Bab 6 : The Deal

1477 Kata
Orion selalu menjadi alasan Segara, agar mereka tidak sering-sering menginap di apartemen. Sebab adik sepupunya itu kerap menghabiskan waktu di huniannya. Dan juga kalaupun sesekali Olivia bermalam di sana, Segara tentunya tidak pernah membawa wanita itu tidur di dalam kamar pribadinya. Yang jelas saja tidak diketahui oleh Olivia, mana kamar pribadi yang sesungguhnya Segara tinggali—karena apartemen itu punya beberapa kamar. Satu kamar pribadi, satu kamar yang Olivia tahu adalah kamarnya, dan dua buah kamar tamu—yang salah satunya sering dipakai Orion tidur. Maka dari itu, jika sedang ingin berduaan dengan sang tunangan tercinta—Segara akan menyewa sebuah kamar hotel untuk mereka berdua. Di hotel yang dipimpin oleh Keanu—satu dari empat teman karibnya. Bukan tanpa alasan mengapa hotel itu adalah hotel yang mereka pilih. Pepatah lama pernah bilang, “Jika hubungan kotormu dengan seseorang tak ingin orang lain ketahui, maka pergilah ke tempat di mana mereka pikir kamu tak akan ke sana. Atau—pergilah ke tempat yang bisa melindungimu”. Dan begitulah pertemanan. Mereka pasti akan saling mengamankan privasi satu sama lain. “Honey, kamu mau pesen makanan apa?” Olivia saat itu sedang menscroll layar ponselnya. Dengan fokus melihat-lihat menu makanan yang ada di sana. Sebenarnya, mereka bisa saja memesan makanan hotel kalau mau. Tapi Olivia sedang ingin makan makanan lain yang cita rasanya lebih kaya dengan jenis rempah-rempahnya. Dan makanan yang seperti itu kebanyakan bisa didapatkan di resto-resto di luaran sana. “Aku pesen boba nih, kamu pengen juga nggak? Biar sekalian. Rasain deh sekali aja. Abisnya, kamu jarang minum-minuman kayak gini.” Segara yang beberapa saat lalu baru keluar dari dalam kamar mandi—dengan masih mengenakan bathrobe hotel di tubuhnya—mendekati Olivia yang bersantai, menyelonjorkan kedua kakinya di atas sofa. Rambut pria itu basah, meneteskan air dingin yang terlihat mengkilap di lehernya. Tubuh jangkung Segara yang datang ke sana, otomatis lebih banyak mengurangi ruang gerak Olivia. Lalu pada jarak yang seolah tak terpisahkan lagi, Segara dengan cekatan “mencuri” ponsel dari tangan yang lengah itu. Olivia mengerang tak terima. “Ih, balikin.” Ucapnya dengan setengah merajuk. “Jahil banget, sih, kamu.” “Makannya nanti aja kalau lapar.” Segara memeriksa aktivitas dari ponsel tunangannya itu, dan langsung keluar dari aplikasi tempat memesan makanan secara online tersebut. Olivia memprotes tindakan itu, “Ya ini aku laper.” “Aku nggak.” Segara melempar ponsel Olivia ke ujung sofa, agar tidak bisa dijangkau. Lantas, dengan gerakan yang sedikit terburu-buru—Segara menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Olivia. Pria itu benar-benar mengurung penuh. Segara berbisik ke telinga Olivia, “Kalau aku maunya makan kamu dulu, gimana?” Sebuah pertanyaan simple yang sukses menyadarkan Olivia—bahwa situasi di antara mereka berdua kini sudah berubah. Segara sedang menginginkan satu hal darinya, dan Olivia sudah paham akan itu. Lagi pula, siapa perempuan yang sampai hati menolak pria tampan ini untuk—bersenang-senang sama-sama? Kekesalannya yang tadi, lenyap begitu saja. Pada dasarnya, Segara selalu menjadi penting di atas apa pun bagi seorang Olivia Shalom. Maka Olivia pun merangkulkan kedua lengannya ke leher Segara, memeluk pria itu dengan mesra, “Boleh. Emang kamu mau berapa porsi?” Tanyanya dengan suara yang seratus persen berubah. Ya, suara aslinya juga memang bagus—tapi ini kedengaran sengaja dibuat laknat. Seperti bisikan setan yang mencoba menggoda manusia dengan hal-hal nikmat di dunia. Segara tertawa, dilumatnya bibir Olivia beberapa detik lamanya, “Sampai perutku betulan lapar dan butuh nasi, bukan kamu lagi.” Jawab Segara, yang balik membuat Olivia tertawa seksi—dengan cara yang sama seduktif. “Bakal panjang, dong?” Tanyanya, pura-pura kaget. “Lihat saja nanti.” Jawab Segara. Sebelum kemudian mulutnya jatuh di mulut Olivia. Dan seperti yang sudah biasa mereka lakukan, lidah masing-masing di dalam mulut sana saling membelit. Dengan air liur yang dicecap dan ditukar. Olivia pun mengerang pada lumatan-lumatan cepat mereka. Karena ketika mulut Segara beraksi, kedua tangan pria itu juga menjadi tak bisa diam di tubuh Olivia—sibuk bergerayang di mana-mana. Satu di atas p******a tunangannya, dan yang satunya di bawahnya. Dengan nakal jari-jari Segara masuk ke celana Olivia—melewati celana jeans serta celana dalamnya, agar bisa menyentuh sesuatu yang sangat intim pada diri seorang wanita. Tak pelak, kedua kaki Olivia menekuk dibuatnya. Jari-jemari Segara yang bermain di kewanitaannya, membuatnya semakin gelisah saja. Olivia pun bangkit dari posisinya demi menjadi lebih liar untuk Segara. Dan dengan sama nakalnya, Olivia merosot dari tubuh Segara. Dia membiarkan Segara duduk dengan napasnya yang terengah-engah di sofa, sementara kedua tangannya yang halus itu kini mulai mengelus-ngelus tumpukan seksi tepat di bagian tengah tubuh Segara. Wajahnya yang terpahat cantik, berusaha keras tampil memukau di mata pria itu. “I’ll open it.” Bisik Olivia. Sebetulnya, bathrobe yang Segara pakai hanya tinggal disibakkan saja. Tetapi sepertinya Olivia hanya ingin berlama-lama menggosokkan kedua telapak tangannya di kejantanan Segara—yang makin lama terasa kian keras, seperti tongkat baseball. “Hmmm—you want?” Segara mengerang, kepalanya tengadah ke langit-langit hotel, “Yes, please, Livi—don’t waste my time.” Ucapan dari mulut Segara yang terkesan tidak sabaran itu membuat Olivia tertawa saat menanggapinya. Pria ini selalu tidak bisa menunggu lama untuk sesi tersebut. Maka dengan penuh perasaan, Olivia pun melanjutkan tugasnya—sebagai tunangan Segara. Sebagai belahan jiwa dari kekasihnya, yang di mana mereka masing-masing rakus, saling mereguk cinta lewat sentuhan yang menggelora ini. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Olivia, yang selalu hidup tiap kali mereka bermesraan. Sementara untuk Segara, batas-batas tersebut rasanya kabur. Getaran erotis romantisme itu sama sekali tak ada, bagi seorang Segara yang sudah biasa disentuh wanita. Segara justru sibuk dengan kubangan fantasinya sendiri. Fantasi yang aneh tapi begitu dinikmatinya. Ah, baru saja sepintas bertemu sudah begini rupa—tawa Segara di antara nikmat yang datang, dari hisapan mulut Olivia di bawah sana. Tetapi Segara benar-benar penasaran dibuatnya. Bagaimana rasanya jika—wanita yang beberapa jam lalu ditabraknya di mall itu, melakukan hal yang sama seperti yang Olivia lakukan padanya? Mencium bibirnya mesra, menjilati lidahnya—lalu jatuh ke d**a bidangnya—dan terakhir, melingkupi kejantanannya yang tegang dengan rongga mulut. Bagaimana? God damn it! Bagaimana rasanya—jika aku bercinta dengan wanita itu? Otak Segara masih bertanya-tanya dengan segala rasa ingin tahunya. Selagi detik-detik klimaksnya sudah berada di ujung tanduk. Namun yang paling penting, apa mereka suatu hari nanti akan dapat bertemu kembali? Segara bersumpah, jika saja hari keberuntungannya itu benar-benar ada, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan kecil apa pun untuk paling tidak—mengetahui siapa gerangan namanya. Itu saja dulu. Dan dengan pikirannya yang lambat laut makin sederhana, Segara berhasil mencapai orgasmenya dengan sebuah tawa kecil. *** Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Segara masih bangun. Sementara Olivia sudah tidur di atas ranjang hotel—selimut putih menutupi tubuh telanjangnya. Barangkali ini sedikit tidak adil untuk Olivia, tapi Segara benar-benar tak bisa melepaskan diri dari tabiatnya. Pria sepertinya pasti akan melakukan apa pun—demi mendapatkan apa yang diinginkan oleh sisi alphanya. Karena itu jugalah, malam ini Segara resmi mengambil sebuah keputusan penting. Yang akan berpengaruh pada rencananya ke depan. Maka tanpa ada lagi keraguan—di balkon hotel yang bersemilir angin malam itu, Segara mendial nomor Mamanya. Tak peduli ini jam berapa. Telponnya diangkat pada dering kelima. Nampaknya perempuan paruh baya itu belum tidur. Benar saja, Mamanya bilang bahwa ia tengah menonton serial Netflix. Dasar! Lalu Segara dengan cepat bicara tanpa basi-basi, “Aku setuju.” Jelas saja Mamanya kaget, dan setelah diam tiga detik lamanya, wanita itu pun menyahut, “Setuju apa? Kalo nelpon itu pake introduction dulu. Kamu nggak jelas banget, sih!” Hell, man. Segara bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan suatu basa-basi pada Mamanya, “Aku setuju untuk mengakuisisi Lunar. Mama bisa sampaikan keputusanku pada pihak mereka.” Well, Salma barangkali lebih terkejut daripada ketika mendengar pernyataan pertamanya tadi. “Beneran?” Tanya itu menggantung. Decakan Segara untuk pertanyaannya, agaknya menjadi tanda bahwa pria itu sungguh serius. “Hey, Segara Danu Alankar, anak Mama yang ganteng—kamu nggak sedang kesambet, kan?” Nada suara Segara berubah jengkel, “Ini yang Mama mau, kan? Ya aku kabulin.” “Iya, sih, tapi—” Mamanya yang mula-mula hendak mempertanyakan banyak hal, mendadak urung. Kalau nanti Segara berubah pikiran karena ia terlalu bawel kan jadi repot lagi. Semua ini saja sudah merupakan kabar bagus. “Tumben aja kamu cepet banget mikirnya.” “Salah emangnya?” Segara menukas. “Ya nggak gitu.” Ya ampun, putranya ini sensian sekali malam ini. Eh, sifatnya kan memang begitu. “Tumben aja. Kenapa sih? Mama kepo.” “Nggak perlu kepo.” Segara membalas, yang membuat sang Mama di ujung sana akhirnya menyerah. Daripada Segara kesal lalu membatalkan keputusannya. Lebih baik Salma iya-iya saja dalam menanggapinya. “Dah, Ma. Aku nelpon cuma buat kasih kabar itu. Malam.” Lantas Segara memutuskan sambungan telponnya. Satu langkah pertama sudah selesai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN