Akilla berbalik dan pergi meninggalkan Zayyan, dia malu menjadi bahan tontonan orang-orang, dia lalu berjalan ke arah jalan raya, untungnya sebuah taksi langsung terlihat dari arah kejauhan. Dia lalu mengarahkan tangan kanannya menyetop taksi.
"Dengerin aku dulu dong, Yaang. Aku bisa jelasin sama kamu," ucap Zayyan.
Akilla diam tak berucap, dia hanya menatap Zayyan dengan pandangan kesal.
"Minggir!" ucap Akilla mendorong kasar d**a Zayyan yang berdiri di sampingnya itu saat mobil taksi yang tadi dia hentikan itu sudah berada di depannya, dia lalu masuk ke dalam mobil taksi. "Jalan, Pak."
Mobil taksi yang dinaiki Akilla itu akhirnya melaju , Akilla duduk bersandar dan memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian.
"Mbak? Kayaknya mobil di belakang ngikutin deh, apa jangan-jangan Masnya yang tadi ya?" tanya supir taksi.
Akilla sontak langsung menoleh dan melihat ke arah belakang, terlihat mobil yang tak asing Akilla lihat itu melaju lumayan kencang.
"Itu kan mobilnya Zayyan! Astaghfirullahaladzim ... itu orang nyebelin juga ya!" gumam Akilla.
"Itu pacarnya bukan, Mbak? Kita berhenti aja apa gimana?" tanya Supir taksi.
"Jangan berhenti, Pak. Jalan aja terus, dia orang jahat! Bukan pacar saya!" ucap Akilla kembali terduduk tegak lagi, "Kalau bisa jalannya lebih cepet aja ya, Pak! Saya takut soalnya sama itu orang."
"Orang jahat? Apa gak sebaiknya telpon polisi aja, Mbak?"
"Hm? Emmhh ... gak usah, Pak. Heee ...." Akilla tersenyum menyeringai. "Bapaknya jalan aja terus, cuma sebisa mungkin jangan sampe mobil di belakang berhasil kejar kita."
"Baik, Mbak."
Akilla beberapa kali melihat ke arah belakang saat mobil yang di kendarai Zayyan itu semakin melaju cepat. Dia lalu melihat ke arah depan lagi. "Pak? Kalau bisa jangan sampe kejebak di lampu merah ya." ucap Akilla melihat ke arah angka-angka di lampu lalu lintas.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya menakuti taksi yang dinaiki itu terjebak di lampu merah dan nanti Zayyan malah akan membuat drama baru yang akan membuatnya semakin malu.
Beberapa detik kemudian.
"Yes! Good, Pak!" ucap Akilla saat mobil taksi yang dia naiki itu berhasil menerobos dan tak terjebak di lampu merah. Akilla lalu melihat ke arah belakang, mobil Zayyan terhenti tepat di paling depan lampu merah. "Rasain! Nyebelin sih!" ucap Akilla.
Akilla lalu kembali duduk bersandar lagi dan memejamkan mata mulai tenang. Dan beberapa menit kemudian lagi, mobil yang Akilla naiki itu akhirnya terhenti di depan pintu pagar rumah kost yang Akilla sewa.
Akilla mengambil uang dari dalam tas lalu memberikannya pada supir taksi. "Makasih ya, Pak."
"Sama-sama, Mbak."
Akilla lalu keluar dari taksi dan berjalan ke arah pintu pagar besi yang tingginya sekitar 2 meter.
Sebuah mobil yang tadi mengikuti Akilla itu tiba-tiba saja berhenti di depan pagar.
"Astaghfirullahaladzim! Ini orang apa gak bisa bikin aku tenang? Udah bikin darah tinggi, sekarang malah bikin kesel lagi!" gumam Akilla.
"Yaang?" panggil Zayyan setelah keluar dari mobil, dia mendekati Akilla dan langsung memegang telapak tangan Akilla saat sudah berada 1 langkah di depan Akilla.
"Apaan sih! Kita udah putus ya! Gak usah pegang-pegang!" ucap Akilla seraya melepas dengan kasar tangan Zayyan.
"Aku minta maaf, aku akui kalau aku salah, aku janji gak akan khianatin kamu lagi, gak akan duain kamu lagi dan gak akan nyakitin kamu lagi, tapi jangan putus ya? Aku sayang sama kamu, Kil. Aku gak mau kita bubar dan udahan, aku masih mau ada di samping kamu," ucap Zayyan.
"Yang sebelum-sebelumnya kamu juga ngomong kayak begini, Zay! Aku percaya, maafin kamu dan kasih kamu kesempatan, tapi gak ada perubahan sama sekali! Kamu masih ngulangin kayak gini! Kalau sekarang aku maafin kamu dan nerima kamu lagi, itu artinya aku gila dan gak waras! Ya masa aku nerima lagi laki-laki yang udah ngelakuin kesalahan yang sama! Mending kalau cuma sekali atau dua kali, lah ini kamu lebih dari sering! Aku capek loh dibikin malu terus sama kamu di pinggir jalan! Jadi udah ya ... kali ini aku mau udahan aja! Aku capek ngelabrak kamu terus sama perempuan lain, Zay!"
"Sayang–"
"Aku mau hidup aku tenang!" sela Akilla memotong, "Aku beneran capek dihantam kanan kiri untuk putus sama kamu karena sikap kamu yang kayak begini, aku capek dinasehatin! Aku beneran capek ngadepin kamu! Jadi udah ya ... udahan aja," ucap Akilla.
"Enggak, aku gak mau, Kil." ucap Zayyan kembali meraih pergelangan tangan Akilla namun Akilla langsung melepasnya lagi.
Wajah Zayyan juga sudah terlihat pucat pasi saat kali ini Akilla sudah tak lagi langsung memaafkannya begitu saja seperti sebelumnya.
"Aku mau menikmati hidup! Gak mau pusing mikirin kamu! Jadi sekarang kamu boleh pergi dan nikmatin juga hidup kamu! Terserah kamu mau jalan sama satu perempuan, dua perempuan, tiga perempuan atau bahkan sepuluh pun silahkan! Aku udah gak peduli! Semoga nanti ada perempuan yang sabarnya ekstra buat nerima kamu yang kayak begini! Jujur kalau aku sih enggak! Aku udah gak kuat sama kamu! Jadi udah ya ... jangan ganggu aku lagi! Kita udahan aja," ucap Akilla, dia kembali memegang pintu pagar besi dan mendorongnya.
"Enggak, Kil! Aku gak mau putus! Tolong dengerin aku, Yaang. Aku janji sama kamu ini kali terakhir, aku gak akan selingkuh lagi, gak akan main perempuan lagi dan aku bakalan setia sama kamu, aku minta maaf, Sayang." ucap Zayyan memegang pintu pagar besi yang sudah tertutup rapat dan dikunci oleh Akilla.
"Pulang dan jangan temuin aku dulu ya, aku lagi males banget liat muka kamu!" ucap Akilla, dia lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah kostnya.
"Aku gak akan pulang sampe kamu mau maafin aku! Pokoknya kita belum putus!" ucap Zayyan setengah berteriak.
"Bodo amat!" gumam Akilla berjalan masuk.
Akilla menutup rapat pintu rumah kostnya, dia lalu berjalan ke arah pintu kamarnya yang berada di lantai 2.
Tap tap tap
Ceklek
Akilla melempar kasar tas kecilnya ke atas meja riasnya, lalu setelah itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
"Akhirnya ... aku bisa melakukan yang seharusnya aku lakukan sejak dulu! Lagian kenapa sih, Kil? Udah diselingkuhin beberapa kali bisa-bisanya masih mau dan maafin! Kali ini enggak! Jangan! Cari yang lebih oke dari dia!" gumam Akilla.
Huuuhhh
Akilla menghembuskan napasnya dengan sangat kasar lalu setelahnya dia memejamkan mata. "Mari kita nikmati hidup ini tanpa ada cinta!" gumam Akilla dengan kedua tangan yang terentang di atas kasur.
Bersambung