Sudah beberapa hari terakhir, kerjaan Kania di dalam apartemennya hanya berleha-leha saja. Beginilah nasib seorang jobless dadakan. Kania akan tidur larut malam sehabis nonton serial drama, bangun lewat tengah hari, lalu makan, bersantai lagi, dan seperti itu terus siklusnya. Bisa-bisa, nanti saat Kania menimbang berat badan, bobot tubuhnya naik drastis karena terlalu banyak ngemil. Ugh, menakutkan sekali buatnya. Tapi bagaimana caranya berhenti? Someone, please, help!
Jelas, semua ini gara-gara Jesline. Kalau wanita sialan itu tidak memancing emosi duluan, Kania pasti tak akan naik pitam semengerikan itu—hingga terjadi keributan besar, yang menyebabkan lenyapnya kontrak kerja dengan bayaran mahal bersama team Rin Sabina tersebut. Coba bayangkan sebentar saja, betapa rugi besar seorang Kania. Di saat-saat karirnya sebagai model sedang mulai naik pula. Bukan cuma mengalami kerugian secara materi, tapi brand diri pun—citra Kania pasti sedikit tercoreng karena insiden itu. Jangan tanyakan seberapa hebatnya amukan dari agensi modellingnya untuknya, ketika tahu ia bikin ulah. Kania sampai tidak mau ingat itu semua—segala jenis teriakan yang nyaris saja membuat kupingnya tuli.
Well, daripada membuang-buang energi baik di dalam kepalanya, kenapa Kania tidak mulai rileks dan memandang sesuatu lewat kacamata yang sederhana? Misalnya, bukankah ini berarti Kania punya waktu istirahat lebih lama—dibanding rekan-rekan modelnya di agensi? Menyedihkan, tapi doktrin itu mesti Kania pahat baik-baik agar perasaannya stabil. Perasaan manusia yang stabil akan didapatkan ketika mereka merasa bahagia. Dan salah satu definisi kebahagiaan Kania adalah—nonton serial TV Amerika yang aktornya ganteng-ganteng!
Senyumnya itu luar biasa merekah. Kemudian, Kania menjatuhkan bokongnya ke atas sofa. Ditemani oleh lima buah toples kue kering, bantal, dan guling. Kania mulai menonton serial fenomenal Friends, yang menceritakan romansa beberapa pemuda di kota New York. Namun, di tengah-tengah acara menontonnya itu, tetiba ponselnya yang sedang dicharger dalam kondisi telungkup, berdering. Kania yang saat itu sedang asyik mengunyah kacang mete, mau tak mau membaliknya. Ekspresi pertama yang ditampilkan oleh wajahnya ialah, Kania nampak memutar bola mata dengan malas. Huft. Rupanya, menegernya menelpon. Apa ia akan diceramahi lagi oleh pihak agensi lewat berbagai macam orang yang bekerja di sana? Karena pemikiran negatif itu, Kania memutuskan merejectnya. Bodo amat. Tidak akan ia angkat pokoknya. Huh, dasar, mengganggu ketenangan orang saja!
Agaknya, manajernya berusaha sangat keras untuk bisa bicara dengan Kania. Karena semakin didiamkannya, semakin banyak missed call yang masuk. Dan baru saat Kania hendak benar-benar mematikan daya ponselnya itu, ia melihat sebuah pesan yang seketika membuat kelopak matanya melebar.
Angkat dulu telponnya. Ini soal kerjaan. Begitu bunyi dari si pemberi pesan. Langsung saja, seperti seekor kucing yang bertemu dengan ikan, Kania menelpon balik manajernya yang tersayang. Oh, semoga memang kabar baik yang dibawa oleh perempuan itu. Kalau sampai Kania ditipu, awas saja!
“Ya ampunnnnn! Ke mana aja sih dari tadi ditelpon nggak diangkat-angkat?!” Murka di ujung sana. Nah, kan. Ada semburan api naga. Untung Kania berancang-ancang dengan menjauhkan ponselnya dari telinga terlebih dahulu. Jadi sampai sekarang—pendengarannya masih aman. Jelas! Karena Kania selalu sedia payung sebelum hujan.
“Sorry, Beb, baru bangun tidur.” Balas Kania dengan genit. “Jadi ada kerjaan apa nih buat aku? Duh, nggak sabar banget dengerinnya.” Diucapkannya seolah-olah Kania tidak punya rasa bersalah sama sekali.
Yang pasti, jawaban itu membuat manajernya makin kesal—tapi tak bisa berbuat banyak, selain mengembus napas pendek, “Agensi dapet email balasan dari I-Line Skycraper, yang ngasih informasi kalau kamu, Kania Salim yang selalu nguji kesabaranku, terpilih sebagai model yang bakal jadi BA untuk produk sportwear mereka.”
“Ha?” Kania duduk tegak, membuat toples kacangnya jatuh ke karpet. Beruntung karpetnya mahal dan empuk, jadi tak membuatnya pecah berantakan.
“Serius?” kejutan ini benar-benar tak bisa dipercaya—
“Ngapain bohong?” manajernya dongkol.
“Oh, Tuhan!” Kania menjerit bahagia. “Aku ini emang born to be a star, Uwiku yang manis, kan udah kubilang. Kerjaan mati satu tumbuh seribu! Makanya jangan marah-marah dulu ke aku gara-gara didepak Rin Sabina.” Jiwa Kania amat penuh optimisme sekarang. “Hahaha. Yeah, well, siapa sih yang nggak tertarik liat profile aku? Nah, mereka kegaet juga!”
“Udah, udah, kamu nggak usah besar kepala,” ucap malas seorang Juwita, manajer sekaligus teman sekelas Kania pada masa SMA dahulu. Keduanya dekat, meski sifat mereka sangat berbanding terbalik, “fokus aja sama kerjaan baru ini.”
Kania mendecak, “Iya, iya, aku tahu. Aku cuma bilang beberapa fakta yang nggak bisa terbantahkan aja.”
Giliran Juwita mendengus, “Terserah, deh,” lalu ada jeda beberapa detik. Juwita sepertinya sedang sibuk mengecek sesuatu. Sebelum bersuara kembali, “aku udah kirim schedule buat kamu ketemu sama pihak mereka.”
Mata Kania pun bergerak-gerak selagi berpikir, “Kamu nggak akan ikut buat nyaksiin aku teken kontrak?”
“Ikutlah,” Juwita cepat menjawab, “tapi itu beberapa hari ke depannya. Mereka pengen kamu ke kantor dulu buat tes kostum.”
“Okay, itu nggak masalah,” Kania sedang berada dalam suasana hati yang bagus—bersemangat, “aku bakal datang ke sana sesuai dengan jadwal yang udah disepakati.”
“Tapi inget, kali ini nggak boleh sampe ada keributan lagi,” ingatkan Juwita, yang lagi-lagi dijawab dengan kata yang sama seperti sebelumnya; iya, iya, “please—nggak perlu ricuh kalau kerja. Kamu mesti kooperatif, kalem, manut—supaya nggak bikin malu Stardom Entertainment.”
“Oh My God, aku bilang iyaaaaa!” Kania jadi ikutan gereget. Nggak percayaan banget sih sama dia? “lagian aku udah tobat, aku nggak mau cari ribut lagi kok sama orang.”
Tetapi tetap saja Juwita menyangsikan, “Semoga kamu betulan jadi anak manis yang nggak cuma di mulut doang ya tobatnya.”
Idih-idih. Punya manajer nggak bisa diyakinkan banget sih. Kania satu kali lagi menenangkan, “Mereka bakal lebih jatuh cinta setelah liat kepribadianku yang super hangat,” dari Hongkong—kalau bukan soal kerjaan, mana bakal Kania mau repot-repot bermuka dua begitu, “jadi kamu tenang aja, aku akan lakuin tugas dengan perfecto!”
Akhirnya, Juwita mengalah karena Kania kedengaran bersungguh-sungguh kali ini. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, wanita itu pun mengakhiri pembicaraannya dengan Kania, yang di detik tertutupnya sambungan telepon, langsung menjatuhkan diri ke sofa dengan heboh saking senangnya.
“Akhirnya! Akhirnya!” teriaknya, tertawa-tawa.
Kania sangat senang atas berita yang mengakhiri masa penganggurannya. Tapi kalau dipikir-pikir juga, dia tidak perlu seterkejut itu, sih. Wajar dong Kania terpilih. Dia cukup fierce kok kalau dipakaikan baju-baju olahraga yang ketat. Pihak dari perusahaan itu pasti bisa meneropong kelebihannya. Makanya ia lolos kualifikasi dari sekian banyak “pelamar” yang ada.
Uh, I-Line Skycraper itu perusahaan besar. Beberapa tahun terakhir prestasinya sedang meroket pula. Pasti akan ada iri yang berdatangan dari teman-teman seprofesinya, karena ia berhasil menjadi BA produk sportwear mereka. Kania sudah tak sabar menunjukkan bahwa ia memang layak untuk menerima semua itu! Meski pada awalnya, memasukkan “lamaran” ke perusahaan tersebut merupakan hal yang benar-benar tidak ia antisipasi hasilnya. Kalau dapat syukur, tidak ya sudah. Seperti perjudian saja. Tapi Dewi Fortuna agaknya ingin memanjakan seorang Kania, dan menghapus jejak-jejak malu karena pernah tertendang dari pekerjaan lamanya. Ah, sudah, sudah—Kania mesti move on dari Rin Sabina!
Eh, bukankah kalau begitu—Kania perlu merayakan langkah suksesnya ini dengan teman-teman dekatnya? Biar mereka nyahok kalau Kania sudah dapat job baru yang tentu jauh lebih menggiurkan. Maka dengan cepat, Kania mendial salah satu nomor yang ada di list phonebooknya—Mayang.
“Halo, Beb,” sapanya dengan riang kala diangkat, dan belum juga dibalas oleh temannya, Kania sudah menyerobot kembali, “malam ini minum-minum, yuk? Tenang, aku yang traktir!” ucap Kania dengan mantap.
Dan lagian, siapa yang bisa menolak bersenang-senang secara gratis? Tanpa dipaksa, mereka pasti mengiyakan!
***