"Waktunya sudah habis!" tegur sang pria, yang lalu dengan cepat merebut ponsel dari tangan Inara.
"Tunggu dulu! Apa yang terjadi padanya? Kau apakan dia?" teriak Inara, panik. Kedua matanya menatap penuh tanya dan tuntutan pada pria itu.
Pria itu menatap dingin, lalu melangkah pergi begitu saja, tanpa berniat menjawab. Namun langkahnya tertahan, karena Inara berhasil meraih pergelangan tangannya.
"Jawab dulu! Apa yang sebenarnya terjadi?" tuntut Inara.
"Apa yang kau dengar?"
"Papaku teriak kesakitan, apa kalian menyiksanya? Dasar penjahat!"
Pria itu menepis tangan mungil Inara yang memukul dadanya bertubi-tubi. Ia lalu mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab ke atas tempat tidur.
"Jaga sikapmu, Nona!" tegur pria itu tidak suka.
"Aku hanya ingin tahu keadaan papaku, bukankah aku sudah menepati janji dan menyetujui syarat itu?" protes Inara sembari berusaha bangkit.
"Yang jelas, ayahmu masih hidup," jawab sang pria acuh tak acuh, sembari membaca pesan yang baru saja masuk melalui ponselnya. Namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah pias. "Sial! Bagaimana bisa?" gumamnya.
"Aku tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri, antar aku menemuinya!" Inara terus berusaha merangsek, mendesak pria itu hingga sampai ke depan kamar. Ia begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya.
"Tetaplah di sini!" bentak pria itu, gusar. Raut wajahnya terlihat panik.
"Tidak mau! Aku harus lihat ayahku dulu!"
Pria itu mengetatkan rahangnya sembari melihat ke sekeliling mereka. Untung saja di sana tidak ada seorang pun yang berlalu lalang, hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang sibuk di lantai bawah.
Melihat kelengahan sang pria, Inara pun tidak membuang kesempatan. Ia berlalu pergi mendahului dan berlari menuruni tangga, menuju ke lantai bawah. Pria itu mendecak kesal. Ia tidak menyangka jika Inara bakal senekat itu.
"Tunggu dulu, Nona!" teriak sang pria. "Apa kau yakin bisa keluar dari sini dengan aman?"
Sontak Inara menghentikan langkahnya. Ia tertegun memikirkan ucapan pria itu, lalu dengan cepat bersembunyi di balik pilar, ketika melihat dua orang anak buah Kenzo melintas. Ia baru ingat jika dalam perjanjian yang sudah disepakati, ia tidak diperbolehkan keluar dari kediaman Kenzo sedetik pun. Semua kebutuhannya akan selalu disediakan, sesuai permintaannya. Ia pun lantas mengumpat dalam hati.
"Jika bukan karena papa, aku tidak akan senekat ini," ucapnya pelan.
"Tapi jangan gegabah, Nona, atau kau akan terima hukuman karena ingin melarikan diri," sahut pria itu. Inara mendengus kesal, terlebih kini sang pria menarik paksa lengannya, mengajak kembali ke lantai atas, ke kamar Kenzo.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri," ketus Inara. Pria itu pun melepas cekalannya, lalu meminta Inara untuk jalan terlebih dahulu. Sepertinya ia takut Inara akan nekat pergi lagi jika ia berjalan di belakangnya.
Hingga akhirnya sampailah mereka di depan kamar. Sebelum masuk, Inara menghentikan langkahnya lalu menatap pria itu dengan tajam.
"Kau yang bertanggung jawab penuh jika terjadi hal yang buruk pada papaku!" desis Inara. "Dan aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang. Camkan itu!" imbuhnya, mengancam.
Setelah selesai, Inara masuk dan membanting pintunya dengan keras lalu menguncinya dari dalam. Meninggalkan sang pria yang kini termenung sendiri, seolah takut dengan ancaman Inara. Ia melihat sesuatu dalam diri gadis cantik itu.
Inara menyandarkan tubuhnya ke pintu dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia begitu takut ketika membayangkan apa yang terjadi pada sang ayah. Sejujurnya ia sangat ingin melarikan diri dari tempat itu untuk mencari ayahnya, tetapi ia masih ingat dengan sangsi yang akan ia dapatkan jika ia melanggar perjanjian yang sudah ia sepakati dengan Kenzo. Tetap saja nyawa ayahnya yang menjadi jaminannya. Inara menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar sedih dan kalut karena tidak mampu melakukan apapun untuk menolong ayahnya saat ini.
Sementara itu di luar, sang pria pun melangkah pergi dengan ragu. Entah apa yang ada dalam benaknya kini setelah melihat raut wajah Inara dan mendapatkan ancaman itu, yang jelas saat ini ada satu hal yang harus ia kerjakan, setelah mendapatkan pesan dari seseorang melalui ponselnya.
Pria itu terkejut ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Cepat ia membuka dan menjawab panggilan itu.
"Ayah ...," jawab pria itu, sembari tetap berjalan, keluar dari rumah besar itu.
"Kau sudah jalankan tugasmu, Nak?" tanya seorang pria di ujung panggilan.
"Sudah, Inara sudah aman, nyaris dia minggat dari sini, tapi aku sudah mengamankannya."
"Kerja bagus! Dia pasti akan sangat membencinya."
"Ayah, apa benar Rangga dalam bahaya? Inara bilang ayahnya berteriak kesakitan. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah ayah sudah berjanji untuk tetap menjaganya sampai tujuanmu tercapai?"
Pria di ujung panggilan pun tertawa. "Tenanglah, aku hanya sedikit memberinya pelajaran, karena dia berusaha mengirim pesan tersembunyi ke putrinya itu dengan mengetuk ponsel beberapa kali, semoga saja Inara tidak menyadarinya," jawabnya, tenang.
Pria itu terus berjalan sembari terus bicara melalui ponselnya, hingga akhirnya ia pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi menjauh dari rumah besar itu.
***
"Sial! Ini tipuan!" geram Kenzo. Ia menatap wajah seseorang yang tidak sadarkan diri di hadapannya, sementara Theo memeriksa seluruh tempat, mencari sosok Rangga, namun hasilnya nihil. Mereka hanya menemukan satu pria yang tidak mereka kenali, yang saat itu terlihat tidak sadarkan diri dengan ikatan tali yang melilit tubuhnya, juga kain yang menutup mulut pria itu, terikat di belakang kepalanya.
Kenzo melepas alat pelacak kecil dari dalam saku pakaian pria lalu meremasnya hingga hancur. Jelas terlihat jika ia begitu marah karena merasa dibodohi.
"Mereka menemukan alat pelacak itu," lirih Kenzo. "Kita terlambat," imbuhnya. Theo menganggukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Tuan," jawab Theo, penuh penyesalan.
"Sial!" umpat Kenzo, sembari melayangkan bogem mentahnya ke dinding, hingga buku-buku jarinya memerah. Theo menundukkan kepala, tidak berani menatap atasan, yang sudah seperti keluarganya sendiri itu.
"Kita bawa dia ke markas, kita harus mencari informasi darinya!" titah Kenzo, yang lalu mulai mencoba untuk mengangkat tubuh pria itu, dibantu oleh Theo.
Dalam perjalanan, Kenzo lebih banyak diam. Ia berkali-kali mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusut dan begitu kalut. Theo sesekali meliriknya dengan hati yang kacau. Perasaan gagal kini memenuhi benaknya.
"Saya akan mencari cara lain untuk menemukan Tuan Rangga," ucap Theo.
Kenzo terdiam lalu tiba-tiba ia menoleh cepat menatap Theo disampingnya. "Seharusnya tadi kita tidak langsung pergi, Theo!" serunya. "Aku yakin masih ada seseorang yang menunggu kita datang untuk memastikan bahwa mereka berhasil mengecohku!"
Theo tersenyum tipis. "Tenanglah, Tuan, anak buah saya sudah melakukannya. Ada baiknya kita pergi agar mereka tidak curiga dan orang-orang kita bisa bekerja dengan baik," jelasnya. "Mereka pasti saat ini masih mencari bukti dan jejak mereka yang mungkin tertinggal di sana."
"Kau yakin?"
Theo mengangguk tegas. "Sangat yakin, karena saat kita datang, saya sempat mendengar suara orang berlari, dan sepertinya mereka baru saja mengikatnya, tidak menyangka jika kita bakal cepat datang," jawabnya.
"Kerja bagus! Ku harap anak buahmu membawa hasil yang memuaskan."
"Semoga saja, minimal ada beberapa petunjuk untuk bisa tahu kemana mereka membawa Tuan Rangga," sahut Theo.
"Sekarang aku bingung, bagaimana cara menghadapi Inara," keluh Kenzo. "Bagaimana kalau dia tahu masalah ini? Ayahnya itu jaminan, aku yakin jika dia sampai tahu, dia bakal pergi sebelum aku menemukan saksi kedua itu untuk membersihkan namaku."
"Seperti yang sudah saya sampaikan, ada baiknya Anda jujur saja pada Nyonya, sebelum beliau tahu dari orang lain." Theo menatap Kenzo, prihatin. Ia ikut merasakan kegalauan hati tuannya itu.
"Aku setuju dengan pendapatmu, hanya saja aku bingung bagaimana cara memulainya."
"Mungkin sambil mengajak Nyonya makan berdua di tempat yang romantis," ujar Theo, mencoba memberi saran.
Kenzo terkekeh. "Aku sudah bukan anak muda lagi, buat apa harus ke tempat yang romantis? Lagipula aku tidak menyukainya. Dia hanya alatku," ucapnya geli.
"Ada yang bilang jika tempat yang romantis bisa melembutkan hati wanita."
"Maksudmu?"
"Tempat itu mungkin bisa membantu Anda untuk meredam emosi nyonya, saat beliau mendengar masalah ayahnya," jawab Theo. "Semoga saja. Saya hanya memberi saran, Tuan, terserah Anda kau mencoba atau tidak."
Kenzo mencebikkan bibirnya. "Baiklah, biar aku coba nanti."
"Kenapa harus tiga bulan, Tuan?" tiba-tiba Theo bertanya. "Maaf jika saya lancang bertanya."
"Apa itu, soal pernikahan?" tanya Kenzo memastikan. Theo mengangguk, membenarkan.
"Karena ayah hanya memberiku waktu tiga bulan, setidaknya sampai dia tahu sendiri kalau Inara hamil," jawab Kenzo. Wajahnya terlihat murung. "Dia tidak mau tahu, pokoknya dalam tiga bulan itu Inara harus hamil."
"Anda setuju?"
"Aku kesulitan untuk menolak karena dia mengancamku dengan rekaman kejadian itu," jawab Kenzo. "Lagipula aku ada ide brilian," imbuhnya.
"Apa itu, Tuan?"
"Inara akan hamil karenamu, bukan karenaku," jawab Kenzo.
"Apa?"