Pada rapat yang berlangsung siang itu, Segara begitu fokus mendengarkan apa yang sedang dijelaskan oleh pihak Swave Goods, perusahaan asal Belgia yang bergerak di bidang fashion. Rapat ini bisa terselenggara karena perusahaan yang dia pimpin selama empat tahun terakhir, cukup tertarik dan juga sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi Lunar—salah satu divisi Swave Inc. yang memproduksi gaun wanita.
Hal itu sangat menarik, karena Lunar seperti terdengar akan memberi lebih banyak keuntungan untuk perusahaannya ini, bukan? Karena tentu saja kita semua tahu, bahwa pesona gaun-gaun cantik itu tak bakal padam sampai kapanpun. Gaun selalu menjadi magnet yang tak bisa dilepaskan dari pencarian seorang perempuan—begitu Salma bilang tempo hari. Usaha ini tidak punya ujung. Sederhananya, sebuah gaun tidak akan merugikan pihak yang telah memproduksinya. Meskipun basic perusahaannya selama ini dikenal sebagai gudang sportwear yang berkualitas.
Memikirkannya, membuat Segara jelas-jelas merasa jadi orang paling licik. Bahkan bagi dirinya sendiri, Segara begitu pandai memanipulasi alasan. Sebetulnya, Segara melakukan hal ini bukan semata-mata karena perusahaannya ingin dapatkan keuntungan banyak lewat penjualan gaun—atau, merambah usaha yang berbeda sama sekali ini. That’s totally bullshit. Segara punya alasan yang jauh lebih pribadi, yang disembunyikannya rapat dari orang-orang. Even his friends, yang sepenuhnya ikut setuju dengan keputusan pengakuisisiannya.
“Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya kepada perwakilan A-Line Skycraper, perusahaan kami sedang dalam periode inflasi.” Si juru bicara dengan aksen Belgianya yang kental, menunjuk ke layar proyektor yang menyala. “Maka dari itu, kami memutuskan untuk menawarkan sebuah kerjasama melalui penggabungan ini. Agar Lunar dapat diperluas dengan adanya suntikan dana yang mumpuni dari A-Line Skycraper.”
Segara dan timnya mengerti, banyak perusahaan tidak memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi mampu melakukan ekspansi eksternal. Salah satu caranya ialah perusahaan itu menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi—seperti A-Line Skycraper—sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan juga penurunan kewajiban perusahaan. Lagi pula, Swave Inc. cukup terkenal di telinga para pemburu fashion. Tak akan sulit bagi perusahaan Segara untuk membuat Lunar semakin melambung kalau jadi diakuisisi nanti.
Juru bicara kembali melanjutkan, “Kami ingin selalu menjaga ketersediaan pasokan bahan baku untuk Lunar, yang nantinya akan diserap oleh pasar.” Jelas, bukan? Mereka tidak ingin brand Lunar tenggelam begitu saja, hanya karena sedang mengalami inflasi di dalam tubuh perusahaan. Dan secara tidak langsung, mereka membutuhkan bantuan dari perusahaannya meski berawal dari tidak sekufuan.
“Baik.” Segara membetulkan cara duduknya setelah si juru bicara Swave Inc. selesai mempresentasikan apa saja yang bisa didapatkan oleh perusahaannya, jikalau pengakuisisian itu benar terjadi. “Terima kasih atas semua penjelasan yang sangat rinci tersebut. Penjelasannya masuk akal dan bisa diterima oleh kami—untuk kemudian dapat dipertimbangkan, sebagai syarat mengambil keputusan akhir.”
Dengan nada bicara yang penuh percaya diri, Segara menyambung, “Tetapi sebelum keputusan final diambil, kami persilahkan untuk menyimak lebih dulu tentang profil A-Line Skycraper, agar kerjasama kita di masa depan—bisa terus baik serta transparan.”
Wanita yang berada di sisi Segara mengangguk, lantas berdiri. Sebelum memulai, dia menampilkan profil perusahaan secara taktis lewat layar yang bisa dilihat semua orang—yang berada dalam ruangan tersebut. Geraknya itu begitu lincah dan cekatan. Khas seorang sekretaris yang dapat diandalkan.
Ia berdehem sekali, “Perusahaan kami dikenal dengan produk-produk yang harganya terjangkau, namun juga mampu meraih pasar yang lebih premium dengan berbagai kolaborasi bersama perusahaan terkenal lainnya dan brand high-end. Sebut saja dengan Nike, Adidas, dan Puma. Tahun lalu, perusahaan kami mendapat profit yang telah mencapai angka USD 1,28 miliar lewat penjualan sportwear.”
Dari tempat duduknya yang empuk itu, Segara nampak tidak puas dengan apa yang telah disampaikan oleh sekretaris pribadinya. Segara adalah pria yang ambisius. Profit itu terlalu sedikit untuk dibanggakan. Maka, Segara berjanji akan menjadi penggali emas yang lebih handal lagi—di tahun ini, dan juga di tahun-tahun berikutnya. Lewat dua produk yang berbeda satu sama lain. Tentu saja, di luar misi terselubungnya.
Sementara itu, suara dari sekretarisnya masih terdengar ketika menjelaskan. Secara garis besar, A-Line Skycraper adalah sebuah perusahaan ritel asal Indonesia, yang sekarang berhasil merajai pasar sportwear global, dan bersaing dengan perusahaan besar lainnya. Selain itu, A-Line Skycraper juga dikenal sebagai induk perusahaan brand high-streetnya seperti OTO (Over the Odds) yang memproduksi sportwear untuk tenis, Galleon untuk basket, dan beberapa yang lainnya. Dengan lebih dari 2000 jaringan toko yang sudah tersebar di 17 negara. Untuk lebih jauhnya, pengembanan kerja A-Line Skycraper dilakukan secara internal. Dimulai dari mendesain sportwearnya, memproduksi mereka, mendistribusikannya—hingga memasarkan produk di toko maupun outlet, yang berada di bawah lisensi perusahaan.
“—melalui serangkaian diskusi yang cukup panjang di antara jajaran internal, perusahaan kami setuju untuk segera mengambil Lunar sebagai bagian dari anak perusahaan ini.” Si sekretaris tersenyum dengan formal. Dan nampak pihak dari seberang terlihat puas atas apa yang mereka dengar.
Setelah mengambil keputusan, akhirnya rapat tersebut rampung. Lunar akan diakuisisi oleh A-Line Skycraper, tetap sebagai nama Lunar yang memproduksi gaun. Segara tak akan mengubahnya ke dalam nama lain. Dan itu artinya pula, Segara akan jadi pemegang saham dari dua perusahaan besar. Tentu bersama para pemegang saham lain dari perusahaannya. Hanya saja, dia dapat bagian yang paling besar.
Well, apa pun itulah—setidaknya rapat tersebut sudah berjalan dengan sangat lancar, setelah—selama kurang lebih memakan dua jam 30 menit waktu mereka. Segara betul-betul lega, sekaligus tak habis pikir, bahwa dia akan menangani satu hal yang tidak pernah terlintas dalam benaknya; berbisnis dengan gaun wanita.
***
Orion Singgih—salah satu pemegang saham yang ikut hadir pada rapat, sekaligus adik sepupunya, masuk ke dalam ruangan Segara ketika rapat tersebut sebenarnya sudah usai beberapa jam yang lalu. Sambil membawa sebuah berkas yang cukup tebal. Di sampulnya yang hitam itu tertulis—Over the Odds, brand dari I-Line Skycraper yang ditangani olehnya. Dalam berkas itu pasti termuat begitu banyak tumpukan kertas, yang mesti diperiksa oleh Segara. Well, pekerjaannya hari ini sedang banyak-banyaknya, namun Segara menikmati.
Lantas, Orion pun duduk di seberang meja kerja yang Segara duduki. Mereka kini dipisahkan oleh sebuah meja yang penuh dengan berbagai macam benda. Berkas, buku, telepon kabel, map, dan yang lainnya. Meski begitu, Segara sama sekali tidak bersikap ngebos di depan Orion. Kepada satu sama lain mereka tetap bersikap informal. Apalagi jika situasi tak sedang serius begini.
“Nih, ambil—” Orion melemparkan berkas itu, yang langsung sigap ditangkap Segara. Begitulah mereka saking telah akrabnya, selalu santai dan main-main. “Kayaknya Over the Odss makin hari makin tenar aja. Liat tuh, daftar orang-orang yang mau jadi Brand Ambassadornya. Bejibun.” Sebenarnya, itu kabar baik, bukan? Tapi Orion mengatakannya seolah-olah hal baik tersebut menjadi sebuah beban tersendiri untuknya.
Segara tergelak, “Bagus, dong. Apa masalahnya?”
“Masalahnya,” Orion berdecak. “Terlalu banyak cewek cakep yang daftar. Ada aktris FTV yang so pasti namanya udah banyak dikenal orang, bintang iklan yang lagi naik daun, belum model-model baru yang masih muda-muda.” Pria itu menghela napasnya dengan dramatis. Seakan tengah dihadapkan dengan sesuatu yang amat menguras tenaga. “Gua bingung. Semuanya cocok. Jadi, sebagai orang yang berperan buat memutuskan fiksasi akhir, siapa yang bakal kita take buat OTO—mending lu aja yang langsung milih. Terserah, deh. Pusing, pusing, tuh.”
Kali ini giliran Segara yang mendengus geli. Segitu saja sudah dibuat pusing, dasar Orion. Maka tak butuh waktu lama bagi Segara untuk mulai membuka-buka berkas itu. Dengan ekspresinya yang amat serius, Segara pun meneliti kertas demi kertas di dalamnya. Yang berisi profile para perempuan cantik.
Dan, ya, mereka semua memang cantik. Tapi, sejauh lembar yang Segara sudah jelajahi, tipe-tipe wajah mereka akan membosankan jika dilihat terus-menerus di dalam sehalaman majalah. Over the Odds butuh tipe muka yang cantik sekaligus sporty. Perempuan dengan garis wajahnya yang menantang pasti akan sangat cocok. Ayolah, pasti ada, masa nihil perempuan berkriteria seperti itu di dalam berkas ini?
Lantas, ketika jemari Segara menyibak tepat di lembar kertas yang ke-97, Segara dikejutkan oleh sesuatu yang untuk beberapa detik—tak sampai ke akal sehatnya. Apa yang dilihat oleh kedua matanya seperti bias. Segara mengutuk di dalam hati, lalu jiwa setannya yang lain—tertawa terbahak-bahak usai menyadari situasi ini dengan jernih. Jernih sekaligus kotor.
Oh, God. Kenapa mesti berbaik hati begitu besar untuk seorang Segara Danu Alankar? Yang bahkan sudah punya niat terselubung di balik semua keputusan yang diambilnya. Segara jelas punya niat buruk—kalau otak kotornya bisa diasumsikan begitu. Hey, itu memang buruk! Berniat “mendekati” wanita lain selagi bertunangan dengan orang, bukan perbuatan yang benar bagi seorang lelaki. But who’s care? Tidak bagi Segara yang saat ini lebih suka merakus diri atas setiap informasi wanita itu.
Kania Salim. Namanya dengan cepat dikuasai ingatan Segara. Ah, sial. Coba lihat, bahkan dalam pas foto yang cukup kecil—wajah wanita ini sangat dominan, menarik mata lelaki.
Segara akhirnya buka suara, dia benar-benar b******n beruntung nomor satu di dunia, “Gua mau cewek ini yang masarin produk-produk kita di Over the Odds.”
“Mana coba liat.” Orion mencoba menengok, tetapi Segara masih dengan intens menatapi berkas itu. “Elah, mana sini gua liat.” Dan dengan tak sabar Orion merebut berkasnya.
“Wadaw.” Ekspresi pria itu seketika berubah. Dan tawa besarnya mengisi ruang kerja Segara. “Ini sih kelas berat!”
***