"Tolong, jangan lakukan itu, Tuan," pinta Inara, memohon, saat merasakan tubuh Kenzo mulai bergerak perlahan di atas tubuhnya.
"Kau sendiri yang minta," jawab Kenzo.
"Apa? Ini tidak sengaja, Tuan, aku cuma berpegangan padamu karena mau jatuh," kilah Inara, membela diri. Ia tidak mau terkesan murahan di hadapan suami sementaranya itu.
Kenzo tersenyum sinis. Kini ia mulai menekan tubuhnya di atas Inara, berniat untuk menggoda gadis itu, tetapi justru membuat Inara sedikit terkejut dan memekik tertahan karena takut jika Kenzo benar-benar melakukannya, terlebih ia kini merasakan sesuatu yang menonjol dan menekan bagian inti tubuhnya. Inara sudah cukup dewasa, ia paham benar jika itu adalah reaksi alami seorang pria jika sedang dalam kondisi genting bersama wanita.
"Kenapa, takut?" cibir Kenzo, yang kini mulai mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Inara.
"Menjauh lah!" ketus Inara, sembari menahan wajah kenzo dengan telapak tangan kanannya. Gerakan tubuhnya yang sedikit meronta, ingin bebas dari Kenzo, membuat pria itu seketika menahan napas ketika dua benda kenyal yang membusung itu tanpa sengaja menggesek dadanya yang hanya terbungkus kemeja tipis. Kini ia merasa pusing sendiri karena ternyata dirinya cukup tergoda, tetapi ia tidak mau menunjukkan pada Inara.
"Sudah kepalang tanggung," desis Kenzo. "Kau mau suka rela atau ku paksa?" tanyanya, yang membuat Inara seketika melongo, menatap Kenzo tak percaya sekaligus bingung.
"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak mau melakukannya, dalam perjanjian itu tertulis jika diantara kita tidak akan pernah ada hubungan suami istri!" protes Inara. Ia menggigit bibir bawahnya ketika Kenzo sedikit bergerak tanpa sadar, menyamankan posisinya pada bagian inti tubuhnya. Inara semakin pusing saat milik Kenzo terasa mengeras dan semakin mendesaknya.
"Memang tidak ada hubungan suami istri," desis Kenzo, yang terlihat mulai terbakar gairah, tetapi ia berusaha keras untuk menahannya, meskipun sangat sulit, karena miliknya seolah minta pemenuhan di bawah sana, setelah singgah di tempat yang tepat.
"Lalu ini apa?" desak Inara dengan suara tertahan, karena ia pun mengalami penyakit mendadak yang sama seperti Kenzo, mendadak sesak napas.
"Ini hanya pemanasan," jawab Kenzo. "Hubungan suami istri tidak begini."
Inara tertawa geli. "Cih! Alasan!"
"Aku bicara yang sebenarnya!"
Inara terkekeh. "Terbukti kalau sebenarnya Anda lah yang sangat ingin melakukannya, bukan aku," cibirnya.
"It's just having fun!" ucap Kenzo berkilah, asal saja. Wajahnya bersemu merah, karena malu.
"Menjauh lah!" pinta Inara lagi, sembari berusaha mendorong Kenzo dari atas tubuhnya, tetapi gerakannya justru semakin memancing Kenzo.
"Diam dan tenanglah! Kau membuatnya bangun," desis Kenzo, geram.
Inara tertawa pelan. "Aku akan diam kalau kau menjauh," jawab Inara. "Setidaknya bergeser lah dari sana."
"Apa yang di geser?" tanya Kenzo, lugu. Benaknya terlalu penuh dengan himpitan hasrat, hingga isi kepalanya tidak berfungsi dengan baik. Ia mengumpat dalam hati karena menyadari kebodohannya.
"Anumu!" jawab Inara, tidak sabar. Ia merasa tidak nyaman dengan posisi mereka, terlebih kini hawa di bawah sana semakin panas.
"Ini?" tanya Kenzo sembari menekan lebih dalam miliknya, pada inti tubuh Inara, membuat gadis itu mengerang pelan. Kenzo menyeringai.
"Jauhkan itu dariku!" pinta Inara, sembari memejamkan mata dan menggigit bibirnya, saat merasakan sensasi aneh akibat dari gerakan Kenzo itu.
"Seperti ini?" tanya Kenzo, pura-pura lugu. Bukannya menjauh, Kenzo justru menggesek pelan miliknya, membuat Inara semakin sesak napas.
"B-Bukan begitu, bergeser lah lagi lebih jauh, Tuan," jawab Inara dengan wajahnya yang sudah semerah tomat. Kenzo tertegun menatapnya, terlebih kedua mata indah Inara yang kini sayu. Jelas sekali terlihat jika Inara mulai terpengaruh keisengannya, sama seperti dirinya. Kenzo mengumpat dalam hati karena ia justru tidak ingin mengakhirinya. Sudut hatinya menginginkan lebih dari itu.
"Tuan ...," panggil Inara, menyadarkan Kenzo. "Tolong, menjauhlah," pintanya, dengan tatapan memelas, yang justru membuat jantung Kenzo berdegup kencang. Jika ada tali mungkin ia akan buru-buru mengikat jantungnya, sebelum terlepas karena terus saja berdetak semakin kencang.
"Benar, kau harus memohon padaku," desis Kenzo. "Katakan lagi, Nona."
Inara mengumpat dalam hati. Kalau bukan karena pancingan Kenzo yang cukup membuatnya tak berdaya, ia tidak akan sudi memohon pada pria jahat yang sudah menyembunyikan ayahnya itu.
"Cepat, memohon lah!" titah Kenzo. "Atau adik kecilku ini akan bertamu tanpa izinmu," imbuhnya, mengancam. Inara mengumpat pelan.
"Aku hitung sampai tiga," ucap Kenzo. "Satu!" Ia mulai menghitung.
"Please, Tuan ...," ucap Inara, lirih, namun cukup di dengar oleh Kenzo.
"Aku tidak mendengar mu!" dusta Kenzo.
"Tuan, ini sudah cukup kencang," protes Inara.
"Apanya?"
"Suaraku! Jangan pura-pura tuli!"
"Lebih kencang lagi!" perintah Kenzo, sembari bergerak perlahan, naik dan turun, di atas inti tubuh Inara, membuat gadis itu semakin keras menggigit bibir bawahnya.
"Tuan ..., please ...." Inara tidak sanggup melanjutkan, ketika Kenzo menekan miliknya lebih dalam dan lama di sana.
Kenzo menyeringai melihat reaksi Inara. "Kau menginginkannya?"
Inara menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku mohon, lakukanlah, men– ...."
"Apa ini kurang dalam?" potong Kenzo, yang semakin menekan lebih keras, sembari terus menyeringai, kesenangan melihat reaksi alami gadis itu, yang tiba-tiba mengeluarkan suara ajaib dari bibir merahnya yang ranum. Tanpa sadar Kenzo menatapnya dalam, lalu menelan saliva berkali-kali. Ia baru menyadari jika Inara begitu menarik dan membuatnya terkesan sedari awal bertemu.
"Tuan Kenzo," desis Inara.
"Benar, sebutlah namaku," sahut Kenzo. Tiba-tiba hatinya berdebar ketika namanya disebut, diantara desah napas tertahan gadis itu.
"Tolong menjauh dariku," pinta Inara yang semakin khawatir dengan reaksi tubuhnya yang tidak selaras dengan rasa gengsi dan harga dirinya.
"Aku tidak mau," desis Kenzo.
"Tuan ...."
"Hm ...?"
"Sekali lagi ...." Inara berhenti sejenak, menahan napas, ketika sekali lagi Kenzo menggerakkan tubuh bawahnya. "T-Tolong, menjauh dariku," lanjut Inara, setelah berhasil menguasai diri.
Keduanya terus berkutat dalam kondisi tidak tentu itu, tanpa mengindahkan suara ketukan pintu yang kini telah berhenti. Theo berdiri tepat di depan pintu kamar mereka yang ternyata sedikit terbuka, sembari mengusap tengkuknya kikuk. Ia baru menyadari satu kemungkinan jika majikannya sedang melaksanakan ritual membuat adonan, sebagai pasangan yang baru saja menikah. Bulu tubuhnya meremang ketika tanpa sengaja mendengar suara-suara lirih yang berasal dari dalam kamar itu. Dengan tangan sedikit gemetar, Theo menutup pintu kamar pelan, lalu beranjak pergi dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Aku tidak menyukainya!" gumam Theo sambil menggerakkan bibirnya, menye-menye, menirukan gaya bicara Kenzo. "Dia hanya alatku, hm ..., iya memang, anda benar, nyonya adalah alat pemuas anda," imbuhnya sembari terkekeh.
"Pada akhirnya aku akan terbebas dari pengalihan tugas, untuk menghamili nyonya." Theo terus saja bicara sendiri sambil tertawa pelan. "Keperjakaanku masih terjaga!" lanjutnya sembari tersenyum jumawa. "Yes!"
Sementara itu, di dalam kamar pengantin terlihat Inara sedang menatap Kenzo, berang. Kenzo sendiri kini sedang memegangi pipi kirinya yang baru saja disentuh dengan mesra oleh Inara, meninggalkan bekas kemerahan berbentuk lima jari, lengkap. Maklum saja, kulit wajah Kenzo terbilang bersih dan putih, dan cukup terawat, namun tingkat ketebalannya cukup minim, membuatnya sensitif terhadap sentuhan.
"Kenapa kau menamparku?" protes Kenzo tidak suka.
"Karena kau sudah lancang, Tuan jahat!" bentak Inara. "Kau sudah mengingkari perjanjian, dan sebagai sangsinya, sesuai yang kita sepakati, aku bisa bebas pergi darimu, dari rumah ini!"
"Memangnya apa yang sudah ku lakukan?"
"Kau ingin melakukannya denganku!"
"Melakukan apa?"
Inara mengusap kasar wajahnya. Ia begitu gusar dengan tingkah Kenzo. "Kau meniduri ku," jawabnya, dengan suara tercekat, menahan malu.
"Cuma tidur, bukan? Tidak nganu-nganu!" ketus Kenzo.
"Iya, tapi itu ..., kau sudah ...."
Kenzo tersenyum sinis. "Kau pikir aku mau denganmu? Cih! Kau terlalu kerempeng bagiku, sangat tidak menarik!" ujarnya, mencela. "Aku bisa membayar wanita yang jauh lebih menarik darimu kalau aku mau!"
Wajah Inara merah padam. Ia tidak sanggup lagi bicara untuk membalas hinaan Kenzo, meskipun jauh di sudut hatinya terasa perih mendengarnya. Rasa dendam di dalam hatinya semakin memuncak.
"Kenapa diam?" tegur Kenzo. Inara hanya menatapnya penuh kebencian, membuat hati Kenzo sedikit mencelos. Entah kenapa ia merasa takut dengan tatapan itu.
"Pergilah, atau aku yang pergi," desis Inara.
"Tanpa kau suruh pun aku memang mau pergi dari sini!"
"Maka cepat pergilah!" usir Inara. Ia tidak peduli jika kamar dan rumah itu milik Kenzo.
Kenzo tersenyum sinis lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Inara, sedikit mengedus dan mencium kecil ujung hidung Inara, lalu berpindah ke cuping telinga gadis itu, yang seketika bergidik geli, tidak menyangka dengan gerak tiba-tiba Kenzo.
"Benahi dirimu, sebelum minta jatah malam pertama dariku," bisik Kenzo. "Sepertinya milikku tidak muat jika berkunjung ke dalammu."
"Berengsek!" umpat Inara.
"Akan kupikirkan untuk melakukannya atau tidak," lanjut Kenzo. "Ku pikir tidak ada salahnya jika aku mencobanya lagi, di malam kedua."
"Jangan mimpi!"