Seharusnya dengan semua yang dikatakan dan ditunjukkan Mario, semua itu cukup untuk meyakinkan Arissa untuk membiarkan Mario pergi. Tapi entah kenapa Arissa berat melakukannya, ada bagian dari hatinya memaksa dia untuk menahan Mario. Walau begitu Arissa tidak bisa menuruti apa mau hatinya karena dia tidak mau dianggap mengganggu dan menyusahkan oleh Mario. “Baiklah.” Arissa tersenyum pasrah melepaskan pegangannya dari jaket Mario. “Sekarang kamu masuk. Kamu tunjukkan ini ke resepsionis,” kata Mario sambil memberikan sebuah kartu pada Arissa. Kepala Arissa menggeleng, “Aku masuk setelah kak Mario pergi.” Katanya setelah mengambil kartu yang disodorkan Mario padanya. Mario menghela napasnya karena Arissa sudah memasang keras kepalanya yang itu artinya dia dalam mode tidak mau mengalah. J

