Kenzo melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati berdebar. Bukan karena jatuh cinta, tetapi karena ia masih belum siap bertemu dengan Inara. Ia masih belum bisa menemukan alasan yang tepat jika sewaktu-waktu istri sementaranya itu bertanya.
"Saya ke ruang kerja Anda dulu, Tuan, mau mencatat semua keterangan dari orang itu, selagi masih segar dalam ingatan," pamit Theo, yang lalu berbelok arah menuju ruang kerja Kenzo. "Selamat menikmati malam pertama," imbuhnya, sembari tersenyum kecil.
"Malam pertama apa? Jaga mulutmu, jangan sampai aku menyeret mu masuk kamar, lalu memaksamu bikin adonan bersama Inara!" hardik Kenzo. Theo hanya tertawa lalu cepat-cepat masuk ke ruangan itu, meninggalkan Kenzo dengan semua keresahan hatinya.
Saat tiba di depan kamarnya, Kenzo mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum mencoba untuk membuka. Namun belum sempat ia menyentuh handle, pintu sudah dibuka dari dalam. Ia melihat Inara hanya menatapnya sekilas, lalu melangkah ke balkon, setelahnya.
"Bagaimana kabar papa?" tanya Inara, saat Kenzo duduk di tepian tempat tidur.
"Beliau baik-baik saja, tenanglah," jawab Kenzo sedikit gugup. Ia sudah menduga jika Inara akan menanyakannya.
"Dari tadi kau bilang begitu, Tuan kejam, aku sudah menunggumu, dan belum ada kabar apapun selama tiga jam!"
Kenzo menatap heran. "Tiga jam?" tanyanya. Ia ingat betul jika ia pergi meninggalkan pelaminan dari jam sebelas siang, sementara sekarang sudah menjelang malam.
"Iya, tiga jam!" jawab Inara.
Kenzo beranjak dari duduknya lalu melangkah menghampiri Inara di balkon. Ia mencurigai sesuatu.
"Apa ada yang datang kesini, Nona?" tanya Kenzo menyelidik.
Kini Inara yang menatap heran pada Kenzo. "Apa kau sudah hilang ingatan, Tuan? Tadi kau sendiri yang datang dan memberiku ijin untuk bicara dengan papa, tapi nyatanya papaku malah kalian sakiti!" ketus nya.
"Aku?" Kenzo membelalakkan matanya.
"Siapa lagi kalau bukan kau yang bisa masuk seenaknya di sini?"
Kenzo tertegun. Dalam benaknya kini berkecamuk banyak pertanyaan, tetapi ia lebih memilih untuk tetap tenang. Hanya saja ia begitu penasaran, siapa sebenarnya yang telah mendatangi Inara.
Kenzo berdehem pelan. "Aku tidak menyakiti beliau," ucapnya. "Mungkin tadi kau salah dengar," pancingnya, ingin tahu lebih jauh tentang apa yang dibicarakan.
"Salah dengar? Tadi jelas sekali suara papaku sedang kesakitan!" protes Inara. "Kau harus tanggung jawab kalau terjadi sesuatu padanya!"
"Tenanglah dulu, Nona," ucap Kenzo pelan. "Kita bicara baik-baik." Dalam hatinya semakin berkecamuk berbagai tanya, terlebih tentang siapa sebenarnya dalang dibalik hilangnya Rangga.
"Bicara apa? Mau memberiku syarat lain lagi? Aku sudah muak dengan permainanmu! Bebaskan saja papaku, dan pegang janjiku, aku akan tetap memenuhi persyaratan itu!" potong Inara. Kali ini ia kelihatan sangat marah dan tidak bisa menahan diri.
"Nona, marah mu tidak akan bisa membuat ayahmu tiba-tiba datang ke sini," ucap Kenzo. "Ada baiknya jika kau menenangkan diri sejenak, berpikir baik-baik dengan kepala dingin, sambil mencari kesibukan untuk mengisi waktu, agar tiga bulan kita bisa kita lalui dengan cepat." Kenzo menatap wajah cantik Inara yang kini terlihat begitu kacau. Sudut hatinya merasa kasihan, ingin rasanya ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Inara yang sedang bersedih itu, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk melakukannya.
"Tiga bulan, kau mengatakannya dengan mudah, tanpa beban sama sekali, dan selama itu aku tidak tahu, papa masih hidup apa tidak," lirih Inara. Kenzo terdiam kelu.
Memikirkan kemungkinan terburuk itu membuat air mata Inara seketika berderai. Ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya di hadapan Kenzo, pria yang ia anggap begitu jahat dan terlalu kejam, memaksanya masuk ke dalam lingkaran masalah besar, yang mempertaruhkan nyawa sang ayah. Ia benar-benar putus asa.
Sudut hati Kenzo terasa pilu ketika melihat kesedihan Inara. Sosok bayangan seorang wanita yang sangat ia rindukan dan hormati pun tiba-tiba melintas begitu saja memenuhi ingatannya. Sosok seorang ibu, yang sudah beberapa tahun terakhir tidak mampu ia temui, karena dinyatakan hilang dan masih belum ditemukan hingga saat ini. Dan baru ia sadari, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang sangat mirip dengan ibunya.
Sebenarnya ia pernah berada di posisi Inara. Ia bisa merasakan kesedihan hati istrinya itu, tetapi, kekerasan hati dan gengsinya terlalu tinggi untuk mencari ibunya, karena sebelum ibunya dinyatakan hilang, mereka terlibat pertengkaran besar, hingga membuatnya lari, pergi dari rumah besar, kediaman keluarga Changaz yang cukup ternama dan disegani itu.
Kenzo menelan saliva dengan susah payah, saat memikirkan kemana lagi ia harus mencari keberadaan Rangga saat ini. Bukan niatnya jika ternyata hal itu yang terjadi. Dan kini masalahnya bertambah satu lagi, ia harus mencari siapa yang mendatangi Inara dan menyamar sebagai dirinya sekaligus membersihkan namanya di depan gadis itu.
"Aku janji a– "
"Janji, janji saja terus!" bentak Inara, memotong begitu saja. "Kalau sampai terjadi hal buruk pada papa, aku tidak akan memaafkanmu!" imbuhnya geram.
"Aku akan mengembalikannya padamu!" tegas Kenzo. "Aku janji, sebelum masa pernikahan kita berakhir, ayahmu sudah ada di sini, ingat itu baik-baik!"
"Jangan cuma omong kosong!" bentak Inara, penuh penekanan. "Jika sampai tiga bulan papa masih belum ada bersamaku, semua kejahatanmu akan ku umbar dan kulaporkan ke pihak yang berwajib! Aku tidak peduli sekalipun nantinya kau akan melenyapkan ku!"
Hati Kenzo seketika bergetar kencang mendengar ancaman Inara. Ia tidak sanggup bicara lagi. Baru kali ini ia begitu lemah, dan mirisnya dihadapan seorang wanita.
***
"Tidak banyak yang kita dapat darinya, Tuan, ternyata mereka asal mencari orang untuk mereka jadikan umpan," ucap Theo, yang lalu mengangkat wajahnya, mengalihkan tatapan dari layar ponsel ke arah sosok Kenzo yang sedang berdiri termangu di depan jendela, menatap kejauhan dengan tatapan kosong.
"Tuan ...," panggil Theo, yang seketika membuyarkan lamunan Kenzo.
"Ada apa?" tanya Kenzo, yang masih tetap berdiri di tempatnya.
"Tidak banyak informasi yang kita dapati dari orang itu," jawab Theo.
"Hm, apa sebaiknya dilepas saja?"
Theo menggelengkan kepala. "Jangan dulu, saya ada rencana untuk melepasnya diwaktu yang tepat," jawabnya.
"Begitu? Oke, lakukan saja."
"Apa yang sedang Anda pikirkan, Tuan?" tanya Theo. "Apakah ada masalah dengan nyonya?" Ia melihat jam dinding sekilas, lalu kembali menatap Kenzo. "Sudah larut begini, bukankah seharusnya Anda bermalam pertama?"
Kenzo mencebik. "Aku tidak minat," ucapnya. "Theo, ada seseorang yang menyusup ke rumah ini, menjadi aku, dan masuk ke kamarku menemui Inara."
Theo terkejut. Ia sedikit mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir. "Maksudnya bagaimana, Tuan?" tanyanya.
Kenzo lalu menceritakan semua hal yang didengarnya dari Inara, berikut sosok pria, yang menurut Inara adalah dirinya. Theo mendengarkan dengan serius sampai Kenzo selesai.
"Bagaimana bisa?" gumam Theo.
"Itulah yang sedang ku pikirkan saat ini."
"Apakah mungkin Anda sedang dijebak, Tuan? Saya merasakan ada indikasi yang mengarah ke sana, seolah-olah Anda lah yang saat ini sedang menyembunyikan tuan Rangga, meski sebenarnya memang seperti itu, awalnya."
"Aku juga berpikir begitu," ucap Kenzo, yang lalu menghempaskan tubuhnya dengan kesal ke atas sofa, Theo berpindah duduk di dekatnya.
"Dengan begitu nyonya pasti akan tetap menyalahkan Anda, setelah tahu jika ayah beliau telah hilang."
Kenzo mengusap kasar wajahnya. Ia terlihat semakin kalut. "Padahal tadi aku sudah berniat mengajaknya makan malam di luar, tapi dia keburu sedih."
"Cobalah lagi, Tuan, sampai Anda mendapatkan kepercayaan dari nyonya."
"Nanti saja, setelah dia sudah cukup tenang."
Theo menganggukkan kepalanya, memahami situasi. "Jadi, sebenarnya mereka lah pelakunya," gumamnya kemudian. Kenzo menatapnya penuh tanya.
"Seseorang yang menyamar sebagai Anda, saya yakin dialah yang tahu benar dimana posisi tuan Rangga saat ini," jelas Theo.
Kedua mata Kenzo seketika berbinar, seolah menemukan harta karun. "Periksa semua rekaman CCTV, aku ingin tahu, siapa sebenarnya dia yang meminjam rupaku!" titahnya.
Theo segera menjalankan perintah Kenzo, hingga sekitar satu jam kemudian, matanya yang jeli menemukan sesuatu yang ganjil dalam rekaman itu.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Kenzo penasaran.
"Sepertinya orang ini adalah suruhan," jawab Theo. "Lihat mobil hitam di seberang rumah ini, Tuan, lalu bagian akhir yang ini, saat orang itu pergi, dia sedang bicara dengan seseorang melalui ponselnya. Saya yakin ada sosok sang pelaku utama di belakangnya."
Kenzo memerhatikan rekaman itu lalu menganggukkan kepala, tanda setuju. "Kau benar," ucapnya. "Tolong perbesar gambar mobilnya, aku ingin lihat wajah si pengecut itu."
Theo melakukan apa yang diminta oleh Kenzo, hingga akhirnya terlihat wajah seseorang di dalam mobil, meskipun samar-samar.
"Bisakah kau perjelas gambarnya?" tanya Kenzo. Ia terlihat begitu penasaran.
"Sebentar, biar saya coba."
Theo melakukan sesuatu hingga akhirnya kedua mata Kenzo terbelalak lebar saat gambar wajah itu terlihat lebih jelas. "A–Apa? Kenapa dia ada di sana?"