***
Malam sudah tiba. Almeera lebih memilih pulang kerumah yang dimiliki nya. Rumah yang ia bangun dengan uang jerih payahnya. Selama apapun ia tinggal di kota, ada saat dimana ia membutuhkan ketenangan dengan pulang kerumah.
Ya. Almeera memiliki rumah sendiri, agak jauh jaraknya dengan rumah sang kakak, hanya butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki, 5 menit menaiki motor. Keluarga dari suaminya memilih untuk menginap di rumah kakaknya. Berakhir hanya dia dan Agam yang pergi. Apakah ini bisa disebut waktu berdua untuk berbulan madu?
Ada rasa khawatir dalam diri Almeera. Untuk pertama kalinya ia serumah dengan seorang lelaki. ia merasa canggung meski itu dengan suaminya sendiri. Mereka hanya berdua, pengantin baru, lalu apa yang akan terjadi?
Almeera ada di atas kasur, terduduk rapi dengan ponsel yang terus ia otak-atik, ia menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka. Almeera belum sadar jika sedari tadi Agam sudah keluar dan terus menerus menatap Almeera yang masih asik dengan ponselnya.
Almeera terlalu serius, pasalnya ia sedang merancang busana di sebuah aplikasi. Kegiatan yang selalu ia lakukan diwaktu senggang sebagai penghilang jenuh.
Tampak wajah kesal dari Almeera, busana yang ia rancang selalu memiliki kekurangan, tidak sesuai dengan yang ada di bayangan nya. Agam menghampiri Almeera dan ikut naik ke atas kasur, duduk disamping istrinya. Agam merasakan debaran jantung yang luar biasa.
Agam tersenyum. Ia duduk sangat dekat dengan Almeera hingga bisa melihat wajah Almeera yang sangat cantik, pipi cuby, wajah yang imut, mata sedikit bulat, ditambah dengan penggunaan make up yang tidak berlebihan. Terlihat jelas wajah Almeera yang awet muda.
"Dek?" panggil Agam.
"ALLAAHU AKBAR," Almeera telonjak kaget, ia sampai tak sadar jika ponselnya entah terlempar ke arah mana.
Almeera menoleh ke samping kanannya, dia terkejut saat mendapati Agam sudah ada disampingnya.
"Abang dari kapan disini?" tanya Almeera.
"Dari tadi." jawab Agam.
"Kok aku gak sadar bang?" tanya Almeera dengan wajah polosnya.
Ingin rasanya Agam mencubit pipi sang istri, apalagi saat ini Almeera sedang mengetuk-ngetuk pipinya, sedang berpikir sendiri.
"Kamu kan sibuk."
Almeera diam.
"Kamu gak mandi?" tanya Agam.
Almeera melebarkan senyum dan menunjukkan deretan giginya.
"Ini juga mau mandi." Almeera merangkak dan melewati Agam, wanita itu turun dari ranjang. Dengan anggun tangannya mengangkat gamis yang dikenakannya. Kemudian berlalu memasuki kamar mandi.
Agam tersenyum, ia teringat dengan tingkah Almeera yang benar-benar polos, lucu, dan humoris. Dia pikir Almeera hanya orang yang cuek, rupanya tidak seperti perkiraannya.
Agam bersyukur mendapatkan istri seperti Almeera, bisa dikatakan limited edition. Satu-satunya.
Agam memilih untuk memainkan ponsel, takut jika ada notif dari rumah sakit.
Agam salah satu dokter di salah satu rumah sakit ternama di Bandung. Terkenal dengan dokter tinggi dan tampan, dia merupakan dokter umum yang sebentar lagi akan melanjutkan studi untuk menjadi spesialis bedah.
Dokter yang banyak di kagumi oleh para perawat dan dokter wanita di sana.
Agam melirik jam dinakas, sudah menunjukkan pukul 07.30 malam.
Bersyukur nya, sebelum pulang kerumah Almeera, mereka sudah melaksanakan sembahyang terlebih dahulu rumah teh Asfa, kakak Almeera.
Kreket.
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Almeera yang baru keluar. Agam terkejut, matanya tak lepas dari tubuh Almeera. Agam melongo hebat, mulutnya sedikit terbuka.
'Oh ya Allah, cobaan mu begitu berat bagi hamba.' gumam Agam.
Agam menelan saliva nya dengan susah payah, jantungnya berdetak lebih cepat, deru nafasnya memburu.
Di sana, Almeera berdiri menatap Agam aneh.
Siapa yang nggak aneh coba, Almeera keluar dari kamar mandi memakai baju tidur lengan panjang bergambar Upin Ipin. Bagaimana Agam tidak melafal kalimat istighfar. Ingat, ini malam pertama mereka.
Tidak maukah Almeera memberi kejutan kepada Agam, seperti memakai lingeri, atau pakaian seksi lainnya untuk menggoda Agam. Bukannya terkejut melihat kemolekan tubuh istrinya, dia malah mengenakan pakaian tertutup dengan animasi anak.
Haruskah Agam, marah atau tertawa? Agam sampai menepuk keningnya sendiri. Heran.
Ini adalah cobaan bagi Agam. Pasalnya dia belum berani untuk meminta hak, dia juga tahu kalau Almeera belum siap akan hal itu.
Almeera mendekat, naik ke atas ranjang dan duduk disamping Agam.
Dengan segera Agam memalingkan wajahnya. Agam pria normal, dan dia diberi cobaan oleh istrinya sendiri. Almeera memang tak mengenakan pakaian seksi, tapi tetap saja, nalurinya sebagai lelaki melintas dalam pikiran.
Agam mulai panas dingin, pria itu berkeringat, bahkan mulai mengucur di bagian pelipisnya. Agam merasa gerah, padahal pria itu baru saja mandi.
Perasaan Agam semakin menjadi saat Almeera dengan sengaja mendekatkan wajah ke arahnya.
Sangat dekat, deru nafas Almeera sampai terasa di pipi Agam. Dengan kuat Agam mengepalkan tangannya menahan hasrat.
"Abang sakit?" tanya Almeera seraya mengusap cairan yang ada di pelipis sang suami.
Agam terkejut dengan sikap Almeera. Tak menyangka jika istrinya bisa se perhatian itu. Ia langsung menatap Almeera, wajah Almeera sangat dekat dengannya, Agam bisa melihat bola mata Almeera yang coklat terang. Mereka saling menatap untuk beberapa menit, Almeera lebih dulu memalingkan wajahnya dengan rona pipi yang memerah.
Melihat Almeera merona, Agam tersenyum bahagia.
"Kamu cantik."
"Eh," almeera langsung menatap Agam.
Mereka kembali saling diam, tanpa mengubah posisi mereka.
"Dek?" panggil Agam.
"Hem?"
"Kamu, gak keberatan kan tidur seranjang sama abang?" tanya Agam sembari menatap Almeera yang juga menatapnya.
Almeera mengangguk "Gak papa. Udah sah kan? Masa sudah menikah, Abang harus tidur dikamar lain." jawabnya santai.
Agam tersenyum nyaman. Almeera nampak cantik sekali. Tak salah dirinya memilih Almeera. Dia perempuan baik. Agam kira, Almeera akan risih dengan kehadirannya. Pertemuan singkat mereka, membuat keduanya tak sempat saling mengenal lebih dalam. Jadi kini Agam harus tahu bagaimana sikap dan kebiasaan Almeera. Dia harus lebih mengenal Almeera mulai sekarang.
Agam menghela nafasnya.
"Dek?" panggil agam lagi.
"Ya?" jawab almeera singkat.
"Soal resepsi?" tanya Agam.
Almeera menutup tubuhnya dengan selimut, kemudian menatap Agam "terserah abang aja. Abang ada waktu kita adain resepsi. kalau enggak ada, gak usah pake resepsi juga gak masalah, toh kita nikah sudah secara agama dan negara." jelas Almeera seraya membaringkan tubuhnya.
Agam masih memperhatikan Almeera. Tidak ada protes dari Almeera. Setelah pembicaraan sebelum menikah pun, Almeera tidak banyak menuntut ini itu. Wanita itu menolak mengadakan resepsi setelah tahu Agam seorang dokter. Bukan apa-apa, Almeera bilang akan mengijinkan Agam langsung pulang ke kota setelah acara akad selesai. Tapi, bagaimana itu bisa terjadi, masa baru menikah langsung ditinggal.
Almeera takut Agam sibuk. Almeera pun tak menginginkan banyak hal pada Agam. Hanya satu yang ia ingat kala menanyakan mahar apa yang ia minta.
"Mahar seperti apa yang kamu inginkan, dek?" Tanya Agam hati-hati.
Almeera terdiam, menatap Agam dalam "bolehkah kesetiaan dijadikan mahar?"
Kening Agam mengkerut, tidak mengerti dengan apa yang Almeera katakan. Kesetiaan seperti apa.
"Maksud, ade?" Almeera menggeleng seraya tersenyum "tidak. Aku tidak meminta apapun. Beri saja aku mahar dengan kemampuan abang, selama itu tidak merendahkan harga diri aku." Kata Almeera yakin.
Kini Agam tahu kenapa Almeera tidak meminta mahar yang aneh. Ternyata Almeera punya segalanya. Ingin rasanya Agam tertawa. Ia menikahi gadis dengan kesuksesan yang melampauinya.
Agam kembali menghela nafasnya. Benar kata Almeera, tapi setidaknya setiap gadis yang menikah menginginkan resepsi, kenapa Almeera dengan santainya tak masalah dengan tidak adanya resepsi.
Agam ikut membaringkan tubuhnya disamping Almeera, gadis itu sudah menutup matanya. Terdengar deru nafas yang teratur, Almeera sudah tidur.
Agam memposisikan tangannya di bawah kepala sebagai bantalan, matanya menatap ke arah langit-langit kamar.
Banyak hal yang ingin ia tahu tentang istrinya, dari mulai kebiasaan, tingkah, sikap dan sifat. Agam dibuat takjub dengan apa yang dimiliki Almeera di kampung halamannya ini. sebuah rumah besar tingkat dua dengan gaya interior sederhana namun mewah, dan sebuah toko pakaian disamping rumah sang kakak.
Agam melirik Almeera "selamat tidur istriku, tidur yang nyenyak, mimpi indah ya." bisik nya. Belum satu menit Agam menutup matanya, sebuah tangan melinggari tubuhnya dengan erat. Jantungnya kembali bereaksi. Agam membuka matanya dan menoleh pada Almeera, istrinya belum tidur ternyata.
Almeera menatap dalam mata Agam, kemudian menunduk malu walau dengan tubuh masih memeluknya erat. Almeera mulai merasakan kenyamanan.
Sebuah bisikan dari mulut Almeera terdengar oleh Agam "Maafin aku ya bang, hari ini aku belum bisa ngasih hak kamu." Ujarnya sendu. Tapi kemudian "Tapi, kalau Abang mau malam ini juga gak papa. Aku siap."
Agam tersenyum disertai usapan lembut di kepala istrinya. Yang awalnya ia sulit menahan nafsunya, kini ia mendapatkan ketenangannya kembali hanya dengan kata-kata Almeera barusan. Dia tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi.
"Gak papa. Kapan-kapan juga bisa. Lagian kamu pasti capek kan?" Ujar Agam lembut.
Almeera tersenyum dan mempererat pelukannya "makasih, Abang."