untuk cuti, walau tidak lama. "Bang?" Panggil Almeera. "Kenapa?" Agam menoleh pada Almeera. Almeera berpikir sejenak, kemudian menunjukan sebuah desain ruangan pada Agam. Agam yang melihatnya tak mengerti, kemudian beralih menatap Almeera. "Menurut Abang, gimana bagusnya untuk cabang baru cafe aku?" Ujar Almeera menjelaskan, "yang ini atau yang ini?" Almeera menggulir gambarnya, menunjukan sebuah ruangan bernuansa modern dan out thor. Agam mengangguk mengerti. Rupanya Almeera ingin meminta usulannya untuk cabangnya yang baru. Agam tersenyum senang karena Almeera mau mengikut sertakan dirinya dalam pekerjaannya. Almeera percaya padanya. Agam kembali meneliti gambar yang istrinya tunjukkan " semuanya bagus. Tapi, kenapa tidak kamu gabungkan saja. Bukan kah suasana luar ruangan lebih banyak diminati anak muda?" Almeera mencerna usulan Agam. "Kamu desain lagi mau seperti apa dibagian luar. Buat senyaman mungkin, entah itu dengan menjadikannya taman atau tempat nongkrong anak-anak. Di ruangan juga enak. Tapi akan ada rasa bosan, karena tempat dan suananya tidak akan berubah." Jelas Agam lagi. Almeera mengangguk mengerti. "Oke, aku akan coba desain lagi penempatannya. Aku akan ambil usulan Abang, biar nanti anak buah aku yang urus." Agam tersenyum. Istrinya menerima dengan baik rupanya. Bagaimana Agam tidak terpesona dengan sosok Almeera. Dia sangat luar biasa. "Dek?" "Ya?" "Kenapa kamu tidak mengambil jurusan desain arsitektur atau desain interior saja. Abang lihat, kamu lihai dalam bidang ini. Gambaran dan penelitianmu juga sangat jelas dan teliti." Almeera menatap Agam, laptop di pangkuannya ia tutup dan simpan di atas meja. "Awalnya aku juga mau ambil itu, tapi kayaknya aku ragu buat ambil target. Ini agak susah buat aku." Jawab Almeera membuat Agam terheran. Agam mengernyit "target?" Almeera mengangguk pelan "iya. Setiap apa yang aku kerjakan, aku target dan lihat berapa banyak resiko yang akan terjadi. Aku takut jika harus berhubungan dengan tempat tinggal. Benar tidaknya aku kurang tahu, tapi ini menurut logika aku dan dari yang aku lihat, ya seperti itu. Kalau salah saja dalam perhitungan, itu akan jadi masalah besar dan bencana. Beda lagi kalau masalah interior, aku bisa saja menyusun dan memadukan warna, mana yang cocok dan tidak. Cuman ya, aku gak percaya diri aja. Banyak hal yang belum aku tahu. Keahlian ini hanya untuk aku pribadi, kalau untuk dijadikan pekerjaan, tidak semua orang akan menyukainya. Kadang kita akan sulit melihat atau mengerti apa yang di mau klien. Beda lagi kalau perancang busana, aku sedikit tahu soal itu. Jadi aku memperdalam dibagian sana." Jelas Almeera panjang lebar. Agam mengelus dadanya. Agam menatap takjub istrinya. Almeera begitu banyak pertimbangan dengan apa yang ia ambil untuk masa depannya. Sedewasa itu istrinya. Sedang asyik berbincang-bincang, perhatian mereka teralihkan dengan kehadiran seorang perempuan cantik berhijab syar'i. Perempuan itu memarkirkan kendaraan roda duanya dipekarangan rumahnya. Yang membuat Almeera bingung adalah ada urusan apa perempuan itu datang kemari. Almeera kenal dia, tapi hanya sebatas kenal nama. Dia istri dari mantan pacarnya. Almeera merasa tidak memiliki urusan dengan dia ataupun suaminya. Tapi kenapa dia tiba-tiba datang dengan wajah marah seperti itu. Almeera dan Agam saling tatap, Agam menggerakkan alisnya seolah bertanya siapa dia. Almeera hanya menggedigkan bahunya, pertanda diapun tidak tahu. "Almeera?" panggil perempuan cantik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN