Boss and Me
Namanya Gizka Amanda. Dua tahun lalu, ia merantau ke kota metropolitan ini dengan membawa harapan yang tak muluk-muluk. Sukses. Dalam tanda kutip. Ya, setidaknya ia ingin mempunyai gaji yang cukup untuk makan enak, untuk shophing diakhir pekan, cukup untuk dikirimkan ke orang tuanya di kampung, juga sedikit- sedikit bisa menabung untuk masa depan. Cuma itu, tidak lebih. Iya, kan nggak muluk-muluk?
Tapi ya, Tuhan ... berjuang di kota besar ini sungguh tak mudah, Guys. Tak seindah yang ia bayangkan sebelumnya. Awal mula datang ke kota ini, kesana kemari ia melamar pekerjaan hingga sempat putus asa dan nyaris pulang ke kampung halaman lagi. Namun di detik-detik terakhir perjuangannya kala itu, akhirnya ia diterima bekerja oleh Bosnya sekarang, Leo Elbara.
Gizka adalah karyawan pertamanya dan sudah dua tahun ini gadis itu bertahan bekerja di sana. Ya, Gizka terpaksa bertahan dengan Bos tampannya yang masih saja menjadi gembel, dengan usahanya yang tak kunjung mengalami kemajuan yang berarti.
Lalu, kalau Bosnya saja gembel. Bayangkan saja nasib Gizka seperti apa?
Miris.
Tragis.
Menyedihkan.
"Bos, saya mau resign," ucap Gizka kala menyantap makan siangnya dengan tak selera. Bagaimana bisa berselera kalau setiap hari menu makan siangnya cuma nasi bungkus paket goceng dengan lauk oreg tempe dan sayur seadanya. Bayangkan saja di ibukota yang kejam ini dengan uang goceng kamu mau minta lauk macam apa lagi?
Miris bukan? Seperti itulah Gizka menghemat gaji kecilnya yang menyedihkan itu.
"Resign?" Leo melambatkan kunyahannya, terheran.
"Iya, saya mau cari kerja di tempat lain aja," jawabnya jujur. Gizka memang sedekat itu dengan Bosnya. Bahkan mereka makan dalam satu meja yang sama tanpa batasan atasan dengan bawahan. Gizka pikir ... ya buat apa? Toh mereka itu sama-sama gembel," batinnya saking gemasnya dengan kelakuan Bosnya yang awet banget ngasih gaji seuprit kepadanya.
"Kenapa? Apa gaji yang saya kasih kurang?" tanya Leo dengan tak tahu dirinya.
"Ya, jelas kuranglah Bambang. Hare gene duit segitu dapat apa? Gue cium juga lo," batinnya kesal setengah mampus. Rasanya lama-lama ia bisa gila menghadapi Bosnya satu ini.
"Ya, kuranglah, Bos. Buat bayar kosan, buat makan, buat beli skincare dan lain-lainnya, belum buat kirim ke kampung aja pas-pasan banget. Nelangsa banget Bos saya kerja disini, nggak punya tabungan sama sekali," ucapnya jujur dan menggebu. Siapa tahu si Leo Elbara yang gantengnya melebihi artis, tapi playboynya naudzubillah itu mau berbaik hati menaikkan gajinya sepuluh kali lipat. Ya, ngarep bolehlah yah, meski jelas itu sangat mustahil terjadi.
"Emang kamu butuh skincare?" tanya Leo dengan ketidakpekaannya.
"Ya, jelas butuhlah Bambang! Astoge, gue cipok juga lo lama-lama." Gizka terus saja mendumel dalam hati. Pokoknya ia keki berat menghadapi Bosnya yang nggak peka sama sekali dengan kebutuhan para cewek sedangkan dia hobinya setiap hari mempermainkan hati para cewek-cewek seenak udelnya.
"Ya jelas butuhlah, Bos. Biar muka saya kinclong, saya, kan juga pengen punya pacar kaya yang laen. Masa udah dua tahun saya di Jakarta, jomblo terus," curhatnya ngenes. Lagipula gimana mau punya pacar kalau setiap hari hidupnya ia abdikan sepenuhnya buat kerja, kerja dan kerja untuk gaji yang tak seberapa.
"Terus selama kamu pakai skincare, kamu udah dapet pacar belum?" Leo menyunggingkan senyum yang sarat akan ejekan.
"Ih bangke nih Bos gue ...," geramnya dalam hati. Melirik kesal.
"Ya be ... lum," jawabnya lemas, merasa kalah telak. Lalu tak lama terdengarlah tawa Leo yang menyebalkan itu.
Lihat aja, aku bakalan buktiin kalau aku juga bisa punya pacar kaya yang lain. Sita sama Saroh yang mukanya dibawah standar aja pada punya pacar, masak gue yang lumayan kece badai gini nggak bisa kaya mereka. Oke. Kamu pasti bisa Gizka!" Batinnya merasa tertantang.
Oh ... tunggu-tunggu! Ini aku lagi bahas resign kenapa jadi melenceng gini.
"Saya serius, Bos. Saya mau resign," ucapnya kembali ke topik utama.
"Tapi saya nggak mau kamu resign," tegas Leo. Gizka memutar bola matanya malas. Ya jelas saja hanya dia karyawan yang bisa Bosnya itu andalkan. Selain karena ia karyawan pertama dan terlama yang sudah mahir dengan pekerjaan ini. Cuma dia juga, satu-satunya karyawan yang paling betah bertahan dengan gaji kecil yang bisa si Leo Elbara berikan. Sementara karyawannya yang lain, sebulan sekali pasti ada saja yang resign atau kalau tidak ya kabur begitu saja setelah menerima gaji dan membuatnya keteteran mengurus toko.
"Ishh ... naikin gaji saya kalau gitu." Gizka bersungut-sungut kesal setengah mampus. Selalu seperti ini, dia selalu ditahan-tahan. Apa sih maunya?
"Iya, nanti saya naikin gaji kamu," jawabnya santai sambil menyuapkan nasi padang yang wanginya menusuk-nusuk lubang hidung Gizka yang rindu berat akan makanan lezat. Kapan ya ia terakhir kali makan enak? Setiap melihat Bosnya makan, Gizka rasanya ngiler setengah gila.
"Berapa?" Gizka mendelik, menunggu jawaban dari Bosnya dengan harap-harap cemas. Leo melirik ke arahnya dengan wajah jahil, tahu anak buah kesayangannya itu tengah menunggu jawaban darinya.
"Ceban," jawabnya dengan smirk-nya yang menyebalkan itu.
Ish ...ceban! Bangkelah. Mati aja lu Bos.
Tawa Leo pecah melihat bagaimana kesalnya Gizka yang nampak manyun, yang jelas gadis itu pasti tengah sibuk merutukinya dalam hati.
"Hahahaha ... nantilah saya pikir-pikir dulu mau naikin gaji kamu berapa," ujarnya kemudian masih dengan tawanya yang menyebalkan itu.
Bener-bener Bos nggak ada akhlak.
"Yang banyak ya, Bos naiknya," pintanya dengan sengaja memasang wajah memelas tingkat akut, dengan harapan hati Bosnya itu akan terketuk demi melihat betapa nelangsanya dirinya saat ini.
"Iya ... gampanglah," jawabnya santai. "Mau ayam?" Tawarnya yang seketika membuat Gizka melongo.
Nggak salah? Tumben banget ... dari tahun kemarin kek nawarinnya.
Selama dua tahun bekerja dengan Leo, baru kali ini ia ditawari makanan. Padahal sudah tahu kalau setiap hari anak buahnya itu makannya oreg tempe, benar-benar nggak ada pengertiannya sama sekali.
Ya, tapi lumayanlah biarpun sisa juga, kan judulnya tetap ayam. Beginilah nasib orang susah kawan ...
Leo mengangsurkan "ayam" ke kertas nasi Guzka. Tapi tunggu-tunggu ...
"Kok ... dikasihnya tulangnya?" Gizka sudah mulai emosi jiwa dihadapkan kembali dengan kelakuan Bosnya yang terkadang suka nggak mikir itu.
"Lho ... bukannya kamu sukanya tulang?" tanyanya santai dengan wajah tanpa dosa. Seenaknya mengambil kesimpulan hanya karena sering melihat Gizka makan ceker ayam yang kebetulan saja tercampur disop yang dimakannya.
Ampun dah ... emang bangke bener, nih Bos gue ...
"Memangnya saya kucing apa makan tulang?" Gizka berusaha menahan kedongkolannya sekuat tenaga. Ya, karena kalau nggak ditahan sekuat tenaga, bisa-bisa ia hilang kendali dan mencakar wajah ganteng Bosnya itu.
Gadis itu mengambil tulang ayam yang menambah kesan menyedihkan pada menu makan siangnya dan melemparnya penuh emosi ke tong sampah masih dengan menatap wajah Bos bangkenya yang masih tertawa tanpa dosa itu.
"Kamu kalau ngambek tambah cantik lho, Giz," ucapnya sembari memasukkan daging ayam ke mulut Gizka tanpa aba-aba.
"Leo ..." geramnya dengan sepotong ayam disela bibirnya yang membuka.
Ya, beginilah hari-hari yang dilewati Gizka dengan Bosnya, Leo Elbara. Bos gembelnya yang sok playboy dan super menyebalkan juga somplak yang seringkali membuatnya tak kuasa untuk misuh-misuh saking kesalnya.