Beberapa bulan kemudian.
Rendi memasukkan 2 koper berukuran besar ke dalam bagasi mobilnya, dia juga menaruh 2 kardus berisi barang-barangnya di kursi penumpang di belakang, lalu setelahnya dia membuka pintu mobil pengemudi.
Rendi melajukan mobilnya keluar dari basement apartment yang hampir 3 tahun ini menjadi tempat tinggalnya, menjadi tempatnya beristirahat. Dia meninggalkan apartemen itu karena akan pindah ke Bandung, memulai hidup barunya disana.
Dia pikir semua ucapan Shelia sekitar 2 bulan yang lalu, yang mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Syaren itu salah, nyatanya semua yang dikatakan oleh Shelia itu benar adanya.
Nyatanya dia memang benar kata orang, pria dan wanita menjalin persahabatan tidak akan pernah ada yang murni bersahabat, salah satu pasti akan berharap. Dan sekarang yang berharap itu Rendi, sayangnya cintanya pada Syaren bertepuk sebelah tangan.
Wanita itu memutuskan menikah dengan sahabatnya yang lain, yaitu Rafael.
Rendi, Syaren dan Rafael bersahabat. Dan yang saling jatuh cinta adalah Syaren dan Rafael, sedang cinta Rendi pada Syaren bertepuk sebelah tangan.
Pernikahan Syaren dan Rafael bahkan sudah berlangsung 1 bulan yang lalu dan saat ini keduanya tengah menikmati bulan madu di Swiss.
Rendi berusaha untuk tetap tegar, berusaha menerima dan berdamai dengan keadaan, nyatanya hatinya tidak sekuat itu. Hatinya hancur melihat wanita yang dia cintai menikah dengan yang lain. Hal gila bahkan sempat terpikirkan oleh Rendi untuk bersikap egois, ingin merebut Syaren sari Rafael, tapi nyatanya hati nuraninya tidak bisa sejahat itu.
Daripada terus merasa perih sendirian melihat kebahagiaan Syaren dengan Rafael, Rendi akhirnya memutuskan untuk pergi dari kehidupan Syaren dan Rafael. Lalu memulai hidup baru di kota yang baru dengan orang-orang yang baru.
Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, dia menatap lurus dan fokus pada jalanan saat mobilnya itu masuk ke dalam tol yang mengarah ke Bandung.
"Aku tidak menyangka kalau aku akan benar-benar meninggalkanmu, Sya. Kata-kata meninggalkan dan pergi dari kamu biasanya hanya ancaman saja, tapi sekarang? Aku benar-benar pergi meninggalkan kamu," gumam Rendi.
Rendi menelan salivanya, dia memegang antara leher dan juga d**a yang terasa perih dan sesak.
***
Klak!
Rendi menutup pintu mobilnya setelah berhasil memarkirkan mobil di depan sebuah restoran di daerah Bandung kota. Dia baru saja selesai membereskan semua barang-barangnya di apartemen barunya, perutnya terasa lapar setelah seharian beres-beres.
Langkah Rendi terhenti saat melihat dari arah kiri yang terlihat sangat ramai. "Ada apaan sih? Kok rame-rame," gumam Rendi.
Seorang pria dari arah keramaian itu berjalan ke arahnya hendak berjalan melewatinya. Karena penasaran Rendi sontak langsung bertanya pada si pria.
"Mas, Mas? Itu ada apa? Kok rame banget?" tanya Rendi.
"Aaah ... itu, ada laki-laki yang ketahuan selingkuh sama pasangannya, tapi yang lebih galak kayaknya malah selingkuhannya, Mas. Pas dilabrak bukannya minta maaf atau minimal pergi biar gak jadi pertengkaran, eh malah nantangin. Yang diselingkuhin minta udahan dan mau pergi, laki-lakinya ngejar, selingkuhannya gak terima," jelas pria itu.
"Aahh, gitu ...," Rendi mengangguk mengerti dengan pandangan masih mengarah ke arah keramaian itu. "Oke deh, makasih ya, Mas."
Pria itu tersenyum ramah dan mengangguk, lalu setelahnya langsung pergi berjalan melewati Rendi lagi.
"Penasaran, samperin bentar ah ... pengen tau orang berantem karena selingkuh kek gimana," gumam Rendi mendekati keramaian itu.
Saat jaraknya sudah sekitar 3 meter dari keramaian itu, Rendi mengerutkan alis saat melihat seorang wanita yang berdiri menyamping, wanita itu terlihat diam dan memandang datar pria yang tengah banyak mengatakan kata di depannya, sedang satu wanita menatap tajam si pria.
"Yang mukanya galak keknya itu selingkuhannya, terus yang diem keknya yang diselingkuhin," gumam Rendi menebak.
Rendi mengerutkan alis saat melihat wanita yang terdiam, dia melihat dengan seksama wanita itu. "Eh ... kok kek kenal?" gumam Rendi lagi, dia lalu hendak melangkahkan kaki mendekati wanita itu, namun seorang wanita tiba-tiba saja datang dan menepuk bahunya. Rendi sontak langsung menoleh dan melihat ke arah wanita itu.
"Mas, Mas?" panggilnya.
"Iya? Kenapa, Mbak?" tanya Rendi.
"Itu mobil Masnya bukan?" tanyanya seraya menunjuk ke arah mobil jenis sedan berwarna hitam.
"Ahh, iya. Kenapa, Mbak?" tanya Rendi.
"Boleh dimundurin sebentar gak, Mas? Mobil saya sebelahnya, saya mau keluar tapi saya gak bisa masuk soalnya mobil Masnya terlalu deketan sama mobil saya, kalau dipaksa buka pintu takutnya nanti malah sama-sama lecet mobilnya," ucap Wanita itu.
"Ahh ... Ya Allah, boleh, Mbak. Maaf ya ...." ucap Rendi, dia melihat ke arah keramaian tadi sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya lagi ke arah mobil yang tadi dia parkir.
Beberapa menit kemudian setelah Rendi selesai memarkirkan lagi mobilnya.
"Udah! Sempurna! Gak bikin orang susah lagi," gumam Rendi melihat mobil yang baru saja dia parkirkan kembali secara sempurna, dia lalu berbalik badan dan ternyata sudah tak ada lagi keramaian tadi. "Lah? Berantemnya udahan? Gak seru amat, baru juga mau kepo!" ucap Rendi, "Ck! Tapi, niat aku kan mau makan! Bukan nonton drama rumah tangga orang, ngapain nontonin kek begituan? Rendi, Rendi!" gumam Rendi seraya menepuk pelan kepalanya dengan telapak tangannya, lalu setelah itu melangkahkan kaki ke arah pintu utama keluar masuk restoran.
***
Seorang wanita bernama Akilla Fayana berjalan ke arah meja yang berada di luar restoran, seorang perempuan dan laki-laki tengah terduduk mengobrol seraya tertawa bersama.
"Gak ada capek-capeknya ya ini orang, bikin masalah terus perasaan!" gumam Akilla, dia melangkahkan kaki cepat.
Saat dia sudah berada di samping pria itu, Akilla mengambil satu gelas orange juice di atas meja, lalu mengarahkannya pada wajah si pria.
"Apa-apaan ini?" Pria itu bangun dari duduknya dan menatap Akilla.
"Apa? Mau apa hah?" tanya Akilla dengan nada sinis.
Pria itu terlihat kaget dan menelan salivanya saat melihat Akilla. Sedang wanita yang duduk bersama pria tadi langsung bangun dari duduknya juga, berdiri tegak dan pandangannya terlihat kaget.
Beberapa orang yang sama tengah terduduk juga langsung melihat ke arah mereka, bukan hanya para pengunjung restoran tetapi orang yang berlalu lalang hendak lewat juga menghentikan langkah dan menonton.
"Yaang? Kok kamu ... ada di sini?" tanya Si Pria pada Akilla dengan nada gugup.
"Kok kamu ada di sini," ucap Akilla mengikuti ucapan si pria dengan nada meledek, dia menatap kekasihnya itu dengan mata yang memicing kesal.
"Kamu ikut aku ya, aku bisa jelasin kok sama kamu, dia temen aku, bukan siapa-siapa," ucapnya seraya meraih telapak tangan Akilla, namun Akilla langsung menghempaskannya.
"Bukan siapa-siapa? Kok kamu gitu sih, Zay? Kamu bilang kamu cinta sama aku dan udah gak ada rasa sama dia, kok sekarang beda lagi ngomongnya?" Wanita yang berdiri di depan Zayyan itu bersuara.
"Diem kamu!"
Akilla semakin memicingkan mata. "Dua-duanya sama-sama gila!" gumam Akilla, dia lalu menatap kekasihnya lagi, "Aku mau kita selesai!" ucap Akilla, dia lalu mengambil 1 gelas orange juice lagi di atas meja, lalu setelahnya mengarahkannya ke wanita yang bersama dengan kekasihnya. "Makan tuh! Gatel sih jadi perempuan!" ucap Akilla dengan nada sarkas lalu setelahnya dia langsung berbalik dan pergi.
"Yaang? Yaang? Tunggu dong, aku minta maaf." Pria bernama Zayyan itu melangkahkan kaki mengejar Akilla.
Sedang wanita yang tadi Akilla siram itu merasa tidak terima, dia lalu berjalan cepat mengejar Akilla dan juga Zayyan, lalu saat jaraknya semakin dekat dengan Akilla hingga berdiri dibelakang Akilla, dia langsung meraih rambut Akilla dan menariknya kasar.
"Ahh aww ... lepas!" ucap Akilla.
"Syif? Kamu apaan sih? Lepasin gak? Kasian Akilla!" ucap Zayyan berusaha melepaskan tangan wanita bernama Syifa di rambut Akilla.
"Wanita gila! Wanita sialan! Lepas!" ucap Akilla. Tak mau kalah, dia juga meraih rambut si wanita dan menariknya dengan kasar, membuat Zayyan kebingungan harus bagaimana.
Beberapa orang datang membantu Zayyan, sedang sisanya menonton pertikaian itu.
"Udah ngerebut laki orang, bukannya minta maaf malah lebih galak!" ucap Akilla dengan nada sarkas dan kesal saat Zayyan berhasil meraih tubuhnya dan menjauh dari Syifa. "Dasar gak tau adab! Gak punya otak! Gak punya pikiran! Gak punya malu! Gatel! Nama doang Syifa, kelakuan kek Devil!"
"Yaang?"
"Diem kamu!" ucap Akilla dengan nada semakin kesal, kesalnya semakin menjadi saat pertengkarannya itu menjadi bahan tontonan. "Huh! Astaghfirullahaladzim!" ucap Akilla menanggahkan kepala dan memejamkan mata menahan amarah.
Bersambung.