"Siapa itu?" tanya Theo, ingin tahu.
"Mama," jawab Kenzo, lirih, seolah sedang menahan rindu, sekaligus tanda tanya besar dalam hatinya.
Theo lagi-lagi terkejut mendengarnya. "Nyonya besar?" tanyanya, penasaran. Ia lalu menatap wajah itu lebih seksama. "Benar, ini nyonya besar," gumamnya.
"Sejak kapan dia kembali?" desis Kenzo, sedikit sinis. "Ada hal apa juga dengan orang itu, apa mama mengira jika orang itu benar-benar aku?"
Theo memerhatikan sosok pria di dalam rekaman CCTV itu yang memang benar-benar sangat mirip dengan Kenzo. Kedua alisnya bertaut ketika mencari perbedaan diantara keduanya, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat, ada kilatan aneh dalam sorot matanya yang cukup jeli itu.
"Orang itu sedikit lebih pendek dari Tuan, dan selalu memakai tangan kiri untuk melakukan dan memegang sesuatu, alias kidal," ucap Theo, penuh penekanan.
"Hm, bagus! Lalu, apa lagi?"
Theo kembali memutar rekaman itu, mengulangnya sampai beberapa kali, sembari menggaruk dagunya dengan jari tangan kiri, gaya khas seorang Theo jika sedang berpikir serius.
"Apa Anda berpikir jika nyonya besar adalah orang yang ada di belakang pria itu, Tuan?" tanya Theo. Kenzo terdiam. Terlihat jelas jika ia kini sedang ragu dan bimbang.
"Kalau memang mama, apa untungnya buat beliau?" Kenzo balas bertanya.
"Itulah yang sedang saya pikirkan saat ini," sahut Theo. "Orang itu bicara cukup lama dengan nyonya besar, sepertinya ada hal serius yang sedang mereka bahas." Theo menghentikan rekaman itu saat pria yang mirip Kenzo sedang membungkuk, seolah sedang berbicara dengan sang pengemudi mobil, yang mereka yakini adalah istri Simon, ibu Kenzo.
"Apa yang ada di tangan kiri orang itu?" tanya Kenzo.
"Ponsel," jawab Theo, yang lalu memperbesar gambar untuk memperjelas.
"Aku juga tahu kalau itu ponsel," gerutu Kenzo. "Picingkan matamu, lihat baik-baik, apa yang nyelip di bawahnya!"
Theo melihat lebih dekat dan memerhatikan obyek yang ditunjuk oleh Kenzo, lalu mendecak kagum. Tuannya itu ternyata jauh lebih teliti daripadanya.
"Semacam kertas," ucap Theo, yang lalu melakukan sesuatu pada gambar itu agar tidak terlihat pecah-pecah. "Seperti amplop."
Kenzo mengerutkan dahi. "Atau uang, mungkin?" tanyanya, menduga.
"Kalau lembaran uang menurut saya lebih tipis, Tuan," sahut Theo. Kenzo membenarkan.
"Saya yakin itu diambil dari kamar Tuan," lanjut Theo. "Karena tadi saat masuk dia tidak membawa apapun di tangannya."
"Apa yang dia cari di kamarku?" geram Kenzo. "Biar aku lihat dulu." Ia pun lantas pergi begitu saja, meninggalkan Theo yang masih mencari petunjuk dalam rekaman itu.
*
Sesampainya di depan kamar, Kenzo mengetuk pintu pelan, setelah menunggu dan tidak ada reaksi apapun, ia lalu membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Ia menajamkan penglihatan ketika tahu lampu kamarnya dipadamkan. Sedikit heran dan nekat, Kenzo meraba dinding dan menyalakan lampu, memperlihatkan pemandangan kamar yang cukup membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kenapa gadis itu malah tidur sambil duduk di sana?" gumamnya, bicara sendiri. Ia melihat Inara yang tertidur di lantai dengan kepalanya yang bertumpu tepian tempat tidur. Sepertinya gadis itu cukup lelah, setelah menangis.
Kenzo mendekat, berniat untuk mengangkat tubuh mungil itu dan membaringkan ke tempat semestinya, meskipun hatinya mencelos, gengsi, karena takut jika Inara tiba-tiba terbangun dan mengira dirinya punya niat jahat, atau minimal kegatelan pada gadis itu. Namun, meski dirinya terkenal angkuh, tetap saja ia tidak tega, terlebih jauh di sudut hatinya merasa bersalah atas hilangnya Rangga.
Jantung Kenzo seolah berhenti berdetak. Ia tidak sanggup bernapas ketika wajahnya nyaris menyentuh dua bukit indah milik Inara, yang membusung tepat dihadapannya, saat ia membaringkan gadis itu, yang ternyata terbuka beberapa kancingnya. Terlebih ketika Inara tiba-tiba mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menghadap ke arahnya sembari memeluk bahunya yang masih tetap membeku di sana, karena sedang berusaha menarik lengan kanannya dari bawah tubuh sang istri dengan ekstra hati-hati.
"Untung saja jantungku ini buatan Tuhan, kalau tidak, mungkin sudah pecah dari tadi karena ulahmu ini," gerutu Kenzo, dengan suara yang sangat pelan. Ia terpaksa berdiam diri sejenak, membiarkan agar Inara nyaman dalam posisinya, lalu perlahan melanjutkan usahanya, menarik lengannya sendiri dari himpitan tubuh ramping sang gadis.
"Ck! Susah sekali," gerutu Kenzo, yang karena sudah tidak bisa sabar lagi ia pun menarik tangannya dengan cepat, agar tidak berlama-lama lagi, tanpa menyadari jika ternyata Inara sudah membuka mata perlahan lalu menatap wajah Kenzo yang sedang menunduk, begitu dekat di depan dadanya. Sontak ia pun membelalakkan mata, merasa jika Kenzo sedang melakukan sesuatu padanya.
"Apa yang kau lakukan, Tuan jahat?" tegur Inara, emosi.
Kenzo yang begitu terkejut tetapi masih menjaga gengsi pun seketika berdiri sembari menarik lengannya begitu saja, membuat tubuh ramping itu terhempas.
"Aku sedang membantumu," jawab Kenzo. "Jangan berpikir macam-macam!"
"Cih! Sepertinya kau baru saja kurang ajar padaku," tuduh Inara.
"Memangnya kau siapa? Sok kecakepan!" Kenzo mencebik, terlebih saat ia melihat Inara memeriksa pakaian yang ia kenakan sembari sesekali melirik Kenzo dengan tatapan benci.
"Mau apa kau di sini kalau bukan untuk itu? Kau pikir aku mau diajak ninu-ninu malam pertama?" protes Inara. Wajahnya bersemu merah saat tahu, beberapa kancing bajunya terbuka, menampakkan sedikit pemandangan alam pegunungan yang masih tertutup kaca mata kain itu. Ia mengumpat dalam hati karena merasa kecolongan, sementara Kenzo yang sedari tadi sudah melihatnya, hanya melengos sembari menelan saliva dengan susah payah. Bagaimanapun juga ia adalah pria normal yang sedikit banyak cukup terpancing juga ketika melihat pemandangan dambaan kaum adam itu.
"Aku tidak butuh malam pertama!" ketus Kenzo. "Aku hanya tidak suka dianggap suami tidak becus saat tahu istrinya tidur di lantai," jelasnya, tanpa melihat ke arah Inara. Untuk menutupi kegugupannya, Kenzo melangkah ke nakas lalu iseng membuka lacinya satu persatu. Ia bingung mencari alasan, jika Inara bertanya lebih jauh lagi. Dan saat itulah kedua matanya tanpa sengaja melihat lembaran foto yang letaknya berubah. Ia pun mengerutkan keningnya tidak suka.
"Lalu kenapa pakaianku sampai terbuka begini?" protes Inara.
"Itu ulahmu sendiri, aku tidak tahu apa-apa!"
"Omong kosong! Mana mungkin kau mem– ...."
"Kenapa kau lancang membuka laci ini?" tanya Kenzo tiba-tiba, memotong protes Inara. "Kau mengacaukannya!" imbuhnya, tidak suka.
Inara tercekat. Ia lupa menyusun kembali lembaran kertas dan foto yang tadi sempat ia lihat, karena terlalu sedih memikirkan nasib ayahnya.
"Bukan aku saja, kau sendiri juga sudah mengacaukannya," kilah Inara, yang ingat jika Kenzo telah mengambil sesuatu di sana, sebelum pergi, tadi siang.
"Aku?" tanya Kenzo. "Tidak mungkin! Aku tidak di–" Kenzo terdiam saat teringat sosok yang menyerupai dirinya. "Ehm, apa kau tahu apa yang tadi ku ambil dari sini?" tanyanya.
Inara mencebik. "Dasar pikun," ejeknya. "Kau ambil lembaran foto masa lalu mu," jawabnya memberitahu. Ia lalu melangkah mendekati suaminya itu. "Siapa wanita itu?" tanyanya, saat Kenzo menatap gambar dirinya di masa lalu, yang sedang dipeluk seorang wanita. Inara pura-pura tidak tahu jika itu ibunya.
"Bukan urusanmu!" ketus Kenzo, yang lalu menyimpan foto itu dalam kantong jaketnya. "Rapikan lagi semuanya, aku mau pergi!"
"Eh, enak saja mau pergi tanpa minta maaf!" protes Inara, yang masih ingin bertanya lebih lanjut, mencari informasi tentang ibunya dari Kenzo.
"Aku tidak salah, sejak kapan orang yang menolong harus minta maaf?"
"Kau tadi sudah lancang menyentuhku, Tuan jahat!"
"Ya tentu saja aku harus menyentuhmu, kau pikir aku tukang sulap, yang hanya melihat bisa memindahkan mu tidur nyenyak di atas kasur?"
"Tapi, kau sepertinya ingin melakukan sesuatu untuk malam pertama kita." Inara terus saja berusaha, yang akhirnya memukul pelan bibirnya sendiri karena salah bicara.
"Dari tadi kau bicara soal malam pertama," desis Kenzo. Ia lalu menatap lekat pada kedua mata indah Inara, sembari mendekat. "Kau begitu ingin merasakannya malam ini denganku, hm?"
Inara menelan saliva dengan susah payah. Ia pun melangkah mundur hingga terhuyung ke belakang karena kakinya tertahan pinggiran tempat tidur. Tanpa sadar tangannya bergerak cepat mencengkeram kemeja Kenzo untuk berpegangan. Kenzo yang tidak siap akhirnya ikut terhuyung, membuat keduanya sama-sama terhempas, dengan posisi tubuh Kenzo berada di atas Inara.
"Kan, apa yang ku bilang tadi, Tuan jahat? Kau ingin melakukannya denganku," protes Inara dengan napas tertahan. Tanpa sadar jantungnya berdegup kencang, merasakan sesuatu dari tubuh Kenzo.
"Kau benar, aku ingin melakukannya saat ini juga," jawab Kenzo, sembari menyeringai.
"Oh, tidak!"