"Tersenyumlah, jangan pasang muka tembok seperti itu!" tegur Kenzo, sembari menatap tidak suka pada Inara yang berdiri di sebelahnya, di pelaminan.
"Yang penting aku sudah bersedia menikah, bukan?" jawab Inara, asal. "Perkara senyum saja ribut!" imbuhnya, menggerutu. "Kau sendiri datar begitu mukamu!"
"Diam dan senyum! Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang tidak kau sukai jika kau membangkang!" bentak Kenzo dengan suara tertahan.
"Apa kau tidak bisa selain mengancam, wahai Tuan yang terhormat?" protes Inara.
"Aku tidak akan mengancam kalau kau patuh!" sahut Kenzo.
"Cih ...!" Dengan sangat terpaksa Inara memasang senyum termanisnya ketika menyambut tamu yang datang menghampiri mereka. Diam-diam Kenzo tertawa dalam hati.
Suasana hangat dan cukup meriah itu seketika sunyi, ketika terdengar suara gelas pecah di iringi umpatan kecil dari mulut Kenzo. Pria itu lantas pergi begitu saja dengan wajah panik, meninggalkan Inara berdiri sendirian di atas pelaminan dengan penuh tanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Inara pada Theo, yang masih berdiri disana, menyampaikan sesuatu pada Simon.
Theo terdiam sesaat, ia terlihat sedang berpikir, sebelum akhirnya menjawab Inara. "Ada sedikit masalah, Nyonya, Tuan Kenzo harus pergi."
"Ajak dia pergi, biar aku urus yang di sini!" perintah Simon, mengambil tindakan. Theo mengangguk patuh lalu mengajak Inara pergi dengan sopan. Dengan wajah bingung Inara ikut saja kemana pria itu pergi.
***
Kenzo menjambak rambutnya sendiri saat semua anak buahnya gagal menemukan ayah Inara. Ia begitu gusar karena ternyata anak buahnya begitu lengah. Ia pun tak habis pikir, bagaimana ayah Inara bisa keluar dan lolos dari pengawasan mereka dengan mudah. Karena terlalu marah dan kecewa, dua orang anak buahnya yang menjaga ayah Inara pun menjadi korban amukannya. Mereka tergeletak tak berdaya setelah mendapatkan bogem mentah dari orang pilihan Kenzo.
"Cari sampai dapat, atau nasib kalian akan sama seperti mereka!" teriak Kenzo. Sontak semua anak buahnya segera membubarkan diri, mencari ayah Inara.
Tak lama Theo datang lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kenzo. Keduanya terlihat sedang berbicara serius hingga akhirnya Kenzo mengajak Theo untuk pergi dari sana dengan mobilnya.
"Kau yakin alat pelacak mu itu aman?" tanya Kenzo sembari menatap layar ponsel milik Theo.
"Yakin, Tuan. Siapapun tidak akan mengira jika ada alat pelacak, sekalipun itu Tuan Rangga," jawab Theo. Ia bicara sembari tetap menatap jalanan. Rangga yang Theo maksud adalah ayah Inara.
"Bagaimana bisa kau berpikir secerdas itu, memasang alat pelacak, padahal aku sendiri tidak yakin jika Rangga bakal melarikan diri."
Theo tersenyum tipis. "Masalah rencana pernikahan itu sudah bocor, Tuan, dan saya yakin jika ada mata-mata yang menyusup diantara anak buah kita," jelasnya. "Dan saya juga yakin, masalah tuan Rangga pun bakal diketahui orang lain."
"Aku tidak mengerti."
"Pikirkan saja tentang musuh Anda," jawab Theo. "Jika rencana awal Anda bisa kacau, saya yakin rencana Anda yang selajutnya pun bakal dia kacau kan."
"Jadi, maksudmu Rangga diculik?"
Theo menganggukkan kepalanya. "Tuan Rangga hanya seorang diri, orang kita sudah memastikannya saat menyekap beliau. Sangat tidak mungkin jika beliau berhasil melarikan diri sendirian dengan pengawasan seketat itu. Sudah pasti ada campur tangan orang lain."
Kenzo terdiam mendengar ucapan Theo. Ia lalu mengusap kasar wajahnya yang terlihat kalut. Jelas sekali jika saat ini ia sedang panik dan kebingungan.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya. Dia satu-satunya jalan untukku bisa bebas dari semua masalah ini," ucap Kenzo, lirih. "Aku harus bilang apa jika Inara bertanya tentang Rangga?"
Theo menghela napas berat. "Anda harus jujur pada nyonya," jawabnya. "Atau Anda akan lebih bermasalah lagi jika nyonya mengetahui tentang hal ini dari orang lain, alias musuh Anda."
"Sial" Umpat Kenzo. Ia memukul dashboard mobil dengan keras karena gusar.
"Kita sudah dekat, Tuan. Alat pelacak itu berkedip dan berhenti sekitar seratus meter di depan kita," ucap Theo, memberitahu. Kenzo segera bersiap dan mengeluarkan senjata api kecil miliknya, yang ia genggam erat, sementara Theo segera menepikan mobil dengan pelan, sembari melihat ke sekeliling mereka, berjaga jika ada sosok yang mencurigakan.
"Siapapun yang berani menculik Rangga dariku, ia tidak akan selamat!"
***
Inara berdiri di balkon kamarnya sembari menatap ke bawah, memperhatikan beberapa anak buah Kenzo yang berlalu lalang, menjaga tempat itu.
Ia lalu memindai sekitar tempatnya berdiri, lalu menatap ke dalam kamar yang cukup luas dan mewah itu dengan perasaan campur aduk. Terlebih saat melihat banyaknya bunga mawar merah yang menghiasi tempat tidur berukuran king size, juga beberapa hiasan bunga di sekitarnya.
"Apa sebenarnya yang ia cari dariku sampai harus menikah?" gumam Inara. Ia lalu melangkah masuk ke dalam dan duduk ditepian tempat tidur.
Tatapan matanya berhenti pada sebuah bingkai foto yang menempel di dinding, menampilkan sosok Kenzo yang sedang berdiri gagah di depan mobil sedan mewah berwarna hitam. Saat itu juga ia yakin jika kamar ya ia tempati ini adalah kamar Kenzo, yang disulap menjadi kamar pengantin.
Inara beranjak dari duduknya, lalu berdiri diam menatap wajah Kenzo dalam foto itu. Dahinya mengerut ketika teringat sesuatu.
"Wajahmu tidak asing, tuan jahat," gumamnya. "Curiga kalau dulu kita pernah berteman," imbuhnya. "Ah, tapi tidak mungkin, kau terlihat lebih tua dariku."
Setelah selesai ia pun lantas melangkah ke nakas untuk menuang minuman yang sudah disediakan. Hari itu cukup melelahkan baginya karena harus berdiri cukup lama sembari tersenyum, yang membuat gigi serta tenggorokannya kering.
Inara meneguk minumannya sembari iseng membuka-buka laci nakas yang ternyata tidak terkunci. Jantungnya berhenti berdetak ketika menemukan selembar foto tentang ayahnya yang sedang bersalaman dengan Simon, ayah Kenzo. Ia mengerutkan dahinya, mencoba mengingat wajah Simon, yang juga seperti tidak asing baginya.
"Siapa sebenarnya mereka ini?" gumam Inara, penasaran, hingga akhirnya ia pun tercengang ketika melihat foto Simon, Kenzo dan juga seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenal. Ketiga orang itu terlihat bahagia, terlebih Kenzo, yang masih sangat muda di sana.
"M–Mama ...!" seru Inara. Ia menatap tak percaya, lalu kembali mencari jika ia bisa menemukan foto yang lain. "Kenapa ada mama?" desisnya.
Jantung Inara kembali berdegup kencang ketika menemukan satu lembar foto lagi yang menampilkan sosok sang ibu tengah memeluk seorang pemuda, yang Inara yakini adalah Kenzo.
"Mama, ada apa ini sebenarnya? Apakah sebenarnya aku ini anak tiri kalian, pa ..., ma ...?" gumam Inara, bingung. "Aku harus menghubungi papa," desisnya, yang lalu menepuk dahinya dengan keras. "Ponselku, pria jahat itu merampasnya dariku!" gerutunya. "Sial!"
"Pakai ini," ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Inara, sembari menyodorkan ponsel. Inara begitu terkejut dan menatapnya bingung.
"K-Kau ...."
"Sstt ..., tenanglah," ucap pria itu sembari menutup bibirnya dengan jari, memberi kode pada Inara. "Kau mau menghubungi ayahmu, bukan?" tanya sosok yang datang tiba-tiba itu.
Sontak Inara mengangguk antusias, lalu mengambil ponsel dari tangan sang pria, namun gagal, karena pria itu menarik tangannya dan menjauhkan ponsel dari Inara.
"Tunggu dulu, ada syarat yang harus kau penuhi sebelumnya," ucap pria itu.
"Syarat? Ck ...! Apa itu?"
"Jangan sampai ada yang tahu kalau aku menemuimu, juga memberimu pinjaman ponsel," jawab pria itu. Inara lagi-lagi menatap tak percaya.
"Memangnya kenapa kalau ada yang tahu, bukannya kau ini ...."
"Jadi menghubungi ayahmu atau tidak?" potong pria itu. "Kau ini terlalu banyak bicara!"
"Oke, baiklah, aku terima syaratnya!" jawab Inara. "Hanya itu saja?"
"Rahasiakan tentang apapun yang terjadi sekarang, termasuk isi percakapan dengan ayahmu, oke?"
Inara terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku setuju!"
"Good girl!" puji pria itu, yang lalu memberikan ponselnya ke tangan Inara. "Waktumu hanya lima menit!"
"Apa? Mana cukup? Ak–"
"Halo, Nak, bagaimana kabarmu? Papa baik-baik saja, apapun yang terjadi dan kamu dengar nanti tentangku, papa harap kamu tetap tenang dan selalu ingat tentang janji kita," ucap seseorang dari ponsel, yang ternyata sudah terhubung, memotong protes Inara.
"Papa!" pekik Inara dengan suara tertahan, karena mendapati tatapan mata tajam penuh ancaman dari pria di hadapannya. "Pa, tenanglah, semua akan baik-baik saja, Inara janji, tiga bulan ke depan kita akan hidup tenang lagi," ucapnya sembari melempar lirikan tajam pada sang pria.
"Kamu yang harus tenang, Nara, karena papa akan pergi dalam waktu lama. Jaga dirimu baik-baik!" jawab Rangga, ayah Inara.
"Tapi, Pa ...."
"Argh ...! Lepaskan aku!" teriak Rangga di ujung panggilan, lalu terdengar suara letusan membuat jantung Inara seolah berhenti berdetak.
"Papa ...!"