Perjalanan di dalam mobil terasa sepi, tapi Segara sama sekali tak mau ambil pusing. Perempuan kalau sedang cranky pasti sedikit menyebalkan, jadi dia membiarkan dulu Olivia meredakan kekesalannya. Sejak mereka keluar dari mall, dan masuk ke dalam mobil—keduanya belum lagi sepatah kata pun membahas masalah yang terjadi beberapa saat lalu.
“Aku emang masih nggak habis pikir kenapa kamu malah mencegahku buat melabrak dia.” Segara menoleh ke samping kemudinya, ketika Olivia tiba-tiba buka mulut. “Dia itu udah nggak sopan banget permaluin kamu di depan banyak orang kayak tadi.” Olivia masih sangat berapi-api. Barangkali kalau mereka masih terjebak dalam situasi yang panas itu—perempuan ini akan dengan nekat berbuat sesuatu yang lebih menghebohkan lagi.
Setelah mendengus keras, Olivia melanjutkan, “Tapi sesuatu yang bikin aku lebih nggak habis pikir—kenapa kamu mendadak ada di depan toko pakaian dalam? Sementara kali terakhir aku liat kamu, ya kita pisah di pinggir restoran tempat kita makan itu.”
Segara sangat tenang dalam berbagai kondisi. Pria itu justru mengeluarkan tawa kecil yang membuat Olivia makin jengkel dibuatnya, “Jawab pertanyaan aku! Bukannya malah ketawa-tawa nggak jelas gitu.” Semburnya. Segara yang juga sedang fokus menyetir, memelankan sedikit laju mobilnya.
“Apalagi? Aku ada di depan toko itu karena aku mau masuk ke sana.” Segara menjawabnya, yang berhasil membuat Olivia duduk lebih tegak. Tubuhnya kini sedikit menyamping ke arah Segara, menunggu penjelasan lainnya. “Tapi karena mendadak aku nabrak wanita itu saat dia keluar—rencanaku buat mengunjungi toko akhirnya gagal. Terus, kamu datang sewaktu wanita itu sedang marah-marah.” Segara dengan luwes mengemudikan kendaraannya, jalanan Jakarta yang sudah dia hapal memudahkannya kala menyalip mobil lain di depannya.
Kemudian, Segara pun menutup penjelasannya tentang pertengkaran kecil yang terjadi di tengah-tengah mereka, “Dan mungkin kamu salah paham sama wanita itu, bahkan sekarang sama aku.” Segara kembali melirik Olivia. “Dengar, tadi aku nggak bermaksud untuk membela dia. Aku cuma nggak mau lihat kamu marah. Marah bisa menghabiskan energi kamu.”
Olivia terdiam atas jawaban itu, lantas ia mengarahkan pandangannya ke depan ketika bertanya sekali lagi, masih ingin mendengar penjelasan yang krusial dari Segara, “Terus ngapain kamu mau masuk ke toko pakaian dalam?”
Dan tanpa canggung—Segara berkata, “Pilih kimono baru buat kamu,” tahu Olivia terkejut, Segara dengan lihainya menyembunyikan senyum, “kemarin lusa, aku nggak sengaja lihat tabloid La Senza punya Rinjani. Ada sebuah produk yang menarik perhatianku. Aku berniat beli barangnya—karena aku ingin lihat kamu pakai itu.”
Wha—what? Jadi—Segara—
Sekarang, Olivia benar-benar fokus pada Segara. Dan lalu mengembuskan napasnya. Dengan—lega? Karena Segara tak seperti apa yang ada di dalam bayangannya. Malahan yang terjadi, pria itu menunjukkan rasa cintanya yang besar hanya untuk dirinya. Aw, itu terdengar manis, bukan? Segara bilang ia hendak membelikan Olivia sesuatu yang begitu intim bahkan untuk mereka berdua. Sebuah kimono yang sangat terbuka di bagian-bagian tertentu—mungkin? Yang akan dengan senang hati Olivia kenakan di hadapan pria itu. Seperti ritual mereka selama ini. Oh, damn that.
“Jadi, nggak kesal lagi kan sama aku?” Segara begitu flamboyan—mudah sekali pria itu meluluhkam hati seorang perempuan. Tapi, siapa pula yang tak akan luluh jika kata-kata manis itu datang dari seorang manusia berwajah rupawan?
“Nggak.” Nada bicara yang digunakan oleh Olivia kini lebih menurun. Pelan dan sama manisnya seperti Segara. “Aku emang nggak bisa lama-lama bete, apalagi itu ke kamu.”
Senyum tersembunyi Segara makin dalam, “Well, aku tahu satu fakta itu.”
“Uh, makin pede aja deh tuh jadinya.” Gerutuan itu justru membuat Segara lagi-lagi tertawa.
“Karena kamu udah nggak bete, aku rasa—kita bisa lanjutin rencana sebelumnya.” Segara membelokkan mobilnya ke suatu jalan yang sudah diketahui oleh mereka berdua. “Kita tetap fitting baju ke desainer langgananmu itu, ya?”
“Oke.” Olivia setuju. Lagi pula, dia sudah tidak sabar melihat pakaian pesanan mereka, yang dijahit sebulan lalu. Ia serta Segara pasti akan sangat cocok ketika mengenakannya.
“Dan setelah selesai fitting—” Ucapan Segara yang kali itu menggantung, memancing rasa penasaran dari Olivia yang langsung menyahut. Maka, demi mendapatkan ekspresi wajah tunangannya yang membuat Segara makin menang—suara itu turun jauh lebih rendah saat bicara; “Mau check-in denganku di hotel Keanu?”
Olivia tidak menjawabnya dengan gamblang. Tetapi kerlingan mata wanita itu menunjukkan segalanya yang Segara mau dalam beberapa jam ke depan. Kegiatan yang akan jadi pelebur lelah, dan penghibur rasa jenuh. It will be fun at all.
Fakta jika Segara adalah seorang pecinta wanita yang sejati, tidak mampu menutupi kenyataan bahwa di sisi yang lain—pria itu juga seorang b******n. Dilihat dari sisi mana pun oleh orang awam, apalagi dengan diperkuat oleh kejadian di mall tadi, kebrengsekan Segara benar adanya. Whatever you call him just because of his sweetness, Segara is still a bad liar. Cara dan sikapnya ketika berkelit benar-benar menunjukkan bahwa pria itu seorang pro. Bahkan dalam hal merayu sekalipun. Dengan itu semua, Segara jelas akan mudah memperdaya wanita. Wanita berpengalaman seperti Olivia Shalom buktinya telah jatuh ke pelukannya.
***
Mereka tiba di kediaman yang luas, milik desainer yang terkenal itu 30 menit kemudian. Segara memarkirkan mobil di halamannya. Rumah yang mereka masuki bukan main sungguh besar. Etalase-etalase yang berisi baju mewah, sudah nampak berjejer—bahkan sejak dimulai dari ruang depan. Olivia yang telah mengenal “peta” rumah tersebut dengan sangat cekatan memimpin jalan. Seolah tahu di mana tuan rumahnya berada.
“Halo, Mbak Rin.” Sapa wanita itu saat mereka masuk ke sebuah ruangan yang dekat dengan taman belakang. “Lama nunggu, ya? Maaf banget, tadi di jalan lumayan macet.”
Dan ya, itu benar. Sekarang, mereka sedang berada di rumah salah satu desainer ternama di Indonesia. Tak lain, dia adalah Rin Sabina. Yang rancangan-rancangannya masuk ke pasar Internasional. Sungguh prestasi yang membanggakan.
“Halo, Livi.” Rin Sabina yang entah mengapa ekspresi mukanya kurang b*******h, menyambut Olivia dengan cium di kedua pipi. “Iya, nggak apa-apa, kok. Jalanan Jakarta emang langganan macet.” Lalu sepasang matanya yang tak biasanya terlihat “agak kesal” itu jatuh ke sosok Segara—yang berdiri di belakang punggung Olivia, dengan senyum sapanya yang luar biasa memikat dilemparkan kepada Rin Sabina. Mereka saling mengangguk pada satu sama lain.
“Wah, rupanya datang bersama tunangan.” Rin Sabina terkekeh kecil, menggoda Olivia. Lalu dia sempat menanyakan kabar Segara, meski tak kenal dekat—sebagai sebuah bentuk kesopanan saja. “Ayo, kalian duduk dulu di sofa.” Lantas Rin memerintahkan salah satu asistennya untuk membawakan baju pesanan Olivia dan juga Segara. Yang dirancang khusus hanya untuk mereka berdua.
“Gimana pemotretannya hari ini, Mbak?” Tanya Olivia kala mengedarkan pandangan ke bagian taman belakang, yang masih terlihat berantakan oleh properti. Tapi tak banyak orang lalu-lalang di sana. Olivia tahu jika hari ini ada pemotretan di rumah Rin, dari Rin sendiri. Pagi tadi mereka berkomunikasi lewat pesan w******p.
“Kacau banget pokoknya, deh.” Nah, makin jelas saja kebetean yang terpahat di wajah Rin Sabina. Olivia jadi makin penasaran atas apa yang terjadi. Kenapa Rin bilang kacau?
“Emang ada apa, Mbak?” Tanya Olivia.
Rin Sabina memijit pelipis, “Mereka bikin kepala Mbak rasanya mau pecah.” Ada jeda yang tercipta. “Dua model yang manajemen Mbak kontrak bikin ulah. Mereka ribut gara-gara hal yang sepele. Benar-benar nggak profesional saat kerja. Tadi mereka berdua Mbak sidang habis-habisan di sini.”
“Ya ampun.” Olivia ikut geram mendengar cerita dari Rin Sabina. Sang desainer yang pemotretan untuk produknya hari ini digagalkan oleh model-modelnya sendiri. Entah ribut macam apa yang Rin maksudkan, yang jelas Olivia tetap ikut prihatin atas hal yang sudah terjadi. “Aku ngerti Mbak pasti kesel banget udah kerja sama model-model karbit begitu.”
“Tadinya sih, Mbak pilih mereka karena mereka punya look yang beda. Cantik dan unik. Tapi nggak nyangka deh kalau akhirnya bakal jadi gini.” Keluh Rin. Yang masih ingat begitu jelas keributan macam apa yang terjadi di rumahnya, beberapa jam yang lalu.
“Jadi, Mbak putuskan kontrak dengan mereka.” Rin mengakhiri ceritanya. “Nggak mau-mau lagi deh pakai mereka meskipun datang dari agensi besar.”
Olivia jelas mendukungnya, “Aku yakin itu keputusan paling baik yang bisa Mbak ambil. Ugh, coba kalau mereka sedang bertengkar itu ada aku di sini—udah aku habisi sampai ke kulit pastinya! Lagi kerja kok nggak dipake otaknya.”
Rin Sabina tertawa karena ucapan dari Olivia. Rasanya entah mengapa seperti memberi suntikan energi. Dan di sela tawanya itu, Rin mengalihkan perhatian pada Segara, “Yang sabar ya, kalau pacaran sama Livi. Semoga aja kamu nggak sering-sering dimarahin.”
Olivia ikut tertawa, dan Segara membalas ucapan Rin itu dengan senyum kecil yang lama. Isyarat bahwa dia begitu memaklumi tunangannya yang cantik. Jadi, Rin Sabina tidak perlu khawatir. Sekejap, aura negatif dari perbincangan mereka tentang insiden pemotretan, terlupakan. Terlebih saat asisten busana Rin tiba di sana dengan membawa dua buah baju, yang berada di dalam plastik pengamannya.
“Nah, ini dia bajunya.” Rin memerlihatkan hasil akhir karyanya dengan bangga. “Yuk, kita mulai aja fittingnya.”
Jelas saja, Olivia begitu bersemangat. Tetapi Segara justru tengah mencari-cari sesuatu yang tidak ada. Yang kalau ia pikirkan, terasa gila. b*****t sekali memang. Apakah sebegitu besar pengaruh kejadian lalu terhadap Segara? Karena sebagai informasi, Segara kini mencium wangi parfum yang melekat juga memikat di ambang inderanya. Terasa familiar.
Seperti harum si wanita yang dibawa oleh udara mall Jakarta.
***