Inara membanting pintu dengan keras setelah Kenzo keluar dari kamar itu. Ia begitu geram dan frustasi menghadapi tingkah laku Kenzo yang dirasa semakin konyol dan tidak masuk akal. Masih belum lagi ia harus memikirkan nasib sang ayah, yang belum jelas keberadaannya, sementara ia tidak berhasil mendapatkan informasi dari suami sementaranya itu.
Inara melangkah ke nakas, bermaksud untuk merapikan isinya, yang kini terlihat lebih berantakan karena ulah Kenzo. Ia sedikit heran, kenapa Kenzo bertanya padanya tentang apa yang dia ambil, dan menurutnya itu hanyalah alasan untuk bisa masuk kamar itu lagi.
"Sial, badanku bau dia," gerutu Inara, saat teringat ulah Kenzo. Namun tak urung ia pun mengusap dadanya, karena merasakan desiran halus, saat membayangkan sesuatu yang menekan dirinya tadi.
"Tenang, Nara, jangan sampai kau menjadi lemah karena pengaruh orang itu," gumam Inara, yang kini mengibaskan tangannya di depan mukanya yang terasa panas, saat membayangkan tekanan tubuh Kenzo di atas inti tubuhnya. Sesuatu itu benar-benar membuatnya sesak napas. "Dasar lelaki m***m!" gerutunya.
Sementara itu sama halnya Inara, Kenzo mengusap dadanya saat berdiri di depan kamarnya. Bukan karena Inara membanting pintu, tetapi karena merasakan debaran yang cukup kuat, saat bayangan wajah dan harum nafas Inara melekat dalam benaknya. Masih ditambah juga dengan gerakan tubuh gadis itu saat meronta di bawah kungkungannya. Tanpa sadar ia menelan saliva, lalu cepat-cepat melangkah ke kamar mandi, bermaksud untuk meredam gejolak hatinya.
"Jangan sampai lemah hanya karena wanita, Kenzo, bersabarlah, ini hanya ujian," gumam Kenzo, bicara sendiri.
***
"Aku yakin orang itu membawa salah satu foto yang diambil dari laci, di kamarku," ujar Kenzo, saat sudah di dalam ruang kerjanya, bersama Theo.
Theo yang masih terngiang suara yang ia dengar dari kamar Kenzo hanya diam sembari menatap monitor laptop di depannya, pura-pura sibuk, untuk menutupi perasaan tidak nyaman dalam hatinya. Ia merasa malu sendiri saat mengingat hal itu.
"Theo! Kau dengar aku, tidak?" tegur Kenzo yang merasa diacuhkan.
"Dengar, Tuan," jawab Theo cepat, yang lalu mengalihkan perhatiannya dari laptop, dan kini menatap Kenzo. Namun ia sedikit terkejut saat melihat tanda merah di pipi kiri Kenzo. Ia menahan diri agar tidak bertanya, karena sudah menduga jika itu ulah Inara.
"Lihatlah, apa kira-kira yang dia bawa itu sama dengan ini?" Kenzo menunjukkan selembar foto ke hadapan Theo.
Setelah memerhatikan dan membandingkan dengan yang ada pada rekaman CCTV, Theo menganggukkan kepalanya. "Sepertinya sama, Tuan," jawabnya.
"Apa yang dia cari dari foto itu sebenarnya?"
"Saya masih belum paham," jawab Theo. "Coba Anda ingat, foto mana yang hilang. Siapa tahu kita bisa ambil kesimpulan dari sana."
"Foto kami bertiga, aku, mama dan ayah," jawab Kenzo. Tadi ia sempat memeriksa dan menghitung jumlahnya. Ia ingat benar semua foto yang ia simpan di sana.
Theo terdiam, mencoba meraba pemikiran sosok yang mirip Kenzo sekaligus memikirkan tujuan pria itu mendatangi Inara. Tetapi ia masih tetap saja kebingungan.
"Ada kabar dari anak buahmu?" tanya Kenzo.
"Hanya ada satu petunjuk, Tuan, mereka melihat dua orang sedang mencari sesuatu di tempat itu, lalu langsung pergi," jawab Theo.
"Kira-kira apa yang mereka cari?"
"Entahlah, Tuan, tapi orang kita menemukan pemantik dengan merk ternama," jawab Theo. "Ini, kalau Anda mau lihat." Theo mengambil pemantik yang terbungkus plastik dari dalam tas kerjanya, lalu memberikan pada Kenzo.
Kenzo mengerutkan keningnya. Ia seperti pernah melihat benda itu, tetapi ia tidak ingat dimana dan dipakai oleh siapa.
"Tuan," panggil Theo, tiba-tiba. "Pria di foto ini mirip tuan Rangga," ucapnya kemudian. Ia terus saja memerhatikan wajah-wajah setiap orang di dalam foto itu.
"Itu memang Rangga," jawab Kenzo.
"Benarkah? Itu berarti kalian sudah lama mengenal beliau?"
Kenzo menghela napas berat. Ia lalu mengusap kasar wajahnya. "Panjang ceritanya," ujarnya. "Intinya, Rangga itu sebenarnya teman dekat mama, yang dulu berteman juga dengan ayah," imbuhnya menjelaskan.
Theo mengerutkan keningnya sembari menatap Kenzo heran. "Apakah itu berarti Anda sudah mengenal nyonya jauh sebelum ini?" tanyanya ingin tahu. Ia benar-benar penasaran, karena saat di awal mereka menangkap Inara, Kenzo terlihat tidak mengenalnya.
"Tidak, Theo," jawab Kenzo, di luar dugaan. Theo semakin mengerutkan keningnya. "Rangga tidak pernah mengajak anak istrinya saat datang ke rumah ini ataupun saat berada di luar bersama mama dan ayahku." Kenzo melanjutkan.
"Di foto ini Anda terlihat masih begitu muda," ucap Theo.
"Sekarang pun aku masih muda!" sahut Kenzo, berang. "Kau kira aku sudah jompo?" protesnya.
Theo terkekeh. "Bukan, maksud saya Anda terlihat masih remaja," kilahnya. "Kalau sekarang kan Anda sudah cukup dewasa, tiga puluh tahun lebih usianya."
"Foto itu diambil sekitar lima belas tahun yang lalu, aku baru lulus SMP," jawab Kenzo. Tatapan matanya menerawang jauh, teringat masa lalu.
"Lalu, sejak kapan Anda tahu jika ayah nyonya Inara adalah tuan Rangga?"
"Saat mereka menyekapnya. Aku datang dan terkejut, saat tahu jika ternyata ayahnya itu Rangga," jawab Kenzo. "Sial! Padahal aku sudah berusaha menghindarinya," imbuhnya, mengeluh.
"Apakah Anda punya masalah dengan beliau?" tanya Theo, yang terlihat semakin penasaran.
Kenzo menganggukkan kepalanya, membenarkan. "Sebenarnya ini masalah orang tua, tapi saat aku mengetahui sesuatu, aku benar-benar membencinya, dan tidak ingin lagi berdekatan dengannya."
"Tuan Rangga, kah, yang Anda maksud, Tuan?"
"Ya, benar, aku sangat membencinya!"
"Kenapa, Tuan?"
Kenzo terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya kau tahu, Theo. Aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang. Yang jelas, aku pun sebenarnya sangat membenci Inara, sejak tahu kalau dia anaknya."
"Tapi Anda sudah menjalankan kewajiban suami istri dengan beliau bukan, barusan?" tanya Theo, yang lalu menepuk dahinya pelan, saat menyadari jika ia telah keceplosan.
Sontak Kenzo mendelik pada asistennya itu. "Kau mengintipku? Kepo, hm?" hardiknya.
Theo menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak, Tuan, bukan begitu, saya hanya datang untuk mengambil ponsel saya yang masih Anda bawa," jawabnya menjelaskan. "Karena anak buah saya bilang, telah mengirim foto ke nomor yang di ponsel itu."
Kenzo terdiam lalu meraba saku celananya. "Tidak ada! Mungkin kau yang pikun, apa kau sudah lupa saat menyimpannya?"
"Terakhir Anda bawa, setelah Anda melihat potongan gambar sesuatu yang dibawa kembaran Anda, Tuan," jawab Theo.
Kenzo menggaruk dahinya. Ia baru ingat jika sepertinya ponsel itu terjatuh di tempat tidur saat ia menggoda Inara. Ia pun kini mendecak kesal karena harus kesana lagi untuk mengambilnya.
"Apa kau membutuhkannya sekarang?" tanya Kenzo, dengan raut wajah malas.
"Iya, Tuan. Di sana ada kiriman foto lokasi yang diduga adalah tempat tuan Rangga disekap."
"Benarkah? Ck! Aku harus kesana lagi," keluh Kenzo. "Bisa kege-eran dia."
Theo menahan tawa saat melihat raut wajah kikuk Kenzo. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi antara Kenzo dan Inara, tetapi yang jelas saat ini wajah Kenzo terlihat bersemu merah. Dan kini pria itu beranjak pergi sembari menggerutu dan bicara sesuatu yang tidak jelas.
"Kadang memang orang yang sedang jatuh cinta itu terlihat lucu, seperti anak kecil," ucap Theo, geli. "Aku yakin masa remaja Tuan tidak seindah itu," imbuhnya, sembari menganggukkan kepalanya.
"Kau bilang apa, Theo? Kau sedang mengolokku?" hardik Kenzo, dari balik pintu ruang kerja. Pria itu melongok ke dalam sembari melotot pada Theo. Sepertinya ia mendengar ucapan Theo.
"Tidak ada, Tuan!" sahut Theo cepat. "Saya cuma bilang tolong cepat ambil dan segera bawa kemari."
"Kurang ajar! Kau harus ingat kalau aku ini bosmu!" umpat Kenzo. Theo hanya tertawa.
***
"Ada apa lagi, sih?" protes Inara, saat melihat Kenzo masuk ke dalam kamar dengan raut wajah kaku. Pria itu terlihat salah tingkah.
"Ponselku ketinggalan," jawab Kenzo sekenanya. Kedua matanya memindai seluruh tempat itu, tidak terkecuali tempat tidur dan nakas, lokasi terakhir yang ia tempati sebelum keluar.
Inara duduk di tepian tempat tidur sembari bersikap waspada. Ia takut jika pria itu tiba-tiba kambuh gilanya. Ia takut jika Kenzo mempekaos dirinya. Cepat ia mengibaskan tangan di depan wajahnya, mengusir bayangan buruk itu, sembari berdoa semoga hal itu tidak terjadi.
"Dimana benda pipih sialan itu?!" gerutu Kenzo yang masih belum menemukan ponsel milik Theo. Ia hanya menemukan ponselnya sendiri di atas nakas. Inara hanya diam menatapnya.
"Kenapa malah bengong begitu, bukannya membantuku?" tegur Kenzo. Inara mencebikkan bibirnya, acuh. Ingin rasanya Kenzo memukul kepalanya jika tidak ingat Inara itu seorang wanita.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Inara, saat tiba-tiba Kenzo memegang bahunya, lalu mendorong hingga tubuh gadis itu terlentang di atas tempat tidur. "Tidak, jangan ...!" pekik Inara, ngeri.